Amuk Massa, Tingkat Demokrasi, dan Emosi

Oleh: UU Hamidy

Amuk massa makin banyak terjadi. Dulu semasa Orde Baru hampir tak terjadi, karena ada sistem otoriter yang menekan terus gejolak perasaan rakyat. Sistem otoriter itu memperlambat gejolak yang bagaikan bengkak akan meletus. Tekanan itu berlaku terus bagaikan pompa yang menekan ke bawah. Namun pada batas akhir akan berbalik dari bawah ke atas. Begitulah secara sederhana keadaan masyarakat yang selalu tertindas.

Orang yang berpandangan sekuler akan melihat amuk massa dari sudut pandang psikologi sosial, aparat penegak hukum, tingkahlaku pemerintah dan otonomi daerah yang kusut. Pandangan itu ada benarnya, tapi tak dapat memberi penjelasan yang lengkap. Kelemahan pertama ialah, tingkat emosi masyarakat yang hampir tak pernah dipantau oleh pemegang teraju pemerintahan.

Sistem demokrasi sekuler hanya menampilkan penguasa yang zalim, memerintah tanpa mengingat kematian. Dunia Melayu punya tingkat emosi: malu, merajuk, latah, aruk dan amuk. Masyarakat yang tentram berada pada tingkat emosi malu sampai merajuk. Pada tingkat latah dan aruk, sudah ada arah kepada perlawanan. Tapi belum dilakukan secara terbuka serta belum terorganisir. Perlawanan secara massal dan terbuka terjadi pada tingkat amuk.

Amuk massa dapat dipahami dengan mudah melalui sistem demokrasi kapitalis yang telah melahirkan peta pertarungan_hidup, tiga lawan satu. Tiga yang pertama ialah penguasa, pemilik modal dan pemegang senjata (alat negara). Sedang pihak yang satu yaitu rakyat. Tiga pertama dalam demokrasi kapitalis membuat semacam hubungan yang saling menguntungkan. Penguasa memberi kemudahan pada sang kapitalis untuk mengolah berbagai sumber alam, sedang pemegang senjata memberi perlindungan pada pengusaha. Pengusaha memberi imbalan materi pada keduanya.

Ketegangan timbul antara tiga pihak ini dengan rakyat ketika memperebutkan sumber-sumber kehidupan. Sumber kehidupan yang paling utama lagi mahal adalah hutan tanah, karena inilah yang tak dapat dibuat oleh sang kapitalis. Hutan tanah yang berpijak pada tanah ulayat membuat masyarakat memandang, merekalah yang paling berhak memanfaatkan hutan tanah di negeri mereka. Tapi demokrasi kapitalis membuat rakyat jadi heran, mengapa hutan tanah mereka dengan mudah dikuasai oleh pemilik modal. Maka muncullah konflik antara pihak pengusaha dengan rakyat tempatan. Dalam konflik ini rakyat melihat, penguasa berada di pihak pengusaha sedang pemegang senjata juga ternyata membela sang kapitalis.

Rakyat mendapat tekanan agar tak menentang kebijakan penguasa yang telah memberi kemudahan pada pengusaha. Ketika diadakan perundingan, rakyat disumbat aspirasinya dengan berbagai peraturan atau undang-undang. Keadaan ini membuat rakyat makin tak mengerti, bagaimana bisa ada undang-undang yang membuat mereka kehilangan hak atas hutan tanah mereka. Ketika konflik antara pengusaha dengan rakyat sampai pada titik krisis atau klimaks, rakyat sekali lagi melihat, tak ada yang membela mereka. Mereka paling-paling dibujuk oleh politisi atau tokoh yang diberi julukan tokoh masyarakat. Namun perkara tak selesai, bahkan dada rakyat makin sempit. Maka rakyat kehilangan harapan, kemudian kehilangan pegangan, sehingga lalu mengamuk.

Jadi amuk massa itu dapat memperlihatkan tiga perkara penting. Pertama, rakyat merasa tak dipelihara oleh pemerintah, tapi merasa dipermainkan. Kedua, pengusaha hanya menjadikan rakyat sebagai obyek. Rakyat hanya untuk memutar roda perusahaan. Jadi kuli yang kemudian diganti dengan sebutan buruh agar tak merasa hina. Ketiga, materi menjadi nilai utama kehidupan, mengatasi nilai akhlak mulia yang tak berharga di depan mata materi atau bendawi.

Kenyataan ini semestinya membuka pintu hati kita, bahwa membangun dengan cara kapitalis tidaklah mendatangkan kesejahteraan pada rakyat. Dengan sistem kapitalis memang pendapatan perkapita akan meningkat. Tapi peningkatan itu tak menyentuh rakyat jelata. Angka pertumbuhan ekonomi memang akan naik tajam, ketika para kapitalis dapat peluang besar menanamkan modalnya. Tapi pertumbuhan itu hanya pertama-tama untuk sang kapitalis dan segelintir elit pejabat dan politisi yang telah melapangkan jalan bagi pengusaha. Sedang rakyat jelata mendapat berbagai malapetaka, mulai dari kehilangan hutan tanah sumber kehidupan, bencana yang datang oleh kerusakan alam sampai berbagai kekeringan dan banjir serta penyakit. Ini semuanya belum tentu sebanding dengan pajak yang diberikan oleh para kapitalis pada negara tempat rakyat tertindas ini berada.

