Ayo Gak Sekolah??!!

Kehidupan ini adalah penjara bagi orang – orang beriman, dan surga bagi orang – orang kafir. Sekolah – sekolah dalam beberapa hal sebenarnya mirip dengan penjara, karena itu sesungguhnya saya telah menjadi narapidana jauh sebelum masuk penjara sungguhan”. Haji Rap Brown alias Ust Jamil Abdullah Al Amin (pemimpin gerakan Islam di Amerika&pencetus genre musik rap)

Saya bingung mo nulis apaan, karena hingga malam ini pikiran saya masih kacau. Akhir2 ini saya merasa mood saya terpuruk pada level yg paling rendah. Mo ngapa-ngapain rasanya males, udah uang gak punya suasana sekitar juga mendukung untuk menjadikan saya sebagai hantu kasur alias tukang molor. Ya akhir2 ini saya lebih sering tidur sampai ngalah2in Si Pemalas Berjari tiga, itu tu hewan khas Amazon yg lemot banget dan suka tiduran di pohon2 tinggi. Oya pasti nte semua Tanya kenapa saya sampai begini, itu semua berawal dari sebuah hujan yg turun di pagi hari, sebuah hujan terakhir di awal kemarau tahun ini. Dan sebuah berita datang bersama angin yg sepoi2 di pagi itu. Sebuah kabar gembira karena hampir 90% teman saya kuliah hari itu akan melangsungkan sidang skripsi. Sebuah ujian terakhir setelah sekian lamanya mereka belajar, duduk, tidur, hingga pipis di kampus tercinta. Oya harusnya kabar begitu kan bikin hati senang kok malah bikin bete, mungkin itu pertanyaan nte semua. Ya kabar itu itu memang bikin senang, bikin dag dig dug, sekaligus bikin sedih. Perasaan yg terakhir muncul dari satu2nya mahasiswa angkatan tersebut yg masih tertinggal alias belum melunasi semua kuliahnya di kampus dan perasaan ini menurut istilah kedokterannya adalah Pra Dropout Syndrom. Dan mahasiswa itu adalah saya.

Huh ngapain juga saya cerita panjang lebar toh kejadian di atas juga berawal dari kesalahan saya sendiri, karena sedari awal saya malas. Gak tau kenapa sejak masa pra sekolah saya males banget untuk datang ke sekolahan, palagi pas masa2 SMP hingga SMA saya termasuk dari sekian murid yg doyan bolos. Tapi saya gak sendirian karena ada banyak banget murid tipikal demikian di seluruh penjuru Nusantara. Baik yg memang hobi banget sampe yg terpaksa and coba2/ikut2an bolos. Penyebab utamanya sih biasanya karena suasana di dalam kelas dan sekolah dirasakan sangat tidak nyaman oleh para siswa. Suasana seperti ini menurut seorang kawan yg kebetulan kuliah di jurusan Pendidikan karena sekolah sudah menjadi tak ubahnya penjara bagi para siswanya. Makanya doi (kawan saya di atas) sampe bilang, karena keadaan tersebut, maka cita2 terbesar saya adalah menjadi guru bukan menjadi sipir yg kesekian.

