Journey To The West

“Dibutuhkan Pengorbanan Dalam Meraih Kemenangan”, Optimus Prime dalam film Transformers.My Journey

Suatu hari seorang bocah dg takjub melihat kemegahan Jakarta. Ia takjub melihat jalan tol Cikampek yg kata bapaknya, sampingnya adalah Taman Safari. Ia kagum melihat jembatan layang Semanggi yg mengular. Dan ia lebih kagum lagi ketika melihat kemegahan Gelora Bung Karno (yg waktu itu namanya masih Stadion Utama Senayan), ia kagum melihat militansi ribuan supporter berseragam hijau-hijau yg datang ke Jakarta bersamaan dari Surabaya, ia takjub melihat para supporter memanjat atap GBK untuk memasang spanduk, ia kagum melihat ribuan supporter berteriak, bersorak, berjingkrak, dan kecewa (akhir cerita kekecewaan mereka dilampiaskan dg tawuran antar supporter karena ketika itu Persebaya Surabaya kalah 2-0 dr Persib Bandung di final kompetisi perserikatan). Itulah sekelumit pengalaman gw ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.

Pengalaman tersebut kembali terulang 17 tahun kemudian ketika gw dan teman-teman dari Sidoarjo harus ke Jakarta untuk mengikuti Kongres Mahasiswa Islam Indonesia. Acara ini sendiri akan diikuti sekitar 5000 peserta dari seluruh Indonesia (terbukti pas acara). Dan dilaksanakan di Hall Basket Istora Senayan (yg gara-gara gak diijinin aparat terpaksa acara tersebut dilaksanakan di halaman Hall Basket).

Tapi bukan disebut cerita apabila tidak ada kejadian menarik yg bisa dijadikan bahan cerita. Dan tidak ada sebuah kejadian bila tidak berhubungan dg pengorbanan. Ya seperti cerita gw berikut ini. Kebetulan sejak awal, kami rombongan Sidoarjo yg awalnya berjumlah 20 orang ikhwan hendak berangkat sendiri terpisah dari rombongan besar panitia KMII Jawa Timur. Bukan tanpa sebab kami hendak berangkat terpisah, sebabnya karena dana kami sejak awal udah cekak dan diperkirakan tidak mampu membayar uang perjalanan.

Ya udah kita niat bonek (bahkan kita mau bikin seragam dg tulisan “bonek Sidoarjo”) dg berangkat ke Jakarta naik angkutan umum berupa kereta api. Karena sejak awal dana kita udah cekak kita berencana naik kereta kelas ekonomi. Disepakati kita berangkat hari Jum’at (agar tidak telat mengikuti acara pada hari Ahad) dg kereta Gaya Baru Selatan melalui stasiun Gubeng turun di Jatinegara Sabtu siang. Dari Jatinegara kita akan dijemput oleh akhi Anas (yg sekarang kebetulan kuliah di LIPIA) untuk menuju rumah ust.Fauzan di Kalibata. Di Kalibata kita rencananya mau nginap sampe Senin. Hari Sabtu datang, Ahad ikut acara di Senayan, Senin sore kita balik ke Surabaya pake kereta yg sama dg waktu kita berangkat.

Kemudian muncul wacana baru. Agar tidak terlalu lama di Jakarta, muncul wacana klo kita pulangnya naik bus aja. Kita pulang langsung setelah acara selesai, biar hemat waktu, tenaga, sekaligus biaya. Tapi hingga H-9 wacana ini masih berupa rencana n belum final. Masalah kemudian menimpa gw. Kebetulan beberapa pekan sebelumnya gw mendaftar di Ma’had Aly Al Akbar untuk mengambil studi Ilmu Al Qur’an. Pas pas hari Selasa (H-5) gw  mencari info tentang kapan ujian masuk akan diadakan. Ternyata ujian masuk akan diadakan hari Sabtu. Mendengar info ini gw langsung putar otak. Karena apabila teman-teman berangkat hari Jum’at, maka terpaksa gw harus berangkat sendiri menyusul teman-teman pada hari Sabtu. Pilihan satu-satunya adalah gw harus naik kereta bisnis biar bisa sampe Jakarta tepat waktu (Ahad pagi). Karena tiket KA bisnis agak mahal (perkiraan sekitar 200 ribu) maka dg terpaksa gw sibuk cari dana talangan. Alhamdulillah gak pake lama gw dapat cairan dana sebesar 200 ribu dari seorang kawan baik. Ya udah berarti bila tiket KAnya 220 ribu tinggal mencari tambahan 20 ribu buat beli tiket KA Gumarang.

