Orang-orang boleh bilang kalau Pemilu di Indonesia adalah Pemilu paling aman, damai, dan sentosa sedunia. Setidak-tidaknya Pemilu di sini tidak seperti di Iran yg berakhir rusuh. Tapi bolehkan kalau saya berpendapat lain??
Media-media juga boleh bilang kalau Pemilu di tanah air mata ini adalah yg paling demokratis. Meskipun ditengarai banyak terjadi kekurangan, toh semua pihak menerimanya dg legowo. Yang menang silahkan memimpin dan yg kalah udah siap jadi oposisi. Tapi bolehkan kalau saya punya pendapat yg berbeda???
Juga terserah bila para pengamat politik, ahli hukum, ulama, selebritis, atau apapun dia berpendapat bahwa bangsa ini sudah dewasa. Pilihan boleh beda tapi gak ada gontok-gontokan. Pilihan boleh kalah atau menang, tapi ya udah disyukuri aja, toh hidup tetap berjalan. Kalaupun ada yg marah-marah biasanya cuma gara-gara taruhan uang atau harta benda. Tapi sekali lagi, bolehkan saya punya pendapat yg melawan arus????
Mau dianggap dewasa, cinta damai, demokratis, atau apalah saya gak peduli. Toh bagi saya Pemilu gak akan merubah nasib bangsa ini. Kalau ada perubahan paling-paling hanya ganti nama aja (itu juga kalau incumbent-nya kalah). Kalaupun hari ini gak ada ribut-ribut kayak di Iran itu paling-paling akibat dari rendahnya taraf berfikir bangsa ini.
Bagi saya seluruh calon yg berlaga kemarin pada “bodoh” semua. Buktinya mereka hanya mampu memberikan solusi-solusi kecil atau parsial saja. Padahal penyakit yg menggeroti bangsa ini udah masuk dalam stadium koma. Juga partai-partainya yg berlaga. Mereka tidak lebih hanya jualan slogan-slogan saja. Maka bagi saya apa bedanya iklan partai ama iklan sabun lux atau kecap bango (malah mendingan lux karena ada Dian Sastro dan kecap Bango yg nampilin makanan lezat yg mak nyuss).
Kalau yg dipilih aja “bodoh”, apalagi yg memilih. Baik yg memilih maupun yg dipilih bagi saya sama saja. Mereka yg golput pasti alasannya (kebanyakan) karena kerja, gak dapat panggilan (DPT), bingung, hingga gak ada uangnya. Sedangkan mereka yg memilih alasannya karena sungkan, gak enak sama tetangga, kasian, dapat jatah uang, hingga gara-gara calonnya cakep. Dari sini saya jadi tertawa, bagaimana mau dewasa kalau ternyata warga Indonesia masih menjadi sosok manusia pragmatis dan belum beranjak menuju manusia ideologis idealis.
***
Kalau ada yg protes “berarti yg nulis bodoh juga donk??”, maka dg bangga saya jawab “maaf, kelihatannya saya termasuk bagian dari sekiannya sekian bagian bangsa ini yg telah sadar dan memiliki isi kepala yg beda ama yg lain. Artinya saya termasuk ke dalam manusia ideologis idealis.”. Itu jawaban dari saya dan saya akan bertanya balik kepada anda “sudahkah anda mereparasi kepala anda??”
Mengapa
Juli 14, 2009 oleh burjo

