Kepribadian Kambing Betina

pacaran nih yeeRaditya Dika dan Qory telah menjadi buah bibir di seluruh Nusantara belakangan ini. Yang satu adalah blogger yang telah mengembangkan karirnya menjadi penulis naskah film, sedangkan yang satunya lagi baru saja terpilih sebagai Putri Indonesia 2009. Akan tetapi, yang menyedot perhatian banyak orang bukanlah karir mereka, melainkan cara mereka menjalaninya. Raditya menulis naskah untuk sebuah film yang diberi judul Menculik Miyabi, sedangkan Qory mengorbankan jilbabnya demi kompetisi.

Apa yang terjadi pada mereka, atau pilihan yang mereka buat, bukanlah sebuah gejala semalam. Pemikiran tidaklah dibangun secara tiba-tiba, melainkan dengan melalui beberapa tahapan fundamental. Apalagi jika seorang blogger memutuskan untuk mempromosikan seorang bintang film porno – baik itu tujuan utamanya atau tidak – dan seorang putri Aceh sampai memutuskan untuk menanggalkan identitas keislamannya, bahkan kemudian mengumumkannya di atas panggung. Sesuatu telah terjadi pada mereka, dan kita akan sangat rugi jika tidak menjadikannya sebagai bahan pemikiran, tentunya dengan menjadikan kontruksi pemikiran Islam sebagai pembandingnya.

Dualisme

Kedua kasus menunjukkan masalah dualisme yang sangat berat, sebagaimana kerap terjadi dalam peradaban Barat. Ust. Hamid Fahmi Zarkasyi telah menjelaskan fenomena ini dengan sangat menarik. Kepercayaan Zoroaster memandang dunia sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Orang Mesir kuno menjadikan Ra sebagai simbol kehidupan dan kebenaran, berlawanan dengan Apophis yang merupakan simbol kegelapan dan kejahatan. Mitologi Yunani juga selalu menampilkan pertarungan antara Zeus dengan para Titan. Jiwa dan raga dipandang sebagai dua hal yang terpisah.

Sebagai kritik atas dualisme, ada pula paham monisme. Zeus dan Titan ternyata berasal dari nenek moyang yang sama. Dalam kepercayaan Zoroaster, kebaikan inisbatkan kepada Ahura Mazda, sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahriman. Akan tetapi, keduanya adalah saudara kembar. Jiwa adalah pasangan raga, sedangkan keduanya adalah satu kesatuan. Akan tetapi, karena dominasi pemikiran sekuler yang mengobarkan arogansi akal tanpa wahyu, maka monisme tersingkir dan dualisme pun berkibar.

Masalah ini sebenarnya sudah terpecahkan oleh konsep tauhidullaah. Semuanya adalah ciptaan Allah SWT. Pendukung kebenaran dan kejahatan memang senantiasa bertarung, namun yang haq sudah dipastikan kemenangannya, sedangkan yang bathil sudah pasti akan kalah.

Seorang dualis, menurut ust. Hamid, memandang fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa dan raga tidak saling terkait karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci, atau akal selalu baik dan raga dianggap jahat. Kebenaran pun menjadi dua: obyektif dan subyektif. Di era post-modern, kebenaran bahkan ada yang absolut, ada pula yang relatif. Karena itu, manusia pun berandai-andai mengenai ‘pelacur berhati suci’, ‘penjahat yang santun’, ‘pahlawan yang mesum’, ‘ateis yang baik’ dan seterusnya. Dalam akhir uraiannya, ust. Hamid menjelaskan bahwa dualisme ini akhirnya menjadi semacam perselingkuhan intelektual. Hati ber-dzikir pada Allah SWT, tapi pikirannya menghujat-Nya.

Cara berpikir dualis juga yang telah digunakan oleh Raditya dan Qory dalam memilih jalan hidupnya. Raditya mengakui bahwa Miyabi telah menjalani hidupnya dengan sangat hina, namun kapasitasnya dalam film yang digarapnya hanya sebagai bintang film biasa. Karena itu, Miyabi dalam hal ini tak perlu diperlakukan seperti bintang film porno, melainkan sebagai bintang film biasa. Qory pun mengalami masalah yang sama ketika ia menganggap bahwa melepas jilbab – dengan ijin siapa pun, entah benar atau tidak – untuk memenangkan sebuah kontes kecantikan tidak membuatnya menjadi Muslimah yang buruk. Sebagaimana kaum dualis lainnya, Qory mengaku lebih mementingkan ‘menjilbabi hati’ daripada ‘menjilbabi kepala’, karena hati dan tubuh memang dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Raditya mengira bahwa Miyabi bisa menjadi bintang film porno yang tidak merusak, sedangkan Qory menyangka bahwa dirinya bisa menjadi Muslimah yang baik tanpa harus menutup auratnya.

Dalam Islam, dualisme semacam ini sama sekali tidak dikenal. Jika hatinya suci, maka tubuhnya pun harus secara rutin disucikan, bahkan hartanya pun ikut disucikan. Iman pada konsep tauhidullaah harus tercermin dalam perbuatan. Seorang pelaku kemaksiatan adalah pelaku kemaksiatan, selagi ia belum bertaubat. Bukan hanya yang membuat dan yang mengkonsumsi minuman keras yang mendapat dosa, tapi juga yang mempromosikannya, yang menjualnya, bahkan mereka yang bersikap seolah-olah hal itu tidak ada salahnya. Maka, yang berdosa bukan hanya yang membuat dan menonton film porno Miyabi, tapi juga yang membuat Miyabi dikenal luas, termasuk juga yang bertingkah seolah-olah gaya hidupnya itu dapat dibenarkan. Pemikiran Qory juga kontradiktif. Jika memang merasa bahwa rambutnya begitu indah, mengapa ia tidak mensyukurinya dengan menjalankan perintah Dia yang telah memberinya rambut indah?

Relativisme

Dalam kasus Raditya, penyakit relativisme sangat menonjol. Dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi swasta, ia mengatakan bahwa penolakan orang terhadap film Menculik Miyabi itu biasa-biasa saja, kurang lebih sama seperti ketidaksukaannya pada sinetron yang jalan ceritanya absurd. Alasan ini biasa digunakan oleh kaum relativis untuk menghindari perdebatan. Semuanya dianggap relatif, tergantung siapa yang menilai. Maka menolak bintang film porno pun dianggap sama bobotnya dengan menolak sinetron yang digarap dengan buruk.

Ketika Ahmadiyah didebat, relativisme menjadi ‘pintu daruratnya’. Kata mereka, dulu pun Rasulullah saw. dicela dan dicemooh orang, dituduh sebagai nabi palsu, tukang sihir, dan sebagainya. Karena sama-sama dicela, maka Ghulam Ahmad dianggap sebanding dengan Nabi Muhammad saw. Tapi mereka tak suka jika Ghulam Ahmad diperbandingkan dengan Hitler, padahal Hitler juga dicela. Mungkin sekarang Raditya dan Qory pun merasa bagai pahlawan, yang pada awal perjuangannya harus berdarah-darah, sebelum akhirnya mendapat bintang tanda jasa.

Tangga Kemaksiatan

Mereka yang hidup di alam nyata pasti menyadari bahwa kemaksiatan sebenarnya bekerja seperti anak-anak tangga; dosa yang satu mengantar pada dosa berikutnya yang lebih parah. Orang yang mengkonsumsi minuman keras biasanya tidak mengakhiri ‘petualangan maksiatnya’ di titik itu. Setelah mabuk, terjerumuslah ia pada dosa-dosa lainnya, misalnya zina. Satu-satunya cara untuk memutus tangga kemaksiatan ini adalah dengan bertaubat. Sekarang Qory telah merelakan sebagian auratnya demi gelar Putri Indonesia. Entah aurat yang mana lagi yang akan direlakannya untuk gelar Miss Universe.

Qory bukan Miyabi, namun tindakan Qory bisa jadi menciptakan Miyabi-Miyabi baru di kemudian hari. Jika agama dan aurat pun digadai untuk mendapatkan gelar Putri Indonesia – yang sebenarnya nyaris tak bermakna dan hanya berlaku setahun – maka dalam 10-20 tahun ke depan akan lebih banyak lagi yang dikorbankan. Jika sekarang Qory merelakan rambut dan beberapa bagian tubuhnya untuk menjadi konsumsi publik, maka bisa jadi di masa depan akan ada perempuan-perempuan Indonesia yang merelakan seluruh tubuhnya diperlihatkan dan dijamah siapa saja di depan kamera asalkan bayarannya cukup. Islam telah memperingatkan manusia agar menjaga dirinya supaya tidak menjadi pelopor dan inspirator dalam perbuatan dosa.

