Kritik Politik Dalam Syair Lir Ilir

Pernahkah kita mendengarkan tembang atau syair Lir Ilir, sebuah tembang yang dulu populer untuk mengiringi dolanan atau permainan anak-anak. Di kemudian hari tembang ini kembali dipopulerkan oleh budayawan Emha Ainun Najib, maknanya yang “dalam” konon oleh sebagian orang dianggap sebagai penentram hati. Tapi pernahkah terbersit di kepala kita bahwa dibalik tembang Lir Ilir tersimpan sebuah kritikan pedas terhadap penguasa, sebuah kritikan politik yang sekaligus sebuah tamsil akan segera terjadinya revolusi atau perubahan di sebuah negeri juga sebagai penegas akan pola dakwah para Walisongo yang bercorak politis. Tembang ini sendiri diciptakan oleh Sunan Giri, salah satu anggota Walisongo. Mengenai kapan tembang ini diciptakan hingga hari ini tidak ada catatan resmi, diperkirakan menjelang runtuhnya Majapahit atau menjelang berdirinya Kesultanan Demak. Lalu siapakah sebenarnya Sunan Giri??

Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin atau Prabu Satmata atau Sultan Abdul Faqih dan ketika masih muda bernama Raden Paku adalah salah satu anggota Walisongo terkemuka sekaligus menjabat sebagai pimpinannya paska wafatnya Sunan Ampel. Raden Paku adalah putra dari Maulana Ishak yang merupakan anggota Walisongo angkatan kedua dengan Dewi Sekardadu, putri kerajaan Blambangan. Ketika masih bayi dibuang ke laut karena-diperkirakan-dianggap membahayakan suksesi kerajaan Blambangan yang masih menganut ajaran Hindu Syiwa, perlu diketahui pada saat itu Dewi Sekardadu yang merupakan putri kedaton lebih memilih mengikuti agama suaminya yaitu Islam. Kemudian Raden Paku diasuh oleh Nyai Ageng Pinatih, seorang saudagar wanita sekaligus syahbandar pelabuhan Gresik. Ia mendapat pendidikan agama Islam di pesantren Ampeldenta, lalu berguru kepada ayahandanya sendiri, Maulana Ishak yang menyebarkan Islam di Malaka. Oleh ayahandanya, Raden Paku mendapat gelar Maulana Muhammad Ainul Yaqin, kemudian ia berangkat belajar ke Mekkah dan sepulangnya dari tanah suci ia diharapkan mampu meneruskan tugas ayahnya sebagai penyebar Islam di tanah Jawa. Karena sejak awal sifat dakwah Walisongo adalah meniru dakwah Rasulullah Saw begitu pula halnya apa yang dilakukan oleh Raden Paku atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin. Ia meraih nushrah dari ibu angkatnya sendiri dan mendapatkan kedudukan sebagai syahbandar sekaligus penguasa di Gresik, sejak saat itulah ia mendapat gelar Sunan Giri karena membangun pusat pemerintahan sekaligus dakwah dan pendidikan di atas sebuah bukit atau gunung yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Giri.

Di kemudian hari Giri berkembang semakin pesat, bahkan menjadi pusat pemerintahan mandiri di luar Kesultanan Demak sebagaimana Kesultanan Cirebon di bawah pemerintahan Sunan Gunung Jati sekaligus pusat pendidikan. Giri Kedaton (sebutan umum Kesultanan Giri) bahkan mampu melebarkan pengaruh hingga ke luar Jawa dan membidani berdirinya banyak kesultanan di luar Jawa mulai dari Madura, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Ternate dan Philipina Selatan seperti Kesultanan Sumenep, Kesultanan Kutai Kertanegara, Kesultanan Bima, Kesultanan Gowa, Kesultanan Bima, Kesultanan Ternate, dan Kesultanan Sulu. Hampir semua sultan di kesultanan-kesultanan tersebut adalah alumni Giri Kedaton. Giri Kedaton kemudian bertindak sebagai penasehat kesultanan-kesultanan tersebut juga menjadi penghubung langsung dengan Khalifah, ini dibuktikan dengan diberikannya mandat kepada Sunan Giri dan penerusnya untuk mengangkat dan memberikan restu pada penobatan sultan baru di berbagai kesultanan tersebut. Begitu penting dan vitalnya posisi Giri kemudian VOC atau Belanda untuk melapangkan penjajahannya terlebih dulu menyerbu dan memusnahkan Giri Kedaton.

Kembali ke topik bahasan awal, yaitu membedah kritik politik dalam syair Lir Ilir.

