Orang-orang boleh bilang kalau Pemilu di Indonesia adalah Pemilu paling aman, damai, dan sentosa sedunia. Setidak-tidaknya Pemilu di sini tidak seperti di Iran yg berakhir rusuh. Tapi bolehkan kalau saya berpendapat lain??
Media-media juga boleh bilang kalau Pemilu di tanah air mata ini adalah yg paling demokratis. Meskipun ditengarai banyak terjadi kekurangan, toh semua pihak menerimanya dg legowo. Yang menang silahkan memimpin dan yg kalah udah siap jadi oposisi. Tapi bolehkan kalau saya punya pendapat yg berbeda???
Juga terserah bila para pengamat politik, ahli hukum, ulama, selebritis, atau apapun dia berpendapat bahwa bangsa ini sudah dewasa. Pilihan boleh beda tapi gak ada gontok-gontokan. Pilihan boleh kalah atau menang, tapi ya udah disyukuri aja, toh hidup tetap berjalan. Kalaupun ada yg marah-marah biasanya cuma gara-gara taruhan uang atau harta benda. Tapi sekali lagi, bolehkan saya punya pendapat yg melawan arus????
Mau dianggap dewasa, cinta damai, demokratis, atau apalah saya gak peduli. Toh bagi saya Pemilu gak akan merubah nasib bangsa ini. Kalau ada perubahan paling-paling hanya ganti nama aja (itu juga kalau incumbent-nya kalah). Kalaupun hari ini gak ada ribut-ribut kayak di Iran itu paling-paling akibat dari rendahnya taraf berfikir bangsa ini.
Bagi saya seluruh calon yg berlaga kemarin pada “bodoh” semua. Buktinya mereka hanya mampu memberikan solusi-solusi kecil atau parsial saja. Padahal penyakit yg menggeroti bangsa ini udah masuk dalam stadium koma. Juga partai-partainya yg berlaga. Mereka tidak lebih hanya jualan slogan-slogan saja. Maka bagi saya apa bedanya iklan partai ama iklan sabun lux atau kecap bango (malah mendingan lux karena ada Dian Sastro dan kecap Bango yg nampilin makanan lezat yg mak nyuss).
Kalau yg dipilih aja “bodoh”, apalagi yg memilih. Baik yg memilih maupun yg dipilih bagi saya sama saja. Mereka yg golput pasti alasannya (kebanyakan) karena kerja, gak dapat panggilan (DPT), bingung, hingga gak ada uangnya. Sedangkan mereka yg memilih alasannya karena sungkan, gak enak sama tetangga, kasian, dapat jatah uang, hingga gara-gara calonnya cakep. Dari sini saya jadi tertawa, bagaimana mau dewasa kalau ternyata warga Indonesia masih menjadi sosok manusia pragmatis dan belum beranjak menuju manusia ideologis idealis.
***
Kalau ada yg protes “berarti yg nulis bodoh juga donk??”, maka dg bangga saya jawab “maaf, kelihatannya saya termasuk bagian dari sekiannya sekian bagian bangsa ini yg telah sadar dan memiliki isi kepala yg beda ama yg lain. Artinya saya termasuk ke dalam manusia ideologis idealis.”. Itu jawaban dari saya dan saya akan bertanya balik kepada anda “sudahkah anda mereparasi kepala anda??”
Ditulis dalam Politikologi | Leave a Comment »
Di sebuah warkop 24 jam di pinggiran jalan kota yg malam itu masih macet. Di sebuah warkop yg dijaga oleh pak kumis, dua orang sahabat sedang ngobrol sambil ditemani dua gelas kopi tubruk dan beberapa piring gorengan yg masih mengepulkan asap yg mirip ama asap merapi.
Brodin: bro masihkah kita percaya pada demokrasi ketika JFK dibunuh di Texas dan Reagen juga nyaris ditembak?
Bejo: (diam)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah hanya gara-gara sayyidina Umar dibunuh, sayyidina Utsman dibunuh, dan sayyidina Ali juga dibunuh?
Bejo: (tetep diam)
Brodin: terus masihkah kita percaya kepada demokrasi ketika dulu Amerika pernah terlibat perang saudara parah, juga Inggris yg bahkan gedung parlemennya nyaris dibom?
Bejo: (diam dg takzim)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah hanya gara-gara sayyidina Ali dan Muawiyah berlaga di medan Shiffin, Hussein dibunuh di Karbala, dan bani Umayyah berseteru hebat dg Abbasiyyah?
Bejo: (nyruput kopi tapi tetep diam)
Brodin: juga masihkah kita percaya ama demokrasi ketika pak Harto mengumpulkan harta lewat KKN, JK kaya raya, dan Prabowo memiliki kuda yg konon harganya 5 miliar?
Bejo: (diam tanpa suara)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah cuma gara-gara sayyidina Utsman kaya raya dan itu juga beliau dapatkan dari bisnis ketika belum menjadi Khalifah?
Bejo: (sunyi)
Brodin: apakah kita masih percaya ama demokrasi ketika SBY menaikkan harga BBM?
Bejo: (garuk-garuk kepala n diam)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah hanya gara-gara Yazid bin Muawiyah dan panglimanya Al Hajjaj memerintah dg tangan besi dan penuh kedzaliman?
Bejo: (senyap)
Brodin: lagi-lagi masihkah kita percaya ama demokrasi ketika pak Karno punya banyak istri, Berlusconi punya bini muda, dan Sarkozy kawin lagi?
Bejo: (dlomong sambil mikir)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah hanya gara-gara beberapa oknum Sultan di era Utsmaniyah yg memiliki ratusan harem?
Bejo: (ngiler)
Brodin: masihkah kita percaya kepada demokrasi ketika Bush memaklumatkan perang terhadap “terorisme” dan menghancurleburkan Iraq dan Afganistan?
