Hasan

Jutaan manusia telah keluar masuk dalam hidupmu, namun seorang teman sejati pasti meninggakan jejak kaki di hatimu..(Openmind)

Mengingat namanya, saya selalu teringat pada petualang muslim abad pertengahan Hassan Al Wazzan atau Leo Africanus. Kebetulan namanya juga Hasan dan dia juga seorang petualang. Kami bertemu pertama kali di awal masuk kelas tiga SMA dan setelah itu kami menjadi tidak terpisahkan di bulan-bulan berikutnya.

Mengenal Hasan, bagi saya seperti membuka buku ensiklopedia atau kisah-kisah petualangan ala Karl May. Banyak sekali hal-hal tak terduga dan ajaib dari teman saya yg perawakannya tinggi kurus ini. Hingga hari ini saya selalu menganggapnya sebagai salah satu sosok yg mengubah hidup saya. Hasan atau nama lengkapnya Hasan Fahri Assegaf lahir di Ambon Maluku tanggal 29 Februari 1985 (klo gak salah). Dia menyelesaikan pendidikan SD dan SMP nya di kota tersebut. Ketika dia cerita soal masa-masa SMP nya, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana ia bisa bertahan di Ambon? Bila ia sekolah SMP sekitar tahun 1997-2000, bukankah pada saat itu Ambon sedang dalam kondisi rawan dan puncak kerusuhan etnis? Maka kemudian meluncurlah kisah masa-masa SMP nya. Awalnya Ambon adalah kota yg indah, dengan pantai yg gak kalah dengan Bali, hingga taman bawah lautnya yg saingan ama Bunaken, sampai kemudian pecahlah perang (yg dalam pandangan Hasan adalah perang agama) yg justru dimulai pas hari raya Idul Fitri. Sejak saat itu kondisi Ambon membara, keluarganya mengungsi ke Surabaya, dan ia seorang diri bertahan demi sekolah. Ia bisa bertahan semata-mata karena kampungnya adalah Batu Merah yg jadi basis kekuatan kaum muslimin di Ambon. Ia juga mengisahkan bagaimana pada awal-awal perang kaum muslimin kalah karena persenjataan orang-orang nasrani lebih hebat (bahkan TNI pun kalah canggih). Hingga kemudian muncul bantuan dari muslim Hitu yg jago bikin bom ikan, Laskar Jihad dari Jawa yg desas-desusnya disokong Al Qaidah, hingga TNI dari Jawa yg kebetulan muslim dan banyak membantu kaum muslimin Ambon.

Hasan sering bercerita tentang suasana Ambon di tengah kerusuhan. Mayat-mayat kaum muslimin yg mengambang di laut korban pembantaian dari pulau-pulau di sekitar Ambon. Teman-teman sepermainannya yg meninggal satu per satu akibat ditembak RMS (biang kerok kerusuhan, singkatan dari Republik Maluku Serani) atau aparat. Ritual mandi suku Hitu sebelum berangkat jihad serta Laskar Jihad yg bersenjatakan AK-47. Serta ihwal pertemuannya dg sosok yg dianggap sebagai Syamsul Pelu, komandan belia kaum muslimin yg kepalanya dihargai 1 milyar oleh kaum nasrani. Kemudian dengan berbekal uang 20 ribu hasil menjual senapan rakitan dia berlayar seorang diri ke Surabaya. Dari Hasanlah, saya pertama kali merasakan nuansa dan semangat jihad. Dulu pas mau lulus SMA kami sempat berangan-angan mau pergi ke Palestina. Klo jadi pergi saya membayangkan mungkin saat ini Hasan jadi salah satu komandan Izzudin Al Qassam, sedangkan saya yg waktu itu masih terpengaruh nasionalisme lebih suka jadi anggota Force 17 (pengawalnya Yasser Arafat).