Lir ilir, Lir ilir — bangun, bangunlah (dari tidur)

Tandure wes sumilir, — pohon sudah mulai bersemi

Tak ijo royo-royo — demikian menghijau

Tak senggo temanten anyar — bagaikan gairah penganten baru

Cah angon, cah angon — anak pengembala, anak pengembala

Penekno blimbing kuwi — panjatlah pohon blimbing itu

Lunyu-lunyu yo penekno — walau susah tetap panjatlah

Kanggo mbasuh dodotiro — berguna untuk mencuci pakaianmu

Dodotiro, dodotiro, — pakaian-pakaianmu

Kumitir bedhah ing pinggir — banyak yang rusak di sisi-sisinya

Dondomono jlumatono — bersihkanlah dan benahilah untuk

Kanggo sebho mengko — menghadap nanti sore

Mumpung padhang Rembulane — mumpung terang rembulannya

Mumpung jembar kalangane — mumpung banyak waktu luang

Yo surako….surak hiyo……. — Mari bersorak,,,,sorak hayo,,,,,

Demikianlah bunyi lirik syair Lir Ilir sekaligus terjemahan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia. Sepintas lirik-lirik di atas tidak menunjukkan kritik politik sama sekali karena syair ini disusun dengan kata-kata perlambang yang memiliki makna yang dalam. Tapi apabila kita selami lebih dalam maka kritik politik tersebut akan muncul di balik lirik-lirik yang indah tersebut. Lir Ilir..Lir Ilir..Tandure wis sumilir kalau boleh saya beri makna lirik tersebut sebenarnya adalah sebuah peringatan kepada penguasa yaitu agar penguasa bangun dan tanggap agar melihat dan mendengar keinginan rakyat (tanduran bermakna rakyat yang serupa dengan tumbuhan yang mengakar atau golongan akar rumput). Bahwa mayoritas rakyat sudah ijo royo-royo atau memeluk Islam (hijau sering digunakan sebagai lambang Islam) dan mendambakan dipimpin dengan sistem yang baru yaitu sistem Islam (tak senggo temanten anyar yang bergairah untuk memulai hidup baru).

Lirik berikutnya berbunyi cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi atau bermakna wahai para penguasa segera ambil dan terapkan sistem Islam. Cah angon bermakna penguasa sebagai atsar hadits Nabi Saw yang menggambarkan penguasa atau pemimpin itu ibarat penggembala. Sedangkan buah belimbing yang memiliki lima sisi pada bagian tubuhnya adalah perlambang Islam dengan 5 buah rukunnya. Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro, sesulit dan sebesar apapun halangannya kamu harus segera menerapkan Syariat Islam untuk membersihkan atau menata kekuasaanmu. Ya, dodot adalah baju kebesaran para bangsawan pada era tersebut yang juga perlambang kekuasaan, sedangkan belimbing di era tersebut sering digunakan sebagai bahan pencuci pakaian. Jadi maknanya sangat pas yaitu bahwa hanya dengan sistem Islamlah kekuasaan atau pemerintahan yang sebelumnya kotor dapat dibersihkan.

 Lirik berikutnya semakin memperjelas makna lirik sebelumnya. Bahwa dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir maka dondomono jlumatono. Bahwa betapa kekuasaan para raja-raja atau penguasa tersebut telah mengalami banyak kerusakan-kerusakan sehingga menimbulkan krisis yang berkepanjangan, maka solusi satu-satunya adalah dengan “membersihkan” dan “menjahitnya” dengan sebuah sistem baru yang lebih dinamis dan manusiawi yaitu sistem Islam agar terjadi kebangkitan yang nyata dan menyeluruh. Juga agar meringankan beban pertanggung jawabanmu (para penguasa) di akhirat kelak yang dilambangkan dengan lirik kanggo sebho mengko sore. Ini juga sebagai bukti bahwa dakwah Islam selain seruan kepada kebaikan dan pencegahan berbuat kemungkaran, juga solusi total bagi seluruh permasalahan umat manusia, dan adalah seruan kasih sayang kepada seluruh umat manusia agar memperoleh hidayah dan jalan keselamatan yang sama di hadapan Allah Swt kelak di hari pertanggung jawaban.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane…yo surako..surak hiyo. Mumpung kesempatan itu terang di depan mata karena didukung oleh mayoritas rakyat baik kecil maupun besar. Mumpung kesempatan itu semakin besar karena hadirnya para ulama intelektual sebagai pengiring dan penasehat. Maka tidak ada kata lain selain kata iya akan kami terapkan Syariat Islam.

**

Meresapi syair ini saya membayangkan jangan-jangan kondisi pulau Jawa saat itu persis dengan keadaan Mesir, Tunisia, atau Libya saat ini tapi lebih dahsyat karena tanpa embel-embel demokrasi, karena tuntutannya murni 100% penerapan Syariat Islam secara kaffah.

(tulisan ini Insya Allah muncul dalam buku saya berikutnya yang mengupas sejarah Islam di Nusantara. tunggu saja tanggal mainnya)

2 pemikiran pada “Kritik Politik Dalam Syair Lir Ilir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s