Setelah saya pikir2 ada benernya juga analogi teman saya ‘sekolah tak ubahnya penjara’. Nt semua pasti tau keadaan penjara kan? Klo mirip penjara di Israel si gak papa, gak mama, dan gak om-om. Sekedar info, penjara di sana tempat ribuan saudara kita yg berasal dari Palestina dikurung biasanya malah dijadikan oleh saudara2 kita itu menjadi basis perjuangan, lembaga Tanfidzul Qur’an, hingga semacam Universitas. Maka tak heran apabila seseorang di sana keluar dari penjara maka akan menjelma menjadi mujahidin tangguh, seorang sarjana yg Alim, hingga minimal Hafidz Qur’an. Lha tapi ini keadaannya gak mirip sekali ama penjara di sana tapi lebih mendekati penjara di sini. Dimana berlaku hukum yg diambil mentah2 dari teori Darwin siapa kuat dia yg berkuasa. Hingga bertebaranlah aksi kekerasan di institusi2 pendidikan di Indonesia;dari level SD hingga Universitas dilakukan oleh sesama siswa, oleh senior kepada junior, hingga guru kepada murid . Aksi kekerasan ato bahasa kerennya Bullying ini mengacu pada tindak kekerasan dalam arti sesungguhnya hingga kekerasan dalam bentuk verbal; kekerasan yg diakibatkan oleh benda kecil tak bertulang yg disebut lidah dan akibatnya biasanya lebih menyakitkan dari sego tabo’an. Kekerasan jenis inilah yg mengakibatkan seorang siswi kelas 2 SMP di Jakarta bernama Fifi bunuh diri akibat tak kuat menanggung malu setelah diolok2 teman2nya karena ayahnya hanya seorang penjual bubur ayam keliling. Yg pasti kita semua patut prihatin karena sebenarnya tak terhitung Fifi2 lain yg tersebar di negeri kita tercinta ini. Mereka menjadi korban hanya karena bentuk tubuhnya, warna kulitnya, keadaan wajah, hingga karena hal2 sepele semisal gak punya HP. Sedangkan kasus kekerasan dalam bentuk yg sebenarnya udah sering banget terjadi. Dari kasus tewasnya seorang bocah SD di Denpasar akibat penganiayaan temannya (Jawa Pos), kasus2 Smack Down, hingga kasus IPDN yg masih heboh hingga sekarang.

Kenapa saya cerita beginian, karena saya pernah mengalaminya. Dan yg lebih penting saya gak ingin nte semua menjadi korbannya lebih2 menjadi pelakunya atau minimal dalangnya. Karena saya ingat salah satu pesan Rasulullah, Bantulah saudaramu baik ketika menindas maupun ditindas. Maka saat itu salah seorang sahabat bertanya, Ya Rasul memang sudah seharusnya kita membantu mereka yg ditindas, akan tetapi bagaimana bila sesama kita itu menindas orang? Maka Manusia mulia tersebut menjawab, Dengan menghalanginya dan mencegahnya berbuat jahat.

Saya pernah merasakan ditindas oleh kawan2 saya ketika SMP. Keadaan saya waktu itu hampir mirip ama Kobayakawa Sena. Dijadikan pesuruh, jadi tukang pijit, hingga menjadi korban pemalakan. Tapi untungnya saya gak sampe putus asa karena selanjutnya saya melawan. Dan akibat perlawanan itu saya sempat masuk puskesmas. Sejak saat itu saya bertekad gak ingin ditindas lebih2 menindas dan melihat penindasan. Dan satu hal apabila kita ditindas oleh seseorang maka yg lebih pantas menerima balasan adalah penindas tersebut apakah itu teman kita sendiri ataupun senior bukan orang lain apatah itu bernama junior. Oleh karena itu saya berani menentang senior saya ketika SMA, ceritanya pas waktu LDKI (Latihan Dasar Kepemimpinan Islam) kebetulan salah satu anggota kelompok saya seorang anak kelas satu (saya waktu itu kelas dua) melakukan sebuah kesalahan sehingga harus mendapat hukuman tersendiri oleh kakak pembina. Hingga akhirnya kita semua dikumpulkan di lapangan dan para terdakwa yg baru saja mendapat hukuman disuruh kembali ke kelompoknya masing2 dalam keadaan mata tertutup. Teman yg lain sih hanya bisa diam karena memang gak boleh Bantu sedangkan para senior ketawa2 dan inilah yg membuat saya nekad menarik anggota kelompok saya tersebut dan menuntunnya kembali ke barisan. Peristiwa selanjutnya para senior memarahi saya dan terjadilah adu argumen. Lalu siapa yg menang? saya lupa2 ingat karena kejadiannya udah 6 tahun silam tapi yg pasti waktu itu anggota saya mendapatkan keringanan hukuman dan saya gak mendapat sanksi apapun karena kejadian tersebut. Tapi intinya kekerasan itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Mengilhami dibuatnya film Ekskul dan kejadiannya membentang dari jaman masa kecilnya Gie, era penataran P4, hingga masa para siswa keranjingan pernak-pernik berngaran black ID.