Bejo: (sunyi)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah hanya gara-gar pasukan Sulaiman Al Qanuni mengepung Wina, Saad bin Abi Waqas membebaskan Persia, dan Thariq bin Ziyad melakukan futuhat ke Andalusia?
Bejo: (masih diam seperti sediakala)
Brodin: terakhir masihkah kita percaya pada demokrasi ketika bangsa Amerika rusak moralnya dan Eropa dikepung pornografi dan ateisme?
Bejo: (mikir)
Brodin: lalu mengapa kita menolak Khilafah padahal Obama presiden Amerika memujinya sebagai peradaban agung tempat ilmu, iman, dan kemanusiaan dijunjung tinggi?
Bejo: (angguk-angguk tanda setuju)
Brodin: kau tahu bro, udah seharusnya kita menolak demokrasi karena konsepnya yg busuk dan gak sesuai untuk diamalkan oleh manusia. Ya kita menolak demokrasi karena konsepnya. Oleh karena itu kalau ada yg menolak ide Khilafah maka tolaklah karena konsepnya. Jangan menolak Khilafah hanya dg alasan-alasan yg dibuat-buat dan gara-gara kesalahan orang yg menerapkan Khilafah. Oleh karena itu kalau berani tolaklah karena konsepnya, itupun kalau ada. Kalau gak ada ya udah ke laut aja sana.
Bejo: (terkejut) ke laut? Ngapain?
Brodin: cari kerang ama kepiting
Bejo: (langsung menenggak sisa kopi) ikut..ikut..ikut..ikut
(diilhami dari tulisan ukhti Febry dan dg penambahan secukupnya)
Ditulis dalam anti demokrasi | Leave a Comment »
“The Best Never Rest”, itu mah kata orang-orang. Yang terbaik adalah mereka yg tidak pernah istirahat.
Klo gw mah bisa remuk nih badan klo divorsir trus kerja. makanya klo nt liat nih blog kok gak keluar2 tulisan barunya. Ini karena gw mau istirahat bentar. Gw capek bikin skripsi, makanya gw mau istirahat sejenak
Ditulis dalam 1, Catatan di sekitar hidupku | Leave a Comment »
Salah satu bahasan menarik dalam kampanye Pilpres tahun ini adalah bahasan mengenai masalah program ekonomi. Tim SBY-Budiono yg sejak awal dituduh sebagai antek Neoliberal akhirnya buka suara. SBY sendiri menyatakan bahwa ia tidak membela kapitalisme asing ataupun pribumi, akan tetapi kapitalisme yg bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Dari pernyataan ini jelas terlihat bahwa dituduhan yg disematkan kepada kubu ini semakin jelas adanya. Karena Neoliberalisme sendiri lahir dari Kapitalisme yang kemudian melahirkan Korporatokrasi.
Program ekonomi ini mendapatkan perlawanan sengit dari kubu Mega –Prabowo yg mengusung jargon ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan sendiri merupakan hasil modifikasi dari pola ekonomi sosialisme yg saat ini banyak dijalankan oleh para pemimpin negara-negara Amerika Latin seperti Kuba, Venezuela, Bolivia, Argentina, dan Brazil. Dari gambaran di awal terlihat jelas bahwa perseturuan kedua kubu mengerucut kepada perseteruan kuno antara kubu kaya melawan miskin.
Kapitalisme sejak awal sudah memproklamirkan dirinya sebagai pembela para pemilik modal. Kapitalisme hanya pernah tobat satu kali ketika Amerika Serikat dilanda krisis ekonomi parah paska perang dunia pertama. Presiden F.D Roosevelt akhirnya menggunakan madzab Kaynessian ciptaan John Maynard Keyness dalam mengatur ekonomi negaranya. Mulai saat itu negara (AS) ikut campur secara langsung dalam ekonomi dan memberlakukan subsidi bagi rakyat kecil. Akan tetapi romantisme ini berakhir sejak AS dipimpin Ronald Reagen. Reagen dan Thatcher (PM Inggris) bahu membahu mengembalikan Kapitalisme ke jalannya yg semula. Sejak saat itulah mulai munculnya madzab Neoliberal dan melahirkan sistem baru yg lebih kejam dari Kapitalisme yaitu Korporatokrasi.
Maka ketika SBY menyatakan bahwa Kapitalisme membawa kemakmuran bagi Indonesia. Maka kata “kemakmuran” di atas wajib kita garisbawahi. Kemakmuran tersebut jelas bukan ditujukan kepada rakyat tapi kepada para pemilik modal atau yg layak disebut sebagai para Korporat baik asing maupun dalam negeri. Dari sini jelas terlihat jalan pikiran penguasa mendatang (kalau SBY menang) yg akan lebih mementingkan para kaum borjuis. Penguasa mungkin akan lebih banyak lepas tangan dan menyerahkan banyak urusan (terutama dalam hal ekonomi) kepada swasta. Korbannya jelas adalah rakyat.
Sedangkan ekonomi kerakyatan bisa jadi merujuk pada model Kaynessian atau bisa juga meniru model ekonomi sosialis ala Amerika Latin. Dari apa yg dikampanyekan tim Mega Pro sekilas terlihat mereka condong kepada model ekonomi ala Amerika Latin. Model ekonomi yg benar-benar sangat pro kepada rakyat miskin. Mulai dari pemberlakuan subsidi, pendidikan dan kesehatan gratis, hingga nasionalisasi. Kuba misalnya menerapkan program 1 dokter untuk 100 warga. Sedangkan Venezuela menerapkan pendidikan gratis hingga S-3. sedangkan yg paling ekstrim adalah Argentina dan Bolivia. Argentina berani melakukan tawar-menawar dg IMF terkait tagihan utang yg dianggap pemerintah Argentina sangat merugikan rakyat Argentina. Sedangkan Bolivia melakukan program nasionalisasi perusahaan2 minyak dan gas yg selama ini dikuasai korporasi asing. Tidak lupa bagaimana pula upaya Iran di era Ahmadinejad yg memberikan perumahan gratis dan subsidi sarapan sehat kepada warga miskin Iran.