Kontroversi soal Miyabi yang ditimbulkan oleh Raditya juga telah memperlihatkan puncak gunung es yang selama ini belum terlihat. Sebelumnya, menonton film porno masih dianggap sebagai hal yang memalukan. Sekarang, ramai para artis mengaku dengan bangga bahwa dirinya juga kerap menikmati hasil kerja Miyabi. Seolah-olah dengan begitu mereka terhindar dari predikat munafiq. Padahal, melakukan dosa dan bersikap bangga dengan dosanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Jika yang pertama bisa memberatkan timbangan amal buruk di akhirat, maka yang kedua bisa melemparkan pelakunya dalam kekafiran.

Dulu, umat Islam takut menonton film porno. Kemudian film porno beredar di mana-mana, termasuk di tempat-tempat terbuka yang sudah pasti diketahui juga oleh polisi. Orang menonton film porno dengan sembunyi-sembunyi dan sendiri-sendiri. Kemudian yang menonton merasa terasing karena ‘kesendiriannya’, lalu ia mengajak teman-temannya, dan mereka pun menonton bersama. Setelah itu, yang tadinya dianggap memalukan kini malah dianggap lumrah. Kalau tidak menonton film porno, tidak dianggap laki-laki. Sekarang, akibat kontroversi Menculik Miyabi, orang tidak malu lagi mengaku sebagai penikmat film porno. Kalau bintang film porno pun diapresiasi, maka bintang-bintang panas lokal seperti Julia Perez, Kiki Fatmala, Sarah Azhari dan semacamnya akan ‘mendapat angin’, karena Miyabi jelas lebih bejat. Beberapa dasawarsa ke depan, Indonesia mungkin bukan lagi sekedar pasar besar untuk industri pornografi, melainkan juga produsennya. Sebenarnya hal ini sudah dirintis dengan menjamurnya teknologi ponsel yang memiliki kamera dan perekam video. Raditya dan Qory, baik mereka mengakuinya atau tidak, memiliki andil besar dalam meruntuhkan moral bangsa ini.

Boikot Sosial

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa judul artikel ini tidak menyebut-nyebut nama Miyabi. Kedatangan Miyabi ke Indonesia memang bukan inti permasalahannya. Tanpa sepengetahuan kita, bisa jadi telah banyak bintang film porno yang datang berkunjung ke tanah air. Banyak bintang Hollywood – yang moralitasnya juga diragukan – telah berkunjung ke Bali. Permasalahannya: mengapa seorang Muslim telah mempromosikan seorang bintang film porno, mengundangnya secara khusus ke tanah air, dan bersikap seolah-olah ia setuju atau tidak bermasalah dengan gaya hidupnya?

Mendemo Miyabi bisa jadi hanya buang-buang waktu saja, atau minimal tidak terlalu urgen untuk dilakukan. Kecil sekali kemungkinannya penolakan umat Islam Indonesia akan berpengaruh pada Miyabi yang masa lalunya sudah sangat kelam, apalagi Miyabi sendiri bukan seorang Muslimah. Kalaupun film Menculik Miyabi tidak jadi diproduksi, Miyabi takkan kekurangan order di industri yang telah dikuasainya. Kita juga tidak menemukan celah dalam hukum negeri ini untuk menolak kehadiran Miyabi di Indonesia.

Pandangan seharusnya dihadapkan pada Raditya dan Qory, karena kita punya kewajiban untuk menyuarakan kebenaran, karena mereka Muslim, dan karena kita punya kewajiban untuk mengembalikan keduanya pada jalan yang benar. Hemat saya, demonstrasi seharusnya diarahkan pada kedua tokoh ini. Oleh karena itu, demonstrasi tidak mesti digelar di bandara (tempat Miyabi disangka akan mendarat), tapi justru lebih tepat untuk dilaksanakan di depan rumah dan sekitar lingkungan tempat tinggal Raditya dan Qory, kampus tempat mereka kuliah, dan seterusnya. Mereka yang punya akses langsung untuk bergaul dengan mereka memiliki kewajiban lebih untuk memperlihatkan dengan gamblang ketidaksetujuannya sebagai seorang Muslim. Ini adalah kewajiban, bukan sekedar kebolehan. Tidak bersikap bukanlah sebuah pilihan. (Tulisan ini di rampok dari akmal.multiply.com oleh zonakosong, dan dicolong lagi oleh divansemesta.blogspot.com, dan diubah pula judulnya. Kemudian burjo.wordpress.com meminta ijin untuk bergabung dalam skandal ini)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s