Kasus Terorisme;Stigmatisasi untuk mengerdilkan Islam?

pasukan antiterorMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Teroris adalah orang yang melakukan tindakan teror atau membuat orang lain ketakutan. Artinya siapapun dia, dari manapun, dan apapun golongan serta pekerjaanya, apabila ia menakut-nakuti dan melakukan ancaman dan membuat orang lain tidak tenang dan ketakutan maka terorislah ia.

Para wartawan media yg melakukan peliputan dg memaksa dan mengejar-ngejar obyek peliputannya hingga sang obyek ketakutan bisa disebut teroris. Pak polisi yg melakukan penyelidikan tapi membuat orang satu kampung gak tenang bisa juga disebut teroris. Juga jika sebuah penguasa yg seenaknya menaikkan harga BBM dan sembako dan bikin rakyat tidak tenang maka teroris pulalah penguasa tersebut.

Maka adalah suatu hal yg naïf  bila kemudian teroris hanya disematkan kepada mereka yg kebetulan memelihara jenggot di dagunya, yg memakai cadar pada kesehariannya, dan doyan pergi ke pengajian. Bila sosok seperti ini disebut teroris, maka sebutan apa yg pantas disematkan kepada pemimpin AS, Inggris, dan Israel yg berduet membantai kaum muslimin di Palestina, Iraq, dan Afganistan? Maka sebutan apa yg pantas disematkan kepada penguasa-penguasa negeri-negeri muslim yg sering diam saja dan membantu negeri-negeri kafir menghabisi kaum muslimin serta sering membikin susah kehidupan rakyatnya?

Terorisme Dalam Kamus Penguasa

Sastrawan besar India, Rabindranath Tagore pernah menyatakan, bahwa seorang tiran selalu mengklaim kebebasan demi membunuh kebebasan tersebut untuk dirinya sendiri. Dari sini dapat diartikan bahwa para penguasa tiran selalu meneriakkan kebebasan kepada rakyatnya, padahal kebebasan tersebut adalah nihil karena di mata penguasa kebebasan adalah hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan para penguasa tersebut dengan tega akan membunuh kebebasan yg sesungguhnya apabila kebebasan tersebut dirasa mempengaruhi kekuasaannya.

Dari pernyataan di atas maka kemudian dapat diambil kesimpulan bahwa di mata para penguasa tiran tidak ada kebenaran kecuali kebenaran yg telah ia klaim. Kebenaran di mata penguasa adalah apa yg ia katakan benar dan kesalahan di mata seorang tiran adalah apa yg ia katakan salah, tidak peduli “kebenaran” itu bertolak dg hukum-hukum Tuhan. Maka tidak salah bila kemudian para penguasa ini menjelma menjadi Fir’aun baru meskipun jaman sudah maju, ada internet, dan disebut era globalisasi.

Begitu pula dalam kasus terorisme yg sedang hangat saat ini. Penguasa dan segala anak buahnya seakan sepakat bahwa apa yg disebut teroris adalah apa yg ada dalam kamus mereka. Maka ketika sebuah bom meledak di sebuah hotel mewah di Jakarta yg kebetulan menjadi langganan turis asing, maka serta merta penguasa melakukan klaim bahwa ini (lagi-lagi?) pekerjaan Jamaah Islam. Aparat kepolisian langsung bergerak melakukan pengusutan terhadap orang-orang yg dituding terlibat JI. Media pun tidak mau kalah, mereka melakukan peliputan tentang masalah ini. Masalahnya sering kali media melakukan (secara sengaja karena didukung oleh negara) labelling atau pemberian cap kepada mereka yg ditengarai sebagai sosok-sosok teroris. Maka efeknya adalah lebih dahsyat dari bom itu sendiri. Karena masyarakat yg masih awam kemudian melakukan pengucilan terhadap sosok-sosok yg dianggap sebagai teroris dan ini disebabkan oleh pembunuhan karakter yg dilakukan oleh kolaborasi antara penguasa dan media massa.

