Iman

Iman adalah mutiara
Di dalam hati manusia

Tiap kuputar lagu sendu dari Raihan, perempuan itu selalu berdiri di tepi jendela. Matanya selalu menatap jauh lurus ke aliran sungai Citarum yang bergemuruh. Aku acapkali perhatikannya. Kadang terbersit perasaan untuk mengenal. Bahkan lebih dari sekedar “mengenal”. Namun, jarak kamarku dengan kamarnya terlalu jauh. Terpisah oleh bentangan sungai yang membelah kota Bandung ini.

Di sepanjang sungai yang airnya mirip bajigur, disekitar Tamansari Bandung, rumah-rumah berjajar, kamar-kamar bertingkat didirikan dan disewakan. Ada yang permanen. Ada pula yang sekadarnya. Semua laku bak kacang goreng. Mulai mahasiswa tingkat pertama hingga akhir, pegawai toko, waitress, pemandu lagu, scoring girl, WTS kelas teri, banci yang sering berkeliaran di sekitar Dago, semuanya mencari kost di sekitar sini.

Aku salah satu dari mereka. Sudah sekitar 3 bulan aku menjadi SSG sekaligus pegawai di supermarket Daarut Tauhid. Meski gaji tidak seberapa, aku coba sisihkan sebagian buat menyewa kamar 2×3 m. Sisanya aku kirim ke Ambu di Banjaran. Aku pilih kamar yang berbatasan langsung dengan sungai agar aku bisa melihat air yang beriak-riak dengan latarbelakang gunung Tangkuban Perahu yang tersembul dibalik pepohonan. Sejak kecil aku memang terbiasa dengan suasana alam. Rumahku sendiri di Banjaran tepat di sebuah kaki bukit dengan sungai yang mengalir di bawahnya.

Bisa saja aku tinggal di Gegerkalong, Pesantren DT. Tapi aku memilih tidak bergantung pada fasilitas yang DT berikan. Aku ingin belajar mandiri dan mencoba bertahan hidup dengan caraku. Biar di sela-sela waktu kerja, sepulang kerja, sekitar Isya, sebelum mandi aku bisa duduk-duduk di pinggir jendela sambil minum teh manis hangat. Tape butut yang aku beli di Cihapit hampir selalu memutar lagu yang itu-itu saja. Saat itulah, ketika diputar lagu Iman Mutiara, aku selalu melihat perempuan berkerudung itu berdiri di tepi jendela.

***

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya

Mungkin ini lagu kenangannya. Lagu yang selalu dia dendangkan bersama teman-temannya sepulang pengajian. Atau lagu yang selalu menyemangati dia ketika kondisi futur menghinggapi dirinya. Bukankah tidak ada yang lebih menggetarkan di dunia ini ketika hati dan otak kita terkenang pada suatu hal yang pernah singgah? Atau malah dia seorang jamaah DT juga yang sedang menghapalkan lagu. Atau semuanya hanya kebetulan saja. Kebetulan saja dia ingin berdiri di tepi jendela setiap aku putar lagu ini. Tidak mustahil kan?

Dugaan seperti itu sebenarnya bukan masalah yang harus dimasukan ke otakku. Hidupku sudah penuh dengan hal-hal yang tak terduga. Sampai sekali waktu, ketika aku sedang memandangnya, perempuan itu tersenyum. Sontak aku terhenyak. Kupalingkan mata agar tidak ketahuan kalau aku memandangi dia sejak tadi. Sambil melirik kanan kiri kalau-kalau dia tersenyum ke arah penghuni kamar yang lainnya. Tapi tidak ada satu kamar pun yang terbuka malam itu. Berarti dia tersenyum kepadaku. Aku coba balas senyumnya sambil perlahan aku tundukan pandanganku darinya. Sekilas aku melihat dia tersenyum kembali. Kikuknya aku.