Program-program di atas cenderung sangat popular di mata rakyat kecil. Akan tetapi tanpa didukung pemerintah yg kuat, model kepemimpinan seperti ini bisa jadi goyah akibat rongrongan para kapitalis yg lama menjadi penguasa di negeri tersebut. Evo Morales pernah di mosi tidak percaya oleh parlemen yg pro terhadap kapitalis. Hugo Chavez nyaris dikudeta oleh militer dan para pebisnis. Sedangkan Ahmadinejad hingga hari ini menghadapi gelombang seruan reformasi yg dikomandani Mir Hussein Mousavi.
Pemerintah-pemerintah model seperti ini sangat rentan jatuh. Apalagi kalau rakyat yg selama ini mereka bela tiba-tiba berbalik akibat iming-iming materi dari para kapitalis. Apalagi kondisi saat ini dimana gurita kapitalis yg menyelusup jauh hingga ke pelosok-pelosok negeri. Mereka yg pro status quo pasti tidak begitu saja rela menyerahkan kuris empuknya.
Untuk Indonesia ini semua memang menjadi ironi. Negeri yg sangat kaya akan tetapi kemiskinan merajalela. Indonesia menjadi akuarium yg unik di dunia. Dalam salah satu berita di Jawa Pos pernah ditulis bahwa mobil Ferrari terbaru seharga 8 miliar laku 5 unit tiap hari di Jakarta, tapi bisa jadi di hari yg sama ada dan di tempat yg sama ada orang yg belum makan selama lima hari akibat tidak adanya penghasilan.
Akan tetapi yg lebih menjadi ironi adalah adanya kesalahan terkait konsep keadilan dan pengaturan masyarakat. Di satu sisi mereka yg percaya kepada Kapitalisme menyandarkan keadilannya kepada uang. Uang-lah yg berkuasa dan paling layak dibela. Artinya mereka yg memiliki uang atau kapital yg banyak yg paling layak mendapatkan berbagai fasilitas dan paling layak mendapat banyak perhatian dari penguasa. Oleh karena itu ketika mereka berkuasa di negeri ini maka segala aturan disandarkan pada kaidah “pemilik modal adalah segalanya”. Dengan alasan mengembangkan iklim investasi ribuan SDM dan perusahaan negara yg potensial dijual kepada swasta. Atas nama kemandirian, subsidi untuk rakyat dicabut tidak peduli rakyat megap-megap.
Berbeda dg Kapitalisme, ekonomi kerakyatan yg lahir dari rahim Sosialisme lebih mengedepankan kepentingan-kepentingan rakyat kecil. Pembelaan terhadap rakyat kecil dilakukan sedemikian rupa, sedangkan kepada mereka yg selama ini dianggap sebagai kalangan borjuis akan diacuhkan oleh negara. Model ini dikenal sebagai model pertentangan kelas, dimana kelas proletar (rakyat kecil) berhak memimpin golongan borjuis (para konglomerat dan korporasi). Meskipun tidak seekstrim pada era Uni Sovyet atau ketika Aidit memimpin PKI, konon sistem ini tetap membuat para konglomerat ketar-ketir. Mereka takut bahwa apa yg selama ini mereka nikmati akan dipreteli oleh negara.
Uniknya sistem ekonomi kerakyatan ini seringkali dikait-kaitkan dg Islam. Karena ada beberapa oknum tertentu yg memandang bahwa Islam juga melakukan pembelaan terhadap rakyat kecil. Jelas sejak awal sistem ekonomi kerakyatan berbeda dg Islam, apalagi neoliberal yg juga gak nyambung dg nilai-nilai Islam. Islam memiliki patokan tersendiri dalam melihat apa dan siapa yg layak dibela dan mendapat keadilan. Islam tidak menyandarkan pembelaan kepada seseorang hanya karena orang tersebut kaya ataupun miskin, Islam ataukah kafir.
Dalam sistem Islam, Syariat menjadi prasyarat penting bagi negara. Negara menerapkan hukum-hukum Syariat dan diterapkan di tengah-tengah masyarakat tanpa pandang bulu. Syariat menjadi sumbu putar dan siapapun dia, entah kaya atau miskin, buruh atau majikan, pejabat atau rakyat, bahkan Khalifah sekalipun apabila menyalahi Syariat maka ia layak mendapat peringatan dan hukuman. Beberapa peristiwa di bawah ini memperlihatkan bagaimana sistem keadilan Islam berjalan.
Gubernur Mesir, Amru bin Ash hendak membangun sebuah masjid besar di ibukota Kairo. Ia melakukan pembebasan tanah yg hendak menjadi lokasi proyek pembangunan tersebut. Akan tetapi proyek terganggu akibat tanah seorang wanita yahudi tua miskin yg tidak mau digusur. Dengan segala daya upaya, Amru dan aparatnya memaksa wanita tua ini menyingkir agar gubuknya bisa dirobohkan dan tanahnya digunakan untuk pembangunan masjid. Wanita tua ini tersinggung dan merasa terdzalimi, dg susah paya ia berangkat ke ibukota Kekhilafahan di Madinah. Ia segera menemui Khalifah Umar ibn Khattab dan mengadukan perbuatan gubernur Amru bin Ash kepadanya.