Noam Chomsky menyebut kasus seperti ini sebagai newspeak, dimana media berperan melakukan “pemutarbalikan” fakta sehingga mengakibatkan pembaca mengalami gambaran yg terbalik dg fakta yg sebenarnya. Hasilnya kita bisa menyaksikan fenomena yg terjadi di tengah masyarakat paska bom Marriot II kemarin. Banyak remaja yg dilarang ngaji oleh orang tuanya, banyaknya kasus salah tangkap terhadap para dai dan ustadz di daerah-daerah pelosok di Indonesia, wacana pengawasan materi dakwah selama Ramadhan, hingga wacana pengawasan bagi mereka yg berjenggot, berjubah, berjilbab, dan bercadar. Efeknya jelas untuk menimbulkan kesan di masyarakat bahwa Islam adalah teroris dan teroris adalah kaum muslimin.

Kasus Terorisme; Upaya Untuk Mengerdilkan Islam

Paska perang dingin ketika Uni Sovyet dan ideologi komunismenya runtuh, maka Amerika Serikat dan sekutu Eropa Barat-nya melenggang menjadi pemenang perang. Paska perang dingin ideologi kapitalisme disebarkan secara massif ke seluruh dunia. Dunia harus dikapitalismekan, nilai-nilai kapitalisme (seperti demokrasi, liberalisme, globalisasi, hingga sekulerisme) harus menjadi panduan utama di seluruh pelosok bumi.

Akan tetapi upaya Barat ini membentur tembok besar yg membentang dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara, yaitu Islam dan kaum muslimin. Banyak kalangan ahli politik Barat seperti Fukuyama dan Huntington yg meramalkan bahwa paska kejatuhan komunisme maka lawan berikutnya bagi Barat adalah Islam. Islam dianggap lawan potensial oleh Barat karena nilai-nilainya dianut oleh lebih dari 1 miliar manusia di hampir tiga benua. Negeri-negeri muslim adalah kawasan yg sangat potensial karena merupakan kawasan yg sangat kaya sumber daya alam dan kawasan strategis bagi arus perdagangan internasional. Faktor-faktor ini akan semakin berpengaruh ketika kaum muslimin kembali menerapkan Syariat Islam secara Kaffah dan bahu-membahu membangun kembali persatuan Islam dalam satu naungan negara super bernama Daulah Khilafah yg merupakan satu kesatuan mandiri kekuatan Islam.

Atas dasar inilah kemudian Barat melakukan berbagai upaya untuk menahan laju kekuatan Islam. Mereka sadar apabila kekuatan Islam kembali kepada nilai-nilai di era keemasannya maka tidak ada kekuatan manapun yg mampu menandinginya. Apalagi Barat juga khawatir pada pergerakan Islam di dalam negerinya masing-masing yg tumbuh bak jamur di musim hujan. Islam telah menyebar sangat cepat di Amerika Utara dan Eropa Barat dan diramalkan di tahun-tahun mendatang akan menjadi mayoritas utama. Maka dari sini dibuatlah sebuah kampanye untuk mengerdilkan Islam. Kampanye tersebut berupa isu-isu terorisme yg digulirkan secara terus-menerus dg dana yg tidak sedikit. Maka tidak salah apabila ada yg menyebut perang terhadap terorisme layak disebut sebagai perang terhadap Islam.

Adapun tujuan perang terhadap terorisme ini dapat dibagi menjadi dua; yg pertama untuk masyarakat Barat dan yang kedua untuk masyarakat di negeri-negeri kaum muslimin. Tujuan pertama dari perang terhadap terorisme adalah upaya untuk meraih dukungan di Barat agar mereka membenci Islam. Gambaran tentang Islam yg dimunculkan pada saat perang salib pada abad pertengahan kembali digaungkan. Para promotor utama perang terhadap terorisme terus menerus menjejali publik di Barat tentang Islam yg dianggap sebagai agama yg primordial, fundamentalis, chauvinistis, sectarian, militant, dan disebarkan dg pedang. Harapannya adalah masyarakat di Barat semakin membenci dan menjauhi Islam serta mendukung perang terhadap terorisme.

