Feeds:
Tulisan
Komentar

(1)

Inilah syair pertama tentang secercah sejarah

Mengenai nabi Muhammad menjelang wafat

Ketika sakit beliau sudah terasa berat

Pada tabungannya yang sedikit jadi teringat

Menyedekahkannya belumlah lagi sempat

Maka Rasulullah berkata pada Aisyah

“Aisyah, mana itu ashrafi?

Sedekahkanlah segera di jalan Allah

Berikanlah secepatnya pada orang tidak berpunya

Bila masih ada harta kutinggalkan

Di rumahku ini, pasti itu bakal jadi rintangan

Dan aku tak aman menghadap Tuhan.”

Sesudah tabungan itu dibagikan

Maka wafatlah beliau dengan aman.

(2)

Inilah syair kedua tentang Khalid bin Walid

Perwira tinggi yang amat gagah berani

Seorang jenderal pertempuran yang sejati

Caranya mati dia sesali sendiri

Karena bukan gugur di medan pertempuran

Tapi karena sakit, mati di atas dipan

Mengenai harta benda yang dia tinggalkan

Hanya tiga jenis macamnya:

Sebilah pedang

Seekor kuda

Dan seorang pembantu rumah tangga.

(3)

Inilah syair ketiga tentang Umar yang perkasa

Yang pernah menaklukkan Persia dan Roma

Yang kilatan pedangnya menggoncang kerajaan demi kerajaan

Yang perkasa, kaya serta berkuasa

Tetapi sesudah dia tiada lagi bernyawa

Warisannya cuma sehelai baju

Terbuat dari kain yang kasar

Dan uang lima keping

Seharga lima dinar.

(4)

Inilah syair keempat tentang Aurangzeb

Penguasa imperium Mughal di India

Luas dan jaya kerajaannya

Adil serta merata kemakmurannya

Dan ketika dia pergi menghadap Tuhan

Dia meninggalkan dua warisan

Pertama, uang sebanyak empat rupi dua anna

Hasil penjualan kopiah jahitannya

Kedua, uang sebanyak 305 rupi

Upah menyalin Qur’an dengan tangan

Dan semua uang itu kemana pergi

Pada rakyat yang miskin habis dibagi-bagi.

(5)

Inilah syair kelima tentang Sultan Shalahuddin

Pahlawan perang yang sangat harum namanya

Raja dari kawasan yang sangat luasnya

Sultan dari kerajaan yang amat makmurnya

Dan dia, pada hari wafatnya

Tidak mewariskan harta benda suatu apa

Karena seluruhnya sudah habis disedekahkannya

Pada kawula fakir miskin yang lebih memerlukannya

Sehingga biaya pemakamannya

Adalah urunan dari sahabat-sahabatnya

Dan ada rakyat yang menyumbangkan batang-batang jerami

Untuk membuat batu bata

Sebagai pagar dari makamnya

(Taufik Ismail, “Lima Syair tentang Warisan Harta” dalam MAJOI)

Anak-anak palestinaInilah gambaran tentang manusia-manusia hasil gemblengan sistem sejati. Sistem ini menghasilkan manusia-manusia besar yang mampu menaklukkan dunia, meraih kemuliaan di sisi Tuhan, dan namanya harum dikenang oleh generasi selanjutnya.

Sedangkan sistem busuk hanya akan menghasilkan manusia-manusia kerdil. Manusia-manusia tersebut berhati pengecut, jauh dari Tuhannya, menjadi hamba dunia, dan namanya akan diludahi oleh lebih dari tujuh turunan.

Islam adalah sistem sejati, yang menghasilkan manusia-manusia sejati model Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid, Al Fatih, Shalahuddin, Thariq bin Ziyad, As Syafi’I, Sulaiman Al Qonuni, Al Bukhari, Al Ghazali, Akbar yang Agung, Abdurahman Ad Dakhil, Harun Ar Rosyid, Cheng Ho, Aurangzeb, para Walisongo, hingga pangeran Diponegoro.

Sedangkan demokrasi hanya akan menghasilkan para pembantai, koruptor, para tiran, hingga penjahat kapiran model Hitler, Bush, Sharon, Pol pot, Slobodan Milosevic, Moshe Dayan, Augusto Pinochet, Zardari, Karimov, Mubarrak, hingga Susno, Anggodo, Ritonga, Artalita, sampai Sumanto.

Maka buanglah demokrasi sekarang juga dan jadilah manusia sejati dengan menegakkan Islam secara menyeluruh dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah.

Katak-katak di dinding

katak di balik daunsampai saat ini saya bertanya-tanya, apa sih standar kebenaran dalam demokrasi? ada yg bisa jawab gak?

kalau mengacu pada aqidah dasarnya yaitu bahwa kekuasaan di tangan rakyat, maka bisa dipastikan bahwa standar kebenaran dalam demokrasi adalah rakyat. masalahnya rakyat yg mana? dan seandainya rakyat menjadi standar kebenaran maka hanya ada dua kemungkinan;berbahaya atau mungkin utopia. berbahaya karena jelas adanya perbedaan antara individu satu dengan individu yg lain dan rentan terjadi konflik di tengah masyarakat. selain itu sebagai manusia terkadang ada kelemahan dan kealpaan dalam mengambil keputusan. maka bisa jadi sebuah aturan diterapkan padahal aturan tersebut melanggar nilai-nilai kemanusian dan bahkan mungkin nilai-nilai Ketuhanan.

selain berbahaya bisa jadi gagasan tersebut hanya utopia. karena terbukti gagasan-gagasan tersebut tidak pernah terbukti di seluruh negeri-negeri yg mengklaim menganut demokrasi (hatta Amerika Serikat sekalipun). buktinya ketika Amerika Serikat dan Inggris memaklumatkan perang terhadap Iraq, jutaan rakyat mereka berdemo di jalanan Washington, New York, dan London. tapi toh perang tetap jalan terus. begitupula yg terjadi di tanah air, mulai kasus kenaikan BBM, Ahmadiyah, hingga kasus cicak versus buaya terbukti bahwa demokrasi ternyata mandul bahkan gak sesuai dg apa yg didoktrinkannya.

maka apa sebenarnya standar kebenaran dalam demokrasi? sebenarnya gak layak kalau pertanyaannya diawali dg kata “apa”, tapi yg benar adalah “siapa”. ya siapa sebenarnya yg dijadikan standar kebenaran dalam demokrasi? karena rakyat adalah suatu hal yg utopia maka penguasalah yg menjadi standar dalam demokrasi. mereka adalah penguasa dan aparat-aparatnya serta mereka yg mengaku menjadi wakil rakyat di Parlemen. merekalah yg menetapkan aturan dan standar kebenaran di tengah masyarakat. kalau sudah begini lalu apa bedanya demokrasi dengan monarki?

selain itu ada kekuatan lain yg bergerak dan menjadi penguasa sesungguhnya dalam sistem demokrasi. kekuatan inilah yg sesungguhnyamenggerakkan, mengarahkan, mengatur, dan membuat standar kebenaran dalam demokrasi. inilah kekuatan yg membuat Presiden Amerika Serikat, Rutherford B. Hayes mengaku dg jujur dan mengoreksi ucapan koleganya yaitu mantan Presiden Abraham Lincoln yg menyatakan bahwa “demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” dan dibantah bahwa sesungguhnya “demokrasi adalah dari perusahaan, oleh perusahaan, dan untuk perusahaan”. maka sesungguhnya standar kebenaran dalam demokrasi ditentukan oleh perusahaan-perusahaan besar yg akrab disebut dg para korporasi.

maka selamat menikmati demokrasi, selamat menikmati sistem ala Fir’aun, Hamman, dan Qorun.

