Dualisme

angels-demons-posterSelain membaca saya juga memiliki hobi menonton film. Saya suka menonton film baik di televisi, lewat kaset VCD atau DVD, atau (yg paling saya sukai) nonton langsung ke bioskop. Saya tidak tahu sejak kapan dan darimana punya hobi nonton bioskop. Mungkin hobi ini turun langsung dari kedua ortu saya yg pas mudanya dulu juga suka banget nonton bioskop. Biasanya saya ke bioskop kalau ada film bagus yg pas diputer. Saya suka banget film action, film2 kungfu, detektif, atau drama kadang2, satu lagi yg paling saya sukai yaitu film2 sejarah atau tentang peristiwa bersejarah. Saya suka film2 barat, mandarin, jepang, dan India, kalau film Indonesia sih kadang2 (seperti laskar pelangi, gie, dan janji joni) bukannya gak cinta produk dalam negeri tapi emang kualitas film Indonesia tuh jelek banget (terutama dari segi cerita).
Salah satu film yg kebetulan saya tonton baru2 ini adalah “Angels and Demons”, film arahan Ron Howard ini merupakan saduran dari novel yg berjudul sama karangan Dan Brown. Angels and Demons merupakan salah satu bagian dari trilogy the Da Vinci Code. Bila the Da Vinci Code mengulas Priory of Sion (biarawan Sion) maka Angels and Demons mencoba membuka selubung Illuminaty, salah satu organisasi rahasia yg menjadi bagian dari Biarawan Sion (satunya lagi Freemasonry) dan dianggap sebagai dalang berbagai peristiwa mutakhir di seluruh dunia.
Terus terang saya mendapatkan banyak hal dari film ini. Mulai dari sejarah Illuminaty, permusuhannya dg takhta kepausan, hingga hal2 seperti metode pengangkatan Paus (conclave) yg muncul dalam adegan film tersebut, hingga sepak terjang Assassin atau Hassashin, sekte Syiah Ismailiyah kuno yg memiliki kemampuan membunuh kelas tinggi. Dari berbagai hal di atas ada satu hal yg ingin saya bagi dengan pembaca semua. Apa itu? Check this out!!
Cerita Angels and Demons berfokus pada Illuminaty, sebuah organisasi rahasia yg (kata film tersebut) dibentuk oleh para ilmuwan (seperti Galileo Galilei, Raphael Santi, Leonardo Da Vinci, Michaelangelo Buanoroti, dsb) sebagai reaksi atas aksi gereja (Paus) yg membasmi para ilmuwan. Para ilmuwan ini memiliki keinginan kuat untuk menyatukan ilmu pengetahuan dg doktrin2 agama Kristen. Sayangnya, banyak sekali hasil penelitian dari para ilmuwan (seperti bumi bulat atau matahari sebagai pusat tata surya) bertentangan dg doktrin gereja (seperti pernyataan bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan bentuknya datar seperti meja pingpong yg di atasnya ada surga n bawahnya ada neraka). Gereja akhirnya bereaksi terhadap para ilmuwan tersebut. Gereja mengeluarkan dekrit untuk menangkap para ilmuwan, mereka kemudian dijatuhi hukuman La Purga (penebusan dosa) dg membaca Mazmur pertobatan 100 kali, kemudian dada mereka dicap dg tanda salib, dan akhirnya mereka dihukum mati dg jalan dikubur hidup2, disalib, ditenggelamkan, atau dibakar.
Para ilmuwan kemudian melakukan reaksi atas kelakuan gereja tersebut dg membentuk Illuminaty, menyusup ke dalam Takhta Kepausan, dan di era modern (kalau dalam film tersebut) melakukan balas dendam dg menculik empat kandidat Paus, dan membunuhnya satu persatu setelah masing2 dicap dg lambang 4 elemen alam (bumi, udara, api, dan air) yg juga perlambang dari pola hukuman mati yg dijatuhkan pada para ilmuwan di abad pertengahan.
