Gagal

Dulu banyak teman saya sesama aktivis di kampus percaya bahwa ideologi Islam dapat diterapkan dg jalan masuk ke dalam sistem demokrasi alias lewat jalan pemilu. Mereka membuat analogi bahwa jalan masuk ke sistem ibarat seorang guru yg merubah keadaan sebuah sekolah (ya muridnya, TUnya, BPnya, Kepseknya, hingga iklim di sekolah tersebut). Saya waktu itu tidak percaya dan ketika hari ini saya merasakan sendiri rasanya jadi guru, saya semakin skeptis dg pendapat teman-teman saya tadi.

Kebetulan saya mengajar di dua sekolah, satu SMK sedangkan satunya Madrasah Aliyah atau MA. Walaupun keduanya beda karakter, tapi memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua sama-sama sekolah swasta, di bawah naungan yayasan Islam, dan sama-sama amburadul. Di SMK saya sedikit merasakan sisa-sisa amburadulnya. Sebelum saya masuk, keadaan tu sekolah Chaos A.D. Namanya juga SMK alias STM, muridnya hobi tawuran n bolos, gurunya males bukan kepalang, BPnya udah gak berfungsi. Hingga akhirnya terjadi pergantian Kepsek (ingat Kepsek, bukan guru). Maka terjadilah perubahan revolusioner, guru yg males diganti guru yg lebih muda n lebih semangat serta tunjangannya ditingkatkan, BP alias “Jaksa Agung”nya sekolah diganti dg yg lebih tegas, dan efeknya merambah ke siswa. Kepsek SMK saya menganut filosofi juragan besi tua, inputnya boleh sampah, tapi outputnya harus baja kualitas terbaik. Maka siswa yg bandel, hobi tawuran, atau bolos langsung diberi kartu merah alias dikembalikan ke ortu. Siswa juga jangan coba2 berangkat telat, karena klo telat siap2 push up 20 kali dan denda 2 ribu rupiah. Hasilnya para siswa jadi lebih disiplin, lebih hormat ke guru, dan efeknya mereka (para siswa) banyak dipercaya oleh perusahaan2 yg memang banyak membutuhkan lulusan SMK.

Sedangkan di MA kekacauan tersebut masih terasa. Saya sering merasakan adanya triolisme kekuasaan (adanya miscommunication antara Kepsek dan dua wakaseknya), guru-gurunya terkadang saling menjatuhkan, BPnya lebih sering mengeluh, dan muridnya lebih kacau dari SMK. Saya sering dapat info bahwa para siswa banyak yg hobi mabuk, mereka banyak yg gak hormat dg guru, datang n pulang di sekolah seenaknya, bahkan ketua OSISnya aja hobi bolos. Di sekolah ini inputnya sama-sama sampah, masalahnya outputnya juga tetap sampah. Klo sudah begini saya hanya bisa mengelus dada, sebenarnya saya kasihan melihat kondisi sekolah ini, saya ingin merubah keadaan, masalahnya hampir semua elemen kompak bilang “gak mungkin” dan akhirnya saya lebih banyak diam. Saya jadi ingat dua teman saya yg juga mengajar di sekolah dg kondisi yg kurang lebih sama dg kondisi sekolah ini. Yg pertama sangat idealis dan terus melawan, tapi efeknya sangat menakutkan, mulai gaji yg dipotong, tunjangan disunat, teman-teman seperjuangan pada dipecat, dikucilkan, hingga dikibulin berkali-kali ama Kepseknya yg gak pernah makan bangku kuliah. Yg kedua awalnya memang idealis, tapi lama-kelamaan akhirnya menyerah dan memilih ikut arus saja. Entahlah saya nanti ke depannya, kalaupun nanti saya gak kuat mungkin saya lebih memilih keluar dari sekolah tersebut.

Melihat kondisi di SMK saya jadi teringat pola negara sosialis di Kuba dan Venezuela. Terjadi perubahan karena datangnya pemimpin baru yg menkudeta pemimpin lama. Mereka kemudian mentahbiskan dirinya jadi Diktator baru. Untungnya mereka diktator cerdas yg walaupun melakukan banyak tekanan kepada rakyat, tapi keuntungan lagi-lagi dikembalikan ke rakyat. Sedangkan di MA saya jadi ingat model negeri demokrasi murni ala Indonesia. Guru yg jadi lambang parlemen saling menjatuhkan, Jaksa Agung dan perangkat hukumnya mandul, penguasanya tidak dipercaya rakyat, dan rakyatnya ditelantarkan oleh penguasa yg akhirnya sedikit demi sedikit merubah mereka menjadi penjahat kapiran. Maka jangan berharap ada perubahan di negara gagal ala demokrasi ini. Perubahan lewat sistem gak mungkin akan terjadi karena parlemennya lebih mementingkan gaji daripada rakyat dan klo anda idealis maka siap2 anda diasingkan dari pusaran kekuasaan dan mati bersama kesendirian.

Mungkin banyak yg gak setuju dg tesis yg saya lantaikan di atas. Tapi kita semua bisa melihat berapa banyak sarjana yg idealis tapi akhirnya menjadi followers di kantor, pabrik, atau sekolah tempat mereka bekerja. Bila sarjana saja seperti itu, apalagi dg para anggota dewan yg kebanyakan pragmatis. Maka saya semakin yakin perubahan ideologis, lebih-lebih yg berpijak pada ideologi Islam tidak akan pernah terjadi melalui sistem, parlemen, atau pemilu di negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s