Haruskah Golput Diharamkan?? (b)

Tahu nggak anda, apa yg paling saya sesali hingga hari ini, yaitu ikut coblosan tahun 2004. Saat itu saya terkena bujuk rayu klo gak nyoblos yg jadi malah kaum sekuler, klo gak nyoblos yg mimpin malah cewek, klo gak nyoblos gak akan bisa protes n ngajuin apapun pada pemerintah soalnya kemarin gak ikut partisipasi. Ya udah dg terpaksa saya ke bilik coblosan, setengah gak rela kayak orang yg mau cerai di pengadilan agama. Padahal jauh2 hari kepala ini saya jejali ama lagunya iwan fals, eh malah gak ngaruh.

Tapi klo hari ini saya disuruh nyoblos lagi, saya gak akan bergeming. Meskipun diiming-imingi mau dinikahkan sekaligus ama dian sastro, rianti cathwrigth, plus asmirandah saya tetep bilang gak (soalnya saya juga suangat yakin mereka akan bilang GAK ketika mo dinikahkan ama saya). Meskipun diseret ama pasukan sejenis 88 ato sayeret matkal, mending mati aja daripada nyoblos (hiperbola buanget). Apalagi klo hanya ditakut-takuti ama “fatwa” yg bunyinya Golput = Haram. Karena apa?

Pertama, karena ternyata semua janji para calon penguasa pada waktu itu bohong semua alias nggendam bin nggedabrus dan ironisnya saya gak bisa ngapa2in segala kebijakan penguasa meskipun saya yg “mengangkat” mereka. Saya ikutan protes pas minyak naik kemarin, tapi jangankan peduli n ngubah kebijakan, wong ngreken aja tidak. Klopun sekarang minyak turun kan momennya dipas-paskan deket coblosan, biar dicoblos lagi, biar dipilih lagi.

Makanya dari sini saya sadar klo demokrasi tuh hanya asik di semboyan doang, “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”, “kedaulatan di tangan rakyat”, “suara rakyat, suara tuhan”. Nggedabrus, ngapusi, mbujuk, yg ada malah berkebalikan ama semboyan tadi. Lagian demokrasi kan hanya kedok buat menjajah, memeras, ngrampok, membunuh, dan memperbudak, baik bangsa lain seperti yg dilakukan AS cs maupun buat bangsa sendiri seperti yg dilakukan para diktator di seluruh negeri2 muslim.

Dari sini saya jadi bertanya kepada MUI. Anda-anda kok tega2nya mengeluarkan fatwa Golput haram? Karena ada indikasi bahwa mereka yg golput sebenarnya udah kecewa ama pilihan yg ada pada saat ini. Lha wong yg dipilih tetep itu-itu aja n dg haqqul yaqin gak bawa perubahan apapun. Ini kan sama aja ngelarang seorang pemabuk yg pengen berhenti mabuk, dengan menfatwakan bahwa gak mabuk tu haram. Karena gak papa mabuk asal minum yg kadar alkoholnya rendah. Soalnya klo pemabuk berhenti minum nanti kan gak ada yg beli miras, klo gak ada yg beli nanti pabrik mirasnya tutup dong, klo tutup banyak yg nganggur, klo banyak yg nganggur kan jadinya mudharat. Jadi daripada mudharat gak papa deh mabuk, asal ya itu tadi yang kadar alkoholnya rendah. Wah gawat rek!!

Sedangkan yg kedua, adalah karena ternyata coblosan gak mampu mengakomodasi idealisme saya sebagai seorang muslim yg idealis, yg ingin melaksanakan ibadah yg paling tinggi di mata Allah, yaitu menegakkan syariatNya secara menyeluruh, sekali lagi MENYELURUH. Dan kelihatannya orang seperti saya banyak dan termasuk yg muncul dalam golongan 54,6% dalam survey Indo Barometer kemarin.

Lho kan ada partai Islam yg fa insya Allah mengakomodasi suara nt? Mungkin begitu saran nt semua ke saya. Dan inilah sebenarnya masalahnya, setelah meneliti, menimbang, tanya sana-sini, pake ngintip segala, hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa saya masih kurang sreg dg partai2 Islam yg beredar pada coblosan kali ini. Memang mereka adalah partai Islam, berasaskan Islam, memiliki semboyan2 keIslaman, dipimpin dan yg jadi pengurusnya adalah orang Islam, dan itu belum cukup bagi saya.

Bagi saya sebuah Partai Politik Islam adalah tidak hanya masuk dalam kategori di atas. Minimal parpol Islam adalah merujuk pada Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 104 yg poin2nya adalah a) menyeruh kepada Al Khoir dan b) melakukan Amar Ma’ruf dan Nahy Munkar.

