Bangil

Kotanya tua namun terkesan ceria, kotanya kecil namun terasa kompleks, ramai mirip permen, dan terkadang terasa sesak. Bangil mungkin hanya sekedar persinggahan sementara dari perjalanan panjang kita ke kota-kota besar di sekitarnya seperti Malang di selatan dan Probolinggo, Jember, hingga jikalau kita berminat nyebrang ke Bali. Awal perjumpaan kami terjadi ketika saya bersama abah berkunjung ke pasar besarnya yg bernama plaza dan berada di seberang selatan alun-alunnya. Bangil adalah kota lama dg deretan toko-toko tua bercat putih kusam dan gagah, pelabuhannya persinggahan para pedagang kuno, benteng perlawanan pemberontak terhadap penjajahan Belanda, pernah menjadi kabupaten, hingga statusnya menjadi sekedar kota kecamatan seperti saat ini. Masjid Jami’nya yg kokoh di sebelah barat alun-alun konon lebih tua dari masjid Agung Ampel Surabaya. Bangil walaupun saya hanya menjejakkan kaki untuk sekedar rehat sejenak pada salah satu perjalanan, tapi saya jatuh cinta padanya. Ketika singgah dalam bus antarkota saya disambut dg stadion bola, gerbang kota, dan tugu adipura. Lihatlah deretan warung di dekat halte dan warung terbesarnya membawa kita pada suasana jazirah (terkenal dg menu kambing guling). Sedangkan ketika singgah dg kereta api, saya disuguhi arsitek zaman kolonial yg khas pada stasiun besarnya. Malam-malam di Bangil saya disuguhi keramaian di pasar besarnya, bel becak yg memecah kesunyian kampungnya yg penuh deretan rumah-rumah lama, dan asap yg mengepul pada segelas STMJ minuman khasnya. Lebih dari itu bagi saya Bangil adalah kota santri, city of Islam, hingga ibukota gerakan Islam. Lihatlah Ma’had Aly Al Irsyad, ponpes Persis, hingga sekolah dan asrama para penganut Syiah. Lihatlah kantor megah MWC NUnya hingga kantor mungil HTI dg lambaian bendera khasnya di seberang masjid besar milik Muhammadiyyah. Saya belum menemukan sebuah kota di Indonesia yg mampu menampung keragaman Islam seperti Bangil.

Pagi hari di Bangil saya menemukan serombongan pemuda bersarung dan arak-arakan jubah para santri lelaki di jalanan pasar. Wanita-wanitanya berkerudung dan seringkali saya berpapasan dg gadis-gadis peranakan Arab di atas becak dg jilbab dan senyumnya yg bersemu merah kirmizi. Bahkan dalam salah satu perjalanan saya berjumpa gadis bercadar seperti Aisha dalam Ayat-Ayat Cinta yg berprofesi sebagai perawat di salah satu klinik di Bangil. Inilah Bangil, sebuah kronik kota kecil di Indonesia, bukan Mesir atau bahkan Afganistan. Bangil sebuah kota dg identitas Islam di sebuah negeri muslim terbesar yg sedang bingung akan jati dirinya. Bagi saya Bangil menyatukan warna-warni Islam tanpa embel-embel demokrasi atau liberalisasi. Melihat Islam di Bangil seperti memandang warni-warni sulaman benang bordir pada putih mukena buatan tangan khas kota tersebut.

4 thoughts on “Bangil

  1. aq dulu jg dibesarkan dikota ini mmg terasa damai tp u/ saat ini aq kira tdk sdamai dahulu aq pernah dibesarkan dg nuansannya sangat kental islami sekali n dibarengai dg bhs se hr2 dg bhs pengantar mirip pdg pasr tp agak psran tp aq suka itu

  2. Bangil… Kota kecil tempat aku dibesarkan ini memang kini telah banyak berubah suasananya… Mungkin itu karena dampak dari pembangunan dan perubahan sosial lingkungan juga..

    Mantap bro..

  3. ​​​Ṁ̭̥̈̅̄ªªα̣̣̥ά̲̣̣̣̥α̩̩̩̩̥ή†̥†̥̥āªªǎ̜̣̍ß̍̍̊Z̲̣̣̣̥z̲̣̥ , A̶̲̥̅̊κ̣̇ΰ paling suka kalau perjalanan ke arah barat pasti singgah dibangil, apa itu untuk sholatt atau sekedar belanja dan makan minum STMJ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s