Republik Mafioso

Khotbah soal moral..capitalism_01

Ngomong keadilan..

Sarapan pagi ku….

Aksi tipu-tipu..

Lobi dan upeti..

Foya-foya…

(cuplikan lagu “Bento”, Iwan Fals)

Pada pekan-pekan ini ketika kita melihat, membaca, dan mendengarkan, serta menyimak berita baik lewat media cetak, televisi, radio, hingga internet maka kita akan disuguhi sebuah tayangan yg membuat kita mengelus dada. Para aparat penegak hukum yg menjadi tumpuan keadilan bagi masyarakat justru berselingkuh dg para penjahat dan mafia. Mereka bergulat satu sama lain untuk berencana dan membuat makar berupa tindak kejahatan. Masalahnya aksi mereka diketahui dan mendapat “restu” dari penguasa republik ini. Sedangkan partai politik yg tiap lima tahun sekali “unjuk gigi” di depan rakyat, hari ini justru ompong dan tidak berbuat apapun untuk rakyat. Mereka (para partai politik) seakan larut bahkan “ngantuk” dan kehilangan kekritisannya dalam menyikapi permasalahan. Mereka telah dibuat mabuk kekuasaan sehingga lupa akan janji-janji yg mereka bualkan di depan rakyat ketika kampanye.

Maka rakyat hari ini menyaksikan pertunjukan sirkus dimana para singa, harimau, beruang, dan gajah yg selama ini menjadi penguasa rimba justru sekarang tak ubahnya kerbau di depan para badut sirkus. Aksi sirkus ini ditutup dg aksi para anjing dan monyet sirkus yg menyajikan komedi yg membuat penonton tergelak dan sejenak melupakan penat. Para gajah, singa, harimau, dan beruang tak ubahnya para penguasa dan aparat-aparatnya yg tunduk kepada para penjahat kapiran dan para mafia bertopeng badut. Sedangkan partai-partai politik di negeri ini tak ubahnya para anjing dan monyet sirkus yg hanya mampu membuat dagelan politik lima tahunan bernama pemilu.

Maka para penjahat di republik ini tak ubahnya tokoh “Bento” dalam lagu Iwan Fals puluhan tahun lalu. Mereka lebih berkuasa di atas apapun, siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Maka berbagai UU, Perpu, KUHP, serta aneka macam rapat tidak artinya di depan para penjahat ini. Karena atas nama kuasa mereka segala macam hukum, undang-undang, dan segala macam tetek bengek di republik ini bisa mereka langgar. Maka tidak salah bila ketua FPI, Habib Rizieq Shihab dalam salah satu wawancaranya dg Hidayatullah menyatakan bahwa republik ini telah berubah menjadi Republik Mafioso, dimana para mafialah sesungguhnya penguasa sejati di negeri ini.

Oknum ataukah Sistem???

Pertanyaannya adalah apa akar masalah permasalahan ini; oknum yg jahat ataukah sistem yg buruk. Kalau kita berbicara masalah oknum, hampir dimanapun dan kapanpun para oknum birokrat selalu muncul. Berbagai upaya untuk menggulung para oknum ini telah banyak dilakukan di berbagai Negara. Berbagai model penanggulangan hukum juga telah dilakukan, mulai dari membentuk komisi independent, memberlakukan hukuman mati, reformasi di tubuh kejaksaan dan kepolisian, hingga people power. Tapi masalahnya mengapa para oknum ini masih terus bermunculan bak cendawan di musim penghujan. Dan khusus Indonesia masalah seperti ini sudah muncul sejak akhir pemerintahan Orde Lama, berkembang subur pada masa Orde Baru, dan seakan menemukan momen sejak era Reformasi sejak kasus penyerbuan kantor redaksi Tempo, kasus Artalyta, hingga yg terhangat drama Anggodo Widjojo. Aktornya terus berganti tapi plot ceritanya masih sama.

Maka tidak salah apabila ada sebagian kalangan yg menyatakan bahwa masalah mafia peradilan berawal dari sistem yg buruk. Longgarnya sistem hukum serta mudahnya mempermainkan pasal-pasal dalam undang-undang membuat orang dg mudahnya mempermainkan hukum. Selain itu sistem birokrasi yg rumit dg adanya banyak meja membuat orang berpikir untuk melakukan jalan pintas. Juga adanya sistem penggajian yg tidak layak membuat aparat dan birokrat mudah tergiur oleh hadiah dan suap.

Semua itu berwal dari sistem dasar yg saat ini (dg terpaksa) dianut oleh masyarakat, yaitu Sistem Kapitalisme. Kapitalisme dg aqidah dasarnya yaitu sekulerisme, menyebabkan masyarakat menganggap bahwa sebuah pekerjaan adalah untuk menghasilkan materi berupa uang dan harta bukan sebagai bagian dari ibadah. Hal ini telah merasuk pada diri masayarakat mulai dari massa akar rumput, kalangan professional, para birokrat di pemerintahan, hingga para aparat penegak hukum dan penguasa. Maka definisi kekuasaan yg selama ini adalah sebagai pengayom rakyat berubah menjadi bahwa kekuasaan adalah mesin uang. Mereka menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mengeruk materi sebanyak-banyaknya. Selain itu sekulerisme yg menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai ibadah menyebabkan memudarnya unsur halal haram di dalam setiap kegiatan masyarakat. Akibatnya masyarakat berlomba-lomba mngejar materi tanpa mempedulikan unsur halal haram tersebut. Perlombaan ini jelas menjadi bencana bagi seluruh masyarakat ketika seluruh unsurnya mulai dari bawah hingga penguasa mulai berjamaah dalam melakukan kejahatan dan meninggalkan aturan-aturan Tuhan.

