Dua Belas September Delapan Empat

12 September 1984, tengah malam, Tanjung Priok bersimbah darah, ratusan umat Islam tersungkur ke tanah, tertembus timah panas yang menyalak dari senjata otomatis ratusan tentara. Mereka yang masih hidup dan tidak sempat lari, ditendang, diinjak-injak, dan dihajar dengan popor senjata hingga tewas. Drama pembantaian keji itu berlanjut dengan datangnya sejumlah truk tentara. Tubuh-tubuh tanpa nyawa itu dilempar begitu saja ke atas truk, seperti buruh melempar karung beras. Ditumpuk seperti ikan pindang. Menyusul kemudian sejumlah ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Kendaraan terakhir membersihkan sepanjang jalan itu dari simbahan darah. Maka keesokan harinya, nyaris tak dijumpai lagi jejak kebiadaban itu.

12 September 1984, pagi menjelang, sebuah tangis bayi lahir bersama kumandang adzan.  Malam sebelumnya seorang wanita telah berjuang memenuhi jihadnya. Sebuah perjuangan menyelesaikan sebuah hukum alam. