FOKUS

Tidak ada manusia yg bodoh di dunia, karena yg ada hanyalah manusia yg malas untuk belajar”

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yg sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal yg sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yg tak terbantahkan.”, Harun Yahya

Masa kuliah bagi gw adalah masa pencerahan. Memang gw mengalami masa SMA yg berlinang madu, tapi pas kuliah gw baru sadar bahwa banyak sekali yg gw belum lakukan ketika SMA. Ketika kuliah gw mengalami hal yg biasanya terjadi pada masa awal seorang aktivis yaitu pergulatan pemikiran. Setelah mengalami pergulatan pemikiran yg melelahkan dan menuju sebuah garis finish yg bernama pencerahan, gw baru sadar ada sesuatu yg terlewatkan ketika gw SMA dan gw mau tidak mau harus kembali untuk menyusunnya kembali.

Gw baru sadar bahwa sebenarnya gw meninggalkan SMA dalam posisi memendam bara. Sebuah bara kemarahan, gw marah pada SKI yg dulu telah membentuk gw agar mencintai dien ini di atas apapun. Terus terang pas kelas 3 gw sempat menjauh dan tidak peduli lagi pada SKI dan masjid tempat gw biasa nongkrong ketika kelas 1 dan 2. Gw gak peduli lagi pada lantai masjid yg kotor, uang infaknya yg digondol maling (maling beneran, bukan koruptor), programnya yg makin kacau balau, dan anggotanya yg semakin jauh dari sosok anggota Sie Kerohanian Islam. Bukan, bukan karena cinta gw ninggalin SKI, juga bukan karena aqidah gw yg terkorosi, juga bukan gara-gara sifat alamiah gw yg mudah bosan. Jujur gw ninggalin SKI karena gw benci karena lembaga ini dijadikan sapi perah oleh beberapa pembinanya. Gw merasa SKI tidak ubahnya negeri-negeri muslim yg dieksploitasi oleh negara barat yg sok menolong padahal menjajah. Tapi gw baru sadar bahwa kemarahan gw, juga sikap menjauh gw ternyata salah. Baru ketika di kampus timbul pemikiran, mengapa gw menjauh, bukankah lebih baik gw melakukan perubahan dan bukankah itu juga salah satu bentuk perlawanan terhadap kedzaliman yg gw udah muak melihatnya.

Maka kembalilah gw ke SMA untuk melakukan dialog sekaligus perubahan ke tengah-tengah adek kelas gw. Tapi karena sikap gw dahulu, tidak mudah meyakinkan mereka. Banyak dari adek kelas gw yg menolak ajakan gw untuk mereformasi (bahkan klo bisa merevolusi) SKI. Bahkan tidak sedikit yg bertanya-tanya siapa sih gw, gara-gara gw gak pernah kunjungan lagi ke masjid sekolah gw. Dan ketika momen menyedihkan itu menyergap, gw dipertemukan dengannya.

Awalnya gw kurang respek, karena dari pembukaan sosoknya emang gak meyakinkan. Sosoknya kurus tinggi, dari wajahnya mirip orang bushmen yg udah lama tinggal di semak-semak. Waktu itu gw bersepsi jangan-jangan orang ini gak kenal air ama sabun. Gw kaget, kok bisa-bisanya sekolah SMA gw menyimpan sesosok makhluk sejenis ras Cro-Magnon yg punah jutaan tahun lalu. Tapi terus terang di balik sosok lugu dan gak meyakinkannya tersimpan rasa ingin tahu yg tinggi. Dialah orang pertama di SMA gw yg menyambut usulan gw, termasuk ajakan mentoring seminggu sekali.

Sejak saat itu dia dekat dg gw. Dia seakan-akan ditakdirkan menjadi pengganti Hasan yg meninggalkan gw. Kemanapun dan dimanapun gw ada dan pergi pasti dia ikut, begitu pula sebaliknya. Dan perubahan besar pun terjadi, sejak mengaji dan rutin ikutan mentoring ia mengalami pencerahan seperti gw dulu. Sosoknya tidak lagi seperti orang bushmen dan yg lebih mencengangkan dia mampu menyalip gw dalam banyak hal. Tapi disinilah kelebihannya, dia adalah sosok yg tekun, fokus, dan tidak mudah menyerah. Prinsipnya adalah apapun itu bisa dilakukan asal fokus. Maka kemudian dg angkat topi gw menghormati, seperti dia yg juga menghormati gw.

