Leo the African

Pantas apabila ada yg mendefinisikan sejarah sebagai tafsir sebuah peristiwa. Sejarah adalah tafsiran tentang sebuah peristiwa masa lampau. Maka sejarah tergantung kepada mata yg melihatnya, telinga yg mendengarnya, lisan yg mengisahkannya, dan pena yg menuliskannya. Maka sebuah peristiwa bisa berbeda tergantung kepada yg mengisahkannya dan bagaimana bentuk pegisahannya. Dan novel yg ada dihadapan anda ini layak untuk dijadikan sebagai salah satu tafsir tentang peristiwa masa lampau, terutama terkait sejarah panjang kaum muslimin.

Gw menemukan novel ini pada catalog yg dibagikan secara gratis oleh salah satu toko buku di Surabaya. Pas masa rilisnya, langsung aja gw cabut ke toko buku tersebut. Kebetulan tuh toko baru aja pindah tempat dan pas gw mampir tuh toko ternyata baru buka setelah seminggu libur karena pindahan. Gw langsung aja ngacir ke rak yg berisi novel dan langsung ketemu ama nih novel. Awalnya gw mau lihat2 dulu, tapi gak tau mengapa tiba2, tanpa perundingan, apalagi pembacaan manifesto, perut gw melakukan pemberontakan. Gw juga gak tau mengapa tiba2 perut gw sakit, perasaan dari kemarin lusa gw gak makan macem2, paling2 gelas, piring, karet ban, kawat berduri hingga kawat gigi, paku, palu, kikir, hingga mesin bubut (becanda bos he.he..he emang Limbad). Maka tanpa perlu lapor Amnesty International, Human Right Watch, atau PBB gw langsung ngacir mencari tempat pembuangan akhir untuk menuntaskan salah satu hajatul udhwiyah gw ini. Tapi sebelumnya gw samperin kasirnya, awalnya tu cewek kaget, masih pagi kok udah ada yg transaksi (belum tau dia). Maka gw jelasin keadaan gw, sekaligus bayar, sekaligus titip dulu soalnya gw mau ke belakang dulu, oya sebelumnya gw juga tanya wc di tempat tersebut ada di mana. Setelah ngobrol sebentar, gw langsung aja ngacir ke tempat yg ditunjukkan kasir sambil diiringi senyum ama pandangan tu kasir (yg pasti gak pake lambaian ala putri Indonesia). Sambil lari gw mikir, jangan2 tu kasir naksir gw (atau malah tertawain gw karena tingkah lucu tsb). Tapi biarpun lucu dan agak tragis yg pasti gara2 perut, gw tercatat dalam sejarah toko buku tersebut sebagai transaksi pertama di toko barunya (sok banget kan gw).

Novel ini sendiri berkisah tentang kehidupan Hassan Al Wazzan, seorang petualang, penulis, ahli geografi, duta besar, dan ilmuwan besar dunia Islam abad ke-16. Ketokohannya dapat disejajarkan dg petualang besar Ibn Battuta dan Ibn Khaldun. Orang Eropa menyebutnya sebagai “the Rennaissance Man” atas jasa-jasanya atas pencerahan ilmu pengetahuan di Eropa. Perlu diketahui Hassan atau yg di Eropa dikenal sebagai Leo Africanus pernah menjadi duta besar Kepausan dan mengajar di Universitas Bologna, universitas yg berdiri pertama kali di Eropa.

