Mamat dan Sang Presiden

Malam itu ba’da maghrib Mamat dan adiknya si Sobri udah dandan rapi. Melihat penampilan mereka orang pasti menyangka mereka panitia acara pernikahan atau mungkin disangka pak Lurah dan Cariknya lagi kunjungan. Mamat bahkan memakai baju batik terbarunya jatah dari sekolah tempat dia mengajar. Keduanya memancarkan bau wangi. Usut punya usut mereka tidak sedang mau berangkat kondangan, malam itu mereka berdua akan berangkat ke tempat les B.Arab (karena keduanya punya rencana mau jadi TKI :-D). Malam itu mereka akan melaksanakan ujian akhir yg diadakan tiap bulan sekali. Entahlah sejak baca novel “Negeri Lima Menara”, mereka berdua jadi semangat dan senang banget klo menghadapi ujian.

Tanpa banyak cingcong setelah pamit kepada abah dan umminya, kedua kakak beradik ini berangkat. Si Sobri langsung nyemplak motor Honda ulung kebanggaan kakaknya. Seperti biasanya ada aturan klo berangkat si Sobri yg bonceng, sedang pas pulang gantian si Mamat yg bonceng. Pembagian jadwal seperti ini bukan tanpa sebab, ini semua karena si Mamat klo pas maghrib penglihatannya agak runyam karena dia terserang rabun ayam. Maka daripada mencium tiang listrik atau memeluk aspal atau lebih parah ngendon di empang bareng kangkung dan belut maka terjadilah pembagian yg adil seperti di atas.

Namun malam yg indah tersebut berubah menjadi horor. Sesampainya di perempatan dekat rumah mereka terjadilah hal yg berada di luar rencana mereka. Jalanan macet total, mobil, motor, truk, tangki tinja memanjang bak jemuran rumah tetangga. Tapi demi ujian B.Arab mereka nekat menerjang. Karena menurut penerawangan si Sobri pasti kemacetan ini kemacetan biasa. Pasti gara-gara para karyawan dan buruh yg meluber di jalanan tiap jam kepulangan mereka karena diburu rasa lapar. Tapi bagi Mamat yg panjang akal ini bukan kemacetan biasa karena banyak banget pak Polisi yg ngatur jalan (biasanya klo maghrib yg ngatur para polisi cepek), mungkin gara-gara tangki tinja yg tiba-tiba pingsan di tengah jalan karena gak kuat mencium aroma bau badannya sendiri atau mungkin truk tronton yg tiba-tiba nyosor tiang lampu tengah jalan karena gak bisa nahan rasa cintanya gara-gara tiap hari lihatin bodi tiang lampu yg aduhai.

Tapi ditunggu 5 menit mobil dan saudari-saudarinya tetep anteng kayak pengantin. Sepuluh menit pengantinnya berubah jadi anak SD lagi upacara bendera di depan bupati, berbaris rapi tak bergerak sama sekali. Lima belas menit, wah klo seperti ini mah keterlaluan, begitu batin Mamat sambil mencak-mencak di tengah jalan karena kakinya gak sengaja nginjak sarang semut api yg ngendon di bawah tiang lampu. Ini juga ngapain sih semut-semut pada gigitin kaki gw, dasar resiko orang manis pas macet di tengah jalan masih aja dikerubutin semut, omel si Mamat. Merasakan macet yg begitu parah para pengguna jalan pada mulai resah. Para sopir truk mulai uring-uringan, mereka pasti melihat jalanan udah berubah jadi warung kopi. Para pengguna mobil pribadi lebih uring-uringan lagi gara-gara anak-anaknya pada merengek dan istrinya mulai ngomel, bagi mereka urusan macet ini kelihatannya harus diselesaikan di pengadilan agama. Para sopir taksi dan angkot keluar mobil untuk merokok, mereka rupanya setali tiga uang ama sopir truk. Sedangkan para pengguna motor terjepit di tengah-tengah, mereka yg kebanyakan para buruh yg kangen rumah memandang nanar reklame besar iklan kecap di pinggir jalan. Perut mereka pasti melilit dan air liurnya bergoyang bayangin botol kecap yg menari-nari di pelupuk mata.

Karena pada bingung penyebab kemacetan parah tersebut dan segala prediksi yg ngendon di kepala Mamat juga pada menguap semua, maka Mamat langsung menelepon Rustam, sahabat kentalnya yg tinggal dekat perempatan besar yg menurut prediksi Mamat jadi pusat kemacetan. Selain itu Rustam udah berpengalaman menghadapi kemacetan ibu kota (tempat dia kuliah), jadi sapa tau doi dapat memberi solusi. Tanpa banyak cingcong lansung saja doi menghubungi Rustam. “Tam, ada apaan sih kok jalanan macet berat??”, tanya Mamat. “Ada President Suit bang”, jawab Rustam. President Suit?? Emang siapa yg buka penginapan di tengah jalan batin Mamat gak paham. “Maksudmu ada Presiden lewat, Tam??”, tanya Mamat lagi. “Bukan lewat, tapi datang bang. Presiden datang buat meresmikan pabrik tusuk gigi di sekitar rumah gw bang. Pasti baru satu atau dua jam lagi jalan dibuka. Mending lewat jalan tikus aja bang” Jawab Rustam dg terang. “Okelah klo gitu. Thanks atas infonya dan jangan lupa klo balik ke Jakarta sekolahin sekalian tuh mulut biar gak belepotan klo ngomong”, sahut Mamat yg kemudian langsung menutup teleponnya.