Tanpa banyak kata Khalifah Umar mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah. Kemudian dg pedangnya ia menggores tulang tersebut dg huruf alif, lalu ia menggores huruf alif tersebut dg goresan melintang. Khalifah Umar kemudian menyuruh nenek tersebut menyimpan tulang tersebut dan menyampaikannya kepada gubernur Amru bin Ash. Seketika ketika telah sampai di Mesir dan pesan telah disampaikan, gubernur Amru bin Ash menjadi pucat pasi dan segera memerintahkan pemberhentian proyek pembangunan masjid. Bahkan ia menyuruh aparatnya untuk membangun kembali gubuk sang nenek yahudi dan menggantinya rumah yg permanen karena terlanjur dirobohkan. Melihat ini semua wanita yahudi tersebut kaget dan kemudian ia bertanya kepada sang gubernur. Amru bin Ash kemudian menerangkan maksud pesan tersebut “Khalifah berpesan kepadaku bahwa apapun pangkat dan kekuasaanku suatu saat pasti aku akan menjadi seperti tulang ini. Karena itu aku harus adil seperti adilnya huruf alif. Adil di atas juga adil di bawah. Sebab kalau aku tidak adil maka Khalifah akan menggores leherku ini dg pedang”.
Sedangkan di waktu yg lain Abdullah ibn Rawahah endapatkan tugas memungut sebagian hasil panen kurma orang-orang yahudi Khaibar sesuai dg perjanjian. Para petani yahudi tersebut mencoba menyuap Ibn Rawahah. Namun apa kata Ibn Rawahah, “demi Allah, kecintaanku kepada Allah dan RasulNya yg melebihi apapun di dunia ini, membuatku tidak akan pernah mengkhianati amanat ini. Tetapi demi Allah.., kebencianku yg amat sangat terhadap kalian wahai makhluk yg lebih hina dari kera dan babi, tidak akan pernah membuatku berbuat zhalim dan tidak adil sedikitpun kepada kalian”. Mendengar pengakuan jujur Ibn Rawahah tersebut, para petani tersebut membuat pengakuan jujur, “karena sikap seperti inilah bumi dan langit tegak.”
Inilah model keadilan dalam Islam, tanpa pandang bulu. Maka ketika sistem Islam ditegakkan oleh negara, orang kafir pun berujar dan menggumam doa “karena sikap inilah bumi dan langit tegak”.
Ditulis dalam Politikologi | 5 Komentar »
Di sebuah Republik yg kondisinya carut marut seperti Indonesia hiduplah seorang Presiden yg berkuasa (yg katanya) atas nama rakyat. Suatu ketika Sang Presiden mengalami penyakit yg super duper komplit. Mulai dari PKK (PanuKadasKurap), bengek, sembelit, impoten, flu tulang, hingga kanker, jantung koroner, sampai stroke ringan. Karena Sang Presiden sakit, maka negeri yg carut marut semakin menuju ke dalam keadaan yg chaos a.d. Mulai tim dokter kepresidenan, shinshe Cina, tukang urut Cimande, hingga berbagai rupa dukun (dari dukun pijat, beranak, hingga togel) dipanggil. Mereka berjuang menyelamatkan Sang Presiden idam-idaman rakyat. Akhirul diagnosa, diambil kesimpulan bahwa Sang Presiden hanya sembuh klo makan gorengan jantung pemuda hitam manis yg berbodi kutilang (kurus tinggi langsing), jago nulis, dan terkenal sebagai mahasiswa abadi. “APA (ekspresi kagetnya Olga), kok kayak yg nulis nih artikel???”.
Para intel (mulai Celeron sampe Core 2 Duo) menyebar ke seluruh negeri. Untuk nyari nih orang. Para anggota dewan yg biasanya hobi tidur, siang malam rapat untuk melegislasi UU yg membolehkan makan gorengan pemuda. Jaksa Agung mengetukkan palunya menyetujui UU ini. Bahkan para Ulama segera buka2 kitab untuk memberikan fatwa halalnya makan gorengan jantung pisang, eits manusia. Sedangkan Menteri Penerangan muncul 3 kali sehari (kayak minum obat aja) di stasiun televisi, radio, dan koran serta majalah untuk menerangkan kamsud Sang Paduka dan manfaatnya bagi Republik dan rakyat seluruh tanah air. Akhirnya orang yg dicari ketemu juga. Dengan embel-embel demi kemaslahatan bangsa maka mulai gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RT/RW nih pemuda diam waktu pemuda tersebut dikeler kayak maling jemuran ke mobil trantib. Bahkan dg iming2 gelar bintang Mahakarya Penyelamat Negara, piala Adijasa Kartika, uang berjuta-juta, hingga bedah rumah, orang tua si pemuda pun rela menyerahkan anak satu-satunya yg merupakan hasil garapan kerja lembur semalam suntuk.
Maka tibalah hari eksekusi. Sang pemuda akan dihadapkan ke depan halaman istana. Prosesinya dibuat sekhidmat mungkin lebih dari upacara bendera peringatan lahirnya Republik tersebut. Hari eksekusi ditetapkan sebagai hari libur. Ratusan bahkan ribuan wartawan media merelay secara langsung detik-detik menegangkan tersebut. Bahkan koran, radio, dan televisi menyiarkan secara berkala mulai dari H-7 hingga H+7 (kayak mudik aja).
Acara pun dimulai dg dibuka dg dua tiga biji pidato, kemudian doa dari ketua Mufti Ulama Negara, akhirnya lima orang algojo berjalan menuju halaman istana sambil menyeret sang pemuda untuk segera dieksekusi. Tiba-tiba sang pemuda itu mendongak ke langit dan tersenyum. Sang Presiden dan para hadirin semua terhenyak dan kaget. Mereka semua bertanya-tanya, dalam keadaan seperti ini mengapa pemuda ini malah tersenyum??
Seperti punya pikiran ala Joe Sandy pemuda ini mengerti gundah gelisah para hadirin semua. Dalam penghabisan kali pemuda ini kemudian angkat bicara. “Ayah dan bunda seharusnya menjaga dan merawat anak-anaknya, para wakil rakyat haruslah menjadi pembela rakyat, jaksa agung mestinya tempat pengaduan, Ulama harusnya menjadi penerus para anbiya’ penegak kebenaran, dan penguasa adalah pelindung bagi rakyatnya dan penegak keadilan. Tapi kini ayah dan ibuku mengantarkan aku pada kematian karena pertimbangan dunia, wakil rakyat telah mensahkan undang-undangnya, jaksa agung mengetokkan palunya, Ulama juga telah mengeluarkan fatwanya, dan penguasa telah mencari keselamatan dg jalan membunuhku. Selain Tuhan tidak ada lagi yg melindungiku.
