Membumi

“Mahasiswa yg cerdas yg dididik oleh dosen-dosen yg hebat tidak akan berguna apabila tidak mengenal masyarakat”. (kutipan pidato dalam Upacara Wisuda ke 67 Unesa)

Al AzharSengaja saya mengutip salah satu pidato yg dibacakan pas wisuda saya beberapa waktu yg lalu. Terus terang kutipan pidato tersebut menjadi gambaran kondisi dunia mahasiswa hari ini. Beberapa hari menjelang hari-hari terakhir saya di kampus kebetulan saya main ke kampus. Waktu itu saya ditemani oleh Rosidi, kawan satu kelas saya yg udah lulus sekitar 2 tahun lalu. Kebetulan beliaunya juga lagi mengurus legalisir ijazah.

Sembari berjalan menuju kampus Rosidi banyak tanya-tanya ke saya soal kondisi kampus. “Bagaimana kabar pak Slamet, ndol?”, kata Rosidi menanyakan kabar tukang parkir kampus. “Baik-baik saja di. Malah beliau sering tanya-tanya kabar kamu.”, jawab saya (Rosidi suka memanggil saya ‘gundul’, gara-gara dulu saya sering banget potong rambut gaya plontos). Pak Slamet adalah tukang parkir kenalan baik kami. Dulu pas jaman kuliah (sebelum Rosidi dan teman-teman seangkatan pada lulus), saya dan Rosidi sering banget nongkrong sama beliau di parkiran. Dulu selain kuliah dan mengasa idealisme, kami sering banget jalan-jalan, nonton, main game di rumah Lukman (salah satu anggota geng kami), klo gak gitu nongkrong di parkiran atau pangkalan ojek di kampus sambil ngobrolin berbagai hal sama tukang parkir, satpam, tukang ojek, atau penjual batagor dan cimol yg mangkal disitu. Kami gak sok gengsi kayak teman-teman yg lain, lagipula dg ngobrol dg mereka kami jadi merasa dekat dan tau kondisi orang-orang yg dianggap ‘kecil’ tersebut.

Memang tidak ada salahnya apabila seorang mahasiswa bergaul dg kalangan rakyat kebanyakan. Sebagai generasi yg memiliki tingkat intelektualitas yg tinggi, ditunjang dg idealisme yg meluap-luap. Semoga para mahasiswa mampu menularkan ide-ide dan semangatnya kepada seluruh lapisan masyarakat. Justru ketika mahasiswa enggan bergaul dg masyarakat kebanyakan, maka apa bedanya para mahasiswa dg deskripsi para filsuf yg dikemukaan oleh Karl Marx, yaitu mereka yg kerjanya hanya berfikir tentang masalah dunia tetapi tidak mau merubah dunia.

Tentu bergaul di sini dalam sisi yg positif. Mendengarkan keluh-kesah, merasakan kehidupan nyata mereka, serta berbagi pelajaran hidup. Maka mulai sekarang kita tanggalkan segala rasa gengsi kita. Kita adalah mahasiswa, sebuah sosok berintelektualitas dan idealisme tinggi, bukan hanya sekedar pemuda sok gaul, tajir, tapi ‘bodohnya’ minta ampun seperti dalam gambaran sinetron dan film-film Indonesia. Kita adalah mahasiswa, sosok yg memimpin garda depan perubahan di dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s