Bukan Lontong Balap

(Tulisan ini sebenarnya tulisan lama saya. Pas waktu masih nganggur, maka iseng-iseng saya buat penelitian gila ini. Oya maaf klo info yg saya tampilkan di sini udah agak kuno. Yaitu info pas awal-awal kompetisi Moto GP pertama kali menggunakan mesin 800cc setelah sebelumnya menggunakan mesin 990cc)Rossi_Assen_victorious

Oke sebelumnya izinkan saya sedikit berprasangka, kamu semua khususnya kaum cowok pasti sering merasa agak2 gimana gitu kalo liat kelakuan para mbak2 yg sering ngebut kalo bawa motor. Mereka para cewek yg katanya lembut dan sering bikin cowok blingsatan (termasuk saya) ternyata bisa juga menjadi penyebab gejala penyakit jantung ringan. Tapi jangan marah dulu, pelankan diri kalian wahai wanita, saya disini tidak sedang membahas salah satu sifat dasar anda. Saya disini hanya mau mengungkapkan sedikit hasil penyelidikan saya mengenai pertanyaan mengapa para cewek kalo sedang mengendarai motor di jalan raya mampu menyaingi kecepatan Valentino Rossi? Gak percaya? Saya saksinya, saya yg sering dijuluki Rossi ama bocah2 di kampung saya pernah kalah tipis waktu nglawan seorang akhwat (maksudnya cewek ato mbak2 pengguna kerudung dan jubah kurung) di jalanan kampus. Saya kalah tipis dan hanya terpaut 00.00,34 detik dan ini sih belum seberapa, karena sih mbak tersebut juga mampu memecahkan rekor fastest lap yg udah saya bikin sejak semester satu (moto GP banget). Belum lagi saya juga pernah dicurhatin seorang temen ikhwan yg cerita kelakuan calon istrinya yg kalo naik motor agak2 gimana gitu (lagi2 nyaingin Rossi)
Bukannya apa2 atau kurang kerjaan mengapa saya melakukan penyelidikan ini. Karena ini adalah murni sebuah pengetahuan yg ingin saya bagi kepada kamu semua. Ini semua berawal dari pernyataan seorang kawan yg mengamati perbedaan kecil tapi besar, mengenai perbedaan pola sikap cowok dan cewek ketika menaiki motor. Para cowok biasanya karena pingin terlihat gagah sering membuka kakinya agak lebar atau dalam bahasa Jawanya mbegagah, entah ketika menaiki motor bebek lebih2 naik motor laki. Sedangkan cewek karena bersifat feminin dan untuk melindungi bagian tertentu dari tubuhnya, seringkali mereka lebih merapatkan kedua kakinya lebih2 bila mereka naik motor bebek (saya kira jarang banget cewek naik motor laki).
Awalnya saya agak kurang respek ketika disodorin hasil penelitian kawan di atas hingga saya membaca sebuah fenomena yg terjadi di Moto GP. Dalam dunia Moto GP penggunaan motor baru selalu dibarengi dengan berbagai macam penelitian dan percobaan. Regulasi mesin 800 cc yg diterapkan pada musim ini menyebabkan seluruh pabrikan melakukan berbagi perombakan. Mulai sasis, power, hingga fairing body. Dan kerena nih motor nanti digunakan untuk adu kebut (siapa bilang buat temen makan lontong) maka motor juga diuji coba dalam windtunnel (opo maneh?) atau terowongan angin. Tujuan percobaan ini selain menguji power dan ketahanan mesin juga untuk menguji aerodinamika motor (ngarti khan) atau bahasa mudahnya bagaimana sih bisa gak tu motor nembus hambatan angin. Karena biasanya angin menghambat laju motor.
Akan tetapi sehebat2nya motor kalo yg nyetir cemen jelas kagak bisa ngeraih target juara minimal menang. Lah disinilah peran pembalap diperlukan dalam menggeber motor sekencang2nya.
Di musim ini setidaknya ada 3 pembalap yg digadang2 meraih juara. The doctor Valentino Rossi, Spanish Boy Dani Pedrosa, dan si Aussie Casey Stoner. Kebetulan ketiganya dibekali senjata pamungkas langsung dari produsen motor. Satu dari Yamaha, kedua dari Honda, sedang yg terakhir dari Ducati. Selain itu ketiganya sama2 alumni kelas 125 dan 250 cc walau beda angkatan. Biasanya para pembalap dari kelas tersebut memiliki ciri khas yg sama dalam membalap. Biasanya mereka dalam memecah hambatan angin atau istilahnya drag, tubuh mereka dirapatkan serapat2nya ke dalam body motor atau dalam bahasa Moto GP disebut sleepstreaming. Dari sini mereka khususnya ketiga pembalap mampu memaksimalkan tenaga atau power motor mereka masing2. Tapi jelas dari ketiganya ada yg lebih menonjol dari yg lainnya, apa itu? Yaitu postur tubuh. Rossi mungkin lebih menang dalam hal pengalaman dan kecerdikannya dalam membalap, akan tetapi ia memiliki tubuh yg agak jangkung. Pedrosa selain didukung pabrikan besar (Honda) dan motor terbaik (RC212V), tapi ia merupakan pembalap terpendek di kelas Moto GP (158 cm) kalo bahasa saya cekak. Stoner walaupun pada musim sebelumnya sering jatuh bangun. Musim ini didukung oleh pabrikan Ducati ia mampu berbicara lebih dg menjuarai beberapa seri. Ia ditengarai memiliki postur tubuh paling ideal serata memiliki punggung yg aerodinamis sehingga memudahkan membelah angin.
Mungkin ini saja yg bisa saya informasikan. Kembali ke awal pembicaraan. Maka penyebab mengapa para cewek seringkali kalo naik motor gila2an karena secara gak sengaja mereka mampu membelah angin dengan mudah diakibatkan sikap mereka yg merapatkan tubuh mereka sehingga ketika melaju tahanan angin bisa diminimalisir. Memang faktor motor dan mental menentukan hal selanjutnya. Maka saya berani menjagokan para cewek bila mereka dibekali motor yg sama dan mental juara hee..he..he..

Journey To The West

“Dibutuhkan Pengorbanan Dalam Meraih Kemenangan”, Optimus Prime dalam film Transformers.My Journey

Suatu hari seorang bocah dg takjub melihat kemegahan Jakarta. Ia takjub melihat jalan tol Cikampek yg kata bapaknya, sampingnya adalah Taman Safari. Ia kagum melihat jembatan layang Semanggi yg mengular. Dan ia lebih kagum lagi ketika melihat kemegahan Gelora Bung Karno (yg waktu itu namanya masih Stadion Utama Senayan), ia kagum melihat militansi ribuan supporter berseragam hijau-hijau yg datang ke Jakarta bersamaan dari Surabaya, ia takjub melihat para supporter memanjat atap GBK untuk memasang spanduk, ia kagum melihat ribuan supporter berteriak, bersorak, berjingkrak, dan kecewa (akhir cerita kekecewaan mereka dilampiaskan dg tawuran antar supporter karena ketika itu Persebaya Surabaya kalah 2-0 dr Persib Bandung di final kompetisi perserikatan). Itulah sekelumit pengalaman gw ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.

Pengalaman tersebut kembali terulang 17 tahun kemudian ketika gw dan teman-teman dari Sidoarjo harus ke Jakarta untuk mengikuti Kongres Mahasiswa Islam Indonesia. Acara ini sendiri akan diikuti sekitar 5000 peserta dari seluruh Indonesia (terbukti pas acara). Dan dilaksanakan di Hall Basket Istora Senayan (yg gara-gara gak diijinin aparat terpaksa acara tersebut dilaksanakan di halaman Hall Basket).

Tapi bukan disebut cerita apabila tidak ada kejadian menarik yg bisa dijadikan bahan cerita. Dan tidak ada sebuah kejadian bila tidak berhubungan dg pengorbanan. Ya seperti cerita gw berikut ini. Kebetulan sejak awal, kami rombongan Sidoarjo yg awalnya berjumlah 20 orang ikhwan hendak berangkat sendiri terpisah dari rombongan besar panitia KMII Jawa Timur. Bukan tanpa sebab kami hendak berangkat terpisah, sebabnya karena dana kami sejak awal udah cekak dan diperkirakan tidak mampu membayar uang perjalanan.

