Njlebut*

Sudah lama saya tidak menonton Oprah Winfrey Show, acara talkshow nomer satu dunia yang jadi panutan banyak acara serupa di seluruh televisi di penjuru dunia. Kebetulan pagi itu membahas tentang film dokumenter yang berjudul “Waiting For Superman”. Mendengar genrenya saja haqqul yaqin film ini tidak akan tayang di bioskop Indonesia meskipun distributornya tidak bersengketa dengan pihak perpajakan negeri ini. Apalagi judulnya gak terkenal dan masih kalah ama Fast Five, Transformers 3, Pirates Of The Caribbean, bahkan Kungfu Panda. Saya sendiri baru mendengar judul film tersebut ya ketika nonton Oprah tadi, apalagi isi filmnya. Saya justru tertarik karena dalam acara talkshow tersebut selain menampilkan sutradara, pengisi soundtrack, juga menghadirkan CEO Microsoft, Bill Gates, selain itu juga menghadirkan wawancara dengan Ketua Asosiasi Guru Amerika dan Menteri Pendidikan Amerika Serikat. Wow, memang ini film apaan? Begitu batin saya menyaksikan banyak figur-figur top dan “serius” yang mengapresiasi film ini.

Akhirnya saya pun menyimak acara ini dengan serius dan akhirnya semakin paham apa yang sedang dibincangin. Film “Waiting For Superman” adalah salah satu film serius dan salah satu film yang mau memblejeti Amerika secara jujur. Film ini mirip ama “Fahrenheit 911″ dan “Super Size Me”.  Apabila F 911 membahas masalah politik dan SSM membahas masalah gaya hidup, maka Waiting For Superman membidik carut-marut pendidikan di Amerika. Dan saya pun terbelalak. Pendidikan di Amerika yang dalam benak saya, juga dalam benak sekian juta masyarakat Indonesia adalah sangat maju, modern, profesional, hebat, dan terjangkau ternyata menyimpan borok. Melihat penjelasan sutradara, menyaksikan sedikit cuplikan dari film, dan mendengar komentar dari narasumber membuat saya seakan-akan menyaksikan keadaan pendidikan di negeri ini. “Kok sama ya?”, begitu komentar saya dalam hati, apalagi mendengar ucapan Bill Gates yang mengatakan bahwa pendidikan di negeri ini (Amerika Serikat) masih dibangun oleh nilai-nilai yang dirumuskan tahun 50-an. Jadi bahasa kasarnya pak Bill bilang bahwa pendidikan di Amerika tuh ketinggalan jaman buanget, makanya gak salah kalau dia memilih drop out dari kampus demi mengembangkan komputer ciptaannya. Belum lagi masalah sekolah yang tidak berkualitas yang jumlahnya seabrek. Juga guru-guru yang tidak profesional, bahkan dikisahkan ada guru yang hampir setahun tidak pernah masuk kelas, dia hanya hadir ketika ambil gaji doang. Dan masalah yang disampaikan tidak hanya itu. Ada masalah putus sekolah yang parah serta masalah rendahnya lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Sampai di sini pasti ada yang komentar “kok Indonesia banget ya??”. Masalah semakin menumpuk dengan tingginya biaya pendidikan. Disadari atau tidak bahwa publik Amerika memiliki pandangan negatif terhadap sekolah-sekolah negeri, maka pilihan satu-satunya adalah menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah swasta yang jelas biayanya lebih mahal dari sekolah negeri. Maka muncullah fenomena klasik yang mungkin sudah sering kita lihat di negeri ini, yaitu putus sekolah karena ketiadaan biaya. Bahkan di panggung sempat ada sebuah testimoni dari seorang pelajar SD berprestasi namun terancam putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai iuran sekolah. Banyak penonton yang menangis mendengar kisah tersebut, bahkan Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia terlihat beberapa kali menyeka matanya. Sungguh sebuah fenomena yang tragis dan ironis dari sebuah negeri yang selama ini dipandang superior oleh dunia.

