Divan Semesta, Buried Alive, dan kereta api ekonomi

Ada sebuah pertanyaan, bagaimana rasanya naik kereta sekelas TGV atau Shinkanshen? Bagaimana nyamannya naik kereta kelas super eksekutif tersebut? Bila naik Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya aja bayangan nyamannya bukan alang-kepalang, lalu bagaimana rasanya naik kereta super duper mewah dan paling cepat di dunia tersebut. Tapi saya mencoba menghapus semua bayangan tersebut. Lagian saya hari itu sedang berjibaku di atas kereta ekonomi Penataran jurusan Surabaya-Malang. Ya, bagi saya kereta ekonomi sudah cukup memberikan hiburan tersendiri. Menaiki KA Gajayana, kereta eksklusif Malang-Jakarta memang nyaman. Tapi terlalu nyaman dan mewah terus-menerus membuat diri menjadi mudah puas dan menyukai zona nyaman. Efeknya ketika dipaksa berdesakan di kelas ekonomi, kepala bisa pusing, muntah-muntah, bahkan pingsan mendadak.

Padahal KA ekonomi adalah hiburan yg sangat menarik. KA ekonomi di Indonesia mungkin merupakan contoh pasar berjalan di dunia. Segala macam ada, mulai aneka makanan, barang rumah tangga, hingga binatang langka. Di KA ekonomi menyajikan pertunjukan seni langsung ala jalanan Eropa, kita bisa menyaksikan aneka rupa pengamen, mulai dari pengamen bocah yg lebih menjual rasa iba para penumpang hingga para grup pemusik yg tidak kalah dg Klantink di Indonesia mencari bakat. Itulah salah satu rasa menaiki KA ekonomi yg mungkin tidak kita dapati di KA sekelas TGV.

***

Kebetulan saya ke Malang untuk menghadiri undangan sebagai pembicara bedah buku “Buried Alive” karangan mas Divan Semesta di arena Malang Islamic Book Fair 2010. Saya udah sering membaca tulisan mas Divan dan sudah akrab dg gaya pemikirannya. Bagi saya tulisan-tulisan mas Divan mirip Kereta Ekonomi;rame. Tulisan-tulisannya syarat akan berupa-rupa rujukan dan ide-ide namun tujuannya adalah satu;Islam. Mas Divan gak sungkan mengutip Marx, Nietszche, Freud, hingga para dedengkot Islam Liberal. Mungkin itu sesuai dg masa lalu mas Divan yg penuh dg benturan pemikiran dan aneka diskusi.

Dari sinilah saya selalu merasakan bahwa tulisan mas Divan merupakan pemantik bagi para aktivis Islam agar mampu berlari di gelanggang aneka pemikiran namun tetap dalam satu tujuan yaitu Islam. Bagi saya, mas Divan mengajak kita untuk memandang dan menyelami pemikiran lain namun setelah kita memancangkan kaki kuat-kuat pada pemahaman Islam. Masalahnya mampukah kita memancangkan kaki kuat-kuat padahal kepala kita belum pernah dibenturkan? Saya masih merasakan banyak dari kita para aktivis Islam seperti para penumpang kereta eksklusif tadi. Banyak dari kita merasa sudah nyaman dan sudah puas dg apa yg kita dapatkan dan ketika sedikit saja benturan menimpa kita akibatnya banyak dari kita akhirnya melepaskan pijakan kita pada Islam.

Saya masih ingat tulisan mas Divan di NC zine yg mengajak kita untuk membaca pemikiran Marx, Keyness, Bernard Lewis, Arkoun, dan aneka pemikiran yg bertentangan dg Islam, bukan untuk diikuti tapi dicari kelemahannya dan kemudian kita sampaikan pada diskusi di tengah-tengah masyarakat.

Parahnya banyak dari kita yg bosan membaca dan merasa cukup dg kajian satu arah saja. Bagaimana kita mempercayai pemikiran An Nabhani, Qutb, Zallum, Ibn Taimiyah, As Syafi’I, hingga Rasulullah Saw jika kita setengah-setengah mengkajinya dan setengah mempercayainya seperti halnya doktrin trinitas di tengah kaum nasrani. Maka ketika kita tanpa sengaja menemukan sedikit “cahaya” pada pemikiran lain di luar Islam, kita dg mudah melunturkan pemikiran Islam kita bagai noda pakaian di iklan sabun cuci.

Ya, buku (dan tulisan2) mas Divan bagai saya seperti KA ekonomi. Semuanya ada, terkesan tidak teratur, namun disitulah seninya. Seperti halnya KA ekonomi, kita sebagai penumpangnya disodorkan aneka macam pertunjukan, namun apapun pertunjukannya kita tidak akan mudah terlena dan turun di tengah jalan meninggalkan tujuan asasi kita (lagian klo turun di tengah jalan bisa-bisa malah nyasar ke UGD atau malah mungkin kuburan).

Dan akhirnya kita kibarkan bendera kemanusiaan kita di bawah langit kesadaran Islam.

(syukron buat mas Divan yg udah mempercayai saya untuk membedah bukunya, buat Chio, Azzam, dan para bro and sist Badai Otak, buat Mega yg udah mau jadi moderator (yg otomatis jadi target gojlokan saya), buat my little brother Romadon yg udah mau nemenin ke Malang, buat para ikhwan-akhwat yg setia duduk mendengarkan ocehan saya, juga buat seluruh pengunjung Malang Islamic Book Fair 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s