Kemana aku harus lari dari cengkeraman tanganmu? Kemana aku harus lari dari kedzalimanmu, wahai penguasa? Jika keadilan telah kalian pemainkan demi nafsu sesaat? Jika kebenaran hanyalah apa yg menurut kalian benar? Jika hukum dapat kalian jual belikan?
Maka akan aku cari keadilan yg bertentangan dg kekuasaanmu. Akan aku cari kebenaran mutlak yg jauh dari pengaruhmu. Dan jika hukum dunia tidak mampu menyelamatkanku, semoga hukum Tuhan mampu membebaskanku.”
Mendadak para algojo jadi mampret. Semua hadirin jadi bergetar. Apalagi suasana kemudian menjadi gelap dg datangnya mendung dan tanda-tanda angin puting beliung.
Sang Presiden akhirnya tersentuh. Ia menangis dan berkata, “lebih baik aku binasa daripada menumpahkan darah yg tak bersalah”. Sang Presiden mencium kepala sang pemuda, memeluknya, dan membebaskannya dari eksekusi.
Akhirul kalam, menurut shahibul hikayat, pada saat itu juga Sang Presiden sembuh dari sakitnya.
(nih cerita gw bajak dari bukunya kang Jalal dan beliau ngambil dr kisah Gulistan-nya Sa’adi. nih cerita gw modif biarlebih ashoi)
Ditulis dalam nasehat buat yg berkuasa, sebuah pesan & kisah | Leave a Comment »
Satu buah entry kosakata tiba-tiba lenyap begitu saja dari memori otak gw, plaass kayak dompet yg ketinggalan di terminal. Terus terang gw bingung banget, gw coba melakukan apa yg dilakukan kuburan band tapi tetep gak ketemu juga. Gw mencoba mensejajarkan seluruh deretan abjad mulai dari a, b, c, d, e..sampai z tetep gak ketemu juga.
Gw jadi makin pusing. Kemudian gw bongkar perpus pribadi gw. Mulai dari Laskar Pelangi, Filosofi Kopi, hingga Professor and The Madman-nya Simon Winchester gw buka2. gak cukup sampe disitu, seluruh Openmind edisi lama, Neraka Guantanamo-nya Moazzam Begg, hingga Rekayasa Sosial-nya kang Jalal gw pelototin tetep gak ketemu juga. Gw cuman ketemu kosakata Dul Muluk, Bedlam, hingga Polygloth. Gw panik, maka kemudian gw nerapin ilmunya Gus Dur, tidur. Sapa tau pas tidur gw dapat ilham kayak biasa yg gw lakuin. Bukannya dapat ilham gw malah dapat desi, gimana coba gw malah mimpi basah. Perasaan dari mau tidur gw cuman bayangin huruf ama kosakata (suer gw gak bayangin Dian Sastro sama sekali).
Ya udah terpaksa deh gw mandi. Tapi mumpung di kamar mandi gw melakukan ritual yg biasa dilakuin sastrawan gila, nongkrong di WC. Lama gw nongkrong eh ilham gak muncul2 juga (ya iyalah, ilham kan demen ke warkop bukan ke WC). Ya akhirnya gw mandi juga. Pas mandi gw bayangin Archimedes, tapi karena kamar mandi gw tipe kamar mandi kampung maka gak mungkin klo gw masuk ke bak mandi. Bisa2 emak gw marah ato gw malah dipatil ikan lele yg jadi penghuni bak mandi, berabe kan. Ya udah gw tetep mikir sambil mandi, tapi tetep hasilnya nihil.
Gw akhirnya cuma bisa bilang apa ya? Apa ya? Kok gak tau sih?. Karena buntu akhirnya gw ingat tipsnya pak Taufik Ismail, gw sholat. Biasanya pas sholat gak tau darimana tiba2 kayak ada yg bisikin. Tapi tadi pas gw sholat gw malah gak dapat tu bisikan, malah gara2 gw sok serius malah sholat gw jadi khusyuk. Gw blank se-blank-blanknya.
Ya udah jalan satu-satunya gw mau ke warnet. Mo nyari di wikipedia atau mbah Google, sapa tau ada. Tapi sebelum gw ke warnet gw nyoba tanya ke dua orang dedengkot penulis yg gw kenal, mbak Ria Fariana ama mbak Kanasangoutlier. Gw SMS mereka dg setengah hati karena gw udah capek banget mikir. Gw udah kayak Chris John yg udah tarung 12 ronde tapi lawannya gak roboh2. Sebelum bel berakhir gw nyoba peruntungan terakhir, eh usaha gw berbalas. HP gw berdering dan dari seberang sana sebuah harapan muncul. Akhirnya ketemu juga tu entry. Ya gw akhirnya menemukan kembali kata “De Javu” sebuah istilah yg menggambarkan tentang sebuah peristiwa yg kayaknya pernah kita lakukan sama persis tapi di waktu yg lain.
***
Melihat usaha gw, seorang kawan komentar “coba klo para capres-cawapres usahanya seperti kamu, pasti masalah negeri ini cepet selesai”.
Mendengar koment temen gw tadi gw cuman bisa bales “harusnya gak para capres doang, harusnya nt, gw, dan seluruh kaum muslimin. Coba klo kita tau “harta” Islam yg hilang dan mencurahkan segenap usaha untuk mencarinya, pasti kondisi kaum muslimin gak jadi kayak gini. Lagian ngapain sih sibuk ngurusin capres, mereka kan gak sibuk “ngurusin”, tapi “nggemukin” diri sendiri.
