Vertigo

Hingga artikel ini dibuat korban kekejaman Israel di Jalur Gaza Palestina sudah mencapai 800 jiwa lebih. Dan dunia masih diam

Suatu hari ketika sedang menyetrika tiba2 ummi saya merasa bingung, beliau merasa dunia di sekitarnya berputar2. Agar tidak terjadi masalah beliau langsung tidur. Akan tetapi masalah belum selesai, ummi saya kemudian muntah2. Abah saya pun bingung, maka oleh beliau ummi saya dibuatkan teh manis hangat serta dikeroki. Akhirnya sakit ummi saya reda, beliau menyimpulkan pasti semua terjadi gara2 beliau kecapekan dan sedikit masuk angin. Akan tetapi esoknya penyakit tersebut menyerang lagi, maka tanpa basa-basi abah saya langsung membawa ummi ke puskesmas terdekat. Dari diagnosa dokter diketahui ummi saya terserang vertigo atau dalam bahasa jawanya disebut penyakit puyeng.

Lalu apa hubungannya ama perang di Jalur Gaza? Apa hubungannya ama krisis Palestina?

Ada, apalagi buat saya yg agak2 hobi maksa. Masalah Palestina baik yg dulu, baik yg sekarang, maupun yg akan datang adalah ibarat rasa sakit yg diderita ummi saya. Sedangkan genjatan senjata, pengiriman bantuan, perundingan damai, hingga pengiriman pasukan perdamaian ke sana adalah ibarat teh manis hangat, kerokan, jamu tolak angin, hingga salonpas yg artinya belum menyentuh sumber sakit yg sebenarnya. Diperlukan pemahaman yg mendalam serta diagnosa yg sungguh2 agar diketahui sumber penyakit yg sesungguhnya. Bila ummi saya didiagnosis dokter terserang vertigo, maka masalah Palestina, Arab, sekaligus kaum Muslimin adalah keberadaan negara Israel. Bila dokter menyarankan ummi saya dg sebuah resep yg langsung menyerang sumber sakit, maka untuk masalah Palestina resepnya adalah musnahkan Israel dari peta dunia.

Wah ngawur nih? Gak masuk akal? Gak kontekstual?

Terserah kamu semua deh, tapi menurut analisis Prof. Ali Haidar, dosen sosiologi Unesa pas gak sengaja ngobrolin masalah Palestina adalah masalah sebenarnya adalah Israel. HAMAS menurut beliau sebenarnya apabila memimpin Palestina merdeka menerima warga negara yahudi, masalahnya Israel sejak jaman lahirnya hanya mengkhususkan negaranya buat warga yahudi titik gak pake koma. Sedangkan kaum muslimin dan kaum nasrani di sana dianggap sebagai ghoyim. Sebelumnya tolong jangan disalah artikan ghoyim sebagai warga negara kelas dua, karena dalam terminology Israel ghoyim itu gak jauh beda ama keledai, kambing, ayam, kadal, kucing, juga anjing. Artinya Israel menganggap warga non Yahudi ibarat binatang yg sah2 saja apabila digorok, dibubuti, dipotong-potong, kemudian dijadikan campuran rawon. Maka masih menurut beliau solusinya ya tadi, musnahkan Israel dari peta bumi.

Trus klo emang Israel harus dimusnahkan, caranya gimana? Israel pan hebat banget?

Emang sih Israel tuh terkenal ama militernya yg jagoan banget. Terdiri pasukan khusus seperti Sayeret Matkal, Sayeret Golani, hingga Shin Bet. Pasukan ini didukung dg peralatan tempur canggih seperti tank Merkava, howitzer berjalan Sholef, F-16I Shufa, pesawat Kfir C-1, halikopter Apache Longbow, hingga UAV (pesawat tak berawak) Heron, dan berbagai macam kapal perang dan rudal hingga pernak-pernik senjata mulai dari pistol, senapan serbu, sniper, sampai pisau. Dan ini semua didukung oleh intelejen canggih yg jadi guru buat CIA dan M16 Inggris, yg punya nama HaMossad leModi’in ule Tafkidim Meyuhadim alias Mossad.

Belum lagi sepak terjang Israel yg terbukti selalu membikin malu negeri2 Arab di sekitarnya seperti Mesir, Yordania, dan Suriah mulai dari perang tahun 48, krisis terusan Suez 1956, perang enam hari tahun 1967, dan perang Yom Kippur alias perang Ramadhan 1973.

