Laa Tafham

Suatu ketika pas lagi pulang kampung, Anas bercerita kepada saya. Alkisah di suatu perkuliahan ada seorang mahasiswa yg sedang tidur pulas. Kebetulan waktu itu adalah mata kuliah matematika (suatu pelajaran yg bikin mereka yg ber-IQ rendah pengen bunuh diri). Mahasiswa tersebut tidur sejak dosen matematika mengucapkan salam pembuka dan baru terbangun ketika seluruh kelas sudah angkat kaki. Ketika mahasiswa tersebut membuka matanya, sontak lamat-lamat ia melihat dua buah soal matematika terpampang di papan tulis. Merasa bersalah, kontan ia langsung mencatat dua buah soal tersebut dan kemudian buru-buru keluar ke kamar mandi untuk mengusap bekas liur yg menempel di pipi. Seminggu kemudian di hari, jam, dan kejadian yg hampir sama dg seminggu sebelumnya mahasiswa tersebut kembali hadir di perkuliahan matematika. Sebelum kuliah dimulai ia menjumpai dosen matematika untuk minta maaf atas kelambatan mengerjakan tugas dan menyerahkan tugas hasil bertempur mati-matian selama seminggu penuh. Mahasiswa tersebut juga minta maaf ke dosennya karena hanya mampu mengerjakan satu soal dari dua soal yg ditulis dosen di papan tulis. Dosen tersebut bengong karena tidak merasa memberi soal dan terkait dua soal di papan tulis dosen tersebut memberi klarifikasi bahwa soal tersebut adalah dua soal matematika yg belum terpecahkan jawabannya hingga hari ini. Maka terkejutlah sang mahasiswa karena terbukti ia mampu mengerjakan satu diantara dua soal yg belum terpecahkan jawabannya bahkan oleh profesornya profesor matematika dan terbukti setelah diuji oleh para ahli matematika jawaban mahasiswa tersebut terbukti benar dan terpecahlah salah satu misteri ilmu pengetahuan. Maka di balik ketidaktahuan justru menyimpan pengetahuan.

Maksudnya apa???

Seorang manusia apabila semakin dewasa maka dia semakin rasional. Artinya dia semakin mampu menggunakan kemampuan berpikirnya untuk mengukur apa yg baik dan tidak baik terhadap dirinya, termasuk pengetahuan. Terkadang kemampuan ini menjadi faktor kesuksesan manusia, namun tidak jarang kemampuan ini juga menjadi aral atau rintangan.

Maka tidak salah pabila peribahasa berkata, mengajar anak kecil bagai menulis di atas batu, sedangkan mengajar orang tua bagai menulis di atas air. Anak kecil yg pola berpikirnya belum sempurna biasanya menganggap apapun sebagai mainan dan mudah dipecahkan. Sedangkan mereka yg lebih dewasa pasti menganggapnya sebagai sebuah teka-teki dan sulit untuk dipecahkan. Maka sering kita jumpai kasus seorang anak kecil hapal nama negara di dunia plus nama ibu kotanya ditambah nama presidennya, sedangkan banyak orang dewasa di sekitar kita yg tidak hapal nama presiden negaranya (bahkan tak jarang nama lurah atau kepala desa di kampungnya saja tidak hapal).

Maka tidak salah juga pabila kita pernah membaca orang dewasa menemukan sesuatu dari faktor ketidak sengajaan. Archimedes menemukan hukum fisikanya yg terkenal pas lagi mandi. Collombus menemukan benua Amerika gara-gara nyasar pas mau pergi ke India lewat barat. Ibn Rusyd menemukan hukum bayangan terbalik (salah satu hukum fisika) gara-gara merhatiin cahaya matahari yg muncul di balik sel penjara yg ia huni. Bahkan hal sepele seperti kertas tissue hingga es krim cone ditemukan gara-gara sesuatu yg tidak sengaja. Maka Rasulullah pernah berkata kepada umatnya, mudahkanlah urusan manusia, jangan dipersulit.

Terkadang kita ingin mampu berbahasa Arab, tapi bayangan kita adalah ilmu tata bahasanya yg ribet, ilmu nahwu dan shorof yg bikin pusing, serta kitab-kitab seperti Imrithi dan Alfiah yg gak mungkin dikhatamkan seumur-umur. Kita pingin jago nulis artikel, tapi bayangan kita adalah ilmu tata bahasa bahasa Indonesia yg ruwet, kata dan kalimat baku yg bikin pusing, belum lagi bayang-bayang mau dikirim kemana setelah tulisan kita jadi. Kita pingin jadi hacker atau minimal punya blog, tapi bayangan kita adalah aneka bahasa pemrograman komputer yg bikin kepala jadi kehilangan rambut.

Maka mudahkanlah, bukankah para tukang sapu dan anak kecil di Arab sana yg gak pernah makan bangku pondok pesantren sangat jago berbahasa Arab, rumusnya mudah pahami kosakatanya dan bicaralah dg bahasa tersebut sesering mungkin. Maka mudahkanlah, maka mulailah menulis dan biarkanlah penamu mengalir dan menari. Hilangkan aral berupa tata bahasa dan lain sebagainya, karena jika kita mulai menulis semuanya otomatis mengikuti. Maka mudahkanlah, bukankah kita sudah sangat jago membuat facebook, udah pinter chatting dg akhwat/ikhwan di seberang sana, udah bisa nge-add akhwat inceran kita, masak bikin blog aja gak bisa.

Kita sering kali merasa kesulitan, karena kita terlalu (seperti judul tulisan mas Divan) licik. Ya kita terlalu licik untuk memikirkan hal-hal luar biasa di luar hal-hal biasa yg kita lakukan. Dulu pas awal-awal mulai seneng nulis, saya suka nulis di buku tulis-buku tulis kosong bekas SMA dulu karena saya tidak punya komputer. Kemudian orang tua saya membelikan komputer, maka mulailah saya menulis di komputer. Masalahnya kemudian komputer saya rusak dan saya kehilangan ketrampilan menulis, karena udah tidak terbiasa lagi menulis di kertas. Saya terlalu licik dan jadi terlalu pintar mencari alasan untuk menutupi kesalahan saya. Dari kasus tersebut akhirnya saya belajar dan kini computer saya kembali rusak, mau kredit laptop tapi masih maju mundur, tapi saya tetap menulis. Saya telah belajar untuk menulis di kertas, buku tulis, langsung di warnet (klo lagi banyak uang), atau di komputer nganggur yg banyak berkeliaran di tempat kerja saya. Itu saya dan saya tidak tau apa yg kalian lakukan untuk menutupi “kelicikan” kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s