Syahwat Demokrasi

Penjilat Demokrasi

Dalam salah satu riwayat disebutkan, suatu hari datang utusan kafir Quraisy menemui Abu Thalib, paman Muhammad, sang Nabi Agung. Maksud kedatangan mereka adalah memberikan penawaran kepada Muhammad agar beliau menghentikan dakwahnya. Tawaran mereka begitu menggiurkan. “Kalau Muhammad ingin menjadi raja Mekkah kami siap mengangkatnya menjadi raja. Kalau Muhammad ingin menjadi milyarder kami siap mengumpulkan seluruh harta kami untuk kami serahkan ke Muhammad. Kalau Muhammad ingin wanita yang paling cantik kami akan carikan wanita tercantik dari seluruh penjuru jazirah Arab berapapun yang dia mau. Kami akan memenuhi segala keinginannya asalkan Muhammad mau menghentikan dakwahnya sekarang juga.”
Setelah pesan disampaikan oleh sang paman, Manusia Agung tersebut menjawab, “duhai pamanku andai mereka memberikan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku maka sejengkalpun aku tidak akan menghentikan Risalah Agung yang aku diperintahkan untuk menyampaikannya ini. Hingga aku diberikan kemenangan oleh Allah atau aku musnah di jalanNya.”
Para utusanpun pergi terbirit-terbirit mirip orang sakit perut yang merindukan jamban. Tapi dasar orang kafir bandel, besoknya mereka datang lagi dengan (lagi-lagi) tawaran busuknya. “Oke kalau kemarin Muhammad menolak semua tawaran kami, kami memakluminya. Kalau begitu urusannya oke dech kami siap mengikuti Muhammad hari ini, asal besoknya Muhammad mau ikutan urusan kami. Begitu seterusnya, gantian!!.”
Maka untuk urusan yang terakhir ini Allah Swt sendiri yang menjawabnya dengan turunnya Surat Al Kaafiruun. “Katakanlah (Muhammad): Hai orang-orang kafir!. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS Al Kaafiruun, 1-6).
Syahwat Demokrasi
Barat sebagai manifestasi kaum kafir di abad 21 ini tetap merupakan rival sekaligus penjajah utama yg mengangkangi negeri-negeri muslim yg kaya akan anugrah dari Allah. Sebagai penjajah mereka melakukan berbagai macam upaya untuk menaklukkan jajahannya. Mohammad Iqbal penyair terkemuka dari Pakistan pernah mengingatkan kita tentang pola penjajahan barat pada salah satu syairnya.

Tanah Syiria memberikan kepada Barat
Seorang Nabi shalih, tulus, dan suci
Sebagai gantinya Syiria memperoleh dari Barat
Senjata pembunuh, minuman keras, dan para pelacur

Tanah Syiria adalah manifestasi dari negeri-negeri kaum muslimin dan peradaban Islam. Peradaban Islam konon telah menyumbangkan berbagai kebaikan dan ilmu pengetahuan yg ikut andil dalam pencerahan di Barat. Akan tetapi apa yg diperoleh kaum muslimin dari Barat? Senjata pembunuh, minuman keras, dan para pelacur.
Senjata pembunuh menggambarkan pola penjajahan Barat yg paling keras. Penjajahan bersenjata seperti yg bisa kita saksikan dg mata telanjang di Iraq, Afghanistan, dan Palestina hingga berbagai macam pola intervensi mulai di bidang ekonomi (hutang), politik, militer (pangkalan militer), hingga sosial budaya. Inilah yg digambarkan Iqbal sebagai senjata pembunuh yg membunuh kaum muslimin baik secara langsung maupun secara pelan-pelan.
Pola kedua dari penjajahan Barat menurut Iqbal adalah minuman keras. Minuman keras melambangkan kerusakan berfikir, inilah yg sedang ditanamkan Barat di tengah2 kaum muslimin. Kerusakan berfikir melahirkan intektual-intelektual yg rusak, yg menghamba kepada Barat. Semakin berilmu seseorang bukannya semakin alim tapi semakin jauh (bahkan semakin benci) pada nilai2 Syariat Islam. Inilah kerusakan berfikir yg ditanamkan Barat di tengah2 negeri kaum muslimin sebagai bagian perang (pemikiran) terhadap Islam.