Ditulis dalam Catatan di sekitar hidupku | Leave a Comment »
ALKISAH ada seorang ibu bermata satu yang mempunyai satu anak laki-laki.
Ketika anak laki-lakinya belajar di Sekolah Dasar (SD), si ibu datang ke sekolahnya untuk melihat anaknya. Tapi apa yang terjadi? Si anak laki-lakinya justru merasa malu. Ia diolok oleh temannya karena memiliki ibu yang matanya hanya satu. Sesampainya di rumah, sang anak memarahi ibunya dan sejak saat itu si Ibu tidak diperbolehkan untuk bertemu teman sekolahnya.
Setelah anaknya dewasa, sang anak telah bekerja dan sukses. Bahkan ia sudah berkeluarga, memiliki istri yang cantik seperti istrinya Divan dan anak-anak yang lucu seperti Nyawa (anaknya Divan juga). Karena kerinduan sudah memuncak, sang ibu pun ingin berjumpa dengan anak dan cucu-nya.
Sesampai di depan pintu rumah sang anak, sang ibu malah diusir. Anak laki-laki semata wayangnya itu malah mengeluarkan kata-kata zaman kolonial. “Untuk apa kamu datang kesini! Dasar orang tua picak! Wanita ber-MATA SATU!” lelaki itu mengarahkan tangannya ke tempat sampah. “Seharusnya kamu nengok kucing beranak di sana! Bukannya malah lihat anak saya! Sumpah! Muka kamu itu, mata picak kamu itu, bukan cuma nakutin trenggiling, tapi buat anakku menjerit, tau!”
Sang ibu bermaya satu diusir oleh anaknya sendiri. Ia pun pulang. Hatinya perih. Yang bisa ia lakukan hanya melihat cucu yang tengah menghapus ingus di hidungnya, dari kejauhan.
Setelah sekian lama waktu berlalu …. sang ibu bermata satu pun menderita.
Penyakit membuat tubuhnya keropos. Sang ibu merasa bahwa hidupnya tak akan berlangsung lama lagi. Ia pun menitipkan kabar kepada tetangga, untuk di sampaikan kepada anak-laki-laki satu satunya itu.
Tapi sang anak tetap tidak mau datang. Sang ibu pun meninggal dalam kesendiriannya.
Waktu pun berjalan. Pada suatu kesempatan, istrinya bertanya kepada suaminya (si anak lelaki). “Mengapa kakanda tidak pernah datang ke rumah ibunda kakanda? Kami pun ingin mengenalnya.”
“Saya sedang sibuk,” jawab sang suami. Namun, karena dibujuk oleh bujukan yang hanya dimengerti oleh orang yang pernah berumah tangga atau berzina, sang lelaki pun akhirnya pergi ke rumah ibunya.
Lelaki itu pun datang ke rumah yang telah lama ditinggalkan. Ia membuka pintu rumahnya. Pintu itu berderit. Mata lelaki itu lantas terpaku pada secarik kertas yang teronggok di atas meja. Ia pun membacanya. Tubuhnya yang ditempa oleh fitness, tiba tiba meluruh. Bahunya yang tegap menjadi kuyu. Seluruh tubuh bahkan jiwanya, tiba-tiba tergetar. Ia menyesali apa yang pernah ia lakukan pada bundanya.
“Anakku,” tulis sang ibu. “Aku sangat bahagia melihatmu menggapai kesuksesan. Ketahuilah nak, bahwasanya kamu kecil hanya mempunyai mata satu dan aku telah merelakan mata yang satu lagi untuk diberikan kepadamu. Aku ingin selalu melihatmu bahagia. Aku telah memaafkanmu.”
Itulah mengapa lelaki tersebut meraung layaknya hyena.
Ya, segalanya telah terjadi. Lelaki itu pun mencongkel mata dan membalut matanya itu dengan kertas yang ditinggalkan oleh ibunya… ya ibunya yang bermata satu itu
.
-sebuah tulisan dari blognya bang Divan. Gw edit sedikit agar bahasanya enak. Asli nih tulisan bikin gw merinding-
Ditulis dalam artikel tamu | Leave a Comment »
“Daripada melawan 70 orang dalam satu pertarungan, lebih baik bertarung dg mereka satu persatu 70 kali. Jangan biarkan pedang dan pikiranmu berhenti di satu tempat. Jangan biarkan pedang dan pikiranmu berhenti pada satu orang. Teruslah mengalir…” Miyamoto Musashi.
Apa yg ada dalam benak kita apabila membayangkan bendungan. Sebuah bangunan beton raksasa yg berfungsi membendung aliran sungai. Apa persepsi kita tentang bendungan, waduk, dam, atau apapun sebutannya. Kita pasti mengenal nama-namanya yg sudah kita hapal sejak SD. Ada Karangkates di Malang Jatim, Jatiluhur di Jawa Barat, Sigura-gura di Sumatra Utara (kampungnya bang Azri), dan Gajah Mungkur yg mengatur Bengawan Solo, hingga Aswan yg membendung Nil di Mesir dan Dam Tiga Lembah-nya Yang Tze Kiang di China. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar kita sudah dicekoki bahwa bendungan adalah bukti kemajuan pembangunan. Bendungan memiliki nilai positif. Bendungan menjadi pusat listrik tenaga air, sebagai pengatur irigasi persawahan, pengendali banjir, pusat budidaya perikanan, hingga tempat rekreasi air. Dari sini maka kemudian kita akan kesulitan ketika menjawab pertanyaan, adakah nilai2 negatif dari pembangunan sebuah bendungan? Dan kalaupun ada seseorang yg mampu menjawab pertanyaan di atas mungkin kita langsung bertindak sebagai oposisi atas jawaban tersebut. Tapi kalau yg menjawab ahli dan bukti-buktinya ada dihadapan kita gimana?