Dalam poin (a) mengandung pengertian yg digariskan oleh banyak Mufassirin adalah seruan kepada Al Islam atau menyeruh kepada Islam. Dalam bahasa kita hari ini adalah menyerukan kepada Tegaknya Syariat Islam secara Kaffah alias menyeluruh. Bukan hanya Syariat yg mengatur masalah Sholat Jum’at, baca tulis Al Qur’an, hingga kawasan wajib Jilbab. Memang itu semua termasuk ke dalam Syariat Islam, tapi yg dimaksud di dalam Al Qur’an adalah Syariat yg menyeluruh, ya ekonominya, ya urusan dalam negerinya, ya urusan luar negerinya, ya Hankamnya, ya hukumnya, pokoknya semua mengacu baik dalam urusan mengatur masyarakat dan bernegara kepada satu hukum, yaitu hukum buatan Allah Swt dan telah digariskan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Lha yg terjadi di lapangan justru terbalik. Jangankan berani dg tegas ngomong menegakkan Syariat Islam, yg terjadi malah rame2 jadi partai terbuka, yg terjadi malah mencalonkan non muslim, yg terjadi malah berkoalisi ama partai yg jelas2 ingin memisahkan Islam dari kehidupan umat alias sekuler. Bahkan di media rame2 menyatakan bahwa Syariat gak penting karena yg penting substansinya. Ini kan sama ama makelar mobil yg ngomong ke pembelinya “ pak mobilnya itu gak penting, yg penting tuh bodinya aja pak, bodinya, Ferrari nih pak”. Sakit tuh orang, emang ada orang yg mau beli mobil secara terpisah. Bodinya aja Ferrari tapi mesinnya Bajaj. Identitas aja Muslim bahkan terbesar di dunia, tapi pornografi terbesar nomor 2, tapi korupsi nomor 1. Inilah buah dari akibat kampanye “yg penting substansinya aja”.

Sedangkan pada poin (b) terkandung maksud bahwa sebuah parpol haruslah mengajak dan menyeru kepada siapapun (lebih2 ke penguasa) agar melakukan kebaikan dengan menerapkan Syariat Islam dan melarang semua pihak (lagi2 lebih2 kepada penguasa) untuk melakukan kemungkaran (menjalankan sesuatu yg bertentangan dg syariat Islam. Poin ini didasari atas ketakwaan yg tinggi pada hukum2 Allah bukan karena hanya gara2 jadi oposisi atau gara2 ngambek gak diajak koalisi ama partai yg berkuasa. Poin tersebut juga harus dijadikan pedoman parpol dalam berinteraksi dg masyarakat. Artinya parpol harus melakukan Amar Ma’ruf Nahy Munkar kapanpun, dimanapun, n pada siapapun. Jadi parpol gak hanya hangat2 tai ayam alias muncul pas deket2 coblosan doang.

Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa parpol Islam adalah parpol yg berasas dan berideologi Islam. Parpol Islam adalah parpol yg memiliki platform dan arah perjuangan untuk menegakkan kembali kehidupan Islam di tengah2 masyarakat, bukan untuk meraih kursi apalagi hanya tuk mendapat kepentingan sesaat. Parpol Islam memiliki seperangkat aturan dan rumus yg Islami dalam memecahkan berbagai masalah yg muncul di masyarakat dan negara.

Selain itu parpol Islam melakukan pendidikan politik Islam di tengah2 masyarakat dg melakukan pembinaan kader dan interaksi dg masyarakat. Dari situ dimungkinkan bahwa anggota dan simpatisannya adalah mereka yg telah tercerahkan dg tsaqofah partai yg bersumber dari nash2 Al Qur’an dan Assunnah. Dalam bergerak dan melangkah parpol Islam juga harus bergerak sesuai dg apa yg dulu pernah digariskan Rasulullah dan para sahabat dalam membangun pusat peradaban sekaligus negera Islam pertama di Madinah.

Parpol Islam juga harus berani menantang segala –isme yg bertentangan dengan Islam. Parpol Islam harus berani melakukan edukasi di tengah masyarakat agar masyarakat mau hijrah kepada sistem Islam dan membuang jauh2 demokrasi, kapitalisme, sosialisme, SiPiLis, atheisme, HAM, globasisasi, feminisme, dan segala sistem buatan manusia.

Pertanyaannya, ada gak parpol Islam peserta coblosan kali ini yg melakukan hal yg demikian?? Klo gak ada maka bisa dipastikan bahwa besok tika hari H coblosan maka saya akan melakukan rutinitas yg biasa. Saya akan bangun pagi tuk sholat shubuh berjamaah, trus ngaji sebentar, olahraga sebentar, klo sempat trus ngetik, sarapan, mandi, sholat dhuha, trus tidur nunggu adzan dhuhur. Mungkin saya bermimpi bahwa esok Syariat Islam akan tegak, tapi tika saya bangun tuk sholat dhuhur alam bawah sadar saya akan bicara bahwa “PENEGAKAN SYARIAT ISLAM TAK AKAN BISA DILAKUKAN MELALUI JALAN DEMOKRASI”. (tamat klo dibalik tetep tamat)

One thought on “Haruskah Golput Diharamkan?? (b)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s