Bosan dan Muak

Bosan dan muak, mungkin itu yang ada di benak jutaan rakyat Amerika yang pada hari ini melakukan protes dan menduduki pusat bisnis utama negeri tersebut atau Wall Street. Mereka menamakan diri mereka “Occupy Wall Street” alias menduduki Wall Street. Berawal dari majalah indie dan situs jejaring sosial, gerakan ini bermetamorfosis menjadi aksi massa ribuan pemuda yang kemudian sontak mengagetkan publik Amerika dengan aksi pendudukan dan longmarch yang diikuti jutaan peserta dan didukung oleh banyak pihak mulai dari selebritis hingga intelektual kritis semacam Noam Chomsky dan Joseph Stiglitz.

Mereka menyuarakan “kebosanan dan kemuakan” atas keserakahan kapitalisme. Mereka menggunakan topeng Guy Fawkes sebagai lambang perlawanan terhadap tirani korporasi. Kapitalisme telah bertindak tidak adil, hanya mementingkan segelintir elit penguasa dan para pengusaha atau korporasi besar. Demokrasi bagi mereka tak ubahnya racun yang membius rakyat. Demokrasi ternyata hanya dijadikan alat untuk melegalisasi perampokan yang dilakukan para korporat atas izin para elit penguasa yang selama ini mereka modali. Rakyat hanya dijadikan stempel karena para penguasa sesungguhnya adalah para pengusaha alias korporasi. Maka korporasi dengan seenaknya bisa menelikung hukum, memainkan undang-undang, serta kebal terhadap berbagai ancaman yang mengancam keserakahan mereka. Efeknya pengangguran meningkat, kebutuhan dasar semakin tak terjangkau, kemiskinan merajalela, dan rakyat semakin lapar, semakin meningkatkan kadar amarah.

Mereka membongkar kebusukan kapitalisme dan para sekutunya. Mereka menyugukan fakta-fakta bahwa kapitalisme dan segala derivatnya hanya membawa derita. Angka-angka pengangguran yang semakin meninggi. Barang dan jasa semakin tak terbeli. Pendidikan mahal, kesehatan menjadi barang langka, sedangkan tuna wisma semakin membanjiri kota. Subsidi untuk rakyat semakin menghilang dengan alasan untuk menolong ekonomi negara. Tapi alasan tinggallah alasan, yang terjadi justru penguasa lebih mengutamakan para korporasi kaya. Di saat para tunawisma mengantri makanan gratis, para eksekutif-eksekutif perusahaan raksasa justru berpesta pora dengan dana talangan pemerintah yang diambil dari pajak rakyat dan dana subsidi yang terpangkas. Maka pantas bila kemudian rakyat Amerika marah dan turun ke jalan.

Maka bila rakyat Amerika yang selama ini dipelihara dengan dana hasil menguras kekayaan negeri-negeri muslim dunia ketiga semakin lama semakin bosan dan muak. Bila rakyat Amerika yang selama ini merasakan aneka fasilitas hasil perampokan sumber daya alam negeri-negeri muslim merasa semakin menderita. Lalu bagaimana nasib milyaran kaum muslimin yang kekayaannya diambil paksa oleh Amerika? Lalu bagaimana nasib milyaran kaum muslimin yang dibodohkan dan dimiskinkan secara massal oleh para korporasi dunia? Lalu bagaimana nasib milyaran kaum muslimin yang “kampung halamannya” dijadikan tempat sampah peradaban kapitalisme?

Nasib kita jelas lebih menderita daripada mereka. Mereka ditipu kapitalisme melalui demokrasi, kita lebih parah. Mereka dimiskinkan karena penguasa lebih membela para pengusaha, kita juga mengalami hal yang sama bahkan lebih parah. Maka jika rakyat Amerika sudah bosan dan muak dengan tingkah polah kapitalisme, kita harusnya lebih bosan dan muak dibandingkan mereka.

Tentu kebosanan kita tidak hanya sekedar turun ke jalan, tentu kemuakan kita tidak hanya sekedar orasi dan kibaran bendera. Islam adalah sebuah sistem mulian dan kompleks. Islam telah membuktikan mampu membangun peradaban besar selama lebih 14 abad. 14 abad tanpa penjajahan, tanpa pemerasan, dan keadilan dijunjung tinggi. Ingatkah pada kisah Amru bin Ash, gubernur Mesir yang pingsan karena surat ancaman Khalifah Umar akibat rencananya menggusur gubuk liar yahudi tua. Juga doa kaum nasrani Andalusia agar pasukan kaum muslimin segera membebaskan negeri mereka. Islam telah membuktikan sebagai sebuah sistem yang memanusiakan manusia. Negeri-negeri yang dibebaskan oleh Islam mulai dari Andalusia, Afrika Utara, Mesir, Syam, Anatolia, hingga Nusantara terbukti mengalami zaman keemasan ketika Islam diterapkan dan lebih makmur dibandingkan sebelumnya.

Maka ketika borok kapitalisme mulai terbuka, ketika lukanya semakin menganga. Maka tidak ada jalan lain kalau kita memukulnya sampai mencium tanah. Tentu membunuh kapitalisme bukan dengan jalan masuk ke dalam sistem tersebut. Membunuh kapitalisme adalah dengan menghadirkan lawan yang seimbang. Menggunakan mayat hidup sosialisme hanya menghadirkan dagelan. Islam adalah jawabannya, karena hanya Islam yang mampu dan paling ditakuti oleh kapitalisme. Islam dengan Daulah Khilafahnya adalah lawan berat sekaligus pemusnah kapitalisme. Maka, buang kapitalisme segera dan ganti dengan Islam.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s