Salesmania

Syaikh Yusuf Qardhawi pernah berdoa, Ya Allah jadikan aku “teroris”, kumpulkan aku bersama para “teroris”, dan wafatkan aku sebagai “teroris”. Maka gw pun ingin berdoa, Ya Allah jadikan aku “sales”, kumpulkan aku bersama para “sales”, dan wafatkan aku sebagai “sales”.

***

Semua berawal dari siang itu. Waktu itu gw ama anas lagi nongkrong di ruang tamu rumah gw. Lagi serius ngobrol, tiba2 dari arah depan rumah muncul sesosok manusia. Dari pakaian dan gelagatnya yg semangat gw bisa nebak klo tu orang adalah sales. Karena gw ama anas lagi bokek (perasaan dari dulu deh bokek) n lagi gak minat beli sesuatu, maka dengan sedikit basa-basi gw bisa nolak tuh orang.

Tapi setelah itu ruang tamu gw jadi hening. Tapi itu gak lama, karena gw tiba2 nyeletuk, “semangat sekali ya nas tu sales? Coba klo qt dalam mendakwahkan Islam sesemangat tu sales, maka gak pake lama pasti Daulah Khilafah akan tegak”. “bener juga analisis pean, mas. Tapi gimana caranya ya?” tanya anas sambil garuk2 kepala pake tangannya sendiri (ya iyalah, masak pake tangan tetangga). “caranya jadi sales, nas?” gw balik nanya. “bukan mas. Tapi gimana caranya supaya dakwah qt sesemangat para sales jualan barang. Mereka tuh pede banget masarin ke tiap pintu, saya jadi mikir kok qt gak bisa kayak mereka ya?”.

“wah klo gitu gw juga mikir nas”

Karena udah dua kepala yg sinting maka dibutuhkan kepala ketiga untuk menormalkan dua kepala sebelumnya. Karena kita berdua udah puyeng maka kita sepakat mencari orang ketiga untuk dijadikan pedoman. Lha pilihan kita jatuh ama bang azri yg kebetulan jadi kepala kelompok kita n pagi besoknya kunjungan ke tempatnya sih anas. Setelah muter-muter ngobrol, diselingi basa-basi, n tiga gelas teh manis dan sepiring roti goreng, maka diambil kesimpulan gimana si sebenarnya sosok “sales” yg sukses itu n gimana korelasinya buat dakwah. Bang azri kasih kita tiga point utama seorang “sales” dakwah. Menurut beliau (bang azri) kunci utama seorang “sales” hanya ada tiga; pede dan tau barang yg hendak dijual serta mampu meyakinkan pembeli bahwa sang pembeli emang sangat butuh tuh barang.

Kunci pertama seorang sales adalah pede. Gak percaya? Lihat aja tingkah pola para sales, gak peduli siang atau malam, kenal atau kagak, doi cuek aja. Prinsip yg mereka pegang adalah konsumen minimal paham akan barang yg hendak dijual n yg paling utama mau beli. Oleh karena itu seorang “sales” dakwah harusnya juga pede masarin Islam, dimanapun, kapanpun, pada siapapun. Gak peduli di pasar, lagi nunggu bus di halte, atau lagi nongkrong di warkop (klo ngomongin warkop jadi ingat temen gw bayu toyib) dakwah n Islam harus tetep jalan n dipasarin. Selain itu biasanya para sales itu memiliki kebiasaan sok akrab, maka juga bukan hal yg salah jika kita sebagai sales dakwah terkadang harus sok akrab dg orang2 yg baru kita kenal apalagi pada mereka2 yg udah kita kenal lama.

“Tidak ada kebaikan pada orang yg tidak mudah akrab..”, itu kata Rasulullah Saw pada salah satu haditsnya yg diririwayatkan oleh Al Hakim, artinya adalah keraguan, ketakutan, dan keengganan memulai komunikasi dan percakapan bisa menjadi penghalang tersampaikannya dakwah kepada yg berhak menerimanya. Oleh karena terkadang kita harus sok kenal n berani membuka percakapan pada orang yg baru kita kenal. Terkadang kita harus menanggalkan sedikit ego kita n gak boleh memiliki sikap yg ekslusif (gaul cuma sesama teman sepengajian doang). Karena sapa tau dari percakapan singkat ada orang yg tertarik Islam n mau menkaji Islam lebih dalam n intensif sama kita, ya minimal orang paham bahwa Islam memiliki solusi atas berbagai permasalahan manusia.