Sedangkan pola ketiga adalah pelacur. Pelacur memiliki kedok yg sangat menggoda untuk menarik mangsa ke dalam jeratannya. Sifatnya yg langsung menyerang salah satu naluri manusia (sexual instinct) menjadikannya sebagai senjata yg paling ringan tapi lebih mematikan daripada dua senjata sebelumnya. Menggunakan bedak, lipstick, kecantikan, kemolekan tubuh, lirikan, tutur kata yg mendayu, hingga rayuan maut, pelacur sukses menjerumuskan mangsanya ke dalam lembah perzinaan yg nista. Harta, tahta, negara, bahkan agama bisa tergadai hanya dg sedikit rayuannya. Apabila mangsanya terlalu kuat tidak jarang pelacur berkolaborasi dg preman yg selama ini melindunginya untuk menaklukkan sang mangsa. Lalu siapakah pelacur utama yg disodorkan Barat ke tengah-tengah umat Islam? Siapa lagi kalau bukan Demokrasi
De Mo Kra Si, Demokrasi adalah senjata utama Barat untuk memalingkan umat dari cita kebangkitan Islam. Demokrasi juga menjadi senjata Barat untuk mengalihkan perhatian umat dari penjajahan Barat yg tersuguh di depan mata. Umat disibukkan dengan demokrasi sehingga melupakan perlawanan terhadap penjajah Barat. Umat disibukkan dengan demokrasi sehingga meninggalkan perjuangan menegakkan kembali izzul Islam wal Muslimin. Demokrasilah senjata utama Barat untuk memalingkan umat dari kebangkitannya.
Bersenjatakan harta, tahta, pemilu, kursi parlemen, tawaran masuk ke dalam kabinet, dan slogan kedaulatan di tangan rakyat, demokrasi sukses membuat umat berpaling kepadanya. Tidak jarang demokrasi menutupi kedoknya dg tawaran kesempatan untuk menegakkan Syariat Islam dan Daulah Khilafah melalui dirinya. Padahal ini semua hanyalah kedok untuk menjerat mangsa ke dalam genggaman sang germo utamanya, siapa lagi kalau bukan negara-negara penjajah Barat. Toh selama ini tawarannya justru semakin menjauhkan cita-cita umat, bahkan ketika umat berbondong-bondong kepadanya (karena bujuk rayu penerapan Syariat Islam) seringkali demokrasi malah membelokkan suara umat. Belum saatnya, jangan tergesa-gesa, santai aja, tunggu dulu, kita rumuskan dulu, step by step, adalah contoh alasan2 demokrasi untuk membohongi umat. Bila suara umat terlalu kuat tidak jarang demokrasi memanggil preman pelindungnya. FIS, Refah, dan HAMAS pernah merasakan betapa busuknya rayuan demokrasi.
Dalam benak penulis mereka bertiga tidak lebih dari sosok lelaki idealis yg sayangnya terjebak di gang pelacuran. Mereka mampu mempertahankan idealitasnya, oleh karenanya seorang preman harus segera menusuknya dari belakang dan menghabisinya. Beruntung mereka bertiga hanya koma dan segera sadar untuk mengingatkan kita akan bahaya rayuan demokrasi yg sayangnya tidak terdengar di telinga kita sehingga kita masih asyik melirik dan memandang demokrasi, bersiul-siul memanggil dan menggodanya, mencium aromanya, sudah berani pegang-pegang bagian tubuhnya, melakukan transaksi dengannya, dan aahh..lampu pun semakin temaram. Tidakkkah kita dengarkan cacian petir yg menggelegar malam ini kawan. Tidakkah kita hayati tangisan langit malam ini. Atau jangan-jangan kita menikmati keadaan malam ini, yg basah di luar maupun di dalam.
