C.I.N.T.A

“Tulisanmu membuat diriku jatuh cinta padamu”, begitulah bunyi pesan pendek yg ditujukan kepada saya. Terus terang setiap membaca pesan tersebut hati saya jadi terang terus, rasanya kepala ini jadi membesar. Jujur baru kali ini saya dapat komentar begitu mesra terkait tulisan-tulisan saya. Komentar paling top paling biasanya datang dari sobat erat saya si Anas. Doi biasanya suka bandingin tulisan-tulisan saya dg artikel-artikel yg muncul di magz atau zine yg belakangan banyak bermunculan. Kata Anas, artikel-artikel tersebut mah lewat ama tulisan-tulisan saya. Doi juga nambahin bahwa kualitas tulisan-tulisan saya udah nyaris selevel ama tulisan-tulisan bang Divan ama mas Ali Mufti. Tapi komentar Anas cukup sampai situ, titik, dan gak pake cinta-cintaan segala. Oleh karena itu setiap baca komentar di atas saya terkadang merinding, saya merasa dipeluk ama bidadari.
Entahlah saya terkadang tidak merasa tulisan-tulisan saya mampu menginspirasi seseorang, apalagi membuat orang jatuh hati. Saya masih merasa rendah diri bila dibandingkan ama tulisan ukhti Riri (Jurnal Pemikiran) atau tulisan mbak Kanasangoutlier, apalagi bila dibandingkan ama bang Divan, mas Ali Mufti, atau bahkan mbak Ria Fariana. Dibandingkan dg mereka saya jadi merasa kayak pemain bola kelas kampung disandingin ama Messi.
Karena memang karir penulisan saya yg lambat dan dari dulu sangat minim variasi. Saya baru mulai senang nulis sejak semester 5 perguruan tinggi. Sejak saat itu belum satu pun tulisan yg saya kirim ke media massa. Saya beraninya cuma di blog dan zine indie yg sekarang udah lama gak terbit. Jadinya saya merasa tulisan saya cuma datar-datar saja. Maka saya heran campur kaget ketika ada yg kirim pesan mesra seperti di atas terkait tulisan-tulisan saya.
Terus terang saya merasa bahwa masih banyak yg harus saya pelajari terkait ketrampilan menulis saya. Saya masaih merasa bahwa tulisan-tulisan saya masih minim kosakata yg menggugah. Tulisan-tulisan saya masih kosong akan nilai-nilai tarbiyah. Saya merasa tulisan saya masih kurang nampol ketika harus mengkritik atau memukul sesuatu hal. Saya masih merasa bahwa kata-kata yg saya goreskan belum bisa membuat orang tertawa, menangis, atau bangun dari tidur panjangnya.
Saya juga harus banyak melatih keistiqomahan saya dalam menulis. Saya harus mampu melawan rasa malas dan futur yg terkadang mendera. Saya juga harus mampu melawan segala keterbatasan yg terkadang mendera, seperti kompi yg ngadat, monitor meleduk, hingga flashdisk yg tiba-tiba ngambek.
Saya juga masih harus memperbanyak bahan referensi buat tulisan-tulisan saya. Harus banyak membaca teks-teks sastra untuk memperhalus dan memperindah kosakata. Harus banyak menkaji teks-teks pemikiran untuk mempertajam pisau analisis. Memperbanyak membaca buku-buku yg terkait dg referensi dan bahan tambahan buat tulisan. Juga harus banyak membaca artikel-artikel yg berlawanan ide untuk menguji seberapa kuat dan cepat pukulan lawan agar saya mampu menangkis dan memberikan serangan balik yg telak.
Maka demi rasa cinta saya pada dunia penulisan maka saya akan tetap meniti jalan ini satu persatu dan berusaha untuk tidak berhenti di tengah jalan. Maka saya ucapkan terima kasih kepada siapapun yg telah mengomentari tulisan-tulisan saya (lebih-lebih buat yg koment di atas, ai lup yu tu dahch)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s