Dari sini saya mendapat benang merah bahwa apa yg terjadi pada abad pertengahan tersebut menjadi cikal bakal dari embrio awal gerakan sekulerisme. Sekulerisme atau pemisahan agama dari peraturan hidup manusia dimulai dari pemisahan ilmu pengetahuan dari doktrin2 gereja. Hal tersebut terjadi karena sejak awal doktrin gereja bertabrakan dan tidak mampu mengambil berbagai hasil dari penelitian para ilmuwan. Kemudian karena reaksi gereja yg keras para ilmuwan akhirnya merasa jengah dan membenci gereja. Maka muncullah gerakan dualisme (sekulerisme) di Eropa yg memisahkan dogma2 agama (Kristen) dg berbagai hal yg menyangkut peraturan hidup manusia (politik, ekonomi, sosial, hingga ilmu pengetahuan). Imbasnya kemudian menjadi puncak ketika Revolusi Prancis terjadi ketika para ilmuwan bersama rakyat berhasil meruntuhkan kekuasaan raja dan gereja.
Mungkin ada yg patut digarisbawahi dari cerita film tersebut. Para ilmuwan sesungguhnya bukanlah orang2 murtad sebagaimana yg didoktrinkan oleh pihak gereja. Mereka adalah orang2 saleh yg mencoba menyatukan iptek dan doktrin2 kristen, ini semua sebagai bukti akan ketaatan mereka. Atau kalau menurut kesimpulan saya, bisa jadi para ilmuwan eropa melakukan ini semua karena berinteraksi dan merasa iri dg ilmuwan dari seberang negeri mereka yg mampu memadukan iptek dg doktrin2 agamanya. Siapa para ilmuwan dari negeri seberang tersebut?? Siapa lagi kalau bukan kaum Muslimin.
Pandangan Islam Tentang Ilmu Pengetahuan
Pada abad pertengahan ada salah satu ungkapan yg populer di tengah-tengah masyarakat Eropa. Ungkapan tersebut berbunyi “Lebih baik hidup di bawah sorban para Khalifah daripada mati di bawah topi sang Paus”. Dari sini jelas tergantung maksud bahwa betapa makmur dan adilnya kehidupan yg ada di bawah pemerintahan Islam (Khilafah) bahkan bagi orang2 non muslim. Sedangkan kehidupan di Eropa saat itu penuh dg kesengsaraan meskipun dipimpin oleh saudara seagama seaqidah.
Salah satu kebijakan Khalifah sebagai kepala negara adalah mencerdaskan umat yg dipimpinnya. Sejak Khalifah pertama, yaitu Rasulullah Muhammad Saw hingga Khalifah2 pengganti beliau berikutnya tetap menjalankan program ini dg baik. Terbukti Kekhilafan Islam mampu menjadi mercusuar ilmu hanya dalam waktu 100 tahun sejak era Rasulullah hingga zaman Khalifah Harun Arrasyid. Ratusan hingga ribuan universitas, sekolah2, perpustakaan umum, laboratorium dan rumah sakit, dan observatorium bintang dibangun dan dibuka secara gratis mulai dari Granada, Fez, Kairo, Baghdad, hingga Bukhara, Delhi, sampai Sarajevo. Belum lagi ribuan percetakan buku yg setiap hari mencetak jutaan buku yg dg murah bahkan gratis untuk dikonsumsi oleh masyarakat di Daulah Khilafah pada waktu itu.
Kebijakan ini sejalan dg aturan Islam yg mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu seluas-luasnya, mulai dari buaian ibu hingga ke tepian liang lahat. Rasulullah bahkan menyarankan umatnya untuk mencari ilmu hingga negeri Cina. Dan ini semua ditegaskan melalui ayat pertama Al Qur’an yg turun kepada Rasulullah yg memuat perintah “membaca” yg juga bisa diartikan sebagai tuntutan untuk menuntut ilmu.
Ajaran Islam sendiri berbeda dg ajaran Nasrani dan Yahudi terutama dalam memandang ilmu pengetahuan. Isi Al Qur’an dipenuhi berbagai fenomena2 ilmu pengetahuan yg menuntut kaum muslimin untuk menelitinya. Al Qur’an menjelaskan kondisi janin di dalam rahim jauh sebelum ahli2 kedokteran memahami hal tersebut. Al Qur’an juga menjelaskan fenomena Supernova ribuan tahun sebelum Hubble Space Telescope milik NASA menangkap salah satu Supernova di pojok jagad raya yg memiliki bentuk bunga mawar (persis yg digambarkan oleh Al Qur’an). Bahkan Allah Swt di dalam Al Qur’an menantang manusia (dan jin) untuk mengarungi angkasa (surat Ar Rahman).