Maka gak salah jika teman saya beranalogi ‘sekolah tak ubahnya penjara’. Dan yg lebih unik ‘penjara’ itu teramat mahal harganya. Ya pendidikan di Indonesia termasuk mahal, bahkan memunculkan istilah baru ‘orang miskin dilarang sekolah’. Ini semua dipicu semakin mahalnya biaya pendidikan, ingin masuk TK harus bayar sekian juta, masuk SD bayar uang pangkal sekian juta, masuk SMP ada uang gedung sekian juta, dan SMA tagihannya bernama sumbangan pembangunan lagi2 sekian juta, belum lagi kalo masuk PT entah PTS atau PTN kita disodori sekian buah iuran yg lagi2 sekian juta. Apalagi dengan gencarnya perubahan status PTN menjadi BHMN maka ente yg barusan lulus SMA dan ingin kuliah kudu siap2 nyiapin dana berlebih. Kalo boleh komentar saya sangat3x gak setuju ama perubahan tersebut, karena pada akhirnya jelas sangat membebani masyarakat. Seperti kampus saya yg katanya salah satu kampus termurah, akhir2 ini karena ngebet banget dijadikan BHMN udah mulai bikin peraturan yg menjerat dompet mahasiswa en ortunya. Padahal fasilitas yg diberikan pada mahasiswa masih sangat kurang sampe2 seorang kawan saya ngasih komentar, sembarange sik antri kok arep diBHMN. Ya itulah sedikit gambaran di kampus saya ato mungkin juga menjadi gambaran di kampus2 lain bahkan mungkin menjadi cerminan pendidikan di Indonesia. Fasilitas yg kurang, kurikulum yg gak jelas karena tiap ganti menteri ganti kurikulum, sampe kualitas SDM yg dihasilkan masih kalah dengan lulusan negeri tetangga, dan itu semua ditambah dengan biaya pendidikan yg mencekik hingga menyebabkan tingginya angka putus sekolah.

Padahal kalo dikelola dg baik fa insya Allah pendidikan disini bisa sangat murah bahkan gratis. Mungkin ente gak percaya, karena salah seorang presiden kita pun gak percaya (gak mau percaya) tika membaca pernyataan saya di atas. Lalu, mungkinkah kita menyelenggarakan pendidikan gratis? Jawabannya dengan penuh keyakinan, MUNGKIN dan BISA!!! Pernyataan ini didukung oleh beberapa hal.Karena, secara potensi kekayaan dan sumber daya alam kita melimpah. Untuk negeri muslim Indonesia saja, apabila mengacu pada APBN 2007, anggaran untuk sektor pendidikan adalah sebesar Rp 90,10 triliun atau 11,8 persen dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun. (www.tempointeraktif.com, 8 Januari 2007). Angka Rp 90,10 triliun itu belum termasuk pengeluaran untuk gaji guru yang menjadi bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang pendidikan, serta anggaran kedinasan.
Misalkan kita ambil angka Rp 90,1 triliun sebagai patokan anggaran pendidikan tahun 2007 yang harus dipenuhi. Dengan melihat potensi kepemilikan umum (sumber daya alam) yang ada di Indonesia, dana sebesar Rp 90,1 triliun akan dapat dipenuhi, asalkan penguasa mau menjalankan Islam, bukan neoliberalisme. Berikut perhitungannya yang diolah dari berbagai sumber :
1. Potensi hasil hutan berupa kayu [data 2007] sebesar US$ 2.5 miliar (sekitar Rp 25 triliun).
2. Potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar [data 1999] sebesar US$ 1.5 miliar (sekitar Rp15triliun).
3. Potensi pendapatan emas di Papua (PT. Freeport) [data 2005] sebesar US$ 4,2 miliar (sekitar Rp40triliun)
4. Potensi pendapatan migas Blok Cepu per tahun sebesar US$ 700 juta – US$ 1,2 miliar (sekitar Rp10triliun)
Dari empat potensi di atas saja setidak-tidaknya sudah diperoleh total Rp 90 triliun. Kalau masih kurang, jalankan penegakan hukum dengan tegas, insya Allah akan diperoleh tambahan sekitar Rp 54 triliun. Sepanjang tahun 2006, ICW (Indonesia Corruption Watch) mencatat angka korupsi Indonesia sebesar Rp 14,4 triliun. Nilai kekayaan hutan Indonesia yang hilang akibat illegal logging tahun 2006 sebesar Rp 40 triliun. Tuh kan kalo kita melihat bukti di atas kita optimis kalo penyelenggaraan pendidikan secara gratis itu mungkin. Yg jadi pertanyaan; kapan??