Tanpa banyak cingcong Mamat langsung menyuruh si Sobri memutar motor butut mereka. Niat mereka udah bulat untuk lewat jalan tikus seperti yg disabdakan Rustam. Dan karena mulut Mamat yg agak ember, sepanjang jalan ia teriak-teriak ke pengguna jalan yg pada bengong. “Ada presiden lewat pak, bu, pakde, mending balik aja deh. Paling-paling satu atau dua jam jalan baru di buka”, teriak Mamat sambil berdiri di atas jok motor kayak orang mau akrobat, apalagi ditambah aksi Sobri yg nyetir motor dg gaya ular beludak melintas gurun alias zig-zag. Melihat aksi kedua kakak beradik membuat beberapa orang kaget, tidak sedikit yg langsung merespon dg membalikkan arah motornya, sedang para pengguna mobil yg kendaraannya udah kayak bebek masuk empang alias anteng banget terpaksa hanya bisa memberikan komentar balik. Mereka kebanyakan langsung menjelek-jelekkan pemerintah, Presiden, hingga menteri penerangan yg gak nerangin kenapa kok macet bisa terjadi, padahal tiap lima tahun sekali mereka puja-puja dan mereka bela mati-matian, dasar masyarakat pelupa.

Setelah lolos dari pembunuhan massal (Mamat menganggap kemacetan dapat membunuh seseorang, paling tidak jiwa orang tersebut terbunuh. Makanya mereka yg sering kena macet suka bengong atau marah-marah gak karuan tanpa sebab). Mamat dan Sobri terpaksa melewati jalanan desa yg kanan kirinya sawah. Sambil dibelai angin sepoi-sepoi dan sayup-sayup suara azan Isya’, Mamat bercerita pada Sobri tentang sebuah kisah yg diceritakan H.Somad, guru ngaji kampung mereka beberapa tahun silam.

Alkisah suatu ketika Khalifah Harun Ar Rasyid sedang berhaji. Ketika thawaf di sekitar Ka’bah agar tidak berdesakan dg jamaah para petugasnya menyingkirkan jamaah dg pentungan. Salah seorang jamaah yg kena pentung melapor kepada salah seorang ulama yg dekat dg Khalifah. Esoknya ulama tersebut mengajak Sang Khalifah untuk menaiki Jabal Abu Qubais. Ketika berada di atas bukit mereka berdua melihat kerumunan jamaah haji datang dari delapan penjuru mata angin. Melihat hal tersebut ulama tersebut berkata kepada Khalifah, “ya Amirul Mukminin anda mungkin melihat jamaah haji di bawah kita. Mereka semua datang membawa amal dan niat mereka masing-masing dan nanti ketika di akhirat masing-masing mereka akan ditanya tentang amal mereka di dunia. Sedangkan anda ya Amirul Mukminin nanti di akhirat anda ditanya oleh Allah terkait kebijakan anda terhadap mereka. Karena anda pemimpin mereka, maka anda akan bertanggung jawab terhadap mereka semua di akhirat. Jika anda berbuat dzalim terhadap mereka semua maka itu akan menjadi pemberat yg menyeret anda ke neraka. Jika anda berbuat baik kepada mereka maka itu memberatkan timbalan amal baik anda di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu pesan saya berhati-hatilah anda dalam mengatur urusan umat ya Amirul Mukminin, karena anda akan ditanya paling lama di padang Mahsyar terkait kepemimpinan anda.”. Menyimak hal tersebut Khalifah Harun Ar Rasyid menangis tersedu-sedu hingga pingsan. Setelah bangun ia bertobat kepada Allah Swt, ia juga menyantuni dan memberikan uang saku jamaah haji yg hadir tahun tersebut dan dua tahun berikutnya. Ia menghaluskan jalan yg selama ini dipakai rute haji. Menjaga jalur-jalur tersebut dg pasukan keamanan. Khalifah juga menanggung akomodasi para jamaah haji secara cuma-cuma.

Mendengar hal tersebut tiba-tiba Sobri komentar, “Lha klo para penguasa kita hari ini lebih banyak menyusahkan rakyat dan ulamanya lebih banyak diam berarti mereka semua calon penghuni neraka donk bang??”. “Wallahua’lam Sob”, jawab Mamat sambil mengingat-ingat bahwa hari ini betapa banyak orang berebut jabatan apapun caranya dan bila sudah mendapatkannya mereka mengucap “hamdalah”, betapa jauh dg para pemimpin mulia seperti Harun Ar Rasyid dan para generasi pendahulu yg justru berebut menjauh dari jabatan dan apabila mereka mendapatkannya mereka bersedih dan berucap Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un karena mereka sadar betapa beratnya sebuah “jabatan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s