Kisah Bocah Yg Menggenggam Batu

Sebuah kisah  melintas dalam benak. Kisah tentang pertarungan antara kebenaran dengan kezaliman. Sebuah kisah pengantar tidur yang meluncur dari mulut wanita mulia yang di bawah tapak kakinya surga berada. Di sebuah padang, tempat ribuan prajurit mempertaruhkan nyawa. Seorang raksasa bernama Jalut baru saja menyelesaikan tugasnya mengantarkan lembaran-lembaran nyawa memenuhi janji Tuhan. Kini ia berdiri angkuh, sombong, menantang, dan membuat jiwa-jiwa yang ada di depannya kerdil. Hatta, seorang bocah penggembala yang bertugas mengantar pesan dan perbekalan prajurit mendengar sumpah serapah sang tiran. Ia maju memenuhi tantangan, menyerang, dan tak kenal gentar sang bocah maju dan melawan.Terjadilah pertarungan yang tak seimbang dan ajaib, sang bocah yang bersenjatakan ketapel dan batu yang ia pungut di jalan mampu menjatuhkan dan menumpas sang tiran hingga bumi kembali diselimuti kebaikan. Itulah kisah Daud as yang dikisahkan ummi menjelang aku tidur. Kisah yang mengilhami diri untuk tetap berada di barisan kebenaran dan tak gentar untuk menyerukannya walaupun harus selembar nyawa jadi taruhannya.

Jalanan Gaza Palestin di suatu siang di bulan suci. Pertarungan Daud dan Jalut tersaji kembali. Akulah penjelmahan Daud; Seorang bocah dua belas tahun, dengan batu di tangan, dan percaya akan janji Tuhannya; Hidup mulia atau syahid di jalanNya. Di depanku sang Jalut berdiri dengan angkuh. Kini ia berujud sebuah baja yang berjalan dengan roda besi bernama Merkava, tank lapis baja terbaik dengan senjata senapan otomatis yang mampu mengoyak tubuh kecilku dalam sekejap dan kanon 35 mm yang bila beraksi menghancurkan rumah-rumah dan masjid dalam sekali tepuk. Akan tetapi Aku tak gentar, terus berdzikir mohon pertolongannya, dan batu itu kugenggam erat siap memenuhi tugasnya. Sebuah tugas mulia menghancurkan sang tiran atau mengantarkan sang pelontar memenuhi janji Tuhan. Wahai Yahudi aku tidak membencimu, akan tetapi aku benci perbuatanmu yang mengotori bumi mulia ini dengan kezaliman, tirani dan dengan congkaknya mengikrarkan diri sebagai bangsa tertinggi diantara bangsa-bangsa lainnya. Aku benci dengan tingkah lakumu merobohkan rumah-rumah dan masjid serta mengusir penghuninya Yang membunuh dan membantai manusia seperti yang pernah dilakukan NAZI terhadapmu. Aku benci terhadap segala perbuatanmu yg mengotori bumi mulia ini dan siap membelanya walau tubuh kecilku luluh lantak, walau nyawa yg selembar ini hilang, karena semua orang pasti mati, apakah tertusuk pedang ketika jihad atau terbaring di ranjang.

Dan bumi sekali lagi menjadi saksi. Seorang anak manusia telah memenuhi janji TuhanNya. Ketika gerimis tipis basahi bumi, kutatap wajahmu dari kebisuan layar cahaya. Jiwa yg ikhlas dan gagah berani siap menghadap Sang Rabbul Izzati. Dan sayup adzan Al Aqsa kabarkan beritamu nun  jauh di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s