The Little Azzam

By: ‘Adnia

Tidak butuh Palestina untuk menyadarkan ukhuwah Islam….

Si Azzam, tiba-tiba nyeloteh setelah aku bilang:
“Azzam dengerin ammah, jus wortelnya ini gak baik buat Azzam, ntar perut Azzam jadi sakit, kan Azzam habis sakit cacingan..”

“mimik”, kata Azzam sambil tetap menunjuk gelas yg ku pegang.
“ini dingin, pake es. Kata ummi, Azzam habis pilek. Jadi, mending minum air biasa. Mau? Ntar ammah ambilin…”
“mimik”, kata Azzam lagi, kali ini dengan wajah sedikit cemberut.

Ku coba jelaskan lagi tentang sakit perut Azzam dan hubungannya sama jus wortel. Kau tahu reaksi Azzam? Dia manggut, trus nunjuk gallon aqua punyaku dan bilang. “mimik, itu”.

Subhanallah..
Plong rasanya hati ini, bukan karena ikhtiar yg kutujukan pada Azzam, tapi karena dongkol hatiku, yg korbannya korban sistem ini, perlahan hilang.

Nggak jelas sejak kapan pergerakan Islam mulai bergerak dan mengalami ujian ini, dimana idealisme, human nature, dan berbagai perhiasan dunia benar-benar terbentur, kemudian menjadi ujian terberat, bagi seorang kapten pergerakan pun.

Tidak asing untuk seseorang yg biasa terikat norma, malah berbenturan dg peraturan yg benar, yg seharusnya digunakan, dan yg memang sudah ada, ataupun sebaliknya. Tapi apa yg terjadi ketika geliat profesionalisme menghantui niqo’ disetiap aktifitas yg seharusnya terhampar lautan gerak dg kapal ar-ruh di sana. Itu tidak seharusnya!

Bukan mencela, tapi hanya sedikit kritik yg menggelitik telinga kepada sang kapten yg ternyata, ketika langsung saja, atau to the point, jrepp!!! Malah membuatnya mematikan langkahnya.

Kurang tahu juga sudah sampai mana dia mengkaji sang shahih, Islam, yg bahasanya dan nama2 perawinya biasa dia kirimkan dg sinyal2 berlabel yahudi yg menghantarkan gelombang nau’ berlabel riayah, yg tidak hanya tertangkap sebagai message di HP, tapi juga firasat penasaran dari hati banyak akhwat yg dikiriminya, terutama aku.

Korban sistem kali ya??!!!

Tidak butuh facebook untuk menyimpangkan pergaulan kaum muslim.

Cukup rasanya gemetar yg tidak kentara dari luar badan menyerang bagian dalam badan, masuk ke syaraf yg aku tidak tahu namanya, lalu menggertakkan tulang2 dalam lapisan badan.
Aku bodoh. Dia juga. Orang2 yg kami bodohi apalagi. Negeri yg untuknya kami bergerak dg bodoh, apalagi!

Bukan menyalahkan, tapi Cuma BUTUH berteriak dg keras, atas nama korban sistem yg harga diri ke-akhwatannya sudah diinjak-injak oleh nau’-nya sendiri, nau’ yg mata demi matanya sudah dibutakan oleh tersangka yg selama ini dipanggil dg sebutan ‘sistem’, yg nama kakaknya adalah ‘peradaban’, ibunya adalah ‘perubahan’. Yang kita menyebut otaknya dg ‘kapitalisme’, si rakus pemakan dunia; kedua telanjang dadanya dg ‘kebebasan’; tangan kanannya dg ‘demokrasi’-demokrasi liberal, kerakyatan, pancasila, kebebasan, dan apapunlah nama sodara-sodaranya!; tangan kirinya dg ‘moderat-pragmatis-ashobiyah’, tiga serangkai yg tak pernah hilang digempur jaman (malah kuat kali..); juga kaki-kaki yg lebih pantas kusebut dg umala’-umala’, missionaries busuk yg ikhlas menopang pergerakan seluruh badan itu.

Sakit,
Kapten pergerakan yg pastinya juga korban sistem.
Melelang alamatku dg sejumput kata pada pesan singkatnya lewat sinyal berlogo yahudi ke HP-ku…

Lebih sakit,
Karena setelah kujelaskan tolakan ‘lelang’ darinya olehku, dia berhenti tanpa feedback atas lubang paku yg ditancapkannya, dan dicabutnya kembali dari hatiku.

Subhanallah…
Azzam kecil ini telah menyelamatkanku. Azzam atas pergerakan yg meski berdarah, bahkan haus darah, masih kuperjuangkan meski tak kentara dan hanya kecil saja…
Juga Azzam kecil dan jus wortelku yg ingatkanku atas manisnya wortel ini bila kunikmati bersama anakku nanti, mujahid-mujahidah yg kuperjuangkan dg perbaikan syakhsiyah dan penolakan ‘lelang’ alamatoleh si kapten pergerakan,
MAHIRu no tsuki,
Rembulan di siang bolong,
Yang telah membuatku berAzzam, meski kecil.

Dan cukuplah kecil.
Dan harus hilang, untuk digantikan oleh yg lebih capable menjadi seorang abi, untuk anakku nantinya,
sang Mujahid-mujahidah Allah.

3 thoughts on “The Little Azzam

  1. saya udah baca tlsan ntm ini. gak ada masalah pada bahasanya. cuma saya bingung, tlsan ntm ini cerpen ato artikel. klo cerpen kok kesannya ngritik banget. klo artikel kok penuh bahasa indah. saya kira ntm harus memperjelas model penlsan ntm.
    klo berkaitan antara beda tlisan sastra (cerpen, puisi, dsb) dan tulisan politik (artikel, jurnal, dsb) bisa dilihat di kitab refresing pemikiran Islam. klo pengen lebih mempelajari sastra (terutama cerpen) ntm bisa tanya ke mbak Ria Fariana (syabah anggota FLP Surabaya yg kumpulan cerpennya pernah diterbitin GIP) atau tanya mbak Yuyun, istrinya ust.Fauzi. klo sy cuma pernah bikin satu cerpen doang (yg judulnya “kisah bocah yg menggenggam batu” di blog ini).
    klo artikel politik sy sarankan gak cukup liat blog ini. ntm bisa liat blog mas Divan, sonicfist, atau OpenmindMinimagz. jga bisa liat sitenya HTI, tlisan ust. Adian Husaini di Hidayatullah, atau ust. Ihsan Tanjung di Eramuslim.
    di awal tulisan sy melihat ntm pnya kelebihan utk bs menulis cerpen dan artikel politik sekaligus plus bisa menterjemahkan artikel dari luar negeri (seperti tmn2 HI Unair yg nerjemahin artikel, booklet, jurnal, dan kitab2 temen2 HT Britain)
    tips sy; tetep semangat halaqoh plus melakukan dirosah fardiyah kitab2 yg ditabanni hizb, jga memperkaya pengetahuan dg membaca banyak buku.insya Allah klo diniatin pasti jago nulis.
    af1 gini dulu koment dari saya.

  2. wah saya blum ngumpulin tugas nih…
    oh iya
    ehm..ehm..watuk watuk…duh mau nulis kok keselek kodok terus toh mas?
    semangat tuk skripsinya trussss..
    lalu…
    kemudian…
    ah lagi2 mas fajar ngerti jalan pikiran saya…
    gak jadi deh..
    watuk watuk…

    bip bip bye…waslm.
    Aww, gak..guk..gak.guk..buruan di komix dech

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s