Deadline

Oleh: Febrianti Ratna Sari (peserta Burjo Writing Clinic Unesa)

Mampus! Ne hari Kamis ya?? Baru inget kalo belom ngerjaen tugas yang dikasih pimrednya Burjo yang merupakan series effect dari BWC kemaren (dalam hati Q nyumpah2,”Sialan ne orang! Dah diundang baek2, eh endingnya malah nyuruh2 ngumpulin tugas tulisan! Dan apesnya Q dapat tugas ngeresensi buku! Padahal kan Q pengennya pelm. Huuuh.. ngrepotin orang aja si?!”). Mana besok deadlinenya lagi! N I haven’t read any novel!! Hhuuuaaa.. (Salah ndiri juga si, kemaren2 pas inget, tapi males ngerjaen..ha3).
Duh, ngeresensi nopel apaan ya?? Binguuuung!! Emmmmm.. Aha, Q inget kan kemaren2 baru danlot Musashi dari blognya Burjo. Tapi gila aja, tu nopel kan isinya 800an halaman! Gak bakal selesai baca nopel dalam 1 hari (kecuali tu orang emang nerd dan kutu buku kayak pimrednya Burjo! But I’m not such as person like that!). Lagian bentuknya eBook.. Bisa2 ntar langsung kanker mata selesai baca tu nopel. Hmm..Okeh, Q gak mo ribet2 ah, Q gak bakal baca nopel yang belum tak pernah baca deh! Muter otak, inget2 nopel non islami pa ja yang dah pernah tak baca. Loading….. Sali! Sip, tu nopel ja yang tak resensi, kan Q wes pernah baca. Ceritanay juga bagus and etnik bgt! (terang aja, orang mang nopel etnografi gitu loh!) Langsung Q pinjem ke kamar sebelah, pinjem ke mbaknya yang punya tu nopel buat dibaca2 lagi dikit trus diresensi.. Oke, ne dia resensinya:

Sali; Kisah Seorang Wanita Suku Dani

Nopel karya Dewi Linggasari ne merupakan nopel etnografi yang bercerita tentang kehidupan wanita suku Dani di bumi Papua sono yang menjadi korban penindasan adat-istiadat sukunya. Dimana diceritain kalo nasib wanita suku Dani tuh ngenes banget. Mereka para wanita sejak kecil, wes kudu Bantu ibunya kerja di kebun ma Bantu buat ngasuh adek2nya yang masih kecil. Dan keterkekangan mereka akan dimulai dan kebebasan mereka mulai hilang ketika perkawinan menemui mereka. Karena dengan perkawinan itu, mereka harus siap untuk menjadi budak bagi suami mereka karena mereka telah dibeli oleh suami mereka dengan membayarkan 20 ekor babi. Dari situ, seorang istri harus mau tunduk, patuh dan takluk pada suaminya. Mereka kudu bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anak dan suami mereka, membelah kayu bakar, kudu ngasih makan babi-babi dan kudu nyiapin segala kebutuhan anak-anaknya dan sang suami terutamanya. Gak peduli dalam kondisi apapun, meskipun hamil dan sakit mereka harus tetap kerja. Jadi ibaratnya, lahir sebagai wanita adalah sebuah kutukan sodara2! Sedangkan para lelakinya, cukup ongkang-ongkang kaki, tidur pas rapat, jalan2 keluar negri dengan dalih study banding, tapi gajinya banyak bo’! (eh kliru2, kalo itu se kerjaannya orang2 yang da di DPR, hehe). Para lelaki suku Dani kerjaannya cuma berburu dan berperang (dank arena perubahan zaman, maka dah jarang banget kejadian), wes itu thok! Jadi dalam kesehariannya wanita suku Dani lah yang melakukan semua pekerjaan, merekalah yang kudu banting tulang dan meres kringat buat keberlangsungan keluarga mereka! Belom lagi adanya satu adat-istiadat yang bener2 menyakitkan buat anak perempuan suku Dani, kalo bapak mereka meninggal dunia di medan perang, mereka kudu rela kehilangan satu ruas jari mereka untuk dipotong dengan kapak batu oleh tetua-tetua adat! Dan itu hanya berlaku buat anak perampuan! (Asli, gak bayangin! That must be hurt! Sadis bgt si?!). Taruhan deh, kalo para feminis baca ne nopel pasti bakalan kebakaran jenggot (emang cewek punya jenggot! He2) dan mencak2! Lha wong Q yang baca aja gemes bngt! (Ya Rabb, Alhamdulillah.. Q terlahir dalam keadaan Islam dan mengenal Islam yang begitu memuliakan wanita..)
Tokoh sentral di cerita ini adalah Liwa, seorang wanita suku Dani yang mengalami perlakuan buruk dan ketidak fair-an adat istiadat terhadap perempuan. Kutukan sebagai perempuan, awalnya dia terima ketika dia ditinggal mati oleh ibunya, yang kemudian membuatnya berpikir tentang ketidakadilan yang terjadi terhadap perempuan (yang mengakibatkan kematian ibunya) yang selanjutnya diikuti pemotongan ruas jarinya ketika bapaknya meninggal di medan peperangan. Dan puncak dari kutukan itu adalah ketika perkawinannya dengan Ibarak, yang membawanya pada kejenuhan terhadap adat istiadat sukunya dan kehidupannya. Liwa wes gak tahan dengan segala macam bentuk adat sukunya yang selalu mensubordinatkan perempuan dibawah laki-laki dan ketidakadilan perlakuan lelaki kepada perempuan seperti yang Ibarak lakukan kepada dirinya dan seperti apa yang bapaknya lakukan kepada ibunya dan Lapina dulu. Dia tidak bisa menerima itu semua, tapi disatu sisi dia juga tidak kuasa untuk menolaknya.
Nopel ini juga menceritakan tentang awal2 ketika peradaban modern mulai bersentuhan dengan peradaban tradisional suku2 di Papua dan sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Semua hal termasuk bidang ekonomi juga tidak lepas dari pengaruh modernitas, yang akhirnya membuat suku Dani tak lepas dan ikut terseret arus kapitalisme yang menguasainya. Dari sini, suku2 tersebut pun diperkenalkan dengan itu yang namanya uang sebagai alat pembayaran dalam perdagangan, menggantikan system perdagangan mereka terdahulu. Barang-barang konsumsi baru pun akhirnya menjadi sesuatu kebutuhan mutlak bagi mereka. Terlihat jelas sekali, bagaimana pemilik asli bumi Papua begitu termarjinalkan dengan datangnya sebuah peradaban baru yang bernama modernitas dan pembangungan. Terlihat juga, bagaimana jurang perbedaan yang teramat lebar atas ketidakmerataan pembanguan antara pusat dan daerah pada waktu itu.
Semua pergesekan budaya tadi diamati oleh Gayatri, tokoh lain dalam cerita ini yang merupakan seorang gadis modern dengan gelar dokter muda yang sedang PTT di daerah Wamena. Gayatri bertemu dengan Liwa ketika Liwa yang hamil tua sedang sakit dan berobat di rumah sakit tempat Gayatri bekerja. Dari situ, terjalinlah hubungan batin antara Liwa dan Gayatri, terlebih ketika Gayatri mengadopsi salah satu anak kembar yang dilahirkan Liwa, karena menurut kepercayaan suku Dani, bayi yang terlahir kembar salah satunya adalah anak setan maka salah satu harus dibunuh atau dihanyutkan di sungai.
Dan akhir cerita, dimana Liwa tak kuat menanggung beban hidup yang sudah tak bisa lagi dikompromikan, sebuah Sali, pakaian tradisional perempuan suku Dani yang seperti rumbai2 yang cara pakainya dililitkan di bagian pinggul kebawah, milik Liwa ditemukan Gayatri tergeletak di bebatuan sungai Fugima. Dimana artinya, jika ada Sali yang ditemukan di bebatuan sungai Fugima maka pemiliknya sudah tidak mampu lagi untuk menanggung beban kehidupan dan memilih untuk menceburkan diri kedalam sungai tersebut. (What sad and pathetic ending! Menyedihkan banget.. Hiks..)
Yah, setelah baca nopel tersebut da kesimpulan menarik yg Q ambil! kesimpulannya adalah bahwa adat-istiadat ato kebiasaan yang udah dilakukan turun temurun sejak jadul, bakal susah banget diubah. Tapi bukan berarti gak bisa diubah lho. Contohnya aja, yang tentang pemotongan ruas jari tangan dan perang antar suku Dani tadi. Setelah Wamena tersentuh oleh pembangunan, adat-istiadat yang tidak berperikemanusiaan itu, dilarang oleh pemerintah buat dilakuin. And it works! Adat-istiadat tersebut wes gak ada lagi. Artinya apa?? Bahwa suatu kekuatan besar/ system, bisa menghentikan adat-istiadat tadi (yang bisa juga kita sebut system) yang meskipun dah berlangsung lamaaaa n jaduuul banget! Nah, kasus yang sama terjadi dengan system yang ada saat ini, dimana system/ adat kebiasaan yang dipake gak berperikemanusiaan dan sadis banget, gak sesuai fitrahnya manusia dan tu dilanggengkan oleh para tetua-tetua system busuk ini. Tapi kayak tadi, bukan berarti tu system gak bisa dirubah,! Bakal bisa dirubah, asal ya syaratnya kudu pake system juga ben seimbang kekuatannya. Jadi, harapan itu masih ada pren! Harapan buat ngubah system sekuler kapitalism demokratis busuk ini dengan sebuah system sempurna buatan Sang Pencipta masih ada dan terbuka lebar…
Pertanyaannya sekarang, mau dan siapkah kita untuk menjadi pelaku perubahan itu?? Ato nunggu sambil ongkang2 kaki kayak kerjaannya orang2 di DPR sono??

