Welcome To My and Your Life

Kalau berbicara tentang kematian saya selalu teringat prolog dari tulisan ustadz Dzikrullah di Hidayatullah. Beliau waktu itu mengupas tentang mujahid besar Chechnya Shamil Basayef. Prolog itu kalau saya boleh tuangkan kembali (menurut ingatan saya) berbunyi seperti ini. Kita manusia suatu saat bisa saja mati dalam keadaan terbaring di rumah sakit karena stroke atau jantung, bisa juga mati dalam kecelakaan tabrakan beruntun ketika pengawal SBY menghentikan kendaraan secara mendadak di tol Cikampek, bisa juga mati gosong dalam kecelakaan pesawat Mandala Air di Medan, atau mungkin mati tenggelam dalam musibah tsunami seperti di Aceh dan Pengandaran. Ya mati adalah sebuah misteri, baik datangnya maupun keadaan kita ketika dia datang. Mati itu cuma sekali, oleh karena itu matilah ketika berjihad di jalan Allah kata Assyahid Abdullah Azzam, dan beliau telah membuktikannya dengan syahid dalam kancah jihad Afghan karena dibom oleh CIA di Peshawar.

Dari prolog tersebut saya seakan diajak terbang kembali ke masjid kampung saya. Ketika sholat Jum’at, ketika khotib naik ke mimbar, dan mengingatkan jamaah semua (yg kebanyakan ngantuk termasuk saya) untuk selalu bertakwa kepada Allah dan hanya mati dalam keadaan Islam. Ya kita selalu dituntut untuk selalu tunduk kepada perintahNya, dimanapun , kapanpun, dalam keadaan apapun. Di masjid, di jalanan, di sekolah, di kantor, hingga di mall, di pasar, bahkan mungkin di gedung bioskop. Artinya kita selalu dituntut untuk melakukan hal2 yg baik sesuai dengan apa yg di syariatkanNya. Karena sebenarnya takwa kita kepadaNya bukan hanya di masjid, dalam majelis taklim, atau majelis dzikir. Dan andaikan takwa itu ibarat sajadah maka sebagaimana puisi Taufik Ismail sajadah itu membentang dari sejak buaian ibu hingga ke tepi kubur kita.

Kembali ke topik awal, karena kematian adalah sebuah misteri maka sudah selayaknya kita tidak bermain2 dengannya. Maka apabila khotib sering mengingatkan kita untuk selalu bertakwa maka tak ada salahnya pabila kita selalu berusaha menjadi muslim yg terbaik selama 24 jam penuh. Karena kita tidak tahu di bagian 24 jam yg mana kita kembali kepadaNya.

Dan bukankah kita selalu menyianyiakan 24 jam tersebut. Berapa waktu kita sia-siakan buat kegiatan yg tak berguna semisal tidur (seperti saya, nih telunjuknya mengarah ke dada), lebih2 Naudzubillahimindzalik berbuat maksiat, terus sisanya berapa jam buat ibadah, taat kepada orang tua, berdakwah, menuntut ilmu sungguh2. Berapa? Berapa?

Kita bisa memilih mati menjadi pahlawan atau hidup panjang dengan hal yg sia-sia hingga akhirnya menyeret kita menjadi penjahat.

Maka tidak ada salahnya bila mulai detik ini kita ucapkan kembali Welcome To My Life. Untuk sebuah kehidupan baru. Sebuah kehidupan baru. Kehidupan baru. Hidup baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s