Aliran

Ketika melihat musuhnya yg berkumpul 70 orang di sekitar Cemara Layu, padang Ichijoji Kyoto pada awal dini hari itu, Miyamoto Musashi sempat meragu. Mampukah ia keluar hidup-hidup melawan 70 orang samurai perguruan Yoshioka. Ia memang telah berhasil mengalahkan dan membunuh dua orang ketua perguruan dalam dua kali duel satu lawan satu, tapi melawan 70 orang dalam satu kali duel. Sejenak Musashi memejamkan matanya, ia berdoa untuk arwah kedua pemimpin perguruan tersebut serta para pendirinya, dan dalam kontemplasinya ia ingat akan aliran-aliran sungai perbukitan Kyoto yg baru saja dilewatinya. Pedangku harus terus mengalir, ia tidak boleh berhenti pada satu titik pada satu tempat. Daripada melawan 70 orang dalam satu kali duel, lebih baik berduel satu persatu dg mereka 70 kali. Maka pedang dan pikiranku tidak boleh berhenti pada satu orang, Teruslah mengalir..
Bagi saya kegiatan menulis memiliki kesamaan dg mengayunkan pedang, penulis tidak ubahnya seorang samurai. Maka fragmen awal pertarungan antara Miyamoto Musashi dg 70 orang samurai perguruan Yoshioka dg sengaja saya hadirkan di awal tulisan saya. Ya, menulis ibarat mengayunkan pedang. Keluwesan, kelincahan, serta alur, dan ritmenya memiliki kesamaan satu sama lain. Sebuah pedang akan tetap mengalir apabila alirannya terus hidup dan bukan pedang yg menciptakan aliran, tapi aliranlah yg membentuk pedang, begitu filosofi para samurai Jepang. Maka bila kita ingin tulisan kita tetap mengalir, jawaban satu-satunya adalah dg menjaga alirannya untuk tetap hidup. Aliran tersebut bisa berupa semangat, deadline, ilmu yg telah menumpuk pada cerebrum otak, cinta, mood, emosi, ketidakadilan, inspirasi, atau apapun yg mampu menggerakkan pena kita untuk menumpahkan tintanya. Namun terkadang aliran tersebut macet, buntu, lenyap bagai dompet yg ketingggalan di terminal atau mirip pengemplang utang.
Saya pernah sengaja mengendapkan aliran yg menjembatani semangat menulis saya dan saya menyesal mengapa harus melakukan hal tersebut. Paska menamatkan pembuatan skripsi seluruh tubuh dan jiwa saya serasa remuk. Semangat saya meranggas satu persatu. Maka waktu itu saya ingin istirahat sebentar. Bagaimana tidak melelahkan, riset yg sudah saya susun selama kurang lebih dua tahun harus terbantai di meja ujian dan saya harus merevisinya kembali dalam waktu 1 bulan. Bolak-balik ke dosen pembimbing dan bolak-balik ditolak membuat saya nyaris putus asa. Kalau saya membuka komik Musashi dan membacanya tepat pada bab pertarungannya dg 70 samurai Yoshioka maka saya selalu ingat kondisi saya ketika mati-matian merevisi skripsi. Seluruh tenaga, emosi, insting, inspirasi, ketrampilan, dan nyaris seluruh hidup saya tercurah pada skripsi tersebut. Saya dipaksa terus mengalir dan tidak boleh berhenti, karena jikalau saya berhenti maka saat itu pula impian lulus dari perguruan tinggi akan lenyap. Maka blog yg selama ini saya kelola, zine yg selama ini rutin saya terbitkan, hingga sebuah cita untuk membuat sebuah cindera jiwa atau buku berhenti saat itu juga. Namun setelah berjuang mati-matian selama 1 bulan saya mampu menyelesaikan pertarungan tersebut, skripsi saya disetujui dewan penguji, dan sebulan kemudian saya diwisuda, namun luka di hati saya tetap menganga dan jemari saya kelu untuk mengayunkan pena.