Kisah dalam novel ini terbagi menjadi 4 bab, yg masing2 bab mengambil nama kota tempat Hassan Al Wazzan tinggal. Bab pertama berjudul Granada, kota kelahiran Hassan Al Wazzan. Kisahnya dimulai dari ketika Hassan lahir hingga masa kanak-kanaknya yg tragis karena harus mengungsi meninggalkan kota tersebut ke Afrika Utara bersama orang tuanya. Granada adalah salah satu pusat pemerintahan muslim terakhir di Andalusia atau Spanyol yg terkenal akan bangunan istananya yg indah bernama Alhambra. Pada novel ini dikisahkan bagaimana keadaan Granada di masa-masa akhir pemerintahan Islam di sana hingga penyerahan kota tersebut kepada pemerintahan kerajaan Castilia yg beragama Nasrani yg menandai akhir dari peradaban Islam di Spanyol. Keadaan tersebut semakin buruk akibat diterapkannya Inquisisi atau pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslimin dan Yahudi. Kisah kemudian berlanjut ke kota Fez, dimana Hassan mengalami masa remaja. Dikisahkan bagaimana Hassan belajar di universitas tertua di dunia, Al Qarawiyyin hingga mengasah kemampuan diplomasinya ketika menemani pamannya menjadi duta besar untuk Sultan Askia Muhammad Toure, penguasa Kesultanan Gao di Timbuktu. Di Fez pula Hassan mulai berumah tangga, menjadi pengelola rumah sakit, dan menjadi pedagang yg sukses, namun di Fez pula Hassan harus menerima kenyataan pahit, istri tercintanya meninggal, dan karena berselisih dg penguasa ia harus meninggalkan kota yg membesarkannya tersebut. Kemudian petualangan Hassan berlanjut ke salah satu ibu kota Islam, Kairo. Kairo pada era tersebut adalah ibu kota Kekhalifahan Bani Abbasiyah paska kehancuran ibu kota Baghdad akibat serbuan Hulagu Khan dan balatentara Mongol-Tatar. Di kota ini Hassan bertemu dg seorang wanita yg menyeretnya dalam skandal antara Bani Abbasiyah dan Kesultanan Utsmaniyah. Setelah kehidupannya yg menegangkan dan singkat di Kairo, Hassan terdampar ke pusat agama Nasrani di Roma. Setelah pulang menunaikan ibadah haji, Hassan ditangkap oleh bajak laut anggota Knight of St. John dan dipersembahkan kepada Paus Leo X. Rupanya kedatangan Hassan telah ditunggu-tunggu oleh sang Paus. Sekali lagi Hassan harus berada di tengah-tengah pusaran konflik segitiga antara Kerajaan Spanyol-Tahta Suci Paus-Kesultanan Utsmaniyah. Bagaimana nasib Hassan selanjutnya? Pembaca mungkin dapat mengambil kesimpulan sendiri setelah membaca novel setebal 605 halaman ini.

Novel ini menawarkan sebuah kisah yg berbeda bagi pembacanya. Ia seakan menjelma menjadi lorong waktu yg membawa pembacanya menjelajahi kawasan Laut Tengah pada abad pertengahan. Novel ini mampu mengajak kita melihat peristiwa runtuhnya perdaban Islam di Spanyol, kebakaran di Timbuktu, masa peralihan dari Kekhalifahan Bani Abbassiyah di Mesir ke era Kekhalifahan Turki Utsmani dg Istanbul sebagai pusat pemerintahannya, hingga kerusuhan yg terjadi di kota Roma. Sebagai tafsir tentang sebuah peristiwa, novel ini juga menampilkan kronik-kronik kecil tentang kekuasaan. Bagaimana sebuah negeri jatuh dan digantikan oleh negeri yg baru. Bagaimana seorang penguasa yg hari ini masih dielu-elukan rakyatnya, ternyata besok harus merangkak dihadapan musuhnya atau diseret menuju tiang gantungan.

Selain tentang sejarah, novel ini menampilkan keadaan Islam dan kaum muslimin pada era tersebut. Bacalah tentang perseteruan antara Syekh Astaghfirullah dan Abu Khamr yg akan membuat anda merenung dan memikirkan masalah dialog antara Islam dan Modernisme. Juga masalah hipokrisme para penguasa Muslim waktu tersebut yg tidak jauh beda dg kondisi saat ini. Akan tetapi yg lebih mencengangkan adalah pernyataan jujur tentang sistem Khilafah yg termuat dalam novel ini. Pernyataan ini muncul dari tokoh utama, yaitu Hassan Al Wazzan ketika berdialog dg Paus Leo X, “Tanah air kami adalah peradaban tak tertandingi dengan kemakmuran dan keadilan yang tergelar, ketika kekuasaan ada di tangan para Khalifah. Begitu para Sultan mengambil alihnya, dua hal itu adalah kenangan dan impian.”.  Demikianlah pendapat (atau mungkin suara hati) Hassan tentang tanah airnya dihadapan Paus yg kemudian akan menugasinya untuk berunding kepada Khalifah Sulaiman I Al Qanuni terkait perlindungan kota Roma dari serangan Charles V dari Spanyol.

Yang pasti novel ini cocok bagi para penggemar sejarah, tapi juga gw saranin buat mereka yg gak suka sejarah agar membaca novel ini. Agar kalian yg gak suka sejarah jadi menyukai ilmu tersebut. Bagi mereka yg tidak terbiasa mungkin menganggap novel ini rumit, terlalu banyak tokoh yg muncul, juga temanya yg mengambil tema politik. Yg pasti novel ini mengajak kita berfikir cerdas dan memahami segala hal. Juga menuntut kecerdasan kita dan mengasah sampai sejauh mana pikiran kita melesat. Novel ini juga dapat menjadi panduan ringan terkait sistem politik Islam, karena menampilkan rumusan-rumusan tentang struktur pemerintahan Islam. Sangat gw saranin buat nt yg pingin menggeluti Islam, harakah Islam, dan politik Islam. (212)

2 thoughts on “Leo the African

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s