Ya udah kita niat bonek (bahkan kita mau bikin seragam dg tulisan “bonek Sidoarjo”) dg berangkat ke Jakarta naik angkutan umum berupa kereta api. Karena sejak awal dana kita udah cekak kita berencana naik kereta kelas ekonomi. Disepakati kita berangkat hari Jum’at (agar tidak telat mengikuti acara pada hari Ahad) dg kereta Gaya Baru Selatan melalui stasiun Gubeng turun di Jatinegara Sabtu siang. Dari Jatinegara kita akan dijemput oleh akhi Anas (yg sekarang kebetulan kuliah di LIPIA) untuk menuju rumah ust.Fauzan di Kalibata. Di Kalibata kita rencananya mau nginap sampe Senin. Hari Sabtu datang, Ahad ikut acara di Senayan, Senin sore kita balik ke Surabaya pake kereta yg sama dg waktu kita berangkat.

Kemudian muncul wacana baru. Agar tidak terlalu lama di Jakarta, muncul wacana klo kita pulangnya naik bus aja. Kita pulang langsung setelah acara selesai, biar hemat waktu, tenaga, sekaligus biaya. Tapi hingga H-9 wacana ini masih berupa rencana n belum final. Masalah kemudian menimpa gw. Kebetulan beberapa pekan sebelumnya gw mendaftar di Ma’had Aly Al Akbar untuk mengambil studi Ilmu Al Qur’an. Pas pas hari Selasa (H-5) gw  mencari info tentang kapan ujian masuk akan diadakan. Ternyata ujian masuk akan diadakan hari Sabtu. Mendengar info ini gw langsung putar otak. Karena apabila teman-teman berangkat hari Jum’at, maka terpaksa gw harus berangkat sendiri menyusul teman-teman pada hari Sabtu. Pilihan satu-satunya adalah gw harus naik kereta bisnis biar bisa sampe Jakarta tepat waktu (Ahad pagi). Karena tiket KA bisnis agak mahal (perkiraan sekitar 200 ribu) maka dg terpaksa gw sibuk cari dana talangan. Alhamdulillah gak pake lama gw dapat cairan dana sebesar 200 ribu dari seorang kawan baik. Ya udah berarti bila tiket KAnya 220 ribu tinggal mencari tambahan 20 ribu buat beli tiket KA Gumarang.

Tapi dasar rezeki kita gak ikut punya, sehari kemudian gw malah dapat tambahan 75 ribu dari kampus gw sebagai uang kompensasi pengembalian toga (maklum Sabtu sebelumnya gw ikutan wisuda). Dan rupanya keberuntungan masih menaungi gw, Kamis siang gw dapat tambahan modal dari abah sebesar 50 ribu. Tapi selain modal ada yg lebih menggembirakan gw. Kebetulan pas Selasa malam diadakan rapat terakhir menjelang keberangkatan. Seluruh rencana dijabarkan berikut sisi positif dan negatifnya serta perincian dana yg harus ditanggung. Akhir rapat diambil kesepakatan bahwa kita berangkat ke Jakarta hari Sabtu sore dg KA Gumarang. Tentu semua peserta menyambut gembira, lebih-lebih gw yg kemudian hanya tinggal membayar sisa uang iuran perjalanan sebesar 100 ribu. Usut punya usut ternyata semua proposal yg dibagi sama panitia untuk meminta bantuan dana di akhir minggu cair semua. Alhamdulillah.

Tapi kemudian timbul masalah baru. Sabtu pagi gw dan adik mengikuti ujian di Masjid Al Akbar Surabaya (sempet salam-salaman ama peserta KMII Surabaya yg kebetulan berangkat dari depan Masjid Al Akbar). Gw memprediksikan acara selesai pas siang, tapi pas baca jadwal ujian jantung gw terasa copot karena ternyata ujian dilaksanakan sampai jam 5 sore. Untungnya gw sempat pulang untuk ganti baju dan packing barang bawaan. Tapi sampai sini masalah belum selesai. Gw masih bingung gimana nanti sampai ke stasiun Pasar Turi. Telepon teman2 untuk minta jemput, mereka gak bisa. Mau minta anter bang Azri, bang Azri ada janji ama ust. Faqih di jam dan hari yg sama. Mau minta anter Romadon adik gw, gw gak tega sebab doi gak paham jalanan Surabaya n gak punya SIM. Waktu itu gw udah pasrah banget, sampe tiba2 pas gw ngobrol2 sama peserta ujian lain tiba2 beliau cerita soal rumahnya yg ada di Peneleh. Gw mikir ‘Peneleh kan dekat ama Pasar Turi’. Maka kemudian gw mencoba mengorek informasi pada bapak tersebut (yg belakangan gw tau namanya pak Iqbal) n nyoba nanya bisa nebeng gak ke Pasar Turi. Untungnya tuh bapak baik banget mau ngasih tumpangan ke Pasar Turi.

Tapi bukan berarti gw udah tenang. Terus terang aja gw agak khawatir waktu nebeng pak Iqbal. Bukan apa-apa sobat, tapi sebabnya karena motor pak Iqbal yg udah tua (afwan pak saya jadi gak enak waktu kasih komentar), gw takut terjadi apa2 ama tu motor pas di jalan. Tapi pak Iqbal tu orangnya top markotop, doi berdedikasi banget waktu membantu gw. Meski motornya (dlm istilah bang Azri) ubur-ubur tapi doi melarikannya dg kecepatan Rossi. Sampe akhirnya gw selamat dalam keadaan utuh di stasiun Pasar Turi. Setelah gw ngucapin terima kasih ama pak Iqbal, gw langsung tunggang langgang ke stasiun. Untung ketemu teman-teman dan yg lebih untung keretanya masih ada alias belum berangkat. Maka dimulailah petualangan kami ke Jakarta.

Jakarta aku datang

Surprise

Akan ada kejutan di bulan November

Apaan tuh..???

Rahasia, tunggu aja bulan depan

Bingung

Suatu malam H.Somad kebingungan. Pasalnya pas beliau lagi khusyuk2nya mimpin sholat isya’ berjamaah ada salah satu makmumnya yg ‘memberontak’. Kejadiannya begini sobat. Waktu itu pas akhir rakaat ketiga, sebagaimana mestinya sholat isya’ H.Somad langsung aja berdiri buat masuk rakaat keempat. Eh tiba2 dari barisan belakang ada yg teriak “Subhanallah…” dg lantang dan serius. Kontan saja makmum lainnya gak jadi berdiri. Tapi dasar H.Somad imannya kuat beliau tetep aja kekeuh berdiri. Prinsip beliau, “klo gw nuruti tuh makmum bisa2 tambah batal nih sholat. Gak peduli puluhan makmum di belakang gw ‘berontak’, gw kan berpegang pada aturan yg bener. Gw yakin pasti Allah kasih jalan.”. Gak pake lama akhirnya barisan makmum sadar klo imamnya bener. Mereka akhirnya berdiri mengikuti imam sampai akhir. Setelah sholat baru ketahuan siapa biang keroknya. Siapa lagi klo bukan si Jambrong, alasannya doi lupa belum sholat maghrib n nyangka klo jamaah isya’ tadi sebagai jamaah maghrib. Dari cerita di atas gw dapat kesimpulan. Untung aja aturan-aturan sholat berjamaah masih tetep memegang erat aturan Islam (gak kayak pemerintahan yg udah diutak-atik pake aturan demokrasi). Coba kalo pake aturan demokrasi, bisa batal jamaah dikau n malah dapat dosa. Gak percaya? Dalam aturan demokrasi ‘kebenaran’ bukan ditentukan oleh berapa banyak suara yg mendukung. Jadi apabila suatu kejahatan dianggap benar oleh mayoritas (mayoritas??) maka kejahatan tersebut bisa menjadi benar. Maka klo tadi aturan sholat pake demokrasi, maka sehebat, seistiqomah, dan sebenar apapun H.Somad, beliau tetep harus tunduk pada suara mayoritas yaitu para makmum. Dari sini semoga kita sadar bahwa standar yg dibawa demokrasi tuh ambigu dan lucu banget. Gak mungkin banget klo kebenaran harus ditentukan oleh manusia yg kadang lupa (kayak si Jambrong) dan banyak dosa. Makanya gak pake lama buang aja tuh demokrasi, segera ganti aturan lain yg standarnya jelas.