Upaya ini bukan tanpa sebab. Barat sadar bahwa Islam kini telah menjelma menjadi agama terpesat pertumbuhannya di Barat. Konon masyarakat Barat mengalami guncangan spiritual parah. Di satu sisi  mereka semakin jenuh terhadap doktrin-doktrin agama mereka (Yahudi dan Kristen) tapi di sisi lain mereka juga haus akan siraman-siraman rohani. Dari sinilah banyak dari masyarakat Barat akhirnya memilih Islam yg mereka anggap mampu menjawab kegelisahan hati, sesuai fitrah, dan menentramkan akal mereka. Selain itu sejak digulirkan perang terhadap terorisme publik Barat justru semakin penasaran terhadap ajaran-ajaran Islam.

Selain hal di atas yg patut diperhatikan adalah pertumbuhan populasi kaum muslimin yg terus meningkat di seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara. Kaum muslimin saat ini berjumlah kurang lebih 50 juta di seluruh Eropa. 8,1% angka kelahiran di Prancis adalah muslim dan 1 dari 5 orang Prancis pasti beragama Islam. Di Belanda 25% penduduknya adalah muslim dan 50% kelahiran bayi berikutnya dipastikan muslim. Sedangkan di Rusia ada sekitar 23 juta kaum muslimin dan tahun-tahun mendatang 40% tentara Rusia beragama Islam. Pertumbuhan kaum muslimin di seluruh Eropa saat ini adalah 90%. Sedangkan di AS pada tahun 1970 hanya ada sekitar 100.000 kaum muslimin, sekarang jumlahnya membengkak menjadi 9 juta kaum muslimin. Oleh karena itu apabila mengacu pada hasil statistik ini diperkirakan pada tahun 2050 Eropa Barat dan Amerika Utara akan menjadi benua Islam berikutnya setelah kawasan Afrika Utara dan Barat Daya, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Atas dasar inilah perang terhadap terorisme terus digencarkan di dalam negeri mereka masing-masing. Karena apabila tidak segera dilakukan maka nasib para penguasa di Barat tak ubahnya nasib imperium Majapahit yg pernah menguasai Nusantara. Ketika dakwah Islam semakin gencar dilaksanakan oleh para Wali Songo, maka hampir sebagian besar penduduk Majapahit telah memeluk agama Islam. Mulai dari pesisir utara Jawa, pulau Madura, hingga ke pelosok-pelosok seperti di kawasan Jabalkat, Islam telah tersebar dan dianut mulai dari para Adipati, Demang, para Prajurit, dan sebagian besar rakyat jelata. Majapahit pun semakin menyempit hanya di kawasan sekitar kotapraja Trowulan dan ketika sistem lama ini semakin rapuh serta kehilangan legitimasi mayoritas sebagian kalangan memprediksikan bahwa tidak lama lagi Majapahit pasti runtuh. Dan tidak terlalu lama Majapahit akhirnya digantikan oleh Kesultanan Demak yg merupakan buah dari dakwah politis para Wali Songo.

Maka ketika dakwah dan pertumbuhan Islam semakin gencar di Barat, para penguasa di sana jelas sadar bahwa sistem mereka yg rapuh akan segera runtuh. Oleh karena itu mereka berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan Islam atau minimal menghambatnya untuk memperlambat kejatuhan mereka. Maka perang pun mereka kobarkan serta tidak peduli apatah perang tersebut akan memakan korban dari kalangan rakyat sendiri. Karena jelas mereka tidak rela lagu Ilir-ilir (lagu yg digubah Sunan Giri untuk mengingatkan penguasa Majapahit agar segera mengambil sistem Islam) dinyanyikan untuk mereka.