Implikasinya adalah munculnya berbagai cabang ilmu dan penemuan2 baru yg dikembangkan oleh kaum muslimin. Cabang2 ilmu baru inilah yg berabad-abad kemudian mencerahkan manusia baik di Barat maupun di Timur. Uniknya, ilmu2 yg dikembangkan oleh kaum muslimin selalu bermuara kepada ajaran2 Islam.
Roger Geraudy, seorang ahli sejarah sekaligus orientalis Prancis menyatakan bahwa ilmu Matematika yg dikembangkan oleh kaum muslimin dan melambungkan nama besar seperti Al Khawarizmi sebenarnya memiliki hubungan dg ilmu Tauhid. Ini terbukti dg penemuan angka 0 (nol) atau shifr (dlm bhs. Arab yg artinya kosong). Imam Abu Hanifah menjelaskan makna angka nol dan hubungannya dg Allah Swt dg melakukan penyebutan terbalik dari angka2 Arab, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, 0. Angka satu melambangkan Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Esa sekaligus yg Maha Pertama. Sebelum Allah adalah kosong atau shifr. Dan ini menjadi bukti pertama Allah Swt sebagai The Ultimate Reality atau Wajibul Wujud. Ini baru contoh dari satu cabang ilmu saja yaitu matematika. Ilmu2 lainnya seperti kedokteran, kimia, fisika, geografi, sosiologi, ekonomi, hingga ilmu arsitektur juga memiliki muara yg sama (tsaqofah Islam). Dari sini dapat diambil catatan bahwa Islam telah mengintegrasikan ajaran2 agamanya ke dalam semua cabang ilmu. Islam tidak melakukan pemisahan ilmu pengetahuan dg ilmu2 teologi (ilmu2 agama), bahkan Islam tidak melakukan dikotomi IPA-IPS. Ini juga menjadi bukti bahwa ajaran2 Islam mampu diterima oleh manusia kapanpun dan dimanapun ia berada (masuk akal, menentramkan hati, dan sesuai dg fitrah manusia).
Dari sinilah kemudian peradaban Islam melahirkan para ilmuwan2 (yg akrab disebut sebagai Ulama) yg memiliki keahlian dan kapabilitas multi cabang ilmu (Polymath). Ibnu Sina selain dikenal sebagai Dokter juga sekaligus ahli Fiqh. Ibnu Rusyd penemu teori lensa dalam bidang Fisika memiliki kitab Bidayatul Mujtahid (yg masih dipelajari di pondok pesantren) yg mengupas Fiqh perdata. Imam Syafi’I selain dikenal sebagai ahli Fiqh juga dikenal sebagai ahli Bahasa. Imam Abu Hanifah juga dikenal sebagai Matematikawan dan Ahli Arsitektur. Muhammad Al Fatih, selain dikenal sebagai Jenderal dan ahli Pemerintahan juga dikenal sebagai Polygloth (Ahli Bahasa) selain itu beliau juga dikenal sebagai ahli Fisika Balistik yg penemuannya adalah meriam yg disebut dg Mohammed Great Gun, meriam mobile andalan Turki Utsmani. Ibnu Taimiyah, ulama besar bidang Fiqh sekaligus ahli Ekonomi (yg teorinya konon dicontek Adam Smith) sekaligus Jenderal. Bahkan Jabir ibn Hayyan, Kimiawan muslim terkemuka penemu air raksa belajar ilmu Kimia kepada Imam Malik salah satu imam mazhab terkemuka. Ini baru beberapa nama yg cukup terkemuka, konon di belakang nama2 tersebut masih ada ribuan bahkan jutaan nama yg memiliki andil pada era pencerahan di Eropa dan berkembangnya ilmu pengetahuan saat ini.
Wajah Dunia Islam Hari Ini
Apabila kita longokkan pandangan kita pada dunia Islam hari ini sungguh terjadi sesuatu yg kontras. Kondisi kaum muslimin berbanding terbalik dg apa yg terjadi pada era keemasan Islam. Generasi Islam hari ini bisa disebut sebagai generasi bingung. Cukuplah kita melihat ilustrasi di bawah ini.
