Penjaga

Saya mengenalnya sejak kecil, sebuah sosok istimewa yg memberi inspirasi tentang pencarian jati diri. Sejak kecil ia sangat mencintai buku dan apapun yg bisa dibaca. Ia terkadang rela untuk duduk berlama-lama hanya untuk memungut secuil informasi bahkan dari sobekan koran atau majalah yg baru saja jadi bungkus kacang atau ikan asin yg baru dibeli oleh ibu kami. Ketika masa pra sekolah ia sangat menyukai buku kosakata inggris tentang binatang. Akan tetapi selain kesenangan membaca dan mengeja kosakata-kosakata asing tersebut ia juga mengalami duka. Ia mengalami duka ketika kakek kami tercinta pergi meninggalkan ia selamanya. Kakek waktu itu sebagaimana ceritanya mewariskan kepadanya tiga benda. Untuk cucu kesayangannya beliau memberikan sorban yg biasa beliau gunakan ketika menjadi khatib Jum’at dan dua buku, sebuah buku berisi kisah-kisah yg ada di dalam Al Qur’an, tentang perjuangan para nabi dan rasul, kisah Ashabul Kahfi yg pemberani, Iskandar Zulkarnin yg menguasai timur dan barat bumi, hingga kisah tragis Ashabul Ukhdud, dan sebuah buku aventur yg berjudul Kafilah di Padang Pasir, kisah ceritera kapal syaitan yg menakjubkan, Muk kecil yg jenaka, dan Orbasan si raja padang pasir.

Dari dua buku tersebut ia terbang menjelajahi kawasan timur tengah. Melihat tempat berlabuhnya kapal Nabiyullah Nuh di Bukit Judi, melintasi Bukit Sinai tempat Nabiyullah Musa menerima wahyu, berpetualang ke kawasan Yerusalem tempat Nabiyullah Isa berdakwah, hingga merasai pahit getir perjuangan Rasulullah Muhammad dalam menegakkan Islam. Ia juga bertualang ke Basra, berlayar di Samudera Hindia, hingga berkunjung ke Ponte Vecchio, Florence, Italy. Sensasi yg sama ketika sepuluh tahun kemudian ia membaca novel Leon l’Africain yg juga mengajaknya melihat Granada, Fez, Timbuktu, Mesir, dan Roma. Sayang sekali saya kehilangan sensasi mengunjungi Balkan, kisahnya ketika mengenang novel Di Pelosok-pelosok Balkan nya Karl May hadiah dari paman kami yg hilang ketika ia masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD).

Akan tetapi kesedihan itu ia bayar dengan menemukan sebuah oase yg hilang di sekolah kami; sebuah Perpustakaan. Konon gedung perpus sekolah MI nya selalu terkunci dan tidak terawat. Atas ketelatenan dan semangatnya maka ia mampu menghidupkan kembali perpustakaan tersebut. Dan semua itu terbayar dengan sebuah buku kecil tentang kisah di sebuah pelosok di Spanyol. Tentang matador, kehidupan masyarakat di sebuah desa yg rumah2nya berwarna putih, dan sebuah bekas istana megah berwarna merah dengan taman2 indah dan air mancur dari marmer dan berbentuk singa. Sepuluh tahun kemudian beliau baru ngeh kalau yg ia lihat dan menjadi benak di otaknya ketika SD itu adalah perkampungan Al Baisin dan istana Al Hambra yg merupakan jejak agung peradaban Islam di Spanyol.

Ketika SMP saya merasa takjub kepadanya. Ketika itu adalah hari senin yg biasa dan seperti ritual rutin di hari itu diadakan upacara bendera. Karena hari itu hari biasa, kami semua kaget ketika ia dipanggil ke depan. Kami kaget karena ia bukan sosok istimewa di mata kami, ia juga tidak baru saja mengikuti lomba tertentu, dan yg pasti ia sosok yg biasa, tidak nakal, dan tidak sedang terlibat kasus tertentu yg biasanya berhubungan dengan kami siswa-siswi SMP. Tapi ada yg alpa, ada yg tidak kami (para siswa dan siswi) lihat dari sosoknya, bahkan saya sendiri sebagai orang terdekatnya tidak mengetahui hal tersebut. Sesuatu hal yg ternyata hanya diketahui oleh kepala sekolah kami. Ia waktu itu disuruh ke depan karena ia merupakan teladan nyata seorang siswa yg gemar membaca. Saya baru tahu kemana selama ini ia menghilang ketika jam istirahat, ia ternyata nongkrong di perpustakaan. Mengapa kakak ke perpus? Mengapa tidak ke kantin? Bukankah kakak juga diberi uang saku oleh ibu? Apa jawabnya, aku gak mau ke kantin karena di sana sarangnya anak2 yg nakal, mereka sering mengganggu, dan meminta uang saku, mending ke perpus dapat. ilmu  Saya waktu itu percaya, tapi saya yakin tidak sesederhana itu ia berkunjung ke perpustakaan sekolah kami. Saya tahu karena sebenarnya ia sedang jatuh cinta, jatuh cinta kepada buku.

Dan kecintaannya kepada buku tersebut tetap membara hingga ia masuk bangku SMA. Ia sangat mencintai sejarah dan sastra. Ia bertatap muka dengan Kahlil Gibran, Victor Hugo, hingga Pablo Neruda. Bahkan yg unik ia berkenalan dengan Pablo Neruda, sang penyair Amerika Latin penerima Nobel sastra, justru dari lapangan bola. Ia juga menggemari sejarah. Salah satunya tentang kisah peperangan One Square Mile in Hell, sejarah perebutan Atol Tarawa oleh Sekutu dari Jepang di medan perang Pasifik pada waktu Perang Dunia II.

Tapi apa yg timbun, yg ia banggakan, yg simpan sejak kecil nyaris menghilang, lenyap di telan bumi. Semua ilmu semua kenangan nyaris terbang bersama debu, karena ia malas, karena ia tidak suka menulis. Baginya menulis adalah pekerjaan membosankan, pekerjaan resah. Hingga suatu masa ia teringat suatu kisah. Kisah ketika Arjuna bertapa dan menyingkir dari kehidupan dunia. Tapi para dewa tidak rela karena saat itu kejahatan merajalela. Maka dipanggillah sang Arjuna, bahwa ia sejatinya bukanlah menjadi pertapa, mengumpulkan hikmah, mengumpulkan intisari alam semesta, tapi ia sejatinya adalah seorang penjaga, menjaga ketentraman sekitarnya. Arjuna tersentak, ia menghentikan tapa bratanya, dipanggulnya kembali pedang dan anak panahnya, turun gunung membela kebenaran.

Membaca ibarat bertapa, seorang pembaca tidak akan dikenal namanya dan tidak berguna sebelum ia menyampaikan apa yg dibaca. Dan hikmah itu akan menghilang apabila ia tidak diulang kembali dalam bentuk tulisan. Maka menulis adalah penjaga. Penjaga ilmu, penjaga hikmah, panjaga ketentraman semesta. Seorang penulis sebenarnya bukan pahlawan, ia hanyalah penjaga. Karena pabila ada yg tidak beres ia akan turun tangan, tidak dengan pedang dan anak panah, tapi dengan pena yg terasah oleh tinta. (Astari Fitri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s