Gedung pencakar langit, jalan bebas hambatan dan hotel mewah, memang dapat dibangun oleh sang kapitalis. Tapi itu bukan kebutuhan utama rakyat. Dan bukan itu pada hakikatnya tujuan pembangunan yang sebenarnya. Apa gunanya segala sarana kemewahan ini, jika ternyata hanya digunakan untuk maksiat seperti perjudian, minuman keras, pelacuran, hiburan mengumbar nafsu dan segala praktik ribawi. Apa artinya segala kemewahan yang materialistik dalam kehidupan yang tak punya akhlak mulia. Ini semuanya tak bernilai untuk menghadapi maut, yang kita pasti akan menjumpainya. Sampai kapan kita akan membangkang terhadap aturan hidup yang paling sempurna yang telah diberikan oleh Allah melalui Rasul-Nya, yang menjamin memberikan keselamatan, ketentraman dan bahagia, baik untuk hidup dunia yang singkat apalagi untuk hidup akhirat yang kekal abadi.***

UU Hamidy; Budayawan (dimuat di koran Riau Pos, Sabtu 17 Februari 2012 dan http://www.riaupos.co/opini serta di http://hizbut-tahrir.or.id/category/analisis/)

Selamat Datang Fetih 1453

backsound; Adakah Kau Lupa by Alarm-me

Sejarah merupakan sebuah elemen penting peradaban, maka untuk itulah sejarah dipelajari dan diajarkan. “Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata bung Karno. Akan tetapi di abad modern dan digital saat ini sejarah tidak cukup tampil dalam buku tebal dan kuliah atau pelajaran yang membosankan. Di era ini sejarah harus tampil cantik dan memikat agar tidak dianggap sebagai pelajarannya orang kuno. Jepang membingkai sejarahnya dalam bentuk novel dan di awal dekade lalu mereka mempromosikan sejarahnya dalam bentuk komik. Barat lebih hebat lagi, mereka menghidupkan sejarahnya dalam bentuk pita seluloid alias film. Umat Islam justru tampil mengenaskan, sejarah kegemilangannya banyak dimanipulasi, ditambah sikap umat Islam sendiri yang malas untuk belajar dan membaca. Maka tidak aneh jika hari ini kita saksikan banyak siswa sekolah Islam tidak paham dan hapal bahkan buta sama sekali dengan sejarah Islam walaupun sejak dulu pelajaran sejarah Islam diajarkan di sekolah-sekolah Islam. Hal itu tidak aneh karena banyak dari guru-guru sejarah Islam yang juga tidak paham bahkan buta sama sekali dengan sejarah Islam. Hari ini kita bisa menyaksikan bahwa buku sejarah yang mengupas sejarah Islam yang valid dan tidak tendensius sangat sedikit. Jumlahnya semakin sedikit bila menyangkut sumber sejarah Islam yang berbentuk fiksi. Dan akan semakin langkah sumber sejarah Islam yang berbentuk film atau sinema. Dulu kita pernah menyaksikan film sejarah kehidupan Rasulullah Saw yang berjudul “The Message”, tapi generasi Islam saat ini pasti merasa bosan menyaksikan film buatan tahun 70-an tersebut. Terakhir kita menyaksikan sepak terjang Shalahuddin Al Ayyubi di film kolosal Ridley Scott “Kingdom Of Heaven” itupun dibuat 2005 silam, setelah nyaris tidak ada satupun film yang mengangkat kegemilangan Islam baik lokal (Indonesia) maupun internasional. Tapi di awal tahun 2012 ini siap-siap kita mendapat kejutan. Poster di atas bukan poster buatan orang iseng yang rindu film sejarah Islam, juga bukan disain sampul terbaru buku ust. Felix Siauw yang berjudul “Muhammad Al Fatih 1453″. Poster di atas adalah poster film yang Insya Allah dirilis bulan Februari ini. Sebuah film epik kolosal yang mengisahkan pembebasan Konstantinopel oleh jenderal brilian yang diramalkan Rasulullah Saw, Sultan Muhammad II Al Fatih. Kita berharap semoga film ini segera diputar di tanah air, juga semoga mampu menjadi inspirasi bagi sineas film lokal untuk membuat film sejarah Islam yang berkualitas, tapi yang lebih penting semoga film ini mampu membuka mata kaum muslimin terutama generasi muda akan kegemilangan Islam di masa lalu.

(film ini hitung-hitung sebagai obat kangen juga sekaligus hidangan pembuka sambil menunggu film “The Prophet”, film sejarah kehidupan Rasulullah Saw yang entah kapan dirilis. Untuk info dan trailer film “Fetih1453″ silahkan ente cari sendiri di inetrnet)

Malingnya Maling

Saya pernah menyaksikan sebuah hukum rimba dilaksanakan, seorang pemuda dibuat nyonyor mukanya. Dia sedang tidak dioperasi face off tapi sedang dihakimi massa. Setiap kali jawaban yang keluar dari mulutnya tidak memuaskan massa, maka sebuah bogem sebesar ketupat landing dengan mulus di mukanya. Seorang teman juga pernah berkisah tentang proses pengadilan massa yang mampir di kedua matanya. Tersangka didudukkan di sebuah kursi kemudian jempol kakinya dijepit dengan kaki meja dan seorang petugas sebesar kingkong nangkring dengan enteng di atasnya sambil merokok dan nanya-nanya kronologi kejadian. Para pembaca pasti sudah sering mendengar bagaimana nasib maling amatiran bila diadili di sidang jalanan tersebut dicukur, ditelanjangi, mukanya diface off, bahkan sampai dibakar dengan oli.

Maka bisa dipastikan banyak pemirsa yang kecewa ketika melihat tivi. Bagaimana sidang kasus korupsi berubah bak sinetron murahan yang tidak habis-habis episodenya sampai penontonnya bosan. Semuanya terdakwanya mirip anak TK yang tidak mau mengalah, saling tuduh saling lempar, saling sembunyi, dan saling cari perlindungan. Lihatlah kasus century, BLBI, hingga sidang Nazarudin tadi pagi yang menghadirkan Angelina Sondakh sebagai saksi. Semuanya tidak terungkap, samar, dan membingungkan masyarakat, dan biasanya berakhir “happy ending” terutama buat pelaku. Melihat kondisi ini pantas masyarakat termasuk saya geregetan. Di tengah kondisi yang semakin tidak menentu seperti saat ini tentu masyarakat ingin tau bagaimana akhir dari para maling kelas kakap tersebut. Jika wong cilik yang nyuri ayam, semangka, sandal, kotak infak harus rela berdarah-darah bahkan mati konyol maka masyarakat pasti setuju jika vonis buat maling duit triliunan tersebut dihukum mati, bahkan kalau perlu tanpa proses peradilan yang berbelit-belit.