***

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertakwa

Sejak saat itu, aku terbius oleh senyum perempuan berkerudung di seberang kamarku. Ada perasaan tak biasa tentang pandanganku kepadanya. Entah itu perasaan apa. Yang jelas setiap pulang kerja, aku jadi selalu memutar lagu itu. Berharap dia melihat dan tersenyum kembali. Akupun berjanji pada diriku sendiri tentang dirinya. Pernah suatu kali aku mata-matai penghuni rumah kostan itu, tapi perempuan itu tidak sekali pun keluar dari rumah. Padahal aku menunggunya selepas shalat shubuh di masjid hingga pukul 8 pagi. Kebetulan hari itu aku tidak ada kerja. Suatu ketika sepulang kerja, aku menemukan secarik kertas berwarna merah muda tepat di bawah pintu kamarku.

Assalamu’alaykum, akhi syukran ya selalu memutarkan lagu favorit ana.
Seorang hamba yang dhaif: Fitri.

Apa berlebihan kalau dibilang aku sudah jatuh cinta padanya? Tapi namanya juga manusia yang memiliki naluri pasti ada kecenderungan kesana. Terlebih dihadapkan kepada sosok yang seperti dia. Wajahnya yang lembut, senyumnya yang menawan, kerudungnya yang lebar, mengingatkan aku pada cerita ustadz yang dulu mengajarku di rumah kala Abah masih ada. Ustadz berkata kalau surga itu indah sekali. Disana, taman dialiri telaga susu hingga harum bunganya pun belum pernah seorang manusia menciumnya. Subhanallah… andai akhirat adalah sebuah kertas, akan kupotong saat bunga-bunga surga bermekaran dan air telaga susu mengalir dengan lembut. Aku akan membawanya kemana-mana. Aku akan menciumnya dalam-dalam dan tak sedikit pun aku lepaskan.

Itulah kedahsyatan perempuan berkerudung tadi. Apalagi saat matanya memandang arus sungai, saat senyum tercerah menjadi satu-satunya fenomena terindah yang muncul di tengah kekumuhan rumah-rumah tepi sungai. Saat kerudungnya tergerai tertiup angin, aku mendapatkan cekaman-cekaman yang mempesona seolah aku begitu dekat dan tahu segala sesuatu tentang dirinya. Padahal pengetahuanku tentang dirinya hanya sebatas menduga-duga dari mata, senyum dan kerudung saja.

Esoknya aku menemukan lagi secarik kertas merah muda di bawah pintu. Isinya seperti sebuah pertanyaan; Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita tidak beriman oleh orang yang kita cintai? Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita beriman oleh orang yang tidak kita cintai? Jagalah imanmu sebab besok atau lusa siapa yang tahu dia masih ada.

Aku jelas-jelas tidak mengerti apa maksudnya. Mengapa harus keluar kata-kata yang berbelit-belit begitu. Kenapa harus memusingkan kata cinta kalau memang ada yang mencintai. Agh! Otakku ternyata terlalu bebal untuk mengerti apa yang dia maksud. Aku bermaksud bertanya kepada perempuan di tepi jendela yang aku kira si pengirim kertas-kertas ini. Namun, sejak pesan terakhir yang aku terima, tak sekalipun ia perhatikan aku lagi. Berkali-kali aku sengaja memainkan volume lagu kesukaannya. Tapi hasilnya nihil! Dia tetap saja memandang arus sungai Citarum. Sampai aku sendiri menjadi capek melihatnya. Disatu sisi perasaan di hati ini semakin tak tertahan.

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api namun tak jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah

Mungkin pernyataan itu ada kaitanya dengan lagu ini. Tapi aku tetap saja tak mengerti. Apalagi sejak perempuan berkerudung itu enggan perhatikan aku. Dia makin asyik dengan dunianya yang sepi, dingin, hampa dalam kesenyapan malam, deru air sungai, bulan purnama, siluet Tangkuban Perahu, suara kendaraan, bunyi suara tukang nasi goreng dan lainnya.

Seketika itu juga janjiku tentang dia seakan terhempas angin topan yang datang secara tiba-tiba. Niatan untuk mengenalnya lebih jauh menjadi haru biru. Walaupun tidak selayaknya seorang muslim berputus asa. Sejak itu aku tidak bersemangat lagi pulang begitu kerja selesai. Ritual menyalakan tape butut pun seolah jadi sesuatu yang tabu. Malam itu tepat pukul 22.00, sepulang kajian di DT, aku menemukan beberapa carik kertas yang sudah sedikit lecek dan menguning. Aku tatap lebih dalam. Bentuk hurufnya sama seperti yang selalu aku terima sebelumnya. Dengan perasaan ingin tahu yang menggebu aku segera bersandar di kursi lantas membacanya:

Namaku Nur Fitri. Saat ini usiaku 22 tahun. Saya lulusan pesantren di Tasikmalaya. Bapakku adalah pemilik pesantren itu. Keluarga saya termasuk keluarga terpandang. Saya sendiri anak ke sebelas dari dua belas bersaudara. Dulu saya adalah seorang santriwati teladan di pesantren. Dari ilmu-ilmu alat hingga bernasyid selalu saya yang dikedepankan. Lagu Iman Mutiara selalu saya nyanyikan setiap pulang dari masjid bareng sahabat-sahabatku. Keistimewaan saya bukan berarti membuat saya semakin betah. Saya justru pergi dari pesantren. Ini saya lakukan sebagai protes kepada bapak yang menjodohkan saya dengan pilihan yang bapak mau. Padahal saya sudah punya pilihan dan ingin sekolah yang lebih tinggi lagi di Bandung.

Dengan bantuan seorang teman, saya tiba di Bandung. Demi menghidupi diri sendiri dan biaya sekolah, saya bekerja menjadi pelayan part time sambil memberi privat anak-anak SD hingga suatu malam di kamar kost, saya diperkosa oleh pacar teman saya itu. Kesucian dan keyakinan hidup yang saya bangun selama ini seakan hancur berkeping-keping. Seketika itu saya hancur. Akhirnya dengan bersusah payah saya mencoba membangun dunia saya kembali dengan air mata dan kesakitan. Segala apa yang saya punya, apa yang Allah berikan, saya jual sebagai bentuk kesakitan dan frustasi.

Suatu ketika ada seorang akhwat menghampiri saya. Ketika itu saya menangis sendirian di pojokan mushola sambil membaca Al-Qur’an kenang-kenangan juara MTQ antar pesantren. Padahal sejam sebelumnya saya baru memuaskan seorang babah pemilik perusahaan kayu dari Semarang. Sungguh menggelikan ketika akhwat tadi mengatakan terpesona dengan suaraku. Dia tak sadar kalau mulut ini memang mendayu-dayu dan indah. Tapi sebenarnya hati saya berdarah. Saya hanya bisa tersenyum getir. Tapi kedekatan dia, cara dia memberikan perhatian, sungguh merupakan bahasa kalbu yang baru bagi saya. Saya terhenyak dan mengingat kembali segala sesuatu yang ada jauh sebelum saya datang ke kota ini. Setiap hari dia menemui saya. Setiap hari dia memberi tulisan-tulisan bernada nasihat. Setiap hari juga dia kirim sms untuk mengingatkan shalat tahajud. Padahal setiap malam itu dia kirim sms, saya sedang berada didekapan laki-laki yang selalu berganti-ganti. Setiap minggu juga dia selalu berikan selebaran berwarna putih biru dan ujung-ujungnya ajakan untuk ikut Qudwah. Begitu dia bilang.

Saya makin takjub ketika dengan tulus dia menawarkan kakak laki-lakinya kepada saya. Digenggamnya tangan saya erat dan meluncurkan kata-kata itu. Meski akhirnya dia tahu siapa sebenarnya saya tapi tidak menyurutkannya untuk berhenti berkata. Ah, diam-diam air mata saya mulai menetes melihat ketulusan sahabatku yang satu ini. Namun setiap pelanggan menjemput, saya diingatkan kembali bahwa iman saya telah hilang entah kemana. Karenanya, ucapan dan permintaan tulus sahabat saya itu seakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi di lubuk terdalam saya butuh semua yang dia katakan. Jujur saya butuh itu. Saya butuh kedamaian. Saya capek hidup di dunia yang kotor ini. Hidup saya yang sebenarnya bukan di alam nista ini. Dalam keadaan seperti itu, tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita tidak beriman oleh orang yang kita cintai? Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita beriman oleh orang yang tidak kita cintai? Saya memang sudah terbiasa menangis dalam hati. Tapi tidak meratap seperti halnya saat itu. Ketika akhwat tadi mencegah saya dijemput oleh mucikari pengelola night club tempat saya bekerja. Ia malah diperkosa oleh kaki tangan si mucikari sebagai balasan penolakan saya untuk bekerja lagi. Ratapan saya semakin menyanyat ketika kakak sahabat saya -yang akan dijodohkan kepada saya- meninggal ketika mencoba menolong adiknya yang sedang diperkosa. Tiga buah tusukan sangkur tepat menusuk jantung kiri dan lambungnya. Sungguh saya tidak tahan.

Selembar lainnya hanya berisi sebuah kalimat: Terima kasih Pras, kau telah mengingatkan saya tentang iman. Sesuatu yang bertahun-tahun saya coba kubur tapi tak pernah sedikit pun dia mati.

Hah?! Bagaimana dia tahu namaku? Sontak aku terkejut ketika di kertas tersebut jelas sekali tertulis namaku. Apakah selama ini dia mencari tahu tentang aku juga. Kalau begitu perasaan aku dan dia ternyata sama. Kami saling merindukan masing-masing. Aku segera bergegas menuju jendela kamar untuk menyapa perempuan di tepi jendela itu. Belum sempat aku menggerakan tangan, perempuan itu tersenyum lantas melambaikan tangan dan masuk ke dalam. Benarkah ini kisah perempuan yang suka lagu Iman Mutiara itu?

Esoknya aku datangi rumah bertingkat di seberang sungai. Niatku saat itu untuk mengungkapkan segalanya dan meminta penjelasan dia. Tapi tak ada seorang pun yang tahu tentang Fitri. Penghuni kamar yang jendelanya menghadap sungai sekarang bernama Irma, seorang scoring girl yang terlalu liar di mataku. Aku merasa seisi rumah kost itu menyembunyikan Fitri. Karenanya setiap pagi aku menunggu di depan rumah itu. Sampai seorang tetangga memanggil aku.

“Pras, Saya dengar kamu mencari seseorang ya?” katanya.

“Ya” jawabku singkat.

“Kamar itu memang pernah ditinggali Fitri. Tapi itu enam bulan yang lalu.”

“Enam bulan yang lalu?” aku keheranan.

“Benar enam bulan yang lalu. Entah kenapa dia melompat ke sungai dan meninggal. Sengaja cerita itu disembunyikan biar yang kost tidak takut. Masalahnya kematian dia sedikit janggal. Kayaknya dia bukan bunuh diri tapi dibunuh. Kamu kenal Fitri darimana?”

“Innalillahi,” Saat itu juga aku bergegas pulang. Tak tahu harus melakukan apa. Tapi aku sempat menuliskan sebuah kalimat di agenda harianku: Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita tidak beriman oleh orang yang kita cintai? Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita beriman oleh orang yang tidak kita cintai? Jagalah imanmu sebab besok atau lusa siapa yang tahu dia masih ada. Ya….semoga begitu Fit!

Untuk Aku, Kamu, dan Mereka

September 2005

Keterangan:
Abah = bapak (Sunda)
Ambu = ibu (Sunda)
Babah = Panggilan utk bapak-bapak beretnis Cina
Bajigur = minuman khas Jawa Barat
Banjaran = Kecamatan kecil di selatan Bandung
Butut = Jelek (Sunda)
Cihapit = Nama jalan tempat jualan barang loak di Bandung
Scoring Girl = Perempuan penghitung angka di meja bilyar
Waitress = pelayan

(gak tau ini cerpen ato kisah nyata, kebetulan  saya ambil dari  blognya mas PYTM. sumprit saya merinding baca nih cerita. tidak terbayang pabila kisah di atas menimpa diri kita atau orang terdekat kita, masihkah iman kita dekap di dada)

One thought on “Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s