Membiasakan Hal Yang (seharusnya udah) Biasa

Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”,

Ad-Dzariyat 56

Alkisah para gerombolan bajak laut yang menguasai perairan di seluruh dunia sedang gusar. Kegusaran tersebut akibat tindakan Angkatan Laut Inggris yang dengan tegas menghukum semua pihak yang dicurigai sebagai bajak laut maupun kontributor mereka. Maka para bajak laut pun melakukan pertemuan untuk membahas sepak terjang Angkatan Laut Inggris yang semakin meresahkan mereka. Akan tetapi pertemuan tersebut deadlock dan hampir tidak menghasilkan keputusan apapun hingga Leandro Barbossa (satu diantara 9 raja bajak laut) memanggil kapt. Tague, sang penjaga hukum bajak laut (Pirates Codex) untuk memimpin jalannya pertemuan. Diputuskan bahwa 9 raja bajak laut harus memilih satu orang pemimpin dan semuanya harus taat kepada pemimpin tersebut. Atas siasat Jack Sparrow maka terpilihlah Elizabeth Swann sebagai pemimpin para bajak laut yang hari itu juga memaklumatkan perang terhadap seluruh armada Angkatan Laut Inggris.

Itulah sepenggal kisah yang penulis ambil dari cuplikan film Pirates of The Carribean;At World Ends. Dari penggalan kisah di atas menunjukkan bahwa sebenarnya setiap manusia membutuhkan aturan untuk mengatur (minimal) dirinya sendiri dan dalam berhubungan dengan manusia di sekitarnya. Bahkan para bajak laut (dalam kisah di atas) yang imagenya anti hukum dan urakan juga membutuhkan seperangkat aturan untuk mengatur komunitas mereka. Oleh karena itu kapanpun, dimanapun, dan siapapun manusianya pasti dia membutuhkan aturan-aturan yang mengikat dirinya.

Pertanyaannya adalah apakah dalam mengatur dirinya, manusia dibebaskan untuk membuat aturan sendiri ataukah ia harus taat pada aturan-aturan yang telah digariskan oleh Penciptanya? Jika jawaban pertama yang dipilih oleh manusia, maka bersiaplah pada kehancuran yang akan melanda. Mengapa? Ini disebabkan karena sifat manusia yang lemah dan serba terbatas. Selain itu sudah menjadi tabiat manusia yang memiliki keinginan dan selera yang berbeda dengan manusia lain. Oleh karenanya mungkin kita sering menyaksikan konflik terjadi antar manusia akibat perebutan harta, jabatan, pengaruh, hingga wanita.

Oleh karena itu sudah sewajarnya apabila dalam melakukan tindakan dan memenuhi segala hajat hidupnya manusia harus taat kepada aturan Penciptanya, yaitu Allah Swt. “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”, begitulah bunyi firman Allah Swt di dalam Al Qur’an surat Ad Dzariyat ayat 56. Imam Ibn katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa Allah Swt menciptakan jin dan manusia semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah, bukan karena Allah butuh kepada jin dan manusia. Sedangkan Imam Al Qurthubi mengutip pendapat Ali ibn Abi Thalib k.w yang menyatakan makna frasa Illa liya’buduni adalah tidaklah Aku (Allah Swt) ciptakan jin dan manusia melainkan agar Aku perintahkan mereka untuk beribadah. Az Zujaj menyandarkan pendapat ini pada firman Allah Swt, “Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa” (QS At Taubah, 31)

Adapun makna ibadah sendiri adalah segala bentuk penyembahan kepada Allah Swt, baik yang bersifat khusus (ibadah mahdloh) seperti sholat, zakat, puasa, dan haji maupun ibadah secara umum berupa ketaatan dan ketundukan kepada-Nya serta keterikatan dengan seluruh apa yang Dia syariatkan di dalam aturan-aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga bernegara.

Keterikatan Terhadap Hukum Syara’

Sudah menjadi kewajiban seorang muslim dimanapun dan kapanpun untuk selalu terikat kepada hukum syara’. Keterikatan ini menjadi bukti akan persaksiannya terhadap Allah Swt dan Rasulullah Saw. Maka sudah menjadi kewajiban bahwa seorang muslim harus selalu menjadi penegak pilar-pilar hukum syara’. Ia harus menjadi yang pertama dan paling utama dalam mentaati hukum-hukum Allah Swt. Ia harus menjadi penjaga hukum-hukum tersebut. Apabila hukum-hukum tersebut tidak ada dan tidak terlaksana maka ia harus menjadi penegaknya. Allah Swt menegaskan tugas kita sebagai seorang muslim, “Orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang melawat (mencari ilmu), yang ruku’, yang sujud, yang menyerukan pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta menjaga hukum-hukum Allah. Berilah kabar gembira pada mereka.” (QS At Taubah, 112)

Dari ayat di atas sangat jelas bahwa tugas manusia (lebih-lebih sebagai seorang muslim) adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan ibadah kepadaNya, baik berupa ibadah mahdlah maupun ibadah sosiologis seperti menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar juga menjaga hukum-hukum Allah Swt. Menjaga adalah dengan cara melaksanakan semua hukum-hukum Allah, menjaganya agar tetap dilaksanakan, dan menegakkan apabila hukum-hukum tersebut tidak terlaksana.