Kepribadian Kambing Betina

pacaran nih yeeRaditya Dika dan Qory telah menjadi buah bibir di seluruh Nusantara belakangan ini. Yang satu adalah blogger yang telah mengembangkan karirnya menjadi penulis naskah film, sedangkan yang satunya lagi baru saja terpilih sebagai Putri Indonesia 2009. Akan tetapi, yang menyedot perhatian banyak orang bukanlah karir mereka, melainkan cara mereka menjalaninya. Raditya menulis naskah untuk sebuah film yang diberi judul Menculik Miyabi, sedangkan Qory mengorbankan jilbabnya demi kompetisi.

Apa yang terjadi pada mereka, atau pilihan yang mereka buat, bukanlah sebuah gejala semalam. Pemikiran tidaklah dibangun secara tiba-tiba, melainkan dengan melalui beberapa tahapan fundamental. Apalagi jika seorang blogger memutuskan untuk mempromosikan seorang bintang film porno – baik itu tujuan utamanya atau tidak – dan seorang putri Aceh sampai memutuskan untuk menanggalkan identitas keislamannya, bahkan kemudian mengumumkannya di atas panggung. Sesuatu telah terjadi pada mereka, dan kita akan sangat rugi jika tidak menjadikannya sebagai bahan pemikiran, tentunya dengan menjadikan kontruksi pemikiran Islam sebagai pembandingnya.

Dualisme

Kedua kasus menunjukkan masalah dualisme yang sangat berat, sebagaimana kerap terjadi dalam peradaban Barat. Ust. Hamid Fahmi Zarkasyi telah menjelaskan fenomena ini dengan sangat menarik. Kepercayaan Zoroaster memandang dunia sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Orang Mesir kuno menjadikan Ra sebagai simbol kehidupan dan kebenaran, berlawanan dengan Apophis yang merupakan simbol kegelapan dan kejahatan. Mitologi Yunani juga selalu menampilkan pertarungan antara Zeus dengan para Titan. Jiwa dan raga dipandang sebagai dua hal yang terpisah.

Sebagai kritik atas dualisme, ada pula paham monisme. Zeus dan Titan ternyata berasal dari nenek moyang yang sama. Dalam kepercayaan Zoroaster, kebaikan inisbatkan kepada Ahura Mazda, sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahriman. Akan tetapi, keduanya adalah saudara kembar. Jiwa adalah pasangan raga, sedangkan keduanya adalah satu kesatuan. Akan tetapi, karena dominasi pemikiran sekuler yang mengobarkan arogansi akal tanpa wahyu, maka monisme tersingkir dan dualisme pun berkibar.

Masalah ini sebenarnya sudah terpecahkan oleh konsep tauhidullaah. Semuanya adalah ciptaan Allah SWT. Pendukung kebenaran dan kejahatan memang senantiasa bertarung, namun yang haq sudah dipastikan kemenangannya, sedangkan yang bathil sudah pasti akan kalah.

Seorang dualis, menurut ust. Hamid, memandang fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa dan raga tidak saling terkait karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci, atau akal selalu baik dan raga dianggap jahat. Kebenaran pun menjadi dua: obyektif dan subyektif. Di era post-modern, kebenaran bahkan ada yang absolut, ada pula yang relatif. Karena itu, manusia pun berandai-andai mengenai ‘pelacur berhati suci’, ‘penjahat yang santun’, ‘pahlawan yang mesum’, ‘ateis yang baik’ dan seterusnya. Dalam akhir uraiannya, ust. Hamid menjelaskan bahwa dualisme ini akhirnya menjadi semacam perselingkuhan intelektual. Hati ber-dzikir pada Allah SWT, tapi pikirannya menghujat-Nya.

Cara berpikir dualis juga yang telah digunakan oleh Raditya dan Qory dalam memilih jalan hidupnya. Raditya mengakui bahwa Miyabi telah menjalani hidupnya dengan sangat hina, namun kapasitasnya dalam film yang digarapnya hanya sebagai bintang film biasa. Karena itu, Miyabi dalam hal ini tak perlu diperlakukan seperti bintang film porno, melainkan sebagai bintang film biasa. Qory pun mengalami masalah yang sama ketika ia menganggap bahwa melepas jilbab – dengan ijin siapa pun, entah benar atau tidak – untuk memenangkan sebuah kontes kecantikan tidak membuatnya menjadi Muslimah yang buruk. Sebagaimana kaum dualis lainnya, Qory mengaku lebih mementingkan ‘menjilbabi hati’ daripada ‘menjilbabi kepala’, karena hati dan tubuh memang dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Raditya mengira bahwa Miyabi bisa menjadi bintang film porno yang tidak merusak, sedangkan Qory menyangka bahwa dirinya bisa menjadi Muslimah yang baik tanpa harus menutup auratnya.

Dalam Islam, dualisme semacam ini sama sekali tidak dikenal. Jika hatinya suci, maka tubuhnya pun harus secara rutin disucikan, bahkan hartanya pun ikut disucikan. Iman pada konsep tauhidullaah harus tercermin dalam perbuatan. Seorang pelaku kemaksiatan adalah pelaku kemaksiatan, selagi ia belum bertaubat. Bukan hanya yang membuat dan yang mengkonsumsi minuman keras yang mendapat dosa, tapi juga yang mempromosikannya, yang menjualnya, bahkan mereka yang bersikap seolah-olah hal itu tidak ada salahnya. Maka, yang berdosa bukan hanya yang membuat dan menonton film porno Miyabi, tapi juga yang membuat Miyabi dikenal luas, termasuk juga yang bertingkah seolah-olah gaya hidupnya itu dapat dibenarkan. Pemikiran Qory juga kontradiktif. Jika memang merasa bahwa rambutnya begitu indah, mengapa ia tidak mensyukurinya dengan menjalankan perintah Dia yang telah memberinya rambut indah?

Relativisme

Dalam kasus Raditya, penyakit relativisme sangat menonjol. Dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi swasta, ia mengatakan bahwa penolakan orang terhadap film Menculik Miyabi itu biasa-biasa saja, kurang lebih sama seperti ketidaksukaannya pada sinetron yang jalan ceritanya absurd. Alasan ini biasa digunakan oleh kaum relativis untuk menghindari perdebatan. Semuanya dianggap relatif, tergantung siapa yang menilai. Maka menolak bintang film porno pun dianggap sama bobotnya dengan menolak sinetron yang digarap dengan buruk.

Ketika Ahmadiyah didebat, relativisme menjadi ‘pintu daruratnya’. Kata mereka, dulu pun Rasulullah saw. dicela dan dicemooh orang, dituduh sebagai nabi palsu, tukang sihir, dan sebagainya. Karena sama-sama dicela, maka Ghulam Ahmad dianggap sebanding dengan Nabi Muhammad saw. Tapi mereka tak suka jika Ghulam Ahmad diperbandingkan dengan Hitler, padahal Hitler juga dicela. Mungkin sekarang Raditya dan Qory pun merasa bagai pahlawan, yang pada awal perjuangannya harus berdarah-darah, sebelum akhirnya mendapat bintang tanda jasa.

Tangga Kemaksiatan

Mereka yang hidup di alam nyata pasti menyadari bahwa kemaksiatan sebenarnya bekerja seperti anak-anak tangga; dosa yang satu mengantar pada dosa berikutnya yang lebih parah. Orang yang mengkonsumsi minuman keras biasanya tidak mengakhiri ‘petualangan maksiatnya’ di titik itu. Setelah mabuk, terjerumuslah ia pada dosa-dosa lainnya, misalnya zina. Satu-satunya cara untuk memutus tangga kemaksiatan ini adalah dengan bertaubat. Sekarang Qory telah merelakan sebagian auratnya demi gelar Putri Indonesia. Entah aurat yang mana lagi yang akan direlakannya untuk gelar Miss Universe.

