Burjo ed11;Ruang Tunggu

Apa sih enaknya ruang tunggu? Toh ia hanya jejeran kursi plastic kecil. Toh ia hanya sekedar ruang untuk menunggu, tak peduli apapun namanya apakah lobi, halte, peron, green mile, atau apalah. Toh ruang tunggu bukanlah tujuan utama, bahkan gak ada satu manusia pun yg pengen tinggal di dalamnya (kecuali klo kepaksa). Lalu mengapa kita kok ngotot banget bertahan di ruang tunggu, padahal kereta super ekspres, super eksklusif sekelas shinkansen atau TGV sedang mendengus-dengus akan berangkat, menyiul-nyiulkan sirenenya, dan mbak operator cantik mendendangkan suaranya memanggil para penumpang.

Lalu apa sih enaknya demokrasi? Klo hanya sekedar janji bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, apa bener? Toh banyak para caleg ataupun capres lebih mementingkan dirinya sendiri atau minimal temen separtai. Pas kampanye aja janjinya setinggi langit, bahkan rela-relain bagi-bagi sembako hingga motor. Tapi pas jadi? Aah kita gak mau beberin dosa mereka. Males. Yg pasti kita udah kebal ama tipuan mereka, bener gak bro?

Lalu apa sih enaknya demokrasi? Apa? Sama dengan Islam? Gak salah nih? Apanya yg sama? Perasaan beda banget deh. Aqidah dasarnya aja udah beda. Trus aplikasi di lapangan aja gak nyambung. Wah muka gila kali yg menyamakan Islam ama demokrasi.

Lalu apa sih enaknya demokrasi? Kok ngotot banget mempertahankan? Padahal demokrasi gak jauh beda ama ruang tunggu. Itupun ruang tunggu yg kotor, sampahnya berserakan, panas, pengap, penuh calo, dan copet. Lagian di depan kita sudah menanti kereta super ekspres, super eksklusif yg bernama revolusi. Kereta sekelas polar ekspress yg menanti kita untuk ikut di dalamnya. Kereta yg akan membawa kita pulang pada rumah ketaatan kepada Sang Pencipta Semesta. Kereta yg hanya memberi kita dua pilihan, ikut bersamanya dan menikmati segala fasilitas yg diberikan atau terbakar dan ikut arus yg ruwet (bagai kentut dalam sarung) di ruang tunggu yang kumuh.

So, ayo segera kita angkat tubuh kita dan seluruh barang bawaan kita. Dan segera kita naik tuk bersama menyanyikan anthem pembebasan semesta. Selamat tinggal demokrasi, selamat tinggal semua sistem busuk buatan manusia. Tenang saja satpol pp akan menuju ke tempat kalian tuk merobohkan dan meruntuhkan kalian bersama penghuni kalian.

Burjo 11;Ruang Tunggu, monggo di download

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s