“Daripada melawan 70 orang dalam satu pertarungan, lebih baik bertarung dg mereka satu persatu 70 kali. Jangan biarkan pedang dan pikiranmu berhenti di satu tempat. Jangan biarkan pedang dan pikiranmu berhenti pada satu orang. Teruslah mengalir…” Miyamoto Musashi.
Apa yg ada dalam benak kita apabila membayangkan bendungan. Sebuah bangunan beton raksasa yg berfungsi membendung aliran sungai. Apa persepsi kita tentang bendungan, waduk, dam, atau apapun sebutannya. Kita pasti mengenal nama-namanya yg sudah kita hapal sejak SD. Ada Karangkates di Malang Jatim, Jatiluhur di Jawa Barat, Sigura-gura di Sumatra Utara (kampungnya bang Azri), dan Gajah Mungkur yg mengatur Bengawan Solo, hingga Aswan yg membendung Nil di Mesir dan Dam Tiga Lembah-nya Yang Tze Kiang di China. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar kita sudah dicekoki bahwa bendungan adalah bukti kemajuan pembangunan. Bendungan memiliki nilai positif. Bendungan menjadi pusat listrik tenaga air, sebagai pengatur irigasi persawahan, pengendali banjir, pusat budidaya perikanan, hingga tempat rekreasi air. Dari sini maka kemudian kita akan kesulitan ketika menjawab pertanyaan, adakah nilai2 negatif dari pembangunan sebuah bendungan? Dan kalaupun ada seseorang yg mampu menjawab pertanyaan di atas mungkin kita langsung bertindak sebagai oposisi atas jawaban tersebut. Tapi kalau yg menjawab ahli dan bukti-buktinya ada dihadapan kita gimana?
Memang sudah jadi tabiat manusia yg memiliki akal untuk berpikir dan meniru alam. Teknologi bendungan sebenarnya meniru apa yg dilakukan oleh berang-berang. Akan tetapi terkadang karena terlalu kelewatan, apa yg dimaksudkan untuk kebaikan justru malah merusak, termasuk yg namanya bendungan. Dalam salah satu acara “earth from above” di Metro TV diperlihatkan ternyata banyak bendungan yg dibangun di dunia ini justru merusak. Salah satunya adalah bendungan Iguazu (klo gak salah ingat) di Argentina. Bendungan ini dimaksudkan untuk pembangkit tenaga listrik dan irigasi. Ternyata bendungan ini menjadi penyebab hancurnya ekosistem sungai. Sungai kehilangan kehidupan. Ikan, kerang-kerangan, hingga berbagai organisme sungai. Sungai pun menjadi miskin dan akibat besarnya adalah manusia yg hidup di sepanjang aliran sungai mengalami kerugian. Itu belum seberapa, karena bendungan terpaksa menggenangi lahan yg luas maka banyak warga yg kehilangan tempat tinggal. Bekas lahan dan pepohonan ternyata juga menyimpan bahaya besar. Pokok-pokok pohon yg tenggelam mengeluarkan sejenis zat teretntu yg mencemari air. Akibatnya adalah air menjadi tidak layak dikonsumsi oleh makhluk hidup. Dan yg jadi masalah justru proyek pembangkit listrik dan irigasi tidak seluruhnya dinikmati warga. Listrik dan irigasi lebih banyak mengalir ke perusahaan-perusahaan besar serta perkebunan yg kebanyakan dikelola oleh asing (korporasi) seperti General Electric dan Mosanto.
Itu baru masalah yg terjadi di Argentina. Di China pembangunan Dam Tiga Lembah yg dimaksudkan sebagai pengendali banjir tahunan sungai Yang Tze justru malah menimbulkan masalah baru. Endapan sungai (yg terkenal dg lumpur kuningnya) tertahan di dalam Dam. Endapan ini bila tidak segera ditangani maka akan menumpuk dan pada tahun 2010 endapannya bisa seluas kota Shanghai. Akibat dari fenomena ini adalah semakin “miskin”nya kawasan delta sungai. Akibat tertahannya endapan sungai di dam, kawasan delta menjadi sangat rentan erosi. Tanah di kawasan delta tergerus oleh aliran sungai menuju laut dan kawasan tersebut tidak mendapatkan pengganti dari sungai. Maka kota Shanghai yg terletak di delta Yang Tze terancam akan tenggelam ke laut.
Waduk ternyata juga dapat menjadi ancaman bencana kemanusiaan. Berita terbaru dari Jawa Pos menyebutkan bahwa Iraq terancam oleh bencana kekeringan disebabkan ditahannya aliran sungai Eufrat dan Tigris di hulu masing-masing sungai yg ada di Turki, Iran, dan Syiria. Akibatnya volume air di Eufrat dan Tigris semakin hari semakin berkurang. Dari peristiwa ini dapat disumpulkan bahwa penderitaan seakan-akan belum mau menjauh dari warga Iraq.
Melihat fenomena di atas saya jadi ingat guru ngaji saya di kampong. Beliau pernah cerita ke saya bahwa ilmu itu ibarat air. Apabila airnya terlalu banyak, maka biarkanlah ia mengalir. Jangan pernah engkau mencoba membendung air yg sedang mengalir. Karena air yg tergenang adalah sumber penyakit. Guru saya waktu itu mengibaratkannya dg selokan depan mushola. Kalau selokan itu tergenang akibatnya fatal. Selokan bisa menjadi penyebab banjir pas musim hujan, ia juga bisa menjadi sarang nyamuk demam berdarah, dan selokan bisa mengeluarkan bau busuk yg mengganggu kekhusyu’an ketika kita sholat. Itu baru selokan, lha kalau sungai sekelas Tigris ama Eufrat bagaimana???
Begitu pula dg ilmu. Ilmu yg sudah kita dapatkan (lebih2 ilmu keislaman) hanya akan menyebabkan mudharat bahkan bisa menjadi kerusakan bagi penegmbannya apabila tidak “dialirkan” dalam bentuk amal dan dakwah. Amal sholeh membuat ilmu menjadi berguna bagi pengembannya, sedangkan dakwah membuat ilmu menjadi berguna bagi orang lain.
Terakhir guru saya menyitir salah satu hadits Rasullullah tentang sosok seorang muslim. Kata guru saya seorang muslim adalah ibarat sebuah biji pohon mangga. Kalau ia berilmu maka ia bagaikan biji yg berkecambah. Kalau ilmunya diamalkan maka ia bagai kecambah yg tumbuh menjadi pohon yg akarnya kuat menancap di bumi dan batang serta ranting dedaunannya tinggi menggapai langit. Dan apabila ia mendakwahkan ilmunya maka ia ibarat pohon yg berbuah ranum tanpa mengenal musim.
Maka apa yg engkau pilih wahai muridku. Menjadi biji yg hanya glundang-glundung dan kemudian dicampakkan ke tempat sampah. Menjadi kecambah yg gagal bersemi. Menjadi pohon rindang tak berbuah yg akhirnya hanya menjadi kayu bakar. Atau menjadi sebuah pohon yg sempurna, sosoknya gagah menantang angkasa, tunduk menaungi manusia dari sengatan sang surya, dan berbuah dg buah yg manis tanpa mengenal musim.