Qory bukan Miyabi, namun tindakan Qory bisa jadi menciptakan Miyabi-Miyabi baru di kemudian hari. Jika agama dan aurat pun digadai untuk mendapatkan gelar Putri Indonesia – yang sebenarnya nyaris tak bermakna dan hanya berlaku setahun – maka dalam 10-20 tahun ke depan akan lebih banyak lagi yang dikorbankan. Jika sekarang Qory merelakan rambut dan beberapa bagian tubuhnya untuk menjadi konsumsi publik, maka bisa jadi di masa depan akan ada perempuan-perempuan Indonesia yang merelakan seluruh tubuhnya diperlihatkan dan dijamah siapa saja di depan kamera asalkan bayarannya cukup. Islam telah memperingatkan manusia agar menjaga dirinya supaya tidak menjadi pelopor dan inspirator dalam perbuatan dosa.

Kontroversi soal Miyabi yang ditimbulkan oleh Raditya juga telah memperlihatkan puncak gunung es yang selama ini belum terlihat. Sebelumnya, menonton film porno masih dianggap sebagai hal yang memalukan. Sekarang, ramai para artis mengaku dengan bangga bahwa dirinya juga kerap menikmati hasil kerja Miyabi. Seolah-olah dengan begitu mereka terhindar dari predikat munafiq. Padahal, melakukan dosa dan bersikap bangga dengan dosanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Jika yang pertama bisa memberatkan timbangan amal buruk di akhirat, maka yang kedua bisa melemparkan pelakunya dalam kekafiran.

Dulu, umat Islam takut menonton film porno. Kemudian film porno beredar di mana-mana, termasuk di tempat-tempat terbuka yang sudah pasti diketahui juga oleh polisi. Orang menonton film porno dengan sembunyi-sembunyi dan sendiri-sendiri. Kemudian yang menonton merasa terasing karena ‘kesendiriannya’, lalu ia mengajak teman-temannya, dan mereka pun menonton bersama. Setelah itu, yang tadinya dianggap memalukan kini malah dianggap lumrah. Kalau tidak menonton film porno, tidak dianggap laki-laki. Sekarang, akibat kontroversi Menculik Miyabi, orang tidak malu lagi mengaku sebagai penikmat film porno. Kalau bintang film porno pun diapresiasi, maka bintang-bintang panas lokal seperti Julia Perez, Kiki Fatmala, Sarah Azhari dan semacamnya akan ‘mendapat angin’, karena Miyabi jelas lebih bejat. Beberapa dasawarsa ke depan, Indonesia mungkin bukan lagi sekedar pasar besar untuk industri pornografi, melainkan juga produsennya. Sebenarnya hal ini sudah dirintis dengan menjamurnya teknologi ponsel yang memiliki kamera dan perekam video. Raditya dan Qory, baik mereka mengakuinya atau tidak, memiliki andil besar dalam meruntuhkan moral bangsa ini.

Boikot Sosial

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa judul artikel ini tidak menyebut-nyebut nama Miyabi. Kedatangan Miyabi ke Indonesia memang bukan inti permasalahannya. Tanpa sepengetahuan kita, bisa jadi telah banyak bintang film porno yang datang berkunjung ke tanah air. Banyak bintang Hollywood – yang moralitasnya juga diragukan – telah berkunjung ke Bali. Permasalahannya: mengapa seorang Muslim telah mempromosikan seorang bintang film porno, mengundangnya secara khusus ke tanah air, dan bersikap seolah-olah ia setuju atau tidak bermasalah dengan gaya hidupnya?

Mendemo Miyabi bisa jadi hanya buang-buang waktu saja, atau minimal tidak terlalu urgen untuk dilakukan. Kecil sekali kemungkinannya penolakan umat Islam Indonesia akan berpengaruh pada Miyabi yang masa lalunya sudah sangat kelam, apalagi Miyabi sendiri bukan seorang Muslimah. Kalaupun film Menculik Miyabi tidak jadi diproduksi, Miyabi takkan kekurangan order di industri yang telah dikuasainya. Kita juga tidak menemukan celah dalam hukum negeri ini untuk menolak kehadiran Miyabi di Indonesia.

Pandangan seharusnya dihadapkan pada Raditya dan Qory, karena kita punya kewajiban untuk menyuarakan kebenaran, karena mereka Muslim, dan karena kita punya kewajiban untuk mengembalikan keduanya pada jalan yang benar. Hemat saya, demonstrasi seharusnya diarahkan pada kedua tokoh ini. Oleh karena itu, demonstrasi tidak mesti digelar di bandara (tempat Miyabi disangka akan mendarat), tapi justru lebih tepat untuk dilaksanakan di depan rumah dan sekitar lingkungan tempat tinggal Raditya dan Qory, kampus tempat mereka kuliah, dan seterusnya. Mereka yang punya akses langsung untuk bergaul dengan mereka memiliki kewajiban lebih untuk memperlihatkan dengan gamblang ketidaksetujuannya sebagai seorang Muslim. Ini adalah kewajiban, bukan sekedar kebolehan. Tidak bersikap bukanlah sebuah pilihan. (Tulisan ini di rampok dari akmal.multiply.com oleh zonakosong, dan dicolong lagi oleh divansemesta.blogspot.com, dan diubah pula judulnya. Kemudian burjo.wordpress.com meminta ijin untuk bergabung dalam skandal ini)

Membumi

“Mahasiswa yg cerdas yg dididik oleh dosen-dosen yg hebat tidak akan berguna apabila tidak mengenal masyarakat”. (kutipan pidato dalam Upacara Wisuda ke 67 Unesa)

Al AzharSengaja saya mengutip salah satu pidato yg dibacakan pas wisuda saya beberapa waktu yg lalu. Terus terang kutipan pidato tersebut menjadi gambaran kondisi dunia mahasiswa hari ini. Beberapa hari menjelang hari-hari terakhir saya di kampus kebetulan saya main ke kampus. Waktu itu saya ditemani oleh Rosidi, kawan satu kelas saya yg udah lulus sekitar 2 tahun lalu. Kebetulan beliaunya juga lagi mengurus legalisir ijazah.

Sembari berjalan menuju kampus Rosidi banyak tanya-tanya ke saya soal kondisi kampus. “Bagaimana kabar pak Slamet, ndol?”, kata Rosidi menanyakan kabar tukang parkir kampus. “Baik-baik saja di. Malah beliau sering tanya-tanya kabar kamu.”, jawab saya (Rosidi suka memanggil saya ‘gundul’, gara-gara dulu saya sering banget potong rambut gaya plontos). Pak Slamet adalah tukang parkir kenalan baik kami. Dulu pas jaman kuliah (sebelum Rosidi dan teman-teman seangkatan pada lulus), saya dan Rosidi sering banget nongkrong sama beliau di parkiran. Dulu selain kuliah dan mengasa idealisme, kami sering banget jalan-jalan, nonton, main game di rumah Lukman (salah satu anggota geng kami), klo gak gitu nongkrong di parkiran atau pangkalan ojek di kampus sambil ngobrolin berbagai hal sama tukang parkir, satpam, tukang ojek, atau penjual batagor dan cimol yg mangkal disitu. Kami gak sok gengsi kayak teman-teman yg lain, lagipula dg ngobrol dg mereka kami jadi merasa dekat dan tau kondisi orang-orang yg dianggap ‘kecil’ tersebut.

Memang tidak ada salahnya apabila seorang mahasiswa bergaul dg kalangan rakyat kebanyakan. Sebagai generasi yg memiliki tingkat intelektualitas yg tinggi, ditunjang dg idealisme yg meluap-luap. Semoga para mahasiswa mampu menularkan ide-ide dan semangatnya kepada seluruh lapisan masyarakat. Justru ketika mahasiswa enggan bergaul dg masyarakat kebanyakan, maka apa bedanya para mahasiswa dg deskripsi para filsuf yg dikemukaan oleh Karl Marx, yaitu mereka yg kerjanya hanya berfikir tentang masalah dunia tetapi tidak mau merubah dunia.