Tapi harapan itu cuma berupa mimpi kosong. Kita semua sudah sama-sama tahu bahwa demokrasi melindungi penguasa dan orang kaya lalim sampai mati dan untuk rakyat kecil, mereka dihabisi dan dikebiri setelah ditipu mentah-mentah setiap lima tahun sekali dengan tajuk pesta demokrasi.

Selamat datang di era demokrasi kawan, tenanglah kau tidak akan membeli kucing dalam karung tapi seekor anjing yang setelah sekian lama kau pelihara ternyata dia cukup pintar mengigit pantat majikan sendiri.

Mabuk Bae

“Assalamualaikum..nama saya Slamet, lengkapnya Slamet Prawirodirjo. Pekerjaan saya ada dua, yang berprofit adalah sebagai penjual pentol plus asisten tukang tambal ban, sedangkan yang berpahala saya merangkap sebagai tukang bersih-bersih mushola kampung saya. Alamat terkadang saya tinggal di rumah warisan bapak saya tapi lebih sering tidur di mushola, ya semoga saya dapat masuk surga karena hati, pikiran, jiwa, dan raga saya terikat ama mushola. Dulunya saya penghuni komplek bank, maksudnya adalah saya tinggal di gang sempit dekat terminal bemo, yang kalau orang lewat sering bilang, “permisi bank..permisi bank…”, alias tinggal di pangkalan tukang mabuk. Saya dulu tukang mabuk alias mabuker merangkap preman cap cicak plus pengangguran. Terus terang menjadi pengangguran itu meresahkan ditambah menjadi preman plus tukang mabuk. Lebih-lebih menjadi tukang mabuk, saya merasakan banyak ruginya. Pertama, mabuk merugikan secara ekonomi. Pas uang saya banyak saya biasa memborong bir, arak beras, topi miring atau cap tikus, bila uang mulai menipis saya membeli spirtus campur alkohol 70%, bila uang mulai cekak, saya urunan membeli lem Aibon buat disedot bareng-bareng, bila uang mulai langka saya pergi ke sawah mencari bunga kecubung sebagai pengganti alkohol, dan karena sawah semakin langka di kota ini biasanya saya menyetop truk, berdiri di atas bak sambil mangap selebar-lebarnya, biasanya jarak 10 km saya sudah muntah-muntah dan hilang kesadaran. Ya, mabuk membuat bokek dan membuat orang jadi setengah gila bahkan gila. Kedua, mabuk merugikan diri sendiri. Ya, mabuk membuat badan saya rusak, liver saya bolong-bolong, bahkan bikin nafas ngos-ngosan walau hanya lari sejauh 10 meter. Selain itu mabuk membuat jati diri saya hilang, saya sering bikin malu, mulai dari balapan motor di kolam pancing, renang gaya bebas di got depan rumah, hingga menjadi terdakwa kasus pelecehan seksual karena menggoda kambing si Roni. Bahkan mabuk nyaris menghilangkan nyawa saya, saya nyaris terbakar hidup-hidup gara-gara pas mabuk saya menduduki kompor yang menyala karena menyangka kompor tersebut adalah roket dan saya sebagai astronot NASA yang mau terbang ke bulan. Ketiga, mabuk juga merugikan orang lain bahkan membahayakan nyawa. Perlu anda ketahui memang alkohol bisa menjernihkan suara tape recorder yang mbrebet tapi jangan sekali-kali mencoba memasukkan alkohol ke tenggorokan anda, karena bukan suara yang jernih yang akan keluar tapi suara sember dan bikin jengkel orang banyak. Saya pernah nyaris mati dipukuli massa gara-gara malam-malam menyanyikan lagu nasional dengan gaya underground menggunakan mik mushola, waktu itu saya sedang mabuk dan menyangka sedang mengikuti audisi Indonesian Idol. Orang mabuk itu berbahaya, kalau disuruh jadi sopir angkot pasti angkot ama penumpangnya dihancurin karena merasa jadi stuntman, disuruh jadi tukang sate malah bakar orang, disuruh jadi tambal ban malah ledakkin tabung kompresor, disuruh jadi tukang becak malah akrobat, disuruh jadi tukang sapu malah bergaya ala Harry Potter terjun naik sapu dari jembatan penyeberangan, untung gak disuruh jadi presiden bisa-bisa negeri ini dijual secara murah dan rakyatnya dijadikan budak atau jadi bahan bakar sabun. Ya, mabuk lebih berbahaya daripada rokok karena bisa membunuh langsung di tempat baik pelaku maupun orang di sekelilingnya. Maka wahai penguasa segera anda berantas pengangguran, juga segera berantas peredaran miras sampai ke akar-akarnya karena sudah tak terhitung orang yang dirugikan bahkan mati karena minuman keras. Atau kalau memang anda merasa tidak mampu  maka jangan larang orang untuk mengaji, jangan larang orang mau memperjuangkan Syariat Islam, dan jangan musuhi atau menyebut mereka teroris gara-gara pingin menegakkan Daulah Khilafah, karena hanya ini satu-satunya solusi memberantas kejahatan minuman keras. Atau jangan-jangan anda cuek karena telinga dan mulut anda sudah disumpal uang pengusaha mirasmaka kalau sudah begini jangan salahkan siapa-siapa  kalau suatu saat miras dijadikan minuman khas negeri ini, penguasa dan rakyatnya doyan mabuk, pembunuhan, kerusuhan, dan kekacauan terjadi di seluruh negeri, bahkan lagu kebangsaannya pasti diganti menjadi lagu dangdut koplo “Mabuk Bae”. Demikian dari saya sekian dan terima kasih Wassalamualaikum wr wb”

Mamat memegang perut dan mengusap matanya, karena bingung entah mau tertawa terbahak-bahak atau menangis haru ketika mendengar orasi lugu dari sahabat kentalnya si Slamet di arena Tabligh Akbar, tapi yang pasti Mamat setuju dengan Slamet, Ya segera berantas miras dan terapkan Syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah, karena kalau tidak bisa-bisa generasi muslim di negeri ini lama-lama jadi generasi mabuk bae.

