Oleh: Nur Fajarudin*
“Bahwa berjuang tidak mengenal batas dan keterbatasan, yang harus kita lakukan hanyalah kontrol terhadap niat hati kita yang sebenarnya dan tetap eksis dalam menajemen semangat dakwah dan jihad dalam setiap kreatifitas yang hanya bisa dibatasi oleh aturan Aqidah dan As Sunnah. Sarana-sarana dakwah harus mampu berkembang dan dikembangkan. Agar nilai-nilai orisinal dapat selalu mendominasi perubahan zaman tanpa harus kehilangan identitas aslinya yaitu Aqidah Islamiyah, yang menjadi dasar utama.” (dari tulisan “Musik Rap Dan Awal Pergerakan Islam Di Amerika Serikat” Liberation Youth.com)
Sejak suramnya rembulan Islam pada akhir abad 19 dan kemudian tenggelam di tahun 1924 dengan runtuhnya Daulah Utsmaniyah. Usaha untuk membangkitkan Islam terjadi di seluruh dunia. Usaha-usaha tersebut dilakukan dengan berbagai macam cara atau uslub. Mulai mendirikan organisasi atau harakah yang concern terhadap perjuangan Islam hingga uslub-uslub dalam dakwah bil lisan maupun bil qalam.
Kita mengenal Ikhwanul Muslimin dari Mesir, Hizbut Tahrir dari Yordania, Jama’ah Tabligh dari Pakistan, dan banyak lagi yang lainnya yang namanya hingga hari ini menyebar ke seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia muncul nama seperti Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Masyumi, DDII, hingga Hidayatullah yang itu semua berdiri ditujukan untuk mewujudkan apa yang disebut Izzul Islam wal Muslimin.
Adapun mengenai uslub dakwah kita bisa melihatnya baik melalui dakwah bil lisan (melalui lisan) maupun dakwah bil qalam (melalui tulisan).
Dalam dakwah bil lisan kita masih mengenang bagaimana Imam Hasan Al Banna tidak hanya berdakwah di masjid-masjid, tapi juga di warung-warung kopi, dan membentuk sistem tarbiyah (pendidikan) di dalam keluarga. Gerakannya tersebut kemudian menjadi awal berdirinya Ikhwanul Muslimin di Mesir, tahun 1928. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana usaha Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani menghidupkan kembali salah satu metode dakwah Rasulullah dalam membentuk kepribadian Islam (sistem halaqah) di serambi masjid Al Aqsa di Al Quds, Yordania (sekarang Palestina) yang kemudian menjadi trigger berdirinya partai politik yang tidak hanya berasaskan Islam namun juga berjuang untuk menegakkan kembali tatanan sistem kehidupan Islam, Hizbut Tahrir, 1953. Di Asia Selatan, lebih tepatnya di Anak Benua India kita mengenal seorang alim Maulana Yusuf Al Kandahlawi yang memperkenalkan pola dakwah kelana dan tabligh yang sekarang lebih dikenal sebagai Jamaah Tabligh.
Dakwah Islam juga menyebar hingga Eropa dan Amerika. Dari Amerika kita mengenal Haji Malik Asshabaz atau yang popular dengan nama Malcolm X, orator ulung yang gigih menentang rasialisme sekaligus memperkenalkan nilai-nilai keadilan Islam. Malcolm X sendiri dibunuh oleh agen sewaan FBI. Usaha dakwahnya akhirnya diteruskan oleh para pendakwah lainnya, salah satunya bernama Ustadz Jamil Abdullah Al Amin alias Haji Rap Brown. Gaya berpidatonya yang khas dan penuh penentangan atas rasialisme menginspirasi komunitas Afro-Amerika untuk menciptakan genre musik baru yang menyuarakan ide-ide perlawanan, Rap. Rap diambil dari nama depan seorang pejuang Islam yang gigih menyuarakan kebenaran Islam.