Apa sih yg ditawarkan demokrasi pada umat? Kalau hanya sekedar slogan-slogan dan jargon-jargon, tukang jamu di pasar legi pun bisa. Tidakkah kita ingat bahwa janji-janji demokrasi hanyalah omong kosong dan bualan saja. Demokrasi pernah berkata bahwa “kedaulatan di tangan rakyat”, “suara rakyat suara Tuhan”, “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” tapi dalam contoh kecil saja demokrasi mengingkari semua perkataannya. Terbukti ketika BBM naik coba tanyakan rakyat di republik ini apakah menerima atau menolak keputusan tersebut? Seluruh rakyat menolak keputusan tersebut baik secara terang2an (ikut demo) maupun diam2 (ngrasani dalam hati). Tapi apakah BBM turun? Tanyakan pada anda yg sekarang memperjuangkan dan berjuang melalui jalan demokrasi!! Tanyakan jujur pada hati anda!!
Sekali lagi apa sih yg ditawarkan demokrasi kepada umat ini? kalau hanya sekedar kursi di balai desa kampung juga banyak. Apa? Menteri? Inikah yg menjadi penyebab lunturnya idealisme kita. Inikah yg menyebabkan kita lupa cita kita sebagai pelayan umat dg duduk bersanding dg mereka2 yg selama ini menyengsarakan umat. Tidakkah ini menyakitkan hati umat? Inikah yg menyebabkan kita meninggalkan saudara kita di Palestina, Iraq, dan Afganistan dg duduk mesra dg agen2 utama penjajah. Semoga saja saudara kita di sana tidak memohon kepada Allah agar kita diazab bersama “kawan-kawan” kita tersebut.
Apa, sekali lagi apa tawaran demokrasi kepada umat ini? Bukankah kita selama ini mengaku sebagai umat Muhammad. Bukankah selama ini kita meniru setiap jalan yg ditempuh Muhammad. Lalu mengapa mudah sekali kita tertipu dan menerima tawaran orang-orang kafir, munafik, dan para agennya. Bukankah kita bisa mengingat dg jelas bagaimana Rasulullah tidak pernah berkompromi dg segala tawaran orang-orang kafir. Lalu apa hak kita menyelisihi Rasulullah? Apa hak kita berani berseberangan jalan dg Rasulullah? Apakah kita sudah bosan untuk disebut sebagai umatnya?
Tidak salah kiranya jika syaikh Abdul Qadim Zallum (HT), syaikh Said Hawwa (IM), dan syaikh Ali Belhaj (FIS) menyatakan bahwa demokrasi adalah sistem kufur yg haram bagi kaum muslimin untuk mengambilnya, menerapkannya, dan menyebarluaskannya. Ini karena memang sejak awal sifat demokrasi yg menyerupai sifat pelacur. Demokrasi menyebabkan mudharat lebih besar ketimbang kebaikan. Terbukti demokrasi hanya mampu memusakan dahaga sesaat atas problematika umat. Bahkan demokrasi lebih banyak menyebabkan kesengsaraan dan menjauhkan umat dari kebangkitan yg hakiki. Pakistan dan Indonesia sering dianggap Barat sebagai negeri2 Islam yg paling demokratis, akan tetapi julukan tersebut hanyalah pemanis belaka. Julukan tersebut hanyalah sebagai kedok karena kedua negeri tersebut (penguasanya) telah memproklamirkan dirinya sebagai hamba penguasa Barat. Terbukti secara fakta kedua negeri tersebut justru mengalami penderitaan.
Pembantaian di lembah Suwat, kemiskinan, dan kebodohan melanda Pakistan. Sedangkan negeri tecinta ini malah semakin parah. Perampokan SDA, korupsi, kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, terjerat utang/riba, dekadensi moral, manipulasi hukum, dan berbagai masalah yg menjerat setiap jengkal kepala umat Islam Indonesia. Padahal kedua negeri tersebut adalah salah satu negeri muslim terbesar yg seharusnya menyandang status Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur.
Oleh karenanya terakhir mungkin udah selayaknyalah kalau kita tinggalkan demokrasi. Kita jauhi dia (agar gak ketularan SiPiLis). Bahkan kalau bisa kita menjelma menjadi Jack the Ripper yg menikam demokrasi dari belakang, menggorok urat lehernya, menjagalnya, memutilasinya menjadi seratus potongan kecil agar tidak dikenali lagi baik tubuh, wajah, hingga sidik jarinya, dan yg pasti umat akan jijik dan takut untuk dekat-dekat dg demokrasi. (atau gimana klo kita serbu rame2 aja kayak temen2 FPI yg dulu nyerbu Kramat Tunggak!!! Setuju!!!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s