Rp 50.000,00 (Lima Puluh Ribu Rupiah)

Pada suatu masa saya pernah terlibat obrolan dengan para blogger di kampus. Berawal dari seorang adik angkatan yang mengetengahkan tema “meraup rupiah melalui blog”. Mendengar kata rupiah sontak membuat telinga para mahasiswa yang emang dari sononya udah lambing semakin lancip. Obrolan pun membesar bak lagunya Sule alias bola salju, merasa tema obrolannya ditanggap orang adik angkatan saya tadi makin menjadi. Ia menjadi pembicara tunggal sekaligus moderator, ia menerangkan bahwa rupiah bisa diraup melalui blog dengan cara yang mudah, gak pake buka usaha jualan celdam online, atau jadi bandar judi buntut via internet, atau ngehackin ATM umum, atau melakukan penipuan via SMS, atau bikin program mirip si kriwil Zuckerberg dengan facebooknya, cukup diam, duduk, dan nulis dengan istiqomah. Salah seorang jamaah mengacungkan tangan mirip iklan obat pinter, “terus duitnya muncul darimana?”, karena udah bakatnya jadi sales adik angkatan tadi menerangkan bahwa ketika pengunjung blog kita semakin banyak, maka iklan akan antri masuk ke blog kita, dan ketika kita dengan rela hati memajang banner iklan di wajah blog kita maka mulai saat itu rupiah akan datang mendekati kita. Pada akhirnya dia memberi tips bahwa agar iklan masuk syaratnya adalah minimal blog kita dikunjungi 500 pengunjung. Maka bisa ditebak pemirsa sebagian besar peserta diskusi sore tersebut menumpahkan tangannya ke jidat masing-masing karena sebagian besar belum memiliki blog (boro-boro bikin blog, bayar kos-kosan aja ngutang), bahkan ada yang gak tau blog itu jenis makanan apa, dan kalaupun di antara para diskuser tadi udah memiliki blog rata-rata baru dikunjungi antara 4 sampai 50 orang saja (yang 4 orang pengunjungnya hanya keluarga di rumah sedang yang 50 paling-paling teman sekelas). Hanya dua orang yang sore tersebut tidak menabok jidatnya, bukan karena tak berjidat atau gara-gara di jidatnya tumbuh bisul sebesar bola pingpong, karena memang hanya dua orang tersebut yang blognya memenuhi syarat dan ketentuan di atas. Orang yang pertama dari tadi senyum-senyum sambil ngomong bahwa blognya telah dikunjungi 488 orang tinggal 12 orang untuk mencapai angka 500, pemirsa sudah bisa menebak siapa orang yang senyum-senyum tadi, yup tak lain dan tak bukan adalah adik angkatan saya yang tadi telah dengan gagah berani bertindak sebagai MC, moderator, pembicara, plus produser pelaksana dalam acara diskusi sore tersebut. Sedangkan orang berikutnya dari tadi diam di pojokan sehingga memunculkan banyak tanda tanya dan akhirnya melahirkan sebuah wawancara.

Moderator : mas gak tau apa itu blog??

Narasumber : Tau..

Moderator : Kok dari tadi diem aje? Emang situ punya blog?

Narasumber : Emang kalau punya saya harus pamer

Moderator : he..he..he..sori mas, emang blog mas udah dikunjungi berapa orang

Narasumber : (dengan enteng dan tanpa beban) 1500

Moderator : wicks buanyak bangettt, udah dipasangi iklan mas, potensial tu untuk menggali uang

Narasumber : gak perlu, saya gak berminat

Moderator : wah rugi banget mas, pengunjung sebanyak itu pasti yang pengen ngiklan di blog sampean pada antri

Narasumber : mas, niat saya ngeblog itu bukan buat itung-itungan ama pembuat iklan. saya niat bikin blog buat mencerahkan manusia, membangunkan kaum muslimin dari tidur panjangnya, dengan begitu saya gak peduli mau blog saya ditempati iklan atau gak, karena niat awal saya hanya mau itung-itungan ama Gusti Allah saja.

Ya, itulah jawaban orang kedua yang sore itu membuat banyak mulut menganga secara ikhlas mirip reptil purba bernama buaya. Terkesan idealis, tapi memang jawaban itu yang saya dengar dengan telinga kepala langsung. Tentu banyak pemirsa yang bertanya di manakah posisi saya sore itu, ah pemirsa semuanya pasti sudah bisa menebak jawabannya.

Apa sih indikator kesuksesan seorang blogger? Apakah hanya sampai pada dibukukannya blog tersebut? Begitulah pernyataan yang saya baca pada artikel di salah satu blog Kompasiana. Penulis seakan ingin menggugat kembali indikator kesuksesan seorang blogger. Memang selama ini indikator kesuksesan para blogger di tanah air adalah ketika blog mereka dicetak menjadi buku, contohnya mulai dari Raditya Dika, Trinity, bang Divan Semesta sampai blog Filosofi Burjo (walaupun yang terakhir bukunya masih seret laku). Ternyata menurut artikel tersebut ngeblog tidak hanya menghasilkan hal di atas tapi bisa lebih dari itu. Terbukti blogger tersebut mampu mendapat mobil, rumah, hingga jalan-jalan gratis keliling Asia dari aktivitas ngeblognya. Blogger tersebut memang tidak menghasilkan buku best seller, tetapi blognya beberapa kali memenangi lomba ngeblog. Ada pula blogger yang jadi jutawan mendadak karena blognya sejak awal didesain menjadi reklame iklan umum. Tentu apabila mendengar kata ‘rumah’, ‘mobil’, ‘jalan-jalan gratis’, atau ‘jutawan’, membuat motivasi menjadi berlipat-lipat mirip tikar. Tapi apakah hanya untuk itu kita membuat blog? Apakah hanya untuk tujuan tersebut kita bercapek-capek ria menulis?