Melihat kenyataan di lapangan, rasanya sulit saya menyalahkan teman saya. Ternyata ‘sekolah tak ubahnya penjara’ benar adanya. Karena selain mahal, apa yg dihasilkan juga sangat jauh dari harapan. Standarisasi nilai UAN saat ini bagi saya justru menjadi momok bagi siswa dibandingkan menjadi ajang bagi peningkatan kualitas SDM. Dan ini semakin menyeret sekolah menjadi tak ubahnya lembaga bimbingan belajar dimana siswa dicekoki rumus2 super cepat dan sangat jauh dari muatan pembentukan kepribadian dan kemanusian apalagi menjadi tempat pencerahan akal budi. Jadi suatu kesalahan pabila kita menganggap diri kita akan pintar karena sekolah. Kita sekolah untuk lulus bukan untuk pintar, komentar teman saya yg lain. Dia ngomong begini karena doi pernah Tanya ama guru fisikanya, untuk apa saya harus mempelajari hitungan ini, itu, dan anu? Toh saya takkan menjumpainya di keseharian saya. Beliau menjawab praktis, karena di akhir semester ini akan ada tes, dan kamu harus lulus tes.

Ya, sekolah tak ubahnya penjara. Lalu apakah kita rela menjadi narapidananya? Atau jangan2 ente malah memilih opsi yg saya tawarkan menjadi judul di atas. Yg pasti kita semua berharap pendidikan dikelola lebih baik, bisa gratis, dan menghasilkan output yg mumpuni. Pertanyaanya kapan? Tapi kapan kawan? Pertanyaan ini yg mengendap di kepala saya mirip mimpinya Mayor Tua. Mungkin kita semua berharap ada perubahan pada pemerintahan disana. Tapi kita semua tau sebuah perubahan besar hanya bisa dicapai dengan sebuah revolusi namanya. Maka akhirnya kita menunggu kapan berita itu sampai pada kita sambil belajar untuk persiapan SPMB, sambil menikmati banana split bersama pacar, sambil ngantri di loket cineplek 21, sambil, sambil, dan sambil menunggu kapan itu semua terjadi. Tapi kawan tolong bukalah sedikit pikiran kita, karena sebuah perubahan gak akan pernah terjadi tanpa adanya para pelaku perubahan tersebut. Ibaratnya sebuah film tak akan pernah tayang pabila tanpa aktor dan sutradara, klo penonton sih itu mah ada dalam hitungan sekian-sekian.

Perjalanan kita emang masih jauh. Meruntuhkan penjara dan membangun sebuah sekolah kehidupan di atas reruntuhannya. Tapi tak ada salahnya bila kita mulai rencanakan pada hari ini. dan pertanyaanya kapan? kapan akan kau buka pikiranmu kawan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s