Sedangkan kunci kedua seorang sales adalah tahu spesifikasi barang yg hendak dijual. Sudah barang tentu seorang sales harus paham barang yg hendak dijual, so ini menjadi salah satu senjata buat menghadapi konsumen. Oleh karena itu seorang sales dakwah sudah tentu dituntut paham akan Islam. Yang dimaksud paham disini tidak hanya sekedar tau akan ilmu2 keislaman atau sekedar memiliki gelar sarjana agama Islam. Yg dimaksud dengan paham disini adalah bagaimana seseorang menjadikan Islam sebagai pola pikir dan pola sikap. Pola pikir Islam adalah pola pikir yg dilandasi oleh aqidah Islam yg kuat yg kemudian dibangun dg tsaqofah Islam yg tinggi yg mampu menjadikan seorang individu mampu melihat, mendengar, berpikir, berbicara, dan melakukan analisis berbagai peristiwa di sekitarnya menggunakan koridor Islam dan mampu memecahkan berbagai masalah tersebut dg solusi2 Islam. Sedangkan pola sikap Islam adalah bagaimana seseorang menempatkan aturan2 Islam sebagai aturan yg ia taati dan ia jalani.

Oleh karena itu pabila seseorang mengaku “sales” dakwah Islam akan tetapi jualan demokrasi maka ia tidak layak mendapatkan gelar tersebut. Juga bagi mereka yg memiliki ilmu2 keislaman atau mengambil studi di Universitas Islam akan tetapi masih pacaran maka ia juga tidak layak dijadikan “sales” dakwah Islam. Seorang sales dakwah harus dituntut mampu menempatkan Islam di dalam kepalanya (pola pikir) dan di dalam dadanya atau kehidupannya (pola sikap). Oleh karena itu seseorang yg pengen menjadi seorang “sales” dakwah dituntut untuk terus, terus, terus, dan terus menuntut ilmu dan menambah tsaqofah Islam.

Kunci ketiga seorang sales adalah mampu membuat konsumen yakin dan butuh akan barang yg ditawarkan oleh sales tersebut, yg akhirnya mengakibatkan terjadinya transaksi jual beli antara kedua pihak. Terus terang kunci yg ketiga inilah yg paling sulit, karena seorang sales harus mampu membuat konsumen tertarik dan membeli barang yg ditawarkan oleh si sales. Oleh karena itu seorang sales dakwah harus mampu membuat khalayak yakin akan keagungan Islam, yakin bahwa Islam mampu menyelesaikan berbagai masalah, dan akhirnya khalayak mau menjadikan Islam sebagai satu-satunya jalan untuk perubahan di tengah masyarakat.

Gw yakin mayoritas umat udah yakin akan keagungan Islam akan tetapi umat masih belum yakin bahwa Islam mampu menyelesaikan berbagai masalah. Oleh karena itu sudah menjadi tugas seorang sales dakwah adalah (salah satunya) mampu menjawab berbagai pertanyaan masyarakat, mulai dari masalah fiqih seperti thoharoh, sholat, zakat, hingga masalah batu bertuah ponari, kasus antasari, virus flu babi, wacana koalisi hingga masalah utang luar negeri. Yg pasti muara semua jawaban dari masalah2 masyarakat harus bermuara pada solusi Islam. Seorang sales dakwah dilarang main2 dan memberikan solusi di luar solusi Islam semisal demokrasi, masuk parlemen, ikutan pemilu, hingga koalisi. Kerena sedikit saja main2 akan mengakibatkan lunturnya kepercayaan masyarakat dan semakin menjauhkan dari perubahan masyarakat yg berasas pada izzul Islam wal Muslimun. Ketika masyarakat udah yakin bahwa Islam adalah satu2nya solusi maka dg ikhlas masayarakat akan mau membuang sistem usang yg selama ini menjadi biang kekisruhan di tengah masyarakat dan dg ikhlas pula bergerak untuk menegakkan kembali kehidupan Islam di tengah masyarakat dg penerapan Syariat Islam secara kaffah dalam naungan Daulat Khilafah Islamiyyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s