Jelas Kapitalismelah yg menjadi sumber utama penyakit masyarakat. Bukan hanya menjadi bencana bagi negeri-negeri dunia ketiga (yg di dalamnya termasuk negeri-negeri kaum muslimin). Bahkan di negeri-negeri Barat seperti Amerika serikat, Inggris, dan negeri-negeri Eropa Barat yg notabene sebagai pencetus sekaligus pendakwah utama Kapitalisme, Kapitalisme telah menyebabkan terjadinya perselingkuhan antara penguasa, kekuatan militer, dan perusahaan-perusahaan besar yg salah satu akibatnya adalah krisis keuangan global, memicu peperangan di beberapa bagian dunia, hingga menimbulkan banyak masalah pada masyarakat di negeri-negeri tersebut seperti pengangguran, anarkisme, tuna wisma, hingga kelaparan.

Jejak perselingkuhan ini direkam dg apik oleh John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hitman. Disebutkan bahwa bagaimana perusahaan-perusahaan besar Amerika berkolaborasi dg pemerintahan dan militer Amerika bahu-membahu memiskinkan negara dunia ketiga. Lalu bagaimana kolaborasi ini bisa terjadi? Biasanya ketika seseorang atau partai ingin menjabat atau menduduki posisi tertentu di pemerintahan (Presiden, Senat, Anggota Dewan atau Parlemen, Menteri, Jaksa Agung, dsb) mereka biasanya mengeluarkan proposal untuk membiayai kampanye mereka. Proposal ini dikirim ke perusahaan-perusahaan maupun individu dalam masyarakat, harapannya mereka mau membantu membiayai kampanye orang atau partai tersebut. Akan tetapi terkadang tanpa diminta perusahaan-perusahaan atau individu-individu tertentu berani menyodorkan dana besar kepada calon-calon potensial atau kepada partai-partai besar yg memiliki peluang meraih jabatan di pemerintah. Bahkan terkadang bukan hanya terkait urusan jabatan, mereka (para perusahaan dan para individu tadi) bahkan berani menjalin hubungan dan membantu urusan keluarga dan pribadi para calon potensial dan para petinggi partai. Harapannya ketika mereka (calon potensial dan partai-partai) berkuasa maka urusan yg menyangkut perusahaan dan individu pemodal di anak emaskan oleh penguasa, maka mulai dari sinilah sebenarnya ujung pangkal lingkaran setan dan sekaligus awal terbentuknya Republik Mafioso itu terjadi dan semua itu dipicu oleh sistem Kapitalisme yg menjauhkan manusia dari Tuhan dan menjadikan manusia sebagai penyembah materi.

Maka usaha untuk memangkas kejahatan peradilan dan para mafia hukum adalah dg perjuangan mengganti sistem dasar yg selama ini bercokol di tengah masyarakat. Perjuangan itu tidak boleh bersifat reaksional akan tetapi harus terus menerus karena masyarakat harus terus diingatkan dan dipanaskan. Perjuangan tersebut juga bukan perjuangan reformasi yg hanya sekadar memreteli bagian-bagian tertentu yg rusak pada masyarakat, tapi harus bersifat revolusioner dan menyeluruh untuk mendongkel sistem rusak yg sudah berurat akar di masyarakat. Perjuangan tersebut tidak bersifat lokal akan tetapi harus global mengingat sistem rusak tersebut telah menjadi endemik hampir di seluruh penjuru dunia. Perjuangan tersebut juga bukan perjuangan bersenjata dan dg kekerasan tapi bersifat politik intelektual yg cerdas mengemukakan pendapat dan argumen di tengah-tengah masyarakat. Dan perjuangan tersebut bukan sekadar seruan moral yg minim solusi dan hanya bersifat history semata, tapi sebuah perjuangan ideologis yg melakukan perang pemikiran dan budaya kepada masyarakat. Oleh karena itu perjuangan ini membutuhkan ideologi pembanding yg harus memiliki nilai yg lebih baik, lebih murni, lebih manusiawi, dan lebih hebat dari Kapitalisme. Pertanyaannya ideologi apa yg mampu menumbangkan Kapitalisme? Jika Sosialisme telah mati, maka tidak ada lagi solusi ideologi alternatif selain Islam. Pertanyaannya, sudah siapkah kita mengemban ideologi Islam ketika melihat kebobrokan Kapitalisme sudah sedemikian rupa dan tidak bisa ditolerir lagi?? Kalau saya Insya Allah 100% Siap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s