Tentu bergaul di sini dalam sisi yg positif. Mendengarkan keluh-kesah, merasakan kehidupan nyata mereka, serta berbagi pelajaran hidup. Maka mulai sekarang kita tanggalkan segala rasa gengsi kita. Kita adalah mahasiswa, sebuah sosok berintelektualitas dan idealisme tinggi, bukan hanya sekedar pemuda sok gaul, tajir, tapi ‘bodohnya’ minta ampun seperti dalam gambaran sinetron dan film-film Indonesia. Kita adalah mahasiswa, sosok yg memimpin garda depan perubahan di dunia ini.

pasukan antiterorMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Teroris adalah orang yang melakukan tindakan teror atau membuat orang lain ketakutan. Artinya siapapun dia, dari manapun, dan apapun golongan serta pekerjaanya, apabila ia menakut-nakuti dan melakukan ancaman dan membuat orang lain tidak tenang dan ketakutan maka terorislah ia.

Para wartawan media yg melakukan peliputan dg memaksa dan mengejar-ngejar obyek peliputannya hingga sang obyek ketakutan bisa disebut teroris. Pak polisi yg melakukan penyelidikan tapi membuat orang satu kampung gak tenang bisa juga disebut teroris. Juga jika sebuah penguasa yg seenaknya menaikkan harga BBM dan sembako dan bikin rakyat tidak tenang maka teroris pulalah penguasa tersebut.

Maka adalah suatu hal yg naïf  bila kemudian teroris hanya disematkan kepada mereka yg kebetulan memelihara jenggot di dagunya, yg memakai cadar pada kesehariannya, dan doyan pergi ke pengajian. Bila sosok seperti ini disebut teroris, maka sebutan apa yg pantas disematkan kepada pemimpin AS, Inggris, dan Israel yg berduet membantai kaum muslimin di Palestina, Iraq, dan Afganistan? Maka sebutan apa yg pantas disematkan kepada penguasa-penguasa negeri-negeri muslim yg sering diam saja dan membantu negeri-negeri kafir menghabisi kaum muslimin serta sering membikin susah kehidupan rakyatnya?

Terorisme Dalam Kamus Penguasa

Sastrawan besar India, Rabindranath Tagore pernah menyatakan, bahwa seorang tiran selalu mengklaim kebebasan demi membunuh kebebasan tersebut untuk dirinya sendiri. Dari sini dapat diartikan bahwa para penguasa tiran selalu meneriakkan kebebasan kepada rakyatnya, padahal kebebasan tersebut adalah nihil karena di mata penguasa kebebasan adalah hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan para penguasa tersebut dengan tega akan membunuh kebebasan yg sesungguhnya apabila kebebasan tersebut dirasa mempengaruhi kekuasaannya.

Dari pernyataan di atas maka kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa di mata para penguasa tiran tidak ada kebenaran kecuali kebenaran yg telah ia klaim. Kebenaran di mata penguasa adalah apa yg ia katakan benar dan kesalahan di mata seorang tiran adalah apa yg ia katakan salah, tidak peduli “kebenaran” itu bertolak dg hukum-hukum Tuhan. Maka tidak salah bila kemudian para penguasa ini menjelma menjadi Fir’aun baru meskipun jaman sudah maju, ada internet, dan disebut era globalisasi.

Begitu pula dalam kasus terorisme yg sedang hangat saat ini. Penguasa dan segala anak buahnya seakan sepakat bahwa apa yg disebut teroris adalah apa yg ada dalam kamus mereka. Maka ketika sebuah bom meledak di sebuah hotel mewah di Jakarta yg kebetulan menjadi langganan turis asing, maka serta merta penguasa melakukan klaim bahwa ini (lagi-lagi?) pekerjaan Jamaah Islam. Aparat kepolisian langsung bergerak melakukan pengusutan terhadap orang-orang yg dituding terlibat JI. Media pun tidak mau kalah, mereka melakukan peliputan tentang masalah ini. Masalahnya sering kali media melakukan (secara sengaja karena didukung oleh negara) labelling atau pemberian cap kepada mereka yg ditengarai sebagai sosok-sosok teroris. Maka efeknya adalah lebih dahsyat dari bom itu sendiri. Karena masyarakat yg masih awam kemudian melakukan pengucilan terhadap sosok-sosok yg dianggap sebagai teroris dan ini disebabkan oleh pembunuhan karakter yg dilakukan oleh kolaborasi antara penguasa dan media massa.

Noam Chomsky menyebut kasus seperti ini sebagai newspeak, dimana media berperan melakukan “pemutarbalikan” fakta sehingga mengakibatkan pembaca mengalami gambaran yg terbalik dg fakta yg sebenarnya. Hasilnya kita bisa menyaksikan fenomena yg terjadi di tengah masyarakat paska bom Marriot II kemarin. Banyak remaja yg dilarang ngaji oleh orang tuanya, banyaknya kasus salah tangkap terhadap para dai dan ustadz di daerah-daerah pelosok di Indonesia, wacana pengawasan materi dakwah selama Ramadhan, hingga wacana pengawasan bagi mereka yg berjenggot, berjubah, berjilbab, dan bercadar. Efeknya jelas untuk menimbulkan kesan di masyarakat bahwa Islam adalah teroris dan teroris adalah kaum muslimin.

Kasus Terorisme; Upaya Untuk Mengerdilkan Islam

Paska perang dingin ketika Uni Sovyet dan ideologi komunismenya runtuh, maka Amerika Serikat dan sekutu Eropa Barat-nya melenggang menjadi pemenang perang. Paska perang dingin ideologi kapitalisme disebarkan secara massif ke seluruh dunia. Dunia harus dikapitalismekan, nilai-nilai kapitalisme (seperti demokrasi, liberalisme, globalisasi, hingga sekulerisme) harus menjadi panduan utama di seluruh pelosok bumi.

Akan tetapi upaya Barat ini membentur tembok besar yg membentang dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara, yaitu Islam dan kaum muslimin. Banyak kalangan ahli politik Barat seperti Fukuyama dan Huntington yg meramalkan bahwa paska kejatuhan komunisme maka lawan berikutnya bagi Barat adalah Islam. Islam dianggap lawan potensial oleh Barat karena nilai-nilainya dianut oleh lebih dari 1 miliar manusia di hampir tiga benua. Negeri-negeri muslim adalah kawasan yg sangat potensial karena merupakan kawasan yg sangat kaya sumber daya alam dan kawasan strategis bagi arus perdagangan internasional. Faktor-faktor ini akan semakin berpengaruh ketika kaum muslimin kembali menerapkan Syariat Islam secara Kaffah dan bahu-membahu membangun kembali persatuan Islam dalam satu naungan negara super bernama Daulah Khilafah yg merupakan satu kesatuan mandiri kekuatan Islam.

Atas dasar inilah kemudian Barat melakukan berbagai upaya untuk menahan laju kekuatan Islam. Mereka sadar apabila kekuatan Islam kembali kepada nilai-nilai di era keemasannya maka tidak ada kekuatan manapun yg mampu menandinginya. Apalagi Barat juga khawatir pada pergerakan Islam di dalam negerinya masing-masing yg tumbuh bak jamur di musim hujan. Islam telah menyebar sangat cepat di Amerika Utara dan Eropa Barat dan diramalkan di tahun-tahun mendatang akan menjadi mayoritas utama. Maka dari sini dibuatlah sebuah kampanye untuk mengerdilkan Islam. Kampanye tersebut berupa isu-isu terorisme yg digulirkan secara terus-menerus dg dana yg tidak sedikit. Maka tidak salah apabila ada yg menyebut perang terhadap terorisme layak disebut sebagai perang terhadap Islam.

Adapun tujuan perang terhadap terorisme ini dapat dibagi menjadi dua; yg pertama untuk masyarakat Barat dan yang kedua untuk masyarakat di negeri-negeri kaum muslimin. Tujuan pertama dari perang terhadap terorisme adalah upaya untuk meraih dukungan di Barat agar mereka membenci Islam. Gambaran tentang Islam yg dimunculkan pada saat perang salib pada abad pertengahan kembali digaungkan. Para promotor utama perang terhadap terorisme terus menerus menjejali publik di Barat tentang Islam yg dianggap sebagai agama yg primordial, fundamentalis, chauvinistis, sectarian, militant, dan disebarkan dg pedang. Harapannya adalah masyarakat di Barat semakin membenci dan menjauhi Islam serta mendukung perang terhadap terorisme.

Upaya ini bukan tanpa sebab. Barat sadar bahwa Islam kini telah menjelma menjadi agama terpesat pertumbuhannya di Barat. Konon masyarakat Barat mengalami guncangan spiritual parah. Di satu sisi  mereka semakin jenuh terhadap doktrin-doktrin agama mereka (Yahudi dan Kristen) tapi di sisi lain mereka juga haus akan siraman-siraman rohani. Dari sinilah banyak dari masyarakat Barat akhirnya memilih Islam yg mereka anggap mampu menjawab kegelisahan hati, sesuai fitrah, dan menentramkan akal mereka. Selain itu sejak digulirkan perang terhadap terorisme publik Barat justru semakin penasaran terhadap ajaran-ajaran Islam.

Selain hal di atas yg patut diperhatikan adalah pertumbuhan populasi kaum muslimin yg terus meningkat di seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara. Kaum muslimin saat ini berjumlah kurang lebih 50 juta di seluruh Eropa. 8,1% angka kelahiran di Prancis adalah muslim dan 1 dari 5 orang Prancis pasti beragama Islam. Di Belanda 25% penduduknya adalah muslim dan 50% kelahiran bayi berikutnya dipastikan muslim. Sedangkan di Rusia ada sekitar 23 juta kaum muslimin dan tahun-tahun mendatang 40% tentara Rusia beragama Islam. Pertumbuhan kaum muslimin di seluruh Eropa saat ini adalah 90%. Sedangkan di AS pada tahun 1970 hanya ada sekitar 100.000 kaum muslimin, sekarang jumlahnya membengkak menjadi 9 juta kaum muslimin. Oleh karena itu apabila mengacu pada hasil statistik ini diperkirakan pada tahun 2050 Eropa Barat dan Amerika Utara akan menjadi benua Islam berikutnya setelah kawasan Afrika Utara dan Barat Daya, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Atas dasar inilah perang terhadap terorisme terus digencarkan di dalam negeri mereka masing-masing. Karena apabila tidak segera dilakukan maka nasib para penguasa di Barat tak ubahnya nasib imperium Majapahit yg pernah menguasai Nusantara. Ketika dakwah Islam semakin gencar dilaksanakan oleh para Wali Songo, maka hampir sebagian besar penduduk Majapahit telah memeluk agama Islam. Mulai dari pesisir utara Jawa, pulau Madura, hingga ke pelosok-pelosok seperti di kawasan Jabalkat, Islam telah tersebar dan dianut mulai dari para Adipati, Demang, para Prajurit, dan sebagian besar rakyat jelata. Majapahit pun semakin menyempit hanya di kawasan sekitar kotapraja Trowulan dan ketika sistem lama ini semakin rapuh serta kehilangan legitimasi mayoritas sebagian kalangan memprediksikan bahwa tidak lama lagi Majapahit pasti runtuh. Dan tidak terlalu lama Majapahit akhirnya digantikan oleh Kesultanan Demak yg merupakan buah dari dakwah politis para Wali Songo.

Maka ketika dakwah dan pertumbuhan Islam semakin gencar di Barat, para penguasa di sana jelas sadar bahwa sistem mereka yg rapuh akan segera runtuh. Oleh karena itu mereka berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan Islam atau minimal menghambatnya untuk memperlambat kejatuhan mereka. Maka perang pun mereka kobarkan serta tidak peduli apatah perang tersebut akan memakan korban dari kalangan rakyat sendiri. Karena jelas mereka tidak rela lagu Ilir-ilir (lagu yg digubah Sunan Giri untuk mengingatkan penguasa Majapahit agar segera mengambil sistem Islam) dinyanyikan untuk mereka.

Sedangkan tujuan kedua, adalah tidak lain dan tidak bukan untuk mengokohkan hegemoni penjajahan negara-negara Barat atas negeri-negeri kaum muslimin. Karena sejak semula Barat tidak ingin negeri-negeri muslim yg kaya raya lepas dari genggaman mereka. Kekayaan alam dan posisi strategis negeri-negeri tersebut telah menjadi rahasia umum dan sejak lama menjadi incaran Barat. Indonesia misalnya awalnya diincar oleh Portugis, kemudian jatuh kepada Belanda hingga 350 tahun, kemudian paska kemerdekaan, negeri ini diintervensi oleh dua kekuatan yg saling bersaing yaitu Amerika dan Uni Soviet. Buntut perseteruan ini adalah kemenangan bagi pihak Amerika dg momen runtuhnya Orde Lama. Untuk mengomentari hal ini, Nixon (Presiden Amerika waktu itu) menyatakan bahwa Indonesia adalah hadiah terbesar di wilayah Asia Tenggara.

Sejak semula negeri-negeri kaum muslimin mulai dari Maroko hingga Indonesia telah dianugerahi oleh Allah Swt harta kekayaan yg melimpah. Cadangan energi (baik minyak maupun batubara) sebagian besar terdapat di negeri-negeri kaum muslimin. Cadangan emas dan perak hingga cadangan uranium terbesar terdapat di negeri-negeri kaum muslimin. Negeri-negeri kaum muslimin juga menyumbang hampir 80% cadangan pangan dunia. Selain itu negeri-negeri tersebut memiliki peran vital dalam alur perdagangan internasional karena memiliki selat Gibraltar, selat Bosporus, terusan Suez, laut Persia, dan selat Malaka yg merupakan jalur laut tersibuk di dunia.

Dan kondisi ini jelas membuat banyak pihak yg iri dan ingin menguasai. Akan tetapi butuh perjuangan yg keras untuk menaklukkan kaum muslimin. Barat telah lama mengobarkan perang panjang sejak perang salib, tetapi pedang tidak pernah membuat negeri-negeri kaum muslimin tunduk. Sejak era Shalahuddin, Qutz, Al Fatih, hingga Abdel Karim Al Khatabi di Maroko, Abdul Qadir di Aljazair, Omar Mochtar, Imam Shamil di Chechnya, sampai Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro membuktikan semakin keras usaha Barat memerangi kaum muslimin dg senjata maka semakin keras pula perjuangan kaum muslimin untuk melawan. Hingga suatu ketika Disraeli, Perdana Menteri Inggris membawa Al Qur’an ke gedung parlemen Inggris. Hanya dg menjauhkan benda ini dari kaum muslimin kita bisa mengalahkan mereka, begitu rekomendasi yg ia berikan kepada pemerintah Inggris.

Sejak itulah dimulailah serbuan intelektual dan politik untuk menjauhkan kaum muslimin dari nilai-nilai Islam yg murni. Para intelektual Barat dikirim ke seluruh negeri-negei muslim untuk melakukan program pengikisan nilai-nilai Islam dan cuci otak. Hasilnya kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin banyak yg secara tidak sengaja membuang banyak nilai-nilai Islam. Hasilnya nilai-nilai Islam yg tersisa di tengah kaum muslimin hari ini hanyalah nilai-nilai ritual, sedangkan untuk sosial, politik, hingga pemerintahan kaum muslimin justru banyak condong kepada Barat. Dan akibat dari kecondongan ini membuat kaum muslimin yg ada di negeri-negeri kaum muslimin menjadi inferior, merasa terjajah, dan bermental budak di hadapan negeri-negeri Barat. Akibatnya mereka dg mudah menggadaikan negeri mereka, saudara mereka, hingga aqidah mereka dg murah (bahkan gratis) kepada Barat.

Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya kaum muslimin mulai sadar bahwa selama ini telah terjadi pendangkalan aqidah dan agama Islam di sekitar mereka. kaum muslimin sudah mulai tidak percaya lagi kepada para intelektual yg condong kepada Barat. Mereka juga mulai sadar bahwa penguasa mereka tidak lebih daripada penghianat dan merupakan “budak” Barat. Atas kesadaran ini kaum muslimin kemudian berusaha sekuat tenaga agar dapat lepas dari penjajahan Barat dan usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk usaha yg sungguh-sungguh untuk kembali kepada Islam, menerapkan Syariat Islam secara kaffah, mengkampanyekan persatuan Islam dalam bentuk menegakkan kembali Daulah Khilafah Islamiyah.

Perkembangan ini jelas membuat panik para penguasa Barat dan para anteknya. Maka digulirkanlah perang terhadap Terorisme yg secara massif di seluruh negeri-negeri kaum muslimin. Tujuannya selain untuk memberangus setiap usaha perjuangan kaum muslimin agar lepas dari penjajahan Barat juga untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap para pejuang tersebut. Tujuan pembunuhan karakter ini adalah untuk menjauhkan para pejuang dari mayoritas massa kaum muslimin. Apabila mayoritas massa kaum muslimin termakan jebakan ini, maka agen-agen Barat dapat dg mudah melakukan adu domba diantara kaum muslimin. Maka terbentuklah kembali lingkaran setan yg terus-menerus di tengah-tengah kaum muslimin dan penjajah Barat tetap bercokol di negeri-negeri kaum muslimin sambil tersenyum melihat kaum muslimin bertarung sesama mereka.

Untuk Kita Renungkan

Kita semua sebagai kaum muslimin –kaum yg disebut oleh Al Qur’an sebagai sebaik-baik makhluk- tentu tidak ingin terus-menerus dipojokkan dan dijadikan kambing hitam. Kita juga tidak ingin apabila ada saudara kita yg dituduh, dihukum, difitnah, bahkan dibunuh secara semena-mena hanya karena mereka ingin menunjukkan “bahwa kami adalah kaum muslimin”. Oleh karena itu dibutuhkan kejernihan berfikir, kebersihan hati, dan sikap yg hati-hati dalam melihat kasus terorisme. Kita tidak boleh percaya begitu saja terhadap berita yg memojokkan kaum muslimin, kita juga tidak boleh su’udzon atau melakukan “hantam kromo” dalam menilai sesama saudara muslim, apalagi sampai terjebak dalam semangat-semangat di luar ajaran Islam (seperti nasionalisme, fanatik golongan, dsb) sebagai solusi masalah terorisme.

Diperlukan juga usaha untuk mempelajari Islam secara terus-menerus dan menyeluruh. Diperlukan usaha mempelajari Islam secara murni, jernih, dan cemerlang agar tidak terjebak kepada kutub-kutub ekstrim –liberalisme dan ekstrimisme atau ghuluw (berlebih-lebihan)-. Bagi kaum muslimin yg sudah tercerahkan pemikirannya dan sadar bahwa dirinya terjajah dan ingin berjuang mengembalikan Islam, ketahuilah bahwa perjuangan ini adalah perjuangan merubah pemikiran dan politik bukan perjuangan dg senjata dan peluru. Bagi kita yg telah tercerahkan, janganlah kita menjauhi masyarakat. Kita adalah bagian dari masyarakat, kita harus merasakan detak kehidupan mereka, dan berjuang bersama mereka dalam menegakkan Islam. Kita harus mampu menjadi akal, hati, mata, lisan, tangan, dan kaki masyarakat. Dan untuk ini semua maka bukan saatnya apabila kemudian kita memisahkan diri, jauh, dan membentuk komunitas sendiri di luar masyarakat.

Sedangkan bagi kaum muslimin yg belum –atau setengah- tercerahkan. Datangilah majelis-majelis ilmu dan jauhilah tempat-tempat maksiat. Datangi orang-orang alim diantara kita dan jauhilah orang fasik, munafik, dan dzalim. Kita semua berdoa kepada Allah Swt dg niat ikhlas dan sungguh-sungguh agar dipertemukan dan disatukan hati, pikiran, dan tubuh ini dg saudara-saudara kita yg lain yg mempunyai tekad berjuang dan menegakkan Islam.

Terakhir semoga ketika kita mengarungi zaman fitnah seperti ini kita kaum muslimin tidak hanya berani menyatakan “I’am Muslim not Terorist”, tapi juga tetap bangga dan menyatakan kepada dunia “Isyhadu Bi Anna Al Muslimuun – Saksikan Bahwa Kami Adalah Kaum Muslimin”.

Blankspot

“Penulis telah mati”, mungkin ini ungkapan yg paling tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat ini. Entah mengapa saya susah sekali menulis. Entah mengapa saya seakan kehilangan kepekaan. Padahal dulu saya termasuk sosok yg idealis banget dalam menulis. Ingin menerbitkan majalah secara berkala tiap minggu hingga ingin menerbitkan sebuah buku. Tapi sekarang jangankan buku, blog di internet saja sudah jarang saya isi.
Saya teringat pada ucapan salah satu dosen di kampus saya tentang salah satu penyebab kematian seorang penulis. Kata beliau bahwa terlalu sering menulis juga menyebabkan seorang penulis di suatu masa mengalami apa yg disebut sindrom blankspot dimana ketika ide, semangat, rasa, ketrampilan, hingga idealisme hilang lenyap secara bersamaan seperti hilangnya sinyal handphone di tengah gunung. Saya sebenarnya mencoba melawan rumusan ini dg terus menulis, karena bagi saya menulis justru menumbuhkan semangat untuk terus berkembang. Menulis justru menghidupkan kembali bukan malah membunuh.
Entahlah saya belum bisa mendeteksi penyebab penyakit saya kali ini. Jangan-jangan gara-gara penyakit yg melanda monitor komputer saya menjadi penyebab kemalasan saya. Gak tau mengapa monitor saya jadi kedip-kedip mirip mata lagi kemasukan sandal. Jangan-jangan ini akibat saya terlalu tergantung kepada komputer, manusia telah menggantungkan hidupnya kepada benda ini. Seorang penulis seakan tidak dapat dipisahkan oleh benda ini. Mereka telah meninggalkan pena dan kertas, tidak ada lagi aktivitas menulis secara harfiah dan tergantikan dg pijatan-pijatan lembut pada tuts komputer. Oleh karena itu dosen saya yg lain pernah berkomentar bahwa nanti di suatu masa di masa depan, anak-anak kecil tidak lagi mampu melukiskan bentuk huruf “a” di sebuah bidang kertas. Mereka hanya mampu menunjukkan dimana posisi huruf “a” pada keyboard.
Ya kita terlalu mendewakan alat, padahal alat hanyalah sekedar sarana untuk membantu hidup kita. Seperti pedang pada seorang samurai. Seorang samurai tidak boleh terlalu berpatok pada pedangnya. Karena sumber kehebatannya terletak pada feeling, kepekaan terhadap sekitar, dan kemampuannya mengayunkan pedang. Begitupula ketika seseorang menulis, kita jangan terlalu tergantung kepada laptop atau komputer. Bila kita terlalu bergantung kepada komputer atau laptop maka sungguh kasihan mereka yg tidak memiliki alat ini. Oleh karena itu mulai detik ini saya bersumpah andai komputer saya ngadat lagi maka saya akan ambil kertas dan pena untuk menuliskan benang-benang kusut yg ada di kepala.
Dan andaipun kertas dan pena sudah tidak dapat lagi saya dapatkan saya akan berseru seperti seruan Ibn Taimiyah kepada para muridnya ketika mereka dikumpulkan dalam penjara dan penguasa tidak mau memberikan beliau kertas dan pena, “Tolong ambilkan aku arang kayu di sebelahmu. Malam ini aku ingin menulis”. Dan maka abadilah cendera jiwa.

Tulisan Sebelumnya »