Bukan hanya semangat jihad yg saya dapatkan dari Hasan. Kebetulan Hasan adalah keturunan Arab dg fahm atau marga Assegaf. Dari yg saya pahami ketika ngaji di kampung, bahwa fahm Assegaf adalah termasuk Ahlul Bayt Nabi alias keturunan langsung Rasulullah dari anaknya Fatimah Az Zahro. Jarak nasab Hasan dg Rasulullah sendiri adalah 36 nasab. Oleh karena itu saya sering banget minta doa ama dia, karena saya paham orang-orang yg memiliki hubungan dekat dg Rasulullah biasanya doanya mandhi atau mudah terkabul. Gara-gara hal itu juga saya jadi dekat dg keluarganya. Bagi mereka saya adalah orang langka yg bisa menebak jadi diri mereka yg bersahaja dan gak ngawaki bahwa sesungguhnya mereka adalah keturunan salah satu sosok utama pengubah dunia, Rasulullah Muhammad Saw.

Selain itu Hasan juga mempengaruhi saya untuk mencintai sastra. Sejak saat itu saya jadi kenal Victor Hugo, Pablo Neruda, Kahlil Gibran, dan sastrawan dunia yg namanya tidak saya temukan di pelajaran sekolah. Hasan juga mengajari saya membuat puisi (sampai2 saya bisa menulis sebuah puisi tiap minggu) serta bagaimana bersikap romantis di depan cewek (walaupun sampai lulus SMA kami tetap sama2 jomblo). Juga saling mempengaruhi untuk menyukai film (kami dulu nyaris daftar ke IKJ jurusan film).

Banyak hal yang saya ingat dari Hasan ketika kami masih bersama, mulai dari godain cowok-cowok kelas 1 (kami sok2an jadi banci biar mereka kapok ngintipin kelas kami), godain cewek dg muslihat ala Spontan atau Just for Laugh, bandingin cewek dg jenis musik, sok jadi pembicara acara talkshow televisi pas diskusi di depan kelas, menculik anak guru Matematika, hingga mencatat rekor-rekor unik yg terjadi selama kami SMA (salah satunya rekor teman kami Rahmat yg dibuang ke tempat sampah tiap hari selama tiga minggu berturut-turut). Saya juga masih ingat dg koleksi Openmind saya yang dia bawa keliling separuh dunia (Hasan cerita ke saya dia keliling separuh dunia).

Ada pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah bunyi pepatah lama. Waktu itu saya mengetuk pintu rumahnya setelah hampir sebulan saya tidak menjumpainya karena kesibukan kuliah. Saya kaget yg membuka pintu bukan ibu, kakak perempuan, atau adik-adiknya yg sudah saya kenal baik, tapi orang lain. Sejak saat itu saya tersadar bahwa telah kehilangan salah satu sahabat baik dan salah satu yg paling dekat. Berbilang tahun saya mencarinya. Setiap teman lama SMA saya tanya tentang Hasan, saya mencarinya di google, friendster, hingga facebook. Ketika jemari saya sudah lelah mengetik namanya di internet, saya tidak sengaja menjumpainya di sudut halaman facebook teman SMA saya. Saya mencoba meng-add-nya dan baru berbalas seminggu kemudian. Kemudian berlanjut saya mendapat nomer handphonenya dan akhirnya persahabatan kami mulai tersambung kembali (walaupun tidak bisa seerat dulu karena jarak dan waktu).

(untuk Hasan yg menelepon saya pagi-pagi ketika hati lagi deg-degan karena mau ta’aruf dan tunangan)

3 thoughts on “Hasan

  1. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan sahabatnya
    untuk menghindari perselisihan, justru karena sayangnya terhadap sahabatnya
    ia memberanikan diri menegur apa adanya dan Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.

  2. Nte bkn ana teringat kenangan masa lalu..
    Tingkah aneh kt dl..
    (jngn lupa ama katakan cinta)he2..

    Oia biar kt terpisah jarak n waktu,ana harap persaudara’n kt gk akan terpisahkan oleh apapun..
    Insallah suatu saat nanti kita bisa bersama lagi..
    Di hari tua atau di surga nanti(amin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s