Tapi dasar rezeki kita gak ikut punya, sehari kemudian gw malah dapat tambahan 75 ribu dari kampus gw sebagai uang kompensasi pengembalian toga (maklum Sabtu sebelumnya gw ikutan wisuda). Dan rupanya keberuntungan masih menaungi gw, Kamis siang gw dapat tambahan modal dari abah sebesar 50 ribu. Tapi selain modal ada yg lebih menggembirakan gw. Kebetulan pas Selasa malam diadakan rapat terakhir menjelang keberangkatan. Seluruh rencana dijabarkan berikut sisi positif dan negatifnya serta perincian dana yg harus ditanggung. Akhir rapat diambil kesepakatan bahwa kita berangkat ke Jakarta hari Sabtu sore dg KA Gumarang. Tentu semua peserta menyambut gembira, lebih-lebih gw yg kemudian hanya tinggal membayar sisa uang iuran perjalanan sebesar 100 ribu. Usut punya usut ternyata semua proposal yg dibagi sama panitia untuk meminta bantuan dana di akhir minggu cair semua. Alhamdulillah.

Tapi kemudian timbul masalah baru. Sabtu pagi gw dan adik mengikuti ujian di Masjid Al Akbar Surabaya (sempet salam-salaman ama peserta KMII Surabaya yg kebetulan berangkat dari depan Masjid Al Akbar). Gw memprediksikan acara selesai pas siang, tapi pas baca jadwal ujian jantung gw terasa copot karena ternyata ujian dilaksanakan sampai jam 5 sore. Untungnya gw sempat pulang untuk ganti baju dan packing barang bawaan. Tapi sampai sini masalah belum selesai. Gw masih bingung gimana nanti sampai ke stasiun Pasar Turi. Telepon teman2 untuk minta jemput, mereka gak bisa. Mau minta anter bang Azri, bang Azri ada janji ama ust. Faqih di jam dan hari yg sama. Mau minta anter Romadon adik gw, gw gak tega sebab doi gak paham jalanan Surabaya n gak punya SIM. Waktu itu gw udah pasrah banget, sampe tiba2 pas gw ngobrol2 sama peserta ujian lain tiba2 beliau cerita soal rumahnya yg ada di Peneleh. Gw mikir ‘Peneleh kan dekat ama Pasar Turi’. Maka kemudian gw mencoba mengorek informasi pada bapak tersebut (yg belakangan gw tau namanya pak Iqbal) n nyoba nanya bisa nebeng gak ke Pasar Turi. Untungnya tuh bapak baik banget mau ngasih tumpangan ke Pasar Turi.

Tapi bukan berarti gw udah tenang. Terus terang aja gw agak khawatir waktu nebeng pak Iqbal. Bukan apa-apa sobat, tapi sebabnya karena motor pak Iqbal yg udah tua (afwan pak saya jadi gak enak waktu kasih komentar), gw takut terjadi apa2 ama tu motor pas di jalan. Tapi pak Iqbal tu orangnya top markotop, doi berdedikasi banget waktu membantu gw. Meski motornya (dlm istilah bang Azri) ubur-ubur tapi doi melarikannya dg kecepatan Rossi. Sampe akhirnya gw selamat dalam keadaan utuh di stasiun Pasar Turi. Setelah gw ngucapin terima kasih ama pak Iqbal, gw langsung tunggang langgang ke stasiun. Untung ketemu teman-teman dan yg lebih untung keretanya masih ada alias belum berangkat. Maka dimulailah petualangan kami ke Jakarta.

Jakarta aku datang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s