Fundamentalisme dalam kepala orang yg mengaku Liberal (2)

Ada kekerasan di balik setiap retorika orang-orang liberal. Mereka yg selama ini mengaku sebagai pembela kebebasan. Mereka yg selama ini mengaku sebagai garda depan yg membendung arus fundamentalisme. Mereka yg selama ini mengaku berada pada garis lunak dan melawan setiap bentuk model kekerasan yg diciptakan agama. Ternyata dalam setiap tulisan, diskusi, dan wawancara, kaum liberal ternyata juga menggunakan api. Mereka (kaum liberal) juga menghadirkan kekerasan atau minimal menginspirasi kekerasan.

Para tiran membunuh kebebasan dg mengatasnamakan kebebasan, ungkap sastrawan India peraih Nobel, Rabindranath Tagore. Kaum liberal ternyata juga membunuh kebebasan dg mengatasnamakan kebebasan. Patutlah kita berkaca pada kasus Sandrina Malakiano (posting blog ini sebelumnya), kaum liberal yg selama ini mengagungkan kebebasan justru mencela mereka yg ingin bebas melaksanakan syariat agamanya. Mereka membela mati-matian seorang wanita yg ingin menelanjangi dirinya, namun ketika wanita tersebut merasa malu dan ingin menutup sekujur tubuhnya, kaum liberal justru mlengos, menghina, mencela, dan mencaci-maki wanita tersebut. Seringkali juga kaum liberal mengkritik bahkan dg keras mengutuk mereka-mereka yg memperjuangkan tegakkan syariat di Indonesia dan dunia. Padahal kalau berkaca pada garis perjuangan mereka (orang liberal) harusnya mereka diam saja atau bahkan mendukung upaya penegakan syariat. Toh perjuangan tersebut sah-sah saja dalam kacamata hukum sebagai bagian kebebasan berpendapat

Kaum liberal juga tidak adil. Mereka sering menuduh pihak-pihak yg berseberangan (dalam hal ini kaum muslimin) sebagai pihak yg tidak dewasa, tidak menghargai kebebasan, dan seabrek gelar lainnya ketika kaum muslimin mengkritik keras pernyataan kaum liberal. Lagipula sebuah kritik adalah juga (menurut kaum liberal) bagian dari kebebasan. Penulis masih ingat ketika Habib Rizieq Shihab menulis bantahan artikel Goenawan Muhammad. Ratusan tanggapan penuh hinaan ditujukan kepada Habib Rizieq. Itu baru satu tokoh, padahal seringkali kaum liberal juga melakukan caci-maki terhadap para ulama, para sahabat, bahkan hingga Rasulullah. Mereka juga tidak segan-segan mengkritik nash-nash shahih seperti Al Qur’an dan Hadits Rasulullah. Bila sudah nyata seperti ini maka gelar apa yg layak disematkan pada orang-orang semacam ini.

Kaum liberal seringkali juga menuduh bahwa syariat Islam dan kaum Islamis sebagai pihak yg suka menggunakan kekerasan dan menginspirasi kekerasan. Kasus terbunuhnya Farag Fouda paska debatnya dg Syekh Ahmad Al Ghozali dan pernyataan Ulil Abshar Abdalla bahwa negeri muslim adalah pelanggar HAM adalah bukti yg selalu mereka gunakan. Padahal tanpa sadar mereka juga menginspirasi kekerasan, kasus pelarangan jilbab dan pembangunan masjid di penjuru Eropa, pembunuhan muslimah di Jerman, hingga semakin pongahnya Israel membantai orang-orang Palestina dan semakin kukuhnya posisi AS sebagai negara pelanggar HAM nomer satu di dunia versi Amnesty International adalah buah pembelaan dan pemakluman mereka (orang liberal) terhadap berbagai tindakan di atas.

Kaum liberal yg seringkali menuduh berbagai yg berseberangan sebagai pihak yg tidak dewasa. Akan tetapi dalam kesehariannya, mereka juga sering melakukan tindakan tidak dewasa terhadap pihak-pihak yg mereka anggap berseberangan. Penulis pernah membaca kisah Dr. Daud Rasyid yg disingkirkan dg cara kasar dari tempatnya mengajar di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah yg terkenal sebagai sarang kaum liberal hanya karena pola Dr. Daud Rasyid dalam mengajar mata kuliah yg dinilai berseberangan dg pola kaum liberal. Inikah yg mereka sebut kedewasaan berpikir dan kebebasan berpendapat.

Melihat sepak terjang kaum liberal di tanah air, maka tidak salah apabila mantan presenter Metro TV, Sandrina Malakiano, menyebut kaum liberal lebih fundamentalis dibandingkan mereka-mereka yg mendapat julukan fundamentalis. Selain itu ke-fundamentalisme-an mereka (orang liberal) oleh Sandrina juga dianggap lebih berbahaya. Maka apabila selama ini Amrozi, Imam Samudra, hingga ust. ABB dianggap berbahaya, maka sebenarnya yg lebih berbahaya adalah Ulil Abshar Abdalla, Abdul Moqsith Ghozali, Goenawan Muhammad, dan mereka-mereka yg selama ini mengumandankan dirinya sebagai orang liberal.

Terakhir penulis menyimpulkan bahwa sebenarnya kalangan liberal tidak lebih sama dg anak kecil yg cengeng. Maunya menang sendiri, gak mau dikritik, dan suka meributkan hal-hal yg sebenarnya sudah baik. Mereka juga doyan banget apabila diberi uang recehan dan akan nangis apabila tidak dituruti kemauan mereka. Oleh karena itu penulis menyarankan bahwa kita tidak usah peduli terhadap rengekan dan ocehan mereka, kalaupun mereka mulai nakal maka jangan sungkan-sungkan untuk menjewer mereka.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s