Jujur apabila ditawari hal di atas saya tidak akan menolak, tapi saya selalu teringat diskusi pada sore itu. Mengingatnya membuat laki-laki ini kembali ke rumah asasinya. Membuat saya mengingat kembali apa tujuan saya membuat blog ini. Setidaknya ada dua tujuan mengapa saya membuat, bertahan, dan menjaga serta merawat baik-baik blog ini. Pertama, tujuan saya membuat blog hanya untuk menghordeni semangat menulis. Saya menulis, maka saya butuh media. Ketika banyak media membuat saya terbelenggu dan tidak mampu menampilkan diri secara apa adanya, saya selalu teringat nasehat bos Openmind Minimagz (yg udah lama tinggal di Davy Jones Locker), “Kuasai media, kalau tidak bisa ya udah buat media sendiri..beres urusan”. Maka lahirlah blog ini sebagai bagian dari hidup saya. Saya bisa belajar, merangkak, tertawa, romantis, berteriak, marah, hingga tersenyum bahkan diam membisu di blog ini. Ya, blog Filosofi Burjo hadir karena saya mem”butuh”kannya, bukan karena saya “harus” mengikuti lomba ini-itu, juga bukan karena saya “mau” pamer di depan calon mertua. Karena saya butuh maka saya sudah menganggap blog ini bagian dari hidup saya bersama aktivitas menulis yang beberapa tahun ini saya geluti.

Sedangkan alasan saya yang kedua adalah saya ingin membuat tanda di alam semesta. Begitulah salah satu pesan guru saya, Ust Faqih, yaitu jangan pernah meninggalkan dunia sebelum kita membuat tanda di alam semesta. Oleh karena itu saya menulis. Mungkin saya tidak mampu membuat buku berjilid-jilid sebagaimana Al Ghozali, Ibn Taimiyah, atau Ibn Hajar Al Asqolani. Saya mungkin juga tidak mampu menjadi penakluk pembebas negeri sebagaimana Kholid bin Walid, Sholahuddin, Al Fatih, Thoriq, atau para Walisongo. Saya mungkin tidak pernah mampu menghadirkan gunung dan samudra, tapi saya mencoba ambil bagian dalam urunan sebutir pasir yang membentuk gunung dan setetes air yang menjelma samudra. Maka blog ini dibuat tidak hanya memuat syair tentang dedaunan, gemerisik anging, rintik hujan, dan kabut tengah malam. Blog ini saya buat untuk mengabarkan tentang kabar saudara kita yang hidupnya tersia-sia, juga sebagai tamsil buruk bagi penguasa. Blog ini juga memuat masa lalu yang gemilang dan masa depan cerah yang akan segera menjelang. Ya, blog ini saya buat sebagai teman ingatan ketika kita bertafakkur di keheningan malam, penyemangat ketika berlari mengejar cita, pembangkit ketika kita lelah, dan sebagai penguat ketika tali tiang gantungan telah melilit di leher kita.

Inilah cita-cita yang ingin saya wujudkan ketika saya membuat blog ini. Terkesan idealis tapi semoga menjadi pengingat agar saya selalu istiqomah dalam cita ini. Terlihat sangat sulit bagi orang lain-apalagi di era saat ini yang semakin materialis-, tapi Insya Allah mudah bagi saya. Lalu bagaimana dengan ANDA???

(Persembahan bagi 50 ribu pengunjung Filosofi Burjo)

Golongan 99%

BPS baru saja merilis bahwa angka kemiskinan di Indonesia tahun 2011 mengalami penurunan sekitar 0, 13 juta jiwa. Mendengar angka ini diumumkan banyak pakar ekonomi dan sosial negeri ini yang sewot. Bahkan ust. Felix Siauw menulis di Facebooknya berupa komentar yang berbunyi “Betul banget udah pada mati yang miskin, ada yang bunuh diri, ada yang saling bunuh, ada yang kelaperan, ada yang ketabrak busway, ada yang ketimpa jembatan, ada yang ketabrak kereta api, ada yang meledka bersama tabung gas elpiji, dll”. Saya setuju ama pendapat ust. Felix barusan. Pendapat ini sekaligus melengkapi pendapat bu Hendri Saparini di televisi yang menyebut bahwa angka di atas adalah itung-itungan ngawur dan tidak berpijak pada fakta. Beliau menambahkan bahwa angka tersebut hanya berdasarkan pada para penganggur full time bukan berdasarkan fakta bahwa masih banyak orang yang memilki pekerjaan tapi penghasilannya jauh di bawah rata-rata. Angka ini pasti tambah melonjak kalau kita berpijak pada spanduk yang nongol di SPBU (emang apa hubungannya???). Bukankah kita sering membaca spanduk bertuliskan “BBM bersubsidi alias Premium hanya untuk golongan tidak mampu alias miskin”, membaca spanduk ini pasti banyak yang dalam hatinya ngumpat “j****k, aku dipadhakno wong kere”. Bagaimana gak ngumpat lha wong yang antri beli premium sangat banyak (termasuk yang nulis).