Jumat, 10:09 PM

Waaaaa…akhirnya kelar juga nulisnya.. Alhamdulillah.. Pengennya kasih judul tu tulisan “Penindasan Perempuan Atas Nama Adat” tapi kok kayaknya lebih tepat kalo bedasar background lahirnya neh tulisan judulnya adalah “Penindasan Peserta Atas Nama Burjo Writing Clinic”. Ya.. itulah judul yang tepat! Cz kalo umpama gak disuruh buat nulis tentang resensi buku, mgkn gak bakal lahir ne tulisan. Jadi bingung, mo ngucapin pa?? trimaskish ato justru sumpah serapah?! Trimaksih cz dah menaikkan tingkatan menulis dari sekedar hobi ke tingkatan nulis sbg keharusan, ato sumpah serapah cz dah nambah2i beban dan tugas anak kul?! Kayaknya dua2nya cocok buat diberikan untuk yang dah ngasih ne tugas deh, hehe..
Akhir kata, mohon diterima dengan lapang dada karya tulisan ini untuk memenuhi tugas menulis yang dah antum kasih.. Tolong dikritisi juga ya, biar Q tau dimana kekurangan dan kelebihan tulisanQ (biarpun Q tau, pasti banyak kelebihannya..hahaha)..
Syukron katsir..
Wass.

3 thoughts on “Deadline

  1. good, udah bagus.inti n maksud tulisan nt udah bisa dilihat.emang Islam hadir untuk menghancurkan adat istiadat yg gak sesuai ama Islam (liat Sirah).
    mengenai tugas ane minta maap dech.yg pasti tulisannya harap terus ditingkatkan.mulai sekarang levelnya harus naik, dari menulis karena “harus menulis” menjadi menulis karena “menulis adalah kebutuhanku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s