Tapi bukan berarti Israel tak bisa dikalahkan, toh pasukan Israel juga manusia biasa yg darahnya berwarna merah dan bukan kumpulan makhluk sejenis raja iblis Piccolo atau kayak makhluk di film Predator yg darahnya berwarna ijo n bisa menghilang. Kalaupun Israel menang dari negara2 tadi itu lebih dikarenakan perang yg dilakukan negara2 sejenis Mesir, Yordania, dan Suriah melawan Israel tak lebih dari perang bijuk-bijukan atau bohongan. Perang tersebut hanya untuk menenangkan kemarahan rakyatnya, juga sekaligus untuk mengamankan posisi dan kepentingan2 negara2 tersebut dari incaran Israel. Jahatnya lagi peperangan di atas ternyata digunakan untuk cuci tangan urusan Palestina. Artinya dg peperangan tersebut, Mesir, Suriah, Yordania, dan negara timur tengah lainnya meninggalkan Palestina sendirian untuk dimangsa si Anjing Goblok Setan Israel (akhirnya keluar juga marah saya). Kalau ingin melihat wajah asli Israel ya tonton aja ketika tuh biang kerok ngelawan Hizbullah Libanon. Terbukti melawan Hizbullah yg tingkatannya hanya ormas, Israel keteteran. Karena emang Hizbullah perangnya sungguh2 gak kayak tentara Libanon yg malah sembunyi.

Kata wak kyai pas ngaji di kampung masalah sebenarnya adalah Israel tuh takut mati. Agar gak cepet mati mereka mempersenjatai diri selengkap2nya, maksudnya agar malaikat Izroil takut trus gak jadi nyabut nyawanya orang Israel. Sayangnya yg jadi lawannya adalah kaum muslimin yg gak takut mati (tapi bukan sejenis pemimpin Mesir, Yordan, Suriah, n negeri-negeri kaum muslimin lainnya), wong nakut-nakuti anggota HAMAS ama Hizbullah aja gak berhasil apalagi ngelawan malaikat Izroil. Terbukti para anggota Hizbullah hanya berbekal AK-47 gak takut melawan rudal2 IDF (TNInya Israel), brigade Izzudin Al Qassam (sayap militer HAMAS) pede aja menculik anggota Mossad, bahkan Syaikh Ahmad Yassin, pendiri sekaligus pemimpin besar HAMAS gak takut ama senjata dan tentara Israel walaupun beliau udah tua dan berkursi roda akibat lumpuh sejak muda, juga para bocah Palestina yg berbekal ketapel, batu, dan prongkalan menantang tank “tercanggih di dunia” Merkava.

Oke, oke qt setuju ama pendapat nt. Qt juga udah tau bahwa Israel tuh kekuatannya cuma mitos doang. Tapi masalahnya kok Israel gak kalah2 ya? Apa masalahnya sih? Ngalahin yg ternyata gitu doang kan gampang?

Masalahnya karena kaum muslimin sendiri terutama para pemimpinnya yg gak mau n gak niat ngalahin Israel. Padahal pola terbentuknya Israel sendiri sebenarnya adalah ulangan dari terbentuknya kerajaan Yerusalem pas jaman Crusade War atau perang Salib.

Perang Salib dimulai dari eksodus besar2an para laskar Kristen dari Eropa Barat atas seruan Paus Urbanus II pada dewan gereja di Clermont Perancis. Ini gak jauh beda dg eksodus bangsa Yahudi dari seluruh Eropa paska Konferensi Yahudi di Basel Swiss atas gagasan Dr. Theodore Herzl.

Gelombang tentara Salib waktu itu walaupun disponsori kerajaan2 besar di Eropa Barat datang tidak membawa bendera kerajaan/negara2 Eropa waktu itu, tapi berupa perkumpulan para Ksatria2/semacam ormas. Yg paling terkenal waktu itu antara lain Knight of Templar dan Knigth of St. John atau Hospitaler. Sama dengan eksodus bangsa Yahudi ke Palestina yg meskipun disponsori Inggris, Amerika, Prancis, dan Uni Soviet akan tetapi datang tidak membawa bendera negara sponsor masing2. Eksodus tersebut digalang oleh ormas semacam Irgun, Haganah, dan Stern yg kemudian hari menjelma jadi angkatan perang Israel mirip Knight of Templar yg juga kemudian jadi tulang punggung kerajaan Yerusalem. Pola pembentukannya pun mirip. Seperti klaim bahwa pembentukan negara tersebut baik kerajaan Yerusalem maupun Israel adalah karena janji Tuhan atas mereka. Serta pola perluasan wilayah yg gak jauh beda (yg beda cuma teknologinya doang).