Memang sudah jadi tabiat manusia yg memiliki akal untuk berpikir dan meniru alam. Teknologi bendungan sebenarnya meniru apa yg dilakukan oleh berang-berang. Akan tetapi terkadang karena terlalu kelewatan, apa yg dimaksudkan untuk kebaikan justru malah merusak, termasuk yg namanya bendungan. Dalam salah satu acara “earth from above” di Metro TV diperlihatkan ternyata banyak bendungan yg dibangun di dunia ini justru merusak. Salah satunya adalah bendungan Iguazu (klo gak salah ingat) di Argentina. Bendungan ini dimaksudkan untuk pembangkit tenaga listrik dan irigasi. Ternyata bendungan ini menjadi penyebab hancurnya ekosistem sungai. Sungai kehilangan kehidupan. Ikan, kerang-kerangan, hingga berbagai organisme sungai. Sungai pun menjadi miskin dan akibat besarnya adalah manusia yg hidup di sepanjang aliran sungai mengalami kerugian. Itu belum seberapa, karena bendungan terpaksa menggenangi lahan yg luas maka banyak warga yg kehilangan tempat tinggal. Bekas lahan dan pepohonan ternyata juga menyimpan bahaya besar. Pokok-pokok pohon yg tenggelam mengeluarkan sejenis zat teretntu yg mencemari air. Akibatnya adalah air menjadi tidak layak dikonsumsi oleh makhluk hidup. Dan yg jadi masalah justru proyek pembangkit listrik dan irigasi tidak seluruhnya dinikmati warga. Listrik dan irigasi lebih banyak mengalir ke perusahaan-perusahaan besar serta perkebunan yg kebanyakan dikelola oleh asing (korporasi) seperti General Electric dan Mosanto.
Itu baru masalah yg terjadi di Argentina. Di China pembangunan Dam Tiga Lembah yg dimaksudkan sebagai pengendali banjir tahunan sungai Yang Tze justru malah menimbulkan masalah baru. Endapan sungai (yg terkenal dg lumpur kuningnya) tertahan di dalam Dam. Endapan ini bila tidak segera ditangani maka akan menumpuk dan pada tahun 2010 endapannya bisa seluas kota Shanghai. Akibat dari fenomena ini adalah semakin “miskin”nya kawasan delta sungai. Akibat tertahannya endapan sungai di dam, kawasan delta menjadi sangat rentan erosi. Tanah di kawasan delta tergerus oleh aliran sungai menuju laut dan kawasan tersebut tidak mendapatkan pengganti dari sungai. Maka kota Shanghai yg terletak di delta Yang Tze terancam akan tenggelam ke laut.
Waduk ternyata juga dapat menjadi ancaman bencana kemanusiaan. Berita terbaru dari Jawa Pos menyebutkan bahwa Iraq terancam oleh bencana kekeringan disebabkan ditahannya aliran sungai Eufrat dan Tigris di hulu masing-masing sungai yg ada di Turki, Iran, dan Syiria. Akibatnya volume air di Eufrat dan Tigris semakin hari semakin berkurang. Dari peristiwa ini dapat disumpulkan bahwa penderitaan seakan-akan belum mau menjauh dari warga Iraq.
Melihat fenomena di atas saya jadi ingat guru ngaji saya di kampong. Beliau pernah cerita ke saya bahwa ilmu itu ibarat air. Apabila airnya terlalu banyak, maka biarkanlah ia mengalir. Jangan pernah engkau mencoba membendung air yg sedang mengalir. Karena air yg tergenang adalah sumber penyakit. Guru saya waktu itu mengibaratkannya dg selokan depan mushola. Kalau selokan itu tergenang akibatnya fatal. Selokan bisa menjadi penyebab banjir pas musim hujan, ia juga bisa menjadi sarang nyamuk demam berdarah, dan selokan bisa mengeluarkan bau busuk yg mengganggu kekhusyu’an ketika kita sholat. Itu baru selokan, lha kalau sungai sekelas Tigris ama Eufrat bagaimana???
Begitu pula dg ilmu. Ilmu yg sudah kita dapatkan (lebih2 ilmu keislaman) hanya akan menyebabkan mudharat bahkan bisa menjadi kerusakan bagi penegmbannya apabila tidak “dialirkan” dalam bentuk amal dan dakwah. Amal sholeh membuat ilmu menjadi berguna bagi pengembannya, sedangkan dakwah membuat ilmu menjadi berguna bagi orang lain.
Terakhir guru saya menyitir salah satu hadits Rasullullah tentang sosok seorang muslim. Kata guru saya seorang muslim adalah ibarat sebuah biji pohon mangga. Kalau ia berilmu maka ia bagaikan biji yg berkecambah. Kalau ilmunya diamalkan maka ia bagai kecambah yg tumbuh menjadi pohon yg akarnya kuat menancap di bumi dan batang serta ranting dedaunannya tinggi menggapai langit. Dan apabila ia mendakwahkan ilmunya maka ia ibarat pohon yg berbuah ranum tanpa mengenal musim.
Maka apa yg engkau pilih wahai muridku. Menjadi biji yg hanya glundang-glundung dan kemudian dicampakkan ke tempat sampah. Menjadi kecambah yg gagal bersemi. Menjadi pohon rindang tak berbuah yg akhirnya hanya menjadi kayu bakar. Atau menjadi sebuah pohon yg sempurna, sosoknya gagah menantang angkasa, tunduk menaungi manusia dari sengatan sang surya, dan berbuah dg buah yg manis tanpa mengenal musim.