Sedangkan tujuan kedua, adalah tidak lain dan tidak bukan untuk mengokohkan hegemoni penjajahan negara-negara Barat atas negeri-negeri kaum muslimin. Karena sejak semula Barat tidak ingin negeri-negeri muslim yg kaya raya lepas dari genggaman mereka. Kekayaan alam dan posisi strategis negeri-negeri tersebut telah menjadi rahasia umum dan sejak lama menjadi incaran Barat. Indonesia misalnya awalnya diincar oleh Portugis, kemudian jatuh kepada Belanda hingga 350 tahun, kemudian paska kemerdekaan, negeri ini diintervensi oleh dua kekuatan yg saling bersaing yaitu Amerika dan Uni Soviet. Buntut perseteruan ini adalah kemenangan bagi pihak Amerika dg momen runtuhnya Orde Lama. Untuk mengomentari hal ini, Nixon (Presiden Amerika waktu itu) menyatakan bahwa Indonesia adalah hadiah terbesar di wilayah Asia Tenggara.

Sejak semula negeri-negeri kaum muslimin mulai dari Maroko hingga Indonesia telah dianugerahi oleh Allah Swt harta kekayaan yg melimpah. Cadangan energi (baik minyak maupun batubara) sebagian besar terdapat di negeri-negeri kaum muslimin. Cadangan emas dan perak hingga cadangan uranium terbesar terdapat di negeri-negeri kaum muslimin. Negeri-negeri kaum muslimin juga menyumbang hampir 80% cadangan pangan dunia. Selain itu negeri-negeri tersebut memiliki peran vital dalam alur perdagangan internasional karena memiliki selat Gibraltar, selat Bosporus, terusan Suez, laut Persia, dan selat Malaka yg merupakan jalur laut tersibuk di dunia.

Dan kondisi ini jelas membuat banyak pihak yg iri dan ingin menguasai. Akan tetapi butuh perjuangan yg keras untuk menaklukkan kaum muslimin. Barat telah lama mengobarkan perang panjang sejak perang salib, tetapi pedang tidak pernah membuat negeri-negeri kaum muslimin tunduk. Sejak era Shalahuddin, Qutz, Al Fatih, hingga Abdel Karim Al Khatabi di Maroko, Abdul Qadir di Aljazair, Omar Mochtar, Imam Shamil di Chechnya, sampai Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro membuktikan semakin keras usaha Barat memerangi kaum muslimin dg senjata maka semakin keras pula perjuangan kaum muslimin untuk melawan. Hingga suatu ketika Disraeli, Perdana Menteri Inggris membawa Al Qur’an ke gedung parlemen Inggris. Hanya dg menjauhkan benda ini dari kaum muslimin kita bisa mengalahkan mereka, begitu rekomendasi yg ia berikan kepada pemerintah Inggris.

Sejak itulah dimulailah serbuan intelektual dan politik untuk menjauhkan kaum muslimin dari nilai-nilai Islam yg murni. Para intelektual Barat dikirim ke seluruh negeri-negei muslim untuk melakukan program pengikisan nilai-nilai Islam dan cuci otak. Hasilnya kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin banyak yg secara tidak sengaja membuang banyak nilai-nilai Islam. Hasilnya nilai-nilai Islam yg tersisa di tengah kaum muslimin hari ini hanyalah nilai-nilai ritual, sedangkan untuk sosial, politik, hingga pemerintahan kaum muslimin justru banyak condong kepada Barat. Dan akibat dari kecondongan ini membuat kaum muslimin yg ada di negeri-negeri kaum muslimin menjadi inferior, merasa terjajah, dan bermental budak di hadapan negeri-negeri Barat. Akibatnya mereka dg mudah menggadaikan negeri mereka, saudara mereka, hingga aqidah mereka dg murah (bahkan gratis) kepada Barat.

Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya kaum muslimin mulai sadar bahwa selama ini telah terjadi pendangkalan aqidah dan agama Islam di sekitar mereka. kaum muslimin sudah mulai tidak percaya lagi kepada para intelektual yg condong kepada Barat. Mereka juga mulai sadar bahwa penguasa mereka tidak lebih daripada penghianat dan merupakan “budak” Barat. Atas kesadaran ini kaum muslimin kemudian berusaha sekuat tenaga agar dapat lepas dari penjajahan Barat dan usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk usaha yg sungguh-sungguh untuk kembali kepada Islam, menerapkan Syariat Islam secara kaffah, mengkampanyekan persatuan Islam dalam bentuk menegakkan kembali Daulah Khilafah Islamiyah.