Saya terluka parah dan ada tebasan menganga di hati saya, dan tebasan tersebut berukir kata-kata berdarah;SOMBONG. Ya saya selalu merasa tinggi hati dalam tulisan saya, saya telah merasa telah melampaui banyak hal, menuliskan banyak hal, mengetahui banyak hal, padahal pada hakikatnya saya berhenti. Saya lebih banyak digerakkan dan belum bisa bergerak sendiri.
Saya ingin menulis sebagai pencarian makna jati diri. Saya ingin tulisan saya menunjukkan siapa sejatinya diri ini. Saya ingin tulisan saya mampu menunjukkan idealisme saya emban. Tulisan tersebut tidak hanya berupa jasad, tapi juga sebentuk gerakan yg mampu mempengaruhi orang lain. Tulisan yg mampu mengubah dunia, sebuah cindera jiwa yg mampu memebrikan penawar pada setiap manusia. Saya tidak ingin sekedar menceritakan hidup saya, kebaikan-kebaikan, kisah romantis, dan puisi tentang dedaunan yg dihembuskan oleh angin. Saya ingin tulisan saya juga berkisah tentang darah, tembok yg penuh dg coretan graffiti, jalanan yg beraroma desingan peluru, bendera yg trus dikibar-kibarkan, juga tentang saudara jauh yg melantunkan do’a untuk kita di sepertiga malam, dan azan yg dikumandangkan dg tangis darah. Saya juga tidak ingin tulisan saya hanya sekedar tips-tips, cara-cara, atau sebuah dorongan untuk berjalan. Saya ingin di setiap tulisan saya ada sebuah ilmu baru yg bisa dibagi, ada sebuah bahan untuk direnungkan, ada sebuah godam yg mampu menghantam otak kita dan membuat kita berkomentar, “hey betapa bodohnya saya selama ini.”, juga berisi sebuah tantangan, “ayo sejauh mana kamu dapat berlari mengejar aku.”. Dan ini adalah sebuah jalanan yg sangat terjal dan menanjak, ada jutaan buku yg harus dibaca, ada ribuan pengalaman yg harus direnungkan, juga ratusan kali usaha terus menerus untuk mengasah pisau analisis dalam kepala, tapi lebih dari itu dibutuhkan jutaan semangat, keberanian, dan disiplin untuk terus melangkah di jalan ini, untuk terus menulis, menulis tulisan yg menunjukkan jatidiri, tulisan yg mampu mengubah dunia.
Maka saya memberikan salut sedalam-dalamnya kepada mereka yg hari ini sedang menulis, belajar menulis, mencoba menulis, dan ingin menulis sebuah tulisan yg mengubah dunia. Juga untuk para guru, ustadz, dan para inspirator menulis, hormat saya kepada anda yg terus menerus mengajarkan kami cara mengayunkan pena ini (apapun metodenya apatah lewat nasihat, tips-tips, praktek langsung, hingga tantangan bertarung). Teruslah berjalan kawan dan jangan pernah berfikir untuk berhenti, karena kita akan berhenti ketika MATI. Teruslah berjalan, karena Allah Swt akan memberikan pertolongan kepada penulis yg memberikan penawar kepada dunia yg sedang SAKIT.
(terinspirasi pada acara Training FM Mentor Plus. Walaupun waktu itu telat, saya telah mendapatkan aliran semangat untuk terus menulis. Terus terang saya kaget karena di dalam ternyata tidak hanya berisi para calon penulis baru, tapi ada juga beberapa veteran penulis. Saya baru sadar ternyata bukan saya saja yg sakit😀. terima kasih, matur nuwun, syukron sebesar-besarnya untuk ust. Faqih yg gak kapok terus menerus nggepuk’I saya. Afwan sebesar-besarnya ustadz klo saya selama ini memakai metode “pemberontak” setiap mengikuti pelajaran ustadz.)

One thought on “Aliran

  1. metode pemberontak???

    oke. menulislah untuk mengukir sejarah, menulislah untuk terus menyibukkan diri dalam dakwah. menulis yang bermuatan ideologis, menyentuh rasionalitas, dan kaya rasa argumentalis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s