Epilog Seorang Hamba

Entah apa yang telah tertancap kuat di ubun ubun kita
hingga enggan tuk merangkak
bersimpuh mengakui kedunguan dan kepapaan
di hadapan Rabb Penguasa Segala?
Apa yang kita punya untuk menepuk dada??
TIDAK ADA!!!
Lalu ..apa lagi yang kita tunggu untuk melafazhkan kata
“Astaghfirullah al – adzim wa atuubu ilahi”
sedangkan waktu selalu menjajakan kematiannya setiap saat tanpa kompromi.
Ah…Semoga masih ada celah di hati
Tuk mengintip kebenaran yang tersembul di setiap jejak risalah Rasul yang mulai samar tertiup puting beliung ganas peradaban
Kemudian memelorotkan semua kepongahan yang terpenjara dalam kerangkeng seribu ketololan
sebelum tubuh berlumur daki ini tertimbun di pusara
di mana yang tertinggal hanyalah lolongan panjang penyesalan
“Yaa laitanii kuntu turaabaa”

Diilhami oleh bendera setengah tiang yg tengah menghiasi jalanan dan berita tentang kematian seorang mantan pemimpin bangsa. Semoga dapat menjadi pelajaran, bahwa selama ini ada yg alpa pada diri kita.(silmi kaffah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s