Perkembangan ini jelas membuat panik para penguasa Barat dan para anteknya. Maka digulirkanlah perang terhadap Terorisme yg secara massif di seluruh negeri-negeri kaum muslimin. Tujuannya selain untuk memberangus setiap usaha perjuangan kaum muslimin agar lepas dari penjajahan Barat juga untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap para pejuang tersebut. Tujuan pembunuhan karakter ini adalah untuk menjauhkan para pejuang dari mayoritas massa kaum muslimin. Apabila mayoritas massa kaum muslimin termakan jebakan ini, maka agen-agen Barat dapat dg mudah melakukan adu domba diantara kaum muslimin. Maka terbentuklah kembali lingkaran setan yg terus-menerus di tengah-tengah kaum muslimin dan penjajah Barat tetap bercokol di negeri-negeri kaum muslimin sambil tersenyum melihat kaum muslimin bertarung sesama mereka.

Untuk Kita Renungkan

Kita semua sebagai kaum muslimin –kaum yg disebut oleh Al Qur’an sebagai sebaik-baik makhluk- tentu tidak ingin terus-menerus dipojokkan dan dijadikan kambing hitam. Kita juga tidak ingin apabila ada saudara kita yg dituduh, dihukum, difitnah, bahkan dibunuh secara semena-mena hanya karena mereka ingin menunjukkan “bahwa kami adalah kaum muslimin”. Oleh karena itu dibutuhkan kejernihan berfikir, kebersihan hati, dan sikap yg hati-hati dalam melihat kasus terorisme. Kita tidak boleh percaya begitu saja terhadap berita yg memojokkan kaum muslimin, kita juga tidak boleh su’udzon atau melakukan “hantam kromo” dalam menilai sesama saudara muslim, apalagi sampai terjebak dalam semangat-semangat di luar ajaran Islam (seperti nasionalisme, fanatik golongan, dsb) sebagai solusi masalah terorisme.

Diperlukan juga usaha untuk mempelajari Islam secara terus-menerus dan menyeluruh. Diperlukan usaha mempelajari Islam secara murni, jernih, dan cemerlang agar tidak terjebak kepada kutub-kutub ekstrim –liberalisme dan ekstrimisme atau ghuluw (berlebih-lebihan)-. Bagi kaum muslimin yg sudah tercerahkan pemikirannya dan sadar bahwa dirinya terjajah dan ingin berjuang mengembalikan Islam, ketahuilah bahwa perjuangan ini adalah perjuangan merubah pemikiran dan politik bukan perjuangan dg senjata dan peluru. Bagi kita yg telah tercerahkan, janganlah kita menjauhi masyarakat. Kita adalah bagian dari masyarakat, kita harus merasakan detak kehidupan mereka, dan berjuang bersama mereka dalam menegakkan Islam. Kita harus mampu menjadi akal, hati, mata, lisan, tangan, dan kaki masyarakat. Dan untuk ini semua maka bukan saatnya apabila kemudian kita memisahkan diri, jauh, dan membentuk komunitas sendiri di luar masyarakat.

Sedangkan bagi kaum muslimin yg belum –atau setengah- tercerahkan. Datangilah majelis-majelis ilmu dan jauhilah tempat-tempat maksiat. Datangi orang-orang alim diantara kita dan jauhilah orang fasik, munafik, dan dzalim. Kita semua berdoa kepada Allah Swt dg niat ikhlas dan sungguh-sungguh agar dipertemukan dan disatukan hati, pikiran, dan tubuh ini dg saudara-saudara kita yg lain yg mempunyai tekad berjuang dan menegakkan Islam.

Terakhir semoga ketika kita mengarungi zaman fitnah seperti ini kita kaum muslimin tidak hanya berani menyatakan “I’am Muslim not Terorist”, tapi juga tetap bangga dan menyatakan kepada dunia “Isyhadu Bi Anna Al Muslimuun – Saksikan Bahwa Kami Adalah Kaum Muslimin”.

One thought on “Kasus Terorisme;Stigmatisasi untuk mengerdilkan Islam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s