(bukan?) Idaman

“Jika manusia memiliki keselarasan antara hati dan jiwanya, maka ia akan menjadi individu yg berkarakter, individu yg merdeka”. Kata-kata barusan adalah sebuah pesan yg hendak disampaikan oleh Eiji Yoshikawa dalam karyanya Musashi. Novel yg berkisah tentang pencarian jatidiri seorang samurai bernama Musashi ini emang keren. Awalnya saya denger beritanya dari kasak-kusuk kakak angkatan saya yg emang gila sastra, trus gak lama kemudian Openmind menurunkan tulisan mengenai tuh novel, dan wiks, novelnya tebel banget n mahal lagi, tapi untungnya gak lama kemudian tuh novel diadaptasi jadi manga alias komik dg judul Vagabond buatan Takehiko Inoue (pembuat komik Slamdunk). Tapi dasar jodoh walaupun sulit akhirnya saya dapetin juga tuh novel walaupun bentuknya pdf.

Beda Musashi, maka beda pula Ayat-Ayat Cinta (AAC). Novel besutan Habiburahman El Shirazi ini menempatkan dirinya sebagai best seller nasional. Novel ini mengambil Fahri sebagai sosok sentral. Seorang mahasiswa Indonesia yg berkuliah di Al Azhar Mesir, yg rapi, cerdas, cakep, baik hati, n tidak sombong (pokoknya baik banget), pokoknya klo pengen tau gimana sosok Fahri ya udah baca aja novelnya atau tonton film nya.

Sosok Fahri adalah sosok yg sempurna. Beliau seorang yg cerdas, hafiz Quran, juga petinggi organisasi mahasiswa di sana. Kepemimpinannya gak diragukan lagi, dewasa, sabar, juga sangat2 rapi jali. Bahkan doi punya rancangan hidup sedemikian rupa. Akhlaq nya baik. Yg pasti sosoknya Islami banget, maka gak heran jika novel2 Islami lain juga terpengaruh akan sosok Fahri sebagai model tokoh utamanya. Dan masyarakat akhirnya juga menyandarkan sosok Fahri atau mungkin Azzam (tokoh utamanya KCB) pada sosok para generasi idaman Islam.

Maka jika saya petentang-petenteng pake kaos, pake celana jeans atau pake sarung, pake sandal jepit, suka ndengerin Linkin Park atau lagu dangdut, suka baca komik, gondrongin rambut n klo udah panas rambutnya dikuncrit kayak samurai, maka ribuan tangan akan nuding2 saya n bilang gak Islami deh lu. Emang apa salah saya? Maka mereka jawab gaya kamu tuh gak nunjukin kepribadian Islam. Emang seperti apa sih sosok berkepribadian? Lebih2 yg berkepribadian Islam?

Ngobrol tentang kepribadian jelas membutuhkan tulisan yg panjang dan yg pasti majalah ini akan kehabisan halaman karena banyaknya definisi mengenai apa itu kepribadian, kepribadian yg baik, dan bagaimana sih sosok yg berkepribadian.

Sebagian kalangan sering menyandarkan masalah kepribadian berkaitan dg cara berpakaian, berbicara, makan, hingga berjalan. Oleh karena itu sekolah kepribadian macam John Robert Power sering mengajarkan tata busana, table manner, hingga cara jalan ala kucing (catwalk maksudnya). Akan tetapi sebagian kalangan justru menganggap bahwa kepribadian berhubungan dengan akhlakul karimah, akhlak yg baik. Sosok berkepribadian menurut teori ini adalah mereka yg sopan, baik, suka menolong, bicaranya halus, serta menjaga adab pergaulan, adab berpakaian, dsb. Contoh teori di atas bisa dilihat pada cara2 yg dulu dipopulerkan oleh aa’ Gym dalam Manajemen Qolbunya.

Dari sini aja kamu pasti udah bingung. Saya sendiri juga bingung sebab contoh barusan adalah sebagian kecil aja dari teori kepribadian. Baik model barat maupun model Islam seringkali juga menampilkan teori2 yg terkadang berlawanan atau sama antara satu dg yg lain, dan menimbulkan pertanyaan “yg betul yg mana nih?”.

Seorang Ulama dari Timur Tengah, Taqiyuddin An Nabhani mendefinisikan bahwa kepribadian terdiri dari dua unsur. Pertama, adanya pola pikir. Kedua, adanya pola sikap yg sejalan dengan pola pikir tersebut. Pola pikir berhubungan dengan bagaimana sikap, pandangan, dan pemikiran seseorang dalam memandang atau menyikapi suatu pandangan atau pemikiran bahkan peristiwa tertentu. Pola pikir ini dibentuk oleh mabda (ideologi/pemikiran mendasar seseorang). Sedangkan pola sikap adalah bagaimana cara manusia dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (baik kebutuhan biologis maupun insting/naluriahnya).

Maka dari definisi di atas bisa diambil kesimpulan bahwa yg namanya Kepribadian Islam adalah apabila seseorang memiliki Pola Pikir yg Islami, dimana ia memandang, mendengar, dan menyimpulkan berbagai hal menggunakan pisau analisis yg Islami, dan itu semua diperoleh melalui keyakinan yg kokoh terhadap Aqidah Islam, juga ilmu2 ke Islaman yg cukup untuk menjawab berbagai masalah yg ada dalam masyarakat, dan itu semua distandarisasi oleh nilai2 yg Islami.

Selain itu dibarengi pula dengan Pola Sikap yg Islami pula. Yaitu dengan menjadikan aturan2 Islam sebagai satu2nya aturan dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Baik kebutuhan yg bersifat biologis (makan, minum, berpakaian, menutup aurat, dsb), juga kebutuhan yg bersifat naluriah (beribadah, bermasyarakat, bergaul, berketurunan, dsb).

Oleh karena itu saya gak ngrasa bersalah jika petentang-petenteng pake kaos n celana jeans. Toh saya tetep berkepribadian kok, karena fa insya Allah pola pikir saya masih waras n Islami, sedangkan pola sikap saya juga gak melabrak aturan Islam (dalam hal ini batasan aurat cowok), kecuali klo saya kemana-mana hanya memakai kaos doang.

He..he…he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s