Menyaksikan dan mendengar fenomena di atas pasti dipikirannya langsung berkecamuk berjuta komentar. Bagi mereka yang apatis pasti koment, “gak penting ah, ngapain mikir Amerika”. Bagi yang agamis langsung koment, “itulah hukuman Tuhan atas Amerika akan kesombongannya selama ini”. Sedangkan mereka yang idealis pasti langsung mikir, “sebenarnya Amerika udah koit sejak lama mas”. Lalu mereka yang Politis langsung menimpali, “terbukti dengan jelas bahwa Amerika sekarang sudah bangkrut”. Ya, saya setuju apapun yang kalian obrolkan kawan (kecuali teman yang apatis tentunya). Amerika bangkrut, Amerika di ambang kehancuran, Amerika rapuh, Amerika mendapatkan hukuman Tuhan, yang intinya Amerika menjelang tamat. Amerika dan ideologi kapitalisnya memang sudah di ujung tanduk. Penopang-penopangnya seakan gang buntu yang tidak bisa lagi dilewati. Tapi Amerika tetaplah tokoh antagonis yang kuat, yang berkali-kali diketahui kelemahannya tapi tetap saja bangkit dari kubur dan melakukan teror berkali-kali.

Banyak dari kita para rakyat negeri dunia ketiga lebih khususnya negeri-negeri muslim yang berharap Amerika segera koit dan kemudian digantikan posisinya oleh negeri-negeri muslim. Tapi kalau kita melihat posisi negeri-negeri muslim saat ini tersaji jelas bahwa posisi negeri-negeri muslim saat ini jauh dari sosok seorang pahlawan pembela kebenaran. Amerika bangkrut secara ekonomi, tapi negeri-negeri muslim lebih parah bangkrutnya. Amerika mengalami krisis moral paling parah, negeri-negeri muslim moralnya lebih rusak parah (ingat kasus Indonesia sebagi negeri muslim pertama yg melegalkan Playboy hingga kasus anggota dewan dari partai Islam yg terpergok nonton bokep). Amerika mengalami krisis di bidang pendidikan, tapi cobalah tengok Indonesia saja sebagai representasi negeri muslim terbesar di dunia. Pendidikan di negeri ini seakan sudah mati gaya. Banyak gedung sekolah yang ambruk dan terbengkalai, sementara para penguasanya sibuk membagi jatah uang korupsi. Lihatlah angka statistik buta aksara dan putus sekolah yang terus meninggi menembus angkasa. Tengoklah jumlah peminat perguruan tinggi dan jumlah ilmuwan negeri ini yang angkanya semakin turun ke posisi terbawah. Lihatlah betapa tidak malunya insan pendidikan negeri ini mengadakan acara contek massal di setiap UNAS. Juga semakin terungkapnya bisnis dan komersialisasi di balik lebel Rintisan Sekolah Berbasis Internasional. Pendidikan di negeri ini seakan menjadi barang mahal, tapi jelek dan tidak berkualitas.

Sudah jelas negeri muslim dan kaum muslimin jauh dari sosok pembela kebenaran, jauh dari sosok tokoh protagonis. Karena sejak Islam dicampakkan, Al Qur’an dijadikan hanya sekedar pajangan, dan kemudian kita kaum muslimin (mulai dari level penguasa hingga rakyat jelata) dengan ikhlas menelan sampah peradaban berupa kapitalisme dan sosialisme, maka sejak saat itu kita dengan ikhlas memposisikan diri menjadi jongos bagi antagonis besar dunia bernama Amerika. Maka jangan bermimpi menjadi Arjuna yang mampu mengalahkan wadyabala Kurawa selama kita berposisi sebagai Togog yang berteriak-teriak mengkritik Kurawa tapi tetap setia ngintil dan menghamba di bawah kakinya. Maka jangan berharap pula dari negeri-negeri muslim saat ini akan lahir sosok seperti Harun Ar-Rasyid, Muhammad Al Fatih, Ibn Sina, Omar Khayyam, atau Al Khawarizmi yang sosoknya hingga hari ini diakui oleh Barat, selama negeri-negeri muslim masih setia dengan kapitalisme, demokrasi, hingga nasionalisme yang membuat sesama muslim saling menodongkan senjata. Maka betullah ucapan Syaikh Ali An Nadwi yang pernah berujar, “orang Nasrani maju ketika mereka membuang injil, sedangkan kaum Mulimin akan mundur ketika menjauhi Al Qur’an”.

ket :

Njlebut = Istilah yang populer di kantor tempat saya bekerja. Sebuah istilah yang menggambarkan suatu pekerjaan yang sia-sia atau sebuah pekerjaan yang mudah namun terasa berat dan sulit karena dikerjakan secara terburu-buru, seenaknya, dan tidak profesional.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s