Adapun pilar-pilar syariat Islam sendiri terdiri dari tiga pilar.

Pilar yang pertama adalah Ketakwaan Individu. Pilar ini akan terbentuk pada tiap individu muslim ketika tiap individunya memiliki kepribadian Islam. Kepribadian ini dibentuk dari pola pikir dan pola sikap yang Islami. Pola pikir Islam adalah ketika seseorang dalam memandang, mendengar, berpikir, berbicara, dan melakukan analisis permasalahan di sekitarnya menggunakan koridor Islam, serta mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan tersebut dengan solusi-solusi hukum Islam. Pola pikir ini akan terbentuk dengan sendirinya ketika seorang individu memiliki Aqidah Islam yang kuat dan benar dan ditambah dengan penguasaan yang baik terhadap tsaqofah-tsaqofah Islam.

Sedangkan pola sikap yang Islami tercermin dari segala tindak-tanduknya yang selalu mengarah kepada ketaatan terhadap syariat Islam di segala lini kehidupannya. Apakah ketika ia memenuhi kebutuhan biologis (makan, minum, berpakaian, dsb) maupun dalam memenuhi kebutuhan naluri (beribadah, bergaul, bermasyarakat, dsb).

Pilar kedua dari syariat Islam adalah masyarakat. Masyarakat bertugas sebagai katalisator (pengontrol) yang mengontrol pelaksanaan syariat Islam sekaligus pengawas dan pengoreksi tingkah laku penguasa. Esensi utama dari tugas masyarakat adalah Amar Ma’ruf Nahy Munkar, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Masyarakat menjadi indikator bagi ketakwaan individu. Apabila masyarakat rusak, maka bisa dipastikan akan membawa dampak kerusakan pada tiap-tiap individu. Begitupula apabila masyarakat baik dan menunjukkan kemuliaan Islam, maka bisa dipastikan individu-individu di dalamnya memiliki nilai plus dan tingkat ketakwaan yang tinggi pula. Akan tetapi segala sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat sangat terpengaruh pada apa yang terjadi pada pilar ketiga. Apakah pilar ketiga tersebut?

Pilar ketiga dari bangunan syariat Islam adalah Negara. Hujjatul Islam Abdul Hamid Al Ghazali pernah menyatakan bahwa “Agama adalah tiang Negara, sedangkan Negara adalah penjaga Agama. Apapun yang tidak memiliki tiang akan roboh dan apapun yang tidak memiliki penjaga akan rusak”. Dari pernyataan ini bisa dikatakan bahwa Negara adalah pilar utama dalam syariat Islam. Negara berfungsi sebagai pelaksana hukum syariat Islam sekaligus sebagai pengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tanpa adanya Negara yang mengemban syariat Islam maka akan menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat yang efeknya menyebabkan kerusakan di tiap-tiap individu.

Oleh karena itu tragedi runtuhnya Daulah Islam Utsmaniyah yang bertindak sebagai payung Islam pada tahun 1924 disebut sebagai ummul jara’in atau pangkal berbagai kerusakan yang terjadi merata di seluruh dunia Islam. Kejadian ini menjadi pangkal dari dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan, penjajahan baik fisik maupun non fisik, dan perampokan sumber daya alam, hingga sulitnya upaya menegakkan kembali kebangkitan Islam terjadi mulai dari tahun 1924 hingga hari ini.

Oleh karena itu terakhir, dimanapun anda berada, kapanpun, dan siapapun anda, anda harus ingat bahwa usaha untuk taat kepada Allah Swt tidak hanya diukur dari amal-amal pribadi anda. Ketaatan kepada Allah Swt tidak hanya berbentuk kekhusyu’an sholat anda, puasa anda, tahajud anda, shodaqoh anda, zakat anda, nikah anda, atau sejauh mana usaha anda untuk meraih gelar haji mabrur. Ketaatan kepada Allah Swt tidak hanya dibangun dari ketakwaan individu saja. Ketaatan kepada Allah Swt adalah sejauh mana anda menerapkan syariat-syariatNya, juga sejauh mana anda membuat pusaran di tengah masyarakat agar masyarakat mau dan taat diatur oleh syariat Islam, dan juga sejauh mana perjuangan anda bersama masyarakat untuk menegakkan kembali penjaga utama syariat Islam yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah.

Wa ma taufiqi illa billah

Disampaikan dalam KBBI (kajian Bersama Berbasis Islam) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa, 13 Mei 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s