Konon seorang anak SMP bingung ketika ditanya bapaknya perihal berasal darimana manusia. Mau menjawab Nabi Adam, si anak teringat guru biologinya yg ngutip pendapat Darwin bahwa manusia berasal dari kera. Tapi mau dijawab berasal dari kera, si anak ingat pelajaran Agama Islam yg menyatakan bahwa manusia berasal dari Nabi Adam A.S.
Ini merupakan salah satu contoh kecil betapa bingungnya kaum muslimin dalam menyikapi ilmu pengetahuan. Dikotomi IPA-IPS plus pelajaran Agama muncul di dunia pendidikan di negeri2 kaum muslimin hari ini. Kondisi ini seakan2 dianggap sebagai suatu kondisi yg normal, padahal dibalik kondisi ini tercipta bom waktu yg dampaknya suatu saat akan meledak. Kondisi ini konon tercipta paska penjajahan barat di negeri2 kaum muslimin. Para penjajah menanamkan pola berpikir yg sama dg pola pikir mereka di tengah2 kaum muslimin. Pola berpikir tersebut adalah pola pikir dualisme yg memisahkan agama dari kehidupan termasuk pada ilmu pengetahuan (sekulerisme).
Kondisi ini jelas akan melahirkan ilmuwan2 yg jauh dari nilai2 agama (bahkan mengingkari ajaran agamanya) dan ahli2 agama yg tidak paham masalah kemanusiaan. Yg terjadi adalah kerancuan dan kebingungan di tengah masyarakat, para ilmuwan dan intelektual dilarang bicara menyangkut agama dan para ulama dilarang membicarakan hal2 yg menyangkut urusan dunia. Yg terjadi adalah Islam terpasung di masjid2 dan mushola2, sedangkan urusan dunia (politik, ekonomi, pendidikan, hingga ilmu pengetahuan) karena jauh dari nilai2 Islam justru malah membawa mudharat atau keburukan serta menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah Swt. Dan langkah mundur pun diperagakan kaum muslimin.
Syaikh Ali Hasan An Nadwi, ulama besar India pernah menyatakan “bahwa peradaban Barat (Kristen) bisa maju ketika mereka membuang kitab suci (Bible) mereka, sedangkan peradaban Islam akan mundur ketika kaum muslimin membuang Al Qur’an”. Kondisi yg terjadi di tengah2 kaum muslimin saat ini terjadi karena kita membuang nilai2 ajaran Al Qur’an dan mencampakkan aturan2 yg ada di dalamnya. Kita hanya cukup bangga menjadikan Al Qur’an sebagai hiasan dan bacaan2 yg menyentuh hati. Akan tetapi ketika kita beraktivitas justru panduan kita bukan Allah Swt dan Rasulullah tapi Adam Smith, Karl Marx, John Maynard Keyness, Paulo Freire, Charles Darwin, dan para ahli dari Barat lainnya. Oleh karena itu kalau kita ingin kembali merasakan era Imam Syafi’I, Imam Al Bukhari, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, atau Muhammad Al Fatih mari kita buang jauh2 sekulerisme kamudian kita ambil kembali Al Qur’an, pelajari, dihayati, diamalkan seluruhnya, dan disampaikan ke tengah masyarakat, agar masyarakat sadar dan membuang sistem busuk yg saat ini melanda masyarakat.

One thought on “Dualisme

  1. Jadi inget ma tulisanQ yg dBlog FS Q..he2
    Iyak, kemaren di tipi sempet liat brita tentang ne pelm..Agak beda ma pelm&buku sebelumnya yg “The Da Vinci Code” ygf bener2 ditanggepin srius&kepala panas, pihak yg kontra ma karya2 Dan Brown kale ne gak telalu nanggepin, alasannya moga kalo the less attention they give it, the quicker it will go away..hi3
    Pengen liat pelmnya juga;'(
    tapi ntar ja nunggu kl dWarnet2 dah da, tinggal ngopi aja deh drpd ke bioskop (lagian aneh juga X y, kalo akhwt2 kBioskop)
    Kalo da yg gratis, ngapain bayar (Eh, kWarnet juga byar ding..)
    Ralat:kalo ada yg murah ngapain harus mahal? (kok jadi kayak slogan merk anti nyamuk semprot!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s