Takut

Setiap orang pasti pernah merasa takut. Setiap orang pasti pernah mengalami fobia terhadap sesuatu. Fobia tersebut mungkin disebabkan karena suatu peristiwa yg tidak mengenakkan pada masa lalu hidupnya, entah itu berupa cerita, informasi yg salah, atau kejadian nyata yg menimpa orang tersebut.

Saya dulu sangat takut bila melewati escalator. Saya takut kaki saya kejepit diantara tangga berjalan. Penyebabnya gara-gara ketika kecil (sekitar usia 4 tahunan), saya menyaksikan anak seusia saya ketika itu kakinya terjepit diantara sambungan eskalator sebuah supermarket. Saya tidak mampu membayangkan bagaimana sakitnya, yg pasti sejak saat itu saya selalu menghindari tangga berjalan tersebut. Mending bercapek ria lewat tangga biasa daripada dihantui was-was kaki terlibas tangga baja. Akan tetapi suatu ketika saya dihadapkan sebuah fakta bahwa saya harus mampu melewati escalator apapun taruhannya. Suatu ketika saya memasuki mall bersama kawan-kawan saya untuk menghadiri acara di lantai teratas di mall tersebut. Masalahnya di mall tersebut sarana pindah tempatnya hanya berupa ratusan escalator yg sambung-menyambung antar lantai. Maka ketika teman-teman saya sudah mencapai lantai dua dan meneriaki saya dari atas, saya hanya bisa bengong di lantai bawah. Maka daripada saya dipermalukan seisi mall, dengan memejamkan mata dan berdoa, saya melangkahkan kaki untuk pertama kalinya sejak kecil melewati escalator. Percobaan pertama saya berhasil dan sejak saat itu menguaplah rasa takut saya terhadap escalator.

Dari peristiwa tersebut saya mengambil kesimpulan, bahwa ketakutan dapat dilawan. Ketakutan ternyata tumbuh di hati dan ia bisa dilawan dg tekad yg kuat. Teori tersebut terbukti berkali-kali, termasuk ketika harus melewati kuburan tengah malam dan dicegat tiga ekor pocong. Entah kenapa waktu itu saya mampu menghadapi hal tersebut, bahkan dg jantan saya berdiri tegak sambil bersedekap merapalkan ayat kursi ketika menghadapi tiga makhluk jadi-jadian tersebut. Saya gak paham darimana sikap jantan tersebut muncul, apakah gara-gara nilai yg harus saya raih pas pelatihan anggota SKI SMA, atau gara-gara sakit di gigi saya yg segera membutuhkan pertolongan, ataukah gara-gara cerita kawan saya sebelumnya yg menyambit pocong dg sandal jepitnya. Saya tidak tahu dan yg pasti ketika itu saya sedang diselubungi sebuah tekad yg kuat untuk menyeberangi kuburan angker tersebut dg selamat.

Akan tetapi ketika semakin dewasa, saya sadar tekad saja tidak cukup. Ketika fobia itu diakibatkan oleh sebuah informasi yg salah, maka dibutuhkan sekedar tekad untuk merubahnya. Seperti kisah seorang haji di kampong yg kebetulan pernah dipukul oleh petugas negeri petrodollar gara-gara melakukan tindakan yg dianggap oleh petugas tersebut tindakan bid’ah. Maka sekembalinya dia ke tanah air ia mengibarkan bendera kebencian kepada siapapun yg ditengarai memiliki pemahaman Islam ala Arab. Maka kemudian ia membenci siapapun yg berjenggot, berjilbab besar, bercelana cingkrang, bahkan kepada gerakan Islam yg concern memperjuangkan Syariat dan Khilafah. Maka dibutuhkan sebuah informasi yg benar untuk merubah pemahaman dan paranoid orang tersebut. Harus ada perubahan pemikiran yg mendasar.

Dan perubahan pemikiranlah sebenarnya kunci utama melawan ketakutan. Mulai dari kecoa, ketinggian, setan pocong, balon, hingga paranoid terhadap Islam sekalipun akan berubah ketika pemikiran kita merespon sesuatu yg berlawanan dg apa yg kita persepsikan selama ini. Karena ketakutan hanya ada di hati dan obat hati paling kuat adalah pikiran di kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s