Maka singkat kata, singkat cerita jangan-jangan BPS memalsukan angka. Lalu apa sih ruginya menyebutkan dengan jujur bahwa memang rakyat negeri ini masih buanyak yang miskin. Bahwa negeri ini jalan mundur menuju ke arah kebangkrutan. Bahwa kita ini ibarat tikus yang mati di lumbung padi. Toh rakyat di negeri ini sudah paham semua bahwa mereka termasuk golongan 99%. Golongan yang penghasilannya cuma cukup buat makan. Golongan yang rumahnya disusupi bom bernama elpiji. Golongan yang kalau nyuri sandal jepit aja langsung divonis 5 tahun penjara. Golongan yang selalu dikibulin tiap 5 tahun sekali (pake kaos rombeng lagi). Golongan yang kalau alim dikit dituduh teroris. Golongan yang kalau cari kayu bakar di hutan dituduh illegal logging. Golongan yang nambang emas pake tampah di sungai full buaya dituduh bekingi tambang liar. Golongan yang kalau cari kerja ke luar negeri sampai mati gak ada yang peduli. Golongan yang kalau teriak ditembak kalau diam mati kelaparan. Ya, kita ini adalah rakyat kecil yaitu sebuah golongan yang agak riskan apabila meminta dan berharap apapun pada pemerintah. Maka saran saya pemerintah janganlah macam-macam dengan golongan ini, karena golongan ini menyandang nama Allah Swt.

Maka mengapa pemerintah harus ngibul sedemikian rupa. Toh, fakta telah membuktikan bahwa mayoritas rakyat negeri ini mulai dari para ahli ngelem di stasiun, para penghuni gerobak sampah, tukang ojek bersepeda, bapak-bapak pengguna motor yang terjebak macet jalanan kota, hingga mbak-mbak SPG pengguna bus kota adalah masuk golongan miskin. Jangan-jangan di mata pemerintah rakyat di negeri ini telah menjelma menjadi gajah yang joget pogo. Entah apapun alasannya, entah untuk menaikkan citra, atau sinta, atau bambang, yang pasti pemerintah telah abai dan salah urus dalam mensejahterahkan rakyat. Sekarang yang harusnya jadi perhatian pemerintah adalah jangan sampai golongan 99% ini semakin muak dan murka, karena kalau sampai itu terjadi jangan salahkan siapa-siapa bila nasib penguasa negeri ini berakhir seperti Khadafi, Ben Ali, atau si Hosni.

Raport Burjo Selama Tahun 2011

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 18.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 7 sold-out performances for that many people to see it. (Ruang konser di Sydney Opera House memiliki kapasitas kurang lebih 2700 kursi. Blog ini telah dibaca kurang lebih 18.000 kali selama 2011. Jika ini adalah konser di Sydney Opera House, maka dibutuhkan 7 kali pertunjukan untuk menampung semua orang tersebut di atas)

Click here to see the complete report.

Kritik Politik Dalam Syair Lir Ilir

Pernahkah kita mendengarkan tembang atau syair Lir Ilir, sebuah tembang yang dulu populer untuk mengiringi dolanan atau permainan anak-anak. Di kemudian hari tembang ini kembali dipopulerkan oleh budayawan Emha Ainun Najib, maknanya yang “dalam” konon oleh sebagian orang dianggap sebagai penentram hati. Tapi pernahkah terbersit di kepala kita bahwa dibalik tembang Lir Ilir tersimpan sebuah kritikan pedas terhadap penguasa, sebuah kritikan politik yang sekaligus sebuah tamsil akan segera terjadinya revolusi atau perubahan di sebuah negeri juga sebagai penegas akan pola dakwah para Walisongo yang bercorak politis. Tembang ini sendiri diciptakan oleh Sunan Giri, salah satu anggota Walisongo. Mengenai kapan tembang ini diciptakan hingga hari ini tidak ada catatan resmi, diperkirakan menjelang runtuhnya Majapahit atau menjelang berdirinya Kesultanan Demak. Lalu siapakah sebenarnya Sunan Giri??

Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin atau Prabu Satmata atau Sultan Abdul Faqih dan ketika masih muda bernama Raden Paku adalah salah satu anggota Walisongo terkemuka sekaligus menjabat sebagai pimpinannya paska wafatnya Sunan Ampel. Raden Paku adalah putra dari Maulana Ishak yang merupakan anggota Walisongo angkatan kedua dengan Dewi Sekardadu, putri kerajaan Blambangan. Ketika masih bayi dibuang ke laut karena-diperkirakan-dianggap membahayakan suksesi kerajaan Blambangan yang masih menganut ajaran Hindu Syiwa, perlu diketahui pada saat itu Dewi Sekardadu yang merupakan putri kedaton lebih memilih mengikuti agama suaminya yaitu Islam. Kemudian Raden Paku diasuh oleh Nyai Ageng Pinatih, seorang saudagar wanita sekaligus syahbandar pelabuhan Gresik. Ia mendapat pendidikan agama Islam di pesantren Ampeldenta, lalu berguru kepada ayahandanya sendiri, Maulana Ishak yang menyebarkan Islam di Malaka. Oleh ayahandanya, Raden Paku mendapat gelar Maulana Muhammad Ainul Yaqin, kemudian ia berangkat belajar ke Mekkah dan sepulangnya dari tanah suci ia diharapkan mampu meneruskan tugas ayahnya sebagai penyebar Islam di tanah Jawa. Karena sejak awal sifat dakwah Walisongo adalah meniru dakwah Rasulullah Saw begitu pula halnya apa yang dilakukan oleh Raden Paku atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin. Ia meraih nushrah dari ibu angkatnya sendiri dan mendapatkan kedudukan sebagai syahbandar sekaligus penguasa di Gresik, sejak saat itulah ia mendapat gelar Sunan Giri karena membangun pusat pemerintahan sekaligus dakwah dan pendidikan di atas sebuah bukit atau gunung yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Giri.