Sebab terbentuknya pun gak jauh beda. Ketika laskar salib datang kondisi umat Islam sedang terpecah belah. Sultan (pejabat setingkat gubernur dalam system pemerintahan Islam) lebih mendominasi dibandingkan Khalifah (Amirul Mukminin atau pemimpin tertinggi kaum muslimin paska wafatnya Rasulullah hingga dihapus Inggris pada tahun 1924). Kondisinya mirip yg digambarkan Hasan Al Wazzan waktu berbicara di depan Paus Leo X, “Ketika para Khalifah berkuasa, dunia Islam memiliki kebudayaan yg sangat cemerlang. Agama mengatur urusan dunia dg baik, tapi setelah para sultan menggeser mereka, urusan dunia lebih banyak diatur dg kekerasan dan agama sering kali menjadi senjata di tangan para sultan.” yang lebih parah para Sultan seringkali saling berperang satu sama lain. Sama dg kondisi dunia Islam waktu itu yg juga saling terpecah belah paska runtuhnya Khilafah Utsmani di Turki 1924, bahkan negeri2 muslim saling menodongkan senjata satu sama lain. Akibatnya dg mudah laskar salib dan imigran Yahudi melibas mereka, kalaupun ada perlawanan gak jauh beda ama yg dilakukan negara2 Arab hari ini. Perlawanan yg dilancarkan kesultanan Mamluk Mesir justru berakhir dg perjanjian damai dan kerjasam dg kerajaan Yerusalem yg dipimpin oleh raja Baldwin I, gak beda dg perang Yom Kippur yg akhirnya berakhir dg perjanjian Camp David antara presiden Mesir Anwar Sadat dg Menachem Begin, presiden Israel yg disponsori Jimmy Carter, presiden AS. Mesir waktu itu akhirnya mengakui kedaulatan Israel dan meninggalkan Palestina, ini mengakibatkan Sadat terbunuh oleh seorang perwira muda yg peduli akan nasib Palestina.

Trus kapan n bagaimana cara ngerobohin Israel?

Ya hampir sama dg cara merobohkan dan memusnahkan kerajaan Yerusalem yg dulu jadi manifestasi penjajahan tentara salib. Adalah seorang Shalahuddin Al Ayyubi yg memobilisasi pasukan Jihad, menyatukan wilayah Irak, Libanon, dan Syiria, serta merebut Mesir yg penguasanya sering menghianati kaum muslimin. Shalahuddin Al Ayyubi mengumpulkan hingga lebih dari 500.000 pasukan dg peralatan yg sangat canggih pada zamannya untuk menghabisi pasukan salib. Terbukti pada Juli 1187, pasukan Shalahuddin Al Ayyubi berhasil mengalahkan bala tentara salib di Hittin yg kemudian jadi pembuka untuk membebaskan Yerusalem dari cengkeraman bala tentara salib. Dengan jatuhnya Yerusalem maka runtuhlah kerajaan Yerusalem. Para pasukan jihad ini terbukti tetap mampu ketika para sponsor laskar salib turun langsung paska kekalahan kerajaan Yerusalem. Perang Salib III menghadirkan raja Inggris Richard the Lionheart, Fredrich Barbarossa dari Jerman, dan Phillip II dari Prancis melawan mujahidin pimpinan Shalahuddin Al Ayyubi dan berakhrir dg kemenangan Shalahuddin.

Maka pada akhirnya upaya untuk memusnahkan Israel dari muka bumi adalah mobilisasi pasukan jihad untuk melawan Israel. Pasukan Jihad ahruslah pasukan perang profesional dan didukung peralatan canggih. Lebih dari itu pasukan ini adalah pasukan yg ikhlas, memiliki ketakwaan tinggi, dan tawakkal tehadap janji Allah.

Memang masalahnya lebih berat hari ini dibandingkan era Shalahuddin. Pada masa beliau Kekhilafahan masih berdiri, kaum muslimin masih merasa satu tubuh, satu pikiran, dan masih memiliki imam yg mengayomi mereka. Karena masalah kaum muslimin hari ini adalah ketidak adaan imam atau Khalifah, kaum muslimin terpecah lebih dari 50 negara, saling tidak peduli, bahkan saling menodongkan pistol satu sama lain, masalah Palestina pun menjadi sekadar masalah “mereka” bukan masalah “kita”. Oleh karena itu mari qt robohkan batas ini, robohkan sekat ini, robohkan nasionalisme ini, kita satukan kaum muslimin dalam satu bendera, satu tanah air, satu bangsa, sebuah persatuan akidah, sebuah persatuan bernama Daulah Khilafah, kemudian kita maklumatkan Jihad memusnahkan Israel, pasti Israel keok. SETUJU!!??? Udah gak pake lama setuju aja deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s