Berubah? Apanya yg berubah?

Memasuki tahun 2009, seluruh elemen masyarakat di negeri ini sedang bersiap menyambut hajat besar bernama Pemilu. Hajatan yang katanya pesta demokrasi ini akan berlangsung di tengah kondisi dimana dunia sedang diancam oleh “kiamat” yang bernama Krisis Ekonomi Global. Krisis yang berawal dari runtuhnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat kemudian menyebar dan mengancam ke seluruh negara-negara di dunia yang menggunakan kapitalisme sebagai elemen utama dalam kebijakan ekonomi negaranya. Krisis ini bahkan diperkirakan akan mengakibatkan dampak yang luas, lebih lama, dan lebih mengerikan daripada dampak krisis yang pernah melanda pada tahun 1997. dampaknya tidak hanya menghajar sektor ekonomi dan segala derivatnya, tapi menyebar ke segala bidang mulai dari politik hingga sosial kemasyarakatan.
Oleh karena itu wajar jika jauh-jauh hari banyak kalangan yang berharap akan terjadinya perubahan paska Pemilu 2009 ini. Pada Pemilu kali ini diharapkan muncul pemimpin baru yang mampu membawa perahu yang bernama Indonesia ini selamat dari badai krisis. Tapi sayangnya, tidak sedikit pula yang menganggap bahwa perubahan itu nonsense. Bahkan anggapan itu semakin dibuktikan dengan semakin apatisnya masyarakat dalam menyambut Pemilu. Golput yang menjadi pemenang di hampir seluruh Pilkada di daerah-daerah di Indonesia menjadi bukti bahwa terjadi krisis kepercayaan yang akut di tengah masyarakat.
Masyarakat menganggap bahwa Pemilu tak lebih hanyalah ajang cuci gudang yang dilakukan oleh Parpol dengan memajang barang lama dalam kemasan baru. Maka dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan yang lebih baik untuk negeri ini masih sangat jauh. Karena para aktor utamanya (baik para caleg maupun para capres dan cawapresnya) hanya menampilkan lagu-lagu lama yang hanya sedikit diaransemen ulang. Karena para aktor utamanya masih saja menyajikan sajian lama yang belum menyentuh akar permasalahan yang melanda negeri ini. Mereka masih saja berkutat pada solusi parsial seperti keadilan, kesejahteraan, pemberantasan korupsi, pemerataan ekonomi, sembako murah, dan solusi yang masih sangat umum, dan sangat jauh dari pokok masalah sebenarnya. Masih jauh dari pokok masalah mengapa negeri yang dikaruniai Allah Swt kekayaan yang sangat besar ini masih saja terpuruk. Masih jauh dari pokok masalah mengapa negeri muslim terbesar ini kondisinya tak lebih dari sosok berpenyakit akut yang terpojok, kumal, kotor, dan bermental budak.
Masalah utama negeri ini dan negeri-negeri muslim lainnya sebenarnya berasal dari dua masalah. Pertama, kapitalisme dan segala derivatnya seperti sekulerisme, demokrasi, liberalisme, hingga HAM yang masih saja dengan setia dianut dan diaplikasikan secara paksa di negeri-negeri muslim seperti Indonesia. Padahal sudah terbukti bahwa kapitalisme alih-alih membawa kesejahteraan tapi semakin menyeret negeri ini ke jurang kesengsaraan. Bahkan ditengarai bahwa kapitalisme tak lebih sebagai alat untuk melanggengkan hegemoni negeri-negeri penjajah seperti Amerika, Inggris, Prancis dalam mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim secara gratis. Kedua, masih bercokolnya pemimpin yang korup dan pengecut. Pemimpin yang demi kepentingan sesaat rela menggadaikan kepentingan seluruh rakyat. Pemimpin yang ketaqwaannya dan keimanannya justru tidak ditujukan kepada Allah Swt tapi kepada tuan-tuan besar yang bercokol di gedung-gedung mewah di Washington, New York, Brussel, London, Paris, hingga Tel Aviv. Pemimpin yang saat ini bermanis muka di depan kita tapi hanya satu hari paska Pemilu dia akan berbalik dan ngomong “emang gue pikirin”.
Maka dari itu dibutuhkan sebuah solusi yang fundamental, sebuah solusi yang menyentuh akar masalah. Dibutuhkan sebuah solusi yang radikal, yaitu membuang sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem yang sesuai dengan fitrah manusia, menentramkan akal, dan menenangkan hati. Yang pasti sistem itu bukanlah sistem sosialisme yang telah terbukti gagal dan runtuh bersama Uni Soviet. Sistem tersebut adalah sistem Islam yang telah terbukti selama lebih dari 14 abad mendatangkan kesejahteraan, keadilan, dan menjadi mercusuar bagi ilmu pengetahuan. Maka tidak ada lagi solusi kecuali menerapkan Islam secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah.
Oleh karena itu sudah saatnya partai politik terutama partai politik Islam mencontoh dakwah Rasulullah dalam mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem Islam pada revolusi Islam pertama di Madinah. Sudah saatnya partai politik melakukan pembelajaran politik Islam di tengah masyarakat, melakukan pembinaan agar terbentuk kader parpol yang berideologi Islam, dan melakukan perang pemikiran di tengah-tengah masyarakat, serta melakukan koreksi terhadap kebijakan penguasa, hingga akhirnya umat memberikan kepercayaan kepada partai untuk menegakkan sistem Syariah dan Khilafah. Dan itu semua dilandasi oleh ideologi Islam dan perjuangan tanpa kekerasan. Dan inilah sebenar-benarnya perubahan, perubahan hakiki dari sistem jahiliyah dan kufur berubah kepada sistem Islam yang diridhoi Allah Swt.
Maka apabila parpol, caleg, capres-cawapres peserta Pemilu kali ini tetap menyajikan solusi-solusi parsial seperti di atas, hingga air hujan mengalir ke atas pun tidak akan pernah dan tidak akan ada perubahan apapun. Karena apanya yang berubah? Penyakitnya tetap sama, tapi obatnya tak pernah ada. Wallahu’alam Bi Shawab.

Nur Fajarudin, Sekjen Fokus Institute Sidoarjo dan pengelola blog, burjo.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s