Di kemudian hari Giri berkembang semakin pesat, bahkan menjadi pusat pemerintahan mandiri di luar Kesultanan Demak sebagaimana Kesultanan Cirebon di bawah pemerintahan Sunan Gunung Jati sekaligus pusat pendidikan. Giri Kedaton (sebutan umum Kesultanan Giri) bahkan mampu melebarkan pengaruh hingga ke luar Jawa dan membidani berdirinya banyak kesultanan di luar Jawa mulai dari Madura, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Ternate dan Philipina Selatan seperti Kesultanan Sumenep, Kesultanan Kutai Kertanegara, Kesultanan Bima, Kesultanan Gowa, Kesultanan Bima, Kesultanan Ternate, dan Kesultanan Sulu. Hampir semua sultan di kesultanan-kesultanan tersebut adalah alumni Giri Kedaton. Giri Kedaton kemudian bertindak sebagai penasehat kesultanan-kesultanan tersebut juga menjadi penghubung langsung dengan Khalifah, ini dibuktikan dengan diberikannya mandat kepada Sunan Giri dan penerusnya untuk mengangkat dan memberikan restu pada penobatan sultan baru di berbagai kesultanan tersebut. Begitu penting dan vitalnya posisi Giri kemudian VOC atau Belanda untuk melapangkan penjajahannya terlebih dulu menyerbu dan memusnahkan Giri Kedaton.

Kembali ke topik bahasan awal, yaitu membedah kritik politik dalam syair Lir Ilir.

Lir ilir, Lir ilir — bangun, bangunlah (dari tidur)

Tandure wes sumilir, — pohon sudah mulai bersemi

Tak ijo royo-royo — demikian menghijau

Tak senggo temanten anyar — bagaikan gairah penganten baru

Cah angon, cah angon — anak pengembala, anak pengembala

Penekno blimbing kuwi — panjatlah pohon blimbing itu

Lunyu-lunyu yo penekno — walau susah tetap panjatlah

Kanggo mbasuh dodotiro — berguna untuk mencuci pakaianmu

Dodotiro, dodotiro, — pakaian-pakaianmu

Kumitir bedhah ing pinggir — banyak yang rusak di sisi-sisinya

Dondomono jlumatono — bersihkanlah dan benahilah untuk

Kanggo sebho mengko — menghadap nanti sore

Mumpung padhang Rembulane — mumpung terang rembulannya

Mumpung jembar kalangane — mumpung banyak waktu luang

Yo surako….surak hiyo……. — Mari bersorak,,,,sorak hayo,,,,,

Demikianlah bunyi lirik syair Lir Ilir sekaligus terjemahan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia. Sepintas lirik-lirik di atas tidak menunjukkan kritik politik sama sekali karena syair ini disusun dengan kata-kata perlambang yang memiliki makna yang dalam. Tapi apabila kita selami lebih dalam maka kritik politik tersebut akan muncul di balik lirik-lirik yang indah tersebut. Lir Ilir..Lir Ilir..Tandure wis sumilir kalau boleh saya beri makna lirik tersebut sebenarnya adalah sebuah peringatan kepada penguasa yaitu agar penguasa bangun dan tanggap agar melihat dan mendengar keinginan rakyat (tanduran bermakna rakyat yang serupa dengan tumbuhan yang mengakar atau golongan akar rumput). Bahwa mayoritas rakyat sudah ijo royo-royo atau memeluk Islam (hijau sering digunakan sebagai lambang Islam) dan mendambakan dipimpin dengan sistem yang baru yaitu sistem Islam (tak senggo temanten anyar yang bergairah untuk memulai hidup baru).

Lirik berikutnya berbunyi cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi atau bermakna wahai para penguasa segera ambil dan terapkan sistem Islam. Cah angon bermakna penguasa sebagai atsar hadits Nabi Saw yang menggambarkan penguasa atau pemimpin itu ibarat penggembala. Sedangkan buah belimbing yang memiliki lima sisi pada bagian tubuhnya adalah perlambang Islam dengan 5 buah rukunnya. Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro, sesulit dan sebesar apapun halangannya kamu harus segera menerapkan Syariat Islam untuk membersihkan atau menata kekuasaanmu. Ya, dodot adalah baju kebesaran para bangsawan pada era tersebut yang juga perlambang kekuasaan, sedangkan belimbing di era tersebut sering digunakan sebagai bahan pencuci pakaian. Jadi maknanya sangat pas yaitu bahwa hanya dengan sistem Islamlah kekuasaan atau pemerintahan yang sebelumnya kotor dapat dibersihkan.

 Lirik berikutnya semakin memperjelas makna lirik sebelumnya. Bahwa dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir maka dondomono jlumatono. Bahwa betapa kekuasaan para raja-raja atau penguasa tersebut telah mengalami banyak kerusakan-kerusakan sehingga menimbulkan krisis yang berkepanjangan, maka solusi satu-satunya adalah dengan “membersihkan” dan “menjahitnya” dengan sebuah sistem baru yang lebih dinamis dan manusiawi yaitu sistem Islam agar terjadi kebangkitan yang nyata dan menyeluruh. Juga agar meringankan beban pertanggung jawabanmu (para penguasa) di akhirat kelak yang dilambangkan dengan lirik kanggo sebho mengko sore. Ini juga sebagai bukti bahwa dakwah Islam selain seruan kepada kebaikan dan pencegahan berbuat kemungkaran, juga solusi total bagi seluruh permasalahan umat manusia, dan adalah seruan kasih sayang kepada seluruh umat manusia agar memperoleh hidayah dan jalan keselamatan yang sama di hadapan Allah Swt kelak di hari pertanggung jawaban.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane…yo surako..surak hiyo. Mumpung kesempatan itu terang di depan mata karena didukung oleh mayoritas rakyat baik kecil maupun besar. Mumpung kesempatan itu semakin besar karena hadirnya para ulama intelektual sebagai pengiring dan penasehat. Maka tidak ada kata lain selain kata iya akan kami terapkan Syariat Islam.