Ditulis dalam Catatan di sekitar hidupku, sebuah pesan & kisah | Leave a Comment »
Oleh: KH. Muhammad Shiddiq Al Jawy
1. Pendahuluan
Di tengah berbagai gejolak politik dan ekonomi praktis yang terjadi dalam skala lokal dan global, pengkajian kritis terhadap ideologi sosialisme dan kapitalisme tetaplah urgen bagi umat Islam. Terhadap sosialisme, mestilah dinyatakan bahwa keruntuhan Uni Soviet awal dekade 90-an bukan berarti akhir absolut dari sosialisme. Kematian sosialisme bukanlah kematian biologis seperti kematian hewan yang mustahil hidup kembali. Sosialisme hanya mengalami kematian ideologis. Secara demikian sosialisme memiliki daya potensial untuk hidup kembali lagi ke muka bumi, selama masih ada individu atau kelompok yang mengimani sosialisme serta mengupayakan implementasinya dalam praktik kehidupan manusia. Karena itu, studi kritis atas sosialisme bukanlah hal yang tidak kontekstual, melainkan justru urgen untuk memadamkan sisa-sisa api yang kini masih menyala dalam reruntuhan dan puing sosialisme.
Terhadap kapitalisme, studi kritis terhadapnya tentu lebih urgen lagi, sebab setelah runtuhnya Uni Soviet, hegemoni ideologi kapitalisme semakin menguat dan merajalela tanpa lawan yang berarti dalam panggung politik internasional. Di sinilah muncul urgensitas studi kritis kapitalisme, sebab kapitalisme telah mewabah dan mendominasi umat manusia di seluruh dunia dengan berbagai implikasi buruknya. Karena itu, hancurnya kapitalisme bukan sekedar tantangan, melainkan telah menjadi keniscayaan sejarah yang bebannya terpikul pada pundak umat Islam dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari penindasan kapitalisme. Dan studi kritis kapitalisme tak diragukan lagi merupakan langkah pertama dari sekian upaya untuk menghancurkan ideologi tersebut. Dibandingkan dengan manuver ekonomi, politik, dan militer untuk meruntuhkan sebuah negara penganut ideologi tertentu, studi kritis terhadap suatu ideologi haruslah didahulukan, sebab manuver-manuver tersebut hanyalah langkah cabang dari langkah pangkalnya, yaitu kritik terhadap ideologi yang menjadi basis bagi segala praktik implementasinya dalam segenap aspek kehidupan.
Bagi umat Islam umumnya dan aktivis Islam khususnya, studi kritis ideologi-ideologi asing ini menjadi satu sisi mata uang yang tak terpisah dengan sisi lainnya, yaitu penanaman ideologi Islam ke dalam pikiran dan jiwa umat Islam. Sebab upaya penanaman ideologi Islam tidak akan efektif kalau tak disertai dengan upaya pencabutan ideologi-ideologi asing tersebut dari pikiran dan jiwa umat Islam. Penanaman dan pencabutan adalah dua sejoli yang harus berjalan seiring, tak dapat dipisahkan.
Makalah ini menjelaskan kritik terhadap ideologi sosialisme dan kapitalisme, ditinjau dari segi asas yang mendasari masing-masing ideologi. Metode yang digunakan adalah analisis komparasi terhadap asas-asas ideologi sosialisme, kapitalisme, dan Islam, disertai kritik terhadap asas ideologi sosialisme dan kapitalisme berdasarkan bukti rasional-faktual (dalil aqli) dan bukti imani (dalil naqli).
Untuk selengkapnya klik tanda download ini
Ditulis dalam Donlotan | Leave a Comment »
Tiap malam para kucing di kampung saya mengadakan konser. Mereka bergaya di depan para betina. Berngeong-ngeong layaknya para vokalis band rock. Mereka sadar para betina pada jual mahal, oleh karena itu mereka mengeluarkan segala daya upaya untuk menarik perhatian para kucing betina.
Kucing betina juga sama. Tau jadi perhatian mereka sok jual mahal, sambil nangkring di atas pagar mereka menyaksikan aksi para pejantan. Suasana makin malam makin memanas, suara mereka makin tinggi akibat hormon yg udah naik di atas kepala. Suara mereka bikin orang sakit gigi makin sakit dan menjadi penyebab insomnia ringan. Tetangga saya yg gak kuat mental langsung melempar kucing-kucing ini dg sandal, batu bata, atau paling parah air panas. Tetangga saya gak salah karena para kucing ini memang menyebalkan. Mereka masing2 memiliki mental baja untuk berebut betina dan gak mau berbagi satu sama lain (ya iyalah emang sapa yg mau berbagi istri). Kalau adu makian udah gak bisa menyelesaikan masalah, maka cakar dan taring mereka beraksi. Mereka para pejantan saling bergumul satu sama lain sampai salah satu dari mereka menggelepar dan lari terbirit2 kayak jin tomang dilempar asbak. Setelah itu waktunya indehoy dg para betina di manapun dan kapanpun mereka sempat (dasar hewan gila). Trus pas udah pagi, para kucing tersebut mengincar dapur tetangga. Maka begitu para penghuni lengah, ikan bandeng goreng jatah sarapan langsung lenyap. Maka gak salah klo gerombolan kucing-kucing ini disebut “Kucing Garong”
Ingat para kucing tersebut kok saya jadi tertawa sendiri. Kelakuan mereka gak beda ama mereka yg akhir2 ini demen muncul di tivi. Mereka2 yg akhir2 ini demen banget koar-koar, saling sindir satu sama lain, n jual janji sana-sini. Saya gak tau apa mereka nantinya sampe cakar2an kayak kucing2 di kampung saya. Saya hanya mau mengingatkan hati-hati saja sama mereka. Siapa tau klo udah jadi malah jadi gerombolan “Kucing Garong”. Yg pasti ingat mereka saya jadi ingat adagium “awas jangan beli kucing dalam karung”, tapi klo boleh menambahkan saya akan menambahkan “ngapain beli kucing klo kelakuannya nyebelin, karena gak hanya tikus yg jago nggarong” he..he..he…
Ditulis dalam Catatan di sekitar hidupku, nasehat buat yg berkuasa | 3 Komentar »