Akan tetapi tidak mudah menempuh itu semua. Dia nyaris diasingkan oleh teman-teman dekatnya dan para guru, karena gerak dakwahnya yg berani di sekolah. Posisinya sebagai sekjen OSIS digoyang berkali-berkali. Bahkan ia sempat dituduh terlibat aliran sesat hingga gerakan teroris. Tapi ia membuktikan dg meraih banyak prestasi. Mengangkat SKI kami hingga kancah kabupaten. Meraih sepuluh besar lomba mading deteksi Jawa Pos. Dia akhirnya lulus SMA dg kepala tegak dg meraih tiga besar siswa terbaik. Dan itu belum cukup, ketika teman-temannya berebut kursi di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, dia malah mengambil D-2 Bahasa Arab. Tidak peduli kemampuan B.Arab-nya nol puthul, gak peduli meskipun gak pernah makan bangku pesantren dan madrasah dia tetap fokus. Dia lulus D-2 dg predikat mumtaz (terbaik). Maka jika hari ini gw mendengar adek kelas gw di SMA menjelek-jelekkan namanya akibat fitnah, maka gw membelanya mati-matian. Bagi gw dia adalah sosok istimewa, satu-satunya kandidat peraih gelar Lc dari SMA gw (gw yakin sangat jarang atau bahkan tidak mungkin ada alumni SMA gw meraih gelar khas Timur Tengah tersebut), dan dialah Anas yg sudah gw anggap seperti adek sendiri. Bahkan gw sering bilang, klo nt akhwat nas, pasti udah gw khitbah.

Anas telah mengisi sebagian kronik hidup gw. Jika Hasan memberi pelajaran pada gw tentang bagaimana menghadapi hidup dg senyuman, walaupun sepahit apapun hidup tersebut. Maka Anas mengilhami gw tentang bagaimana sesuatu yg tidak mungkin bisa menjadi mungkin ketika kita memperjuangkannya dg sungguh-sungguh. Jika Hasan selalu mengajak berpetualang melihat dunia, maka Anas memberi inspirasi tentang nikmatnya mereguk ilmu dg tekun. Jika gw sering membayangkan Hasan berubah menjadi seorang duta dari jazirah yg menjelajah dunia atas nama Khalifah, gw sering membayangkan Anas jadi seorang syech yg mengajar kuliah-kuliah dan asyik berdiskusi dg para murid-muridnya di Al Azhar atau Al Qarrawiyyin atau mungkin di Songkare Timbuktu. Ya mereka adalah sahabat-sahabat terbaik gw, yg membagi hidupnya mereka dg gw. Mereka menginspirasi dan saling membagi tangis dan juga senyuman. Persahabatan kami ibarat persahabatan Winnetou dan Old Shatterhand atau persahabatan Detektif M Nur dan Jose Rizal. Setiap manusia pasti memiliki sahabat seperti gw, masalahnya pernahkah hidup kita menginspirasi mereka dan atau sebaliknya mampukah kita memahami hidup mereka dan mengambil hikmah dari pribadi mereka serta bersama-sama berlari mengejar layang-layang mimpi.

One thought on “FOKUS

  1. Assalamualaikum
    smoga kalian menjadi salah satu dari pemuda2 yg mendapat lindungan dari Allah di akhirat kelak, yaitu pemuda2 yg bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Dipertemukan di jalan dakwah, bukan jalan jenggolo atau sekitar alun2 sda, dan terpisahkan krn menempuh pengembangan diri tuk raih cita2 melayani ummat dengan mengharap ridho Allah semata.
    Jadilah sahabat sebagaimana Abu Bakar dan Umar yg saling mencintai dg slalu mengingatkan tuk tetap teguh di jalanNya. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s