**

Meresapi syair ini saya membayangkan jangan-jangan kondisi pulau Jawa saat itu persis dengan keadaan Mesir, Tunisia, atau Libya saat ini tapi lebih dahsyat karena tanpa embel-embel demokrasi, karena tuntutannya murni 100% penerapan Syariat Islam secara kaffah.

(tulisan ini Insya Allah muncul dalam buku saya berikutnya yang mengupas sejarah Islam di Nusantara. tunggu saja tanggal mainnya)

Akankah Khilafah Berawal Dari Syria

Korban terus berjatuhan di Syria, Human Right Watch melaporkan kurang lebih 5.000 orang menjadi korban dalam aksi massif menjatuhkan rezim Bashar Assad yang berlangsung sejak Maret 2011 hingga hari ini. Sebagai bagian gerakan musim semi Arab atau people power yang bertujuan meruntuhkan rezim-rezim diktator, para analis politik masih menunggu bagaimana akhir dari kisah di Syria ini. Kita telah menyaksikan bagaimana para rezim-rezim diktator Arab dijatuhkan satu per satu oleh rakyatnya. Untuk pertama kalinya kawasan Timur Tengah mengalami era keterbukaan setelah sekian lama dikungkung oleh banyak rezim brutal yang tak sungkan membantai rakyatnya. Gerakan ini menjadi objek kajian, bahan diskusi, dan perhatian masyarakat mulai Barat hingga Timur. Timur Tengah adalah sumbu dunia ditambah muatan sentimen keislaman yang tinggi, hari ini masyarakat dunia menunggu akankah gerakan musim semi arab menjadi pertanda kebangkitan dan memunculkan super power baru yang berbasis Islam atau Daulah Khilafah.

Kita semua telah menyaksikan bagaimana setelah para rezim dijatuhkan, isu-isu keislaman dan gerakan-gerakan Islam muncul dan mengambil momen di era keterbukaan. Pemilu yang diadakan di Tunisia dan Mesir dimenangkan oleh gerakan Islam moderat yang seakan menjadi petunjuk betapa sistem Islam sangat dirindukan oleh mayoritas masyarakat di Timur Tengah. Khusus di Syria fenomena ini menjadi sangat menarik, berpuluh tahun rezim Syria yang bercorak Baathisme Arab menutup pintu rapat-rapat bagi gerakan dan partai Islam. Partai-partai politik di Syria umumnya berideologi sosialisme sebagaimana corak partai Baath. Sedangkan pada saat Revolusi Syria 2011 saat ini, perlawanan dimotori oleh gerakan oposisi Syria, National Council Of Syria yang bercorak sekuler. Satu-satunya gerakan Islam yang masih eksis di Syria hanyalah Hizbut Tahrir. Banyak analis politik yang menyatakan bahwa Hizbut Tahrir tidak akan banyak memberikan manfaat bagi perubahan di Syria nantinya dan berbeda dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan An-Nahdhah di Tunisia karena Hizbut Tahrir yang sejak awal menolak demokrasi. Orang boleh berkata apapun, tapi Barat pasti berpandangan lain. Ide dan cita-cita yang dibawa oleh Hizbut Tahrir-lah yang saat ini pasti memusingkan Barat. Menolak demokrasi dan secara konsisten mengampanyekan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah membuat Hizbut Tahrir berbeda dengan gerakan-gerakan Islam lain yang dapat dengan mudah dikendalikan oleh Barat melalui jebakan demokrasi.

Maka di tengah hiruk-pikuk di Syria muncul pertanyaan, Akankah Khilafah akan tegak berawal dari Syria? Momentum perubahan serta tingginya keinginan masyarakat untuk dipimpin menggunakan sistem Islam membuat Hizbut Tahrir memiliki nilai tawar yang tinggi. Hizbut Tahrir akan mudah meraih dukungan umat dengan ide-idenya yang tanpa cacat dan murni tanpa embel-embel demokrasi. Hizbut Tahrir juga terbukti sangat survive di Syria ketika sekian lama banyak gerakan Islam yang tiarap menghadapi rezim Assad yang brutal, membuktikan bahwa gerakan ini memiliki pendukung yang solid dan tidak kenal menyerah.

Memang tantangan penegakan Khilafah di Syria cukup tinggi, andai mampu meruntuhkan rezim Assad masih ada Israel-anjing herder Barat di Timur Tengah- yang berbatasan langsung dengan Syria, juga ancaman dari Amerika Serikat yang memiliki pangkalan aju di Incirlik Turki yang berbatasan dengan Syria, belum lagi bantuan Iran dan milisi Hizbullah yang selama ini memiliki kedekatan secara teologis dengan rezim Assad. Tapi selain tantangan, peluang tegaknya Khilafah dari Syria juga cukup tinggi. Secara teologis nama Syria muncul di banyak Hadits Rasulullah mengenai bisyaroh akhir zaman. Secara geopolitik posisi Syria berada di jantung Timur Tengah, selain itu Syria berbatasan langsung dengan Libanon dan Yordania yang merupakan basis massa Hizbut Tahrir terbesar selain Palestina. Syria juga berbatasan langsung dengan Iraq yang hingga hari ini dalam kondisi  chaos dan mudah terpengaruh dengan perubahan apapun yang terjadi di kawasan tetangganya. Maka bila itu semua terjadi maka sekali lagi kita akan melihat sebuah gerakan revolusi baru di Timur Tengah, bukan hanya gerakan Arabian Spring tapi sebuah gerakan baru yang bernama Islamic Dawn alias Fajar Islam. Kita menunggu seperti juga orang-orang Barat menunggu. Tapi bila orang-orang di Barat harap-harap cemas agar Khilafah mundur dari jadwal penegakannya, kita kaum muslimin harusnya berharap agar Khilafah segera tegak dan menjelang di depan mata. Wallahu’alam.