Sedangkan di Indonesia sendiri usaha itu dimotori oleh Syaikh Jamil Jambek dari Sumatra Barat yang memperkenalkan sistem Tabligh atau berdakwah dalam format pengajian di tengah-tengah lapangan atau masjid dan dihadiri banyak jamaah. Selain itu kita mengenal Buya HAMKA yang memperkenalkan pola pengajian rutin yang diadakan oleh beliau waktu itu di masjid Al Azhar Jakarta.
Selain Dakwah bil lisan kita juga mengenal istilah Dakwah bil qalam atau dakwah menggunakan tulisan. Menulis merupakan salah satu nafas dalam Islam. Dimulai dari sejak era para Sahabat, Thabi’in, Thabi’it thabi’in, hingga hari ini berbagai tulisan telah menghiasi khazanah keislaman. Khusus pada masa sekarang ini berbagai tulisan diterbitkan untuk membangkitkan kembali kaum Muslimin dan menegakkan kembali kehidupan Islam di tengah masyarakat. Kita bisa membaca Nidzamul Islam dan Syakshiyah Islamiyahnya Taqiyuddin An Nabhani, Ma’alim Fit Thariqnya Sayyid Qutb, hingga Tarbiyah Jihadiyahnya Abdullah Azzam.
Berbagai media juga telah diterbitkan, mulai dari surat kabar, majalah, bulletin, leaflet, hingga brosur. Di Indonesia sendiri kita mengenal antara lain Hidayatullah dan Sabili dalam bentuk majalah, Annida yang mengambil skup remaja khususnya remaja putri, hingga yang unik seperti Openmind dan No Compromise yang mengambil bentuk magz dan zine yang selama ini lekat dengan ciri khas kaum underground.
Adapun akhir-akhir ini kita juga mengenal dakwah dalam format sastra. Sastra digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman, sehingga muncullah sebuah genre baru dalam sastra, yaitu sastra Islam.
Idealisme dan Estetika dalam dakwah melalui sastra
“Dan Islam diwarnai oleh dua hal. Hitam tinta para Ulama dan Merah darah para Syuhada” As Syahid Abdullah Azzam.
Hingga hari ini baik melalui tulisan-tulisan di media massa dan jurnal-jurnal sastra hingga dalam seminar-seminar dan ruang-ruang perkuliahan masih terjadi perdebatan apakah sastra Islam layak dimasukkan sebagai salah satu genre sastra?
Alasan pertama adalah bahwa sastra itu sebenarnya netral, maka apabila terdapat sastra Islam maka ada sastra non Islam. Inilah yang menjadi alasan perdebatan tersebut. Penulis sendiri sangat setuju apabila sastra dikatakan sebagai entitas yang netral, tapi kenetralan tersebut adalah sastra menjelma sebagai ilmu bukan karya. Sebagaimana ilmu-ilmu lain (khususnya ilmu sosial) seperti ekonomi, politik, maka ketika manusia mencoba memprakiskan ilmu tersebut ia (ilmu) akan tercampuri oleh idealisme manusia tersebut. Oleh karena itu kita bisa melihat adanya model sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis, juga sistem ekonomi Islam. Juga sistem politik demokrasi, sistem politik sosialis, juga sistem politik Islam. Maka apabila kita memahami sastra sebagai suatu karya tidak salah apabila kita membaginya menjadi sastra Islam dan sastra non Islam (sekuler).
Sedangkan alasan kedua adalah bahwa dulu di era kejayaan Islam tidak dikenal istilah sastra Islam. Ketiadaan istilah ini memang dapat dimengerti karena pada waktu tersebut segala hal, berbagai macam ilmu dan prakteknya ditujukan untuk dan atas nama Islam. Bahkan Roger Geraudy, sosiolog kenamaan dari Prancis dalam bukunya Janji-janji Islam menyatakan bahwa pada masa kejayaan Islam setiap hal ditujukan untuk Islam. Masih menurut beliau bahkan para ahli matematika muslim menemukan angka nol ditujukan sebagai bukti ke-Esaan Allah Swt. Karena angka Arab apabila dihitung secara terbalik maka akan ditemui hal seperti ini 9,8,7,…5,4,3,2,1,0 angka nol dalam bahasa Arab adalah Shifr atau kosong, ini membuktikan bahwa sebelum angka satu adalah kosong atau sebelum Allah Swt tdak ada siapa-siapa (Pertama dan Satu-satunya). Begitu pula karya sastra. Kita masih bisa menyaksikan Al Barzanji yang sering dibaca pas Maulid Nabi karya Syaikh Ja’far al Barzanji yang berisi Sirah Nabi dan disusun pada 583 H/1184 M pada era Sultan Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi sedang menggerakkan pasukan jihadnya untuk membebaskan Al Quds. Kita juga masih sering mendengar lantunan Al I’tiraf di mushola-mushola, sebuah karya syair yang sering dinisbatkan pada sosok Abunawas. Juga karya sastra lain seperti Mantiq At Thair karya Farid ad-Din Attar, Rubaiyyatnya Omar al Khayyam, hingga Al Ahkam As-Shulthaniyyahnya Imam Al Mawardi.
Istilah sastra Islam sendiri muncul ketika rembulan Islam mulai tenggelam pada akhir abad ke-19 di Turki. Istilah ini merujuk pada karya sastra yang digunakan untuk menggugah dan membangkitkan Islam dan kaum Muslimin. Kita mengenal Syauqi dan Mohammad Iqbal sebagai sastrawan Islam internasional. Sedang di Indonesia kita bisa melacaknya sejak Hikayat Prang Sabi karya Teuku Cik Panti Kulu dibacakan di meunasah-meunasah pada tahun 1880-an untuk mengobarkan semangat jihad rakyat Aceh melawan serdadu kape Belanda, kemudian memasuki abad 20 kita meneganal nama Buya HAMKA dengan di bawah lindungan ka’bah dan tenggelamnya kapal Van Der Wijknya, diteruskan Taufik Ismail, Emha Ainun Nadjib, Helvi Tiana Rosa, teman-teman FLP dan Alpen Prosa, hingga sekarang yang berada di urutan terdepan yaitu Habiburrahman El Shirazi dan Andrea Hirata.
Lalu bagaimana dengan berdakwah melalui sastra? Dakwah adalah sebuah entitas dimana kita dituntut untuk selalu kreatif dan kekreatifan itu dibungkus oleh ketaatan kepada Sang Super Creator Allah Swt. Karena ketidak-taatan kepadaNya tidak lagi disebut kreatif tapi bodoh. Maka apapun bentuk dakwah dibutuhkan kekreatifan pada penggeraknya, agar dakwah terus berjalan, mengalir, dan menjadi bagian dari hidup kita yang tidak terpisahkan.
Berdakwah melalui sastra membutuhkan setidaknya idealisme yang jelas serta kekayaan bahasa, agar karya kita mampu menggerakkan seseorang. Karena ciri khas sastra adalah kekayaan bahasa, ungkapan yang luhur, dan menggerakkan perasaan.
Seringkali dijumpai karya sastra yang sangat idealis, akan tetapi kosong akan kekayaan bahasa. Ibarat mendaki gunung, sastra seperti ini adalah pendaki yang membekali dirinya dengan alat navigasi yang komplit, kompas, peta, GPS, dan jelas tujuannya. Tapi sayangnya ia tidak membawa bekal apapun seperti makanan, pakaian hangat, senter, dan tenda. Bagi para penulis yang seperti ini diharapkan untuk mengasah ketrampilan berbahasanya dengan banyak membaca, membandingkan berbagai macam karya sastra, dan mengasah intuisinya.
Namun ada kalanya pula dijumpai karya yang bagus bahasanya, tinggi, bahkan melangit, tapi hingga kata-kata terakhir tidak jelas arah tujuannya. Ibarat mendaki gunung, ia membawa banyak perbekalan tapi sayangnya ia tidak membawa sama sekali alat navigasi, buta akan peta, dan tidak jelas tujuannya. Untuk penulis seperti ini diharapkan untuk kembali mengaji. Kembali untuk mengasah idealismenya. Mengasah kembali pisau analisisnya. Dan ketika berbicara masalah sastra Islam, maka sudah selayaknyalah kita kembali mengkaji Islam secara menyeluruh, kaffah, dan istiqomah
(disampaikan pada Kajian Islam Akhir Semester dengan tema “Memasung Sekulerisme dalam Sastra” SKI JBSI Unesa, 10 Desember 2009)
* Pembaca sastra, Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia 03, Pimred BURJO zine, sekaligus pengelola blog www.burjo.wordpress.com.


nice blog ..
MAkasih mas dah iklhas luangin tenaga dan kerahin waktunya tuk ngisi tu acara..kita cuma bisa doain biar pean ndang
NNNNNNNNNNN
IIIIIIIIIIIIIIIIIII
KKKKKKKKKKK
AAAAAAAAAAAAA
HHHHHHHHHHHHH
Amien…..
AMIEN 100x
Ceritakan Kepada Angin
Semua tak mengharu biru lagi
Menghilang dibalik kepekaan malam
Terdampar jauh disatu sudut hati
Tertidur lelap tak tahu kapan kan siuman
Badai perjuanganmu seakan tenggelam
Jauh didasar kemunafikan yang abadi
Tersepak hancur oleh permainan zaman
yang tak tahu kemana rimbanya
Ceritakanlah kepada angin barat
Agar ketika ia mampir kerumahku
Sesegera mungkin ia dapat menyampaikan kepadaku
Sesegera mungkin akan ku dekap pesanmu
Siulkanlah tentang kebangkitanmu lagi
Agar pusaran kumuh itu tak tampak lagi
Bisikkanlah kekejamanmu kepada angin
Agar aku tahu kau tetap hidup menentang zaman
4 Bintang
Akan kuceritakan pada angin
Rindumu padaku kawan
Kan kukisahkan bukit hijau yg kudaki
Kan kuteriakkan namamu dari sini
Dan semoga sang bayu menautkannya pada awan yg menggantung di atas bubungan rumahmu
mari bubuhi sel darah merah kita dg bubuk mesiu tauhid
bungkus dg kulit nurani supaya tak berserak
kemudian carilah obor
geretan
atau batu api
tuk kita jadikan pemantik REVOLUSI
hhmm… ngiring nimbrung..
ttg sastra islam klo ga salah sastra ini mengambil dr pemikiran filsafat2 yunani kuno..
pertama, dakwah melalui satra?? sy ga ngerti.. apakah itu artinya tulisan2 dakwah yg berbau sastra??
seprti komennya kk burjo?? sy semakin tdk mengerti..
karena klo sy inget kitab kesayangan sy “at tafkir” dimana ada satu bab membahas ttg “teks2 pemikiran” salah satunya adalah teks sastra tujuan dr tulisan ini pun ga lebih dr yg namanya “memancing perasaan”.. bukan membentuk pemahaman!
jd pertnyaan sy, dr arah mana jika tulisan sastra bisa membentuk pemahaman seseorang?? yg mana ini jg terkait dengan dakwah yg dilakukan..
klo sy melihatnya tdk lebih dr “memancing gharizah” sahaja.. seprti komennya kmiu
bahasa yg membentuk logika berpikir lahir dr teks2 pemikiran sehingga membentuk pemahaman…
di al qur’an surat an nisa’ ayat 6 :dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa mereka..
sy memahami secara lingusitik ini bukan dengan bahasa sastra.. tp bahasa yg lahir dr pemikiran serius ato teks2 pemikiran.. bukan sastra.. sehingga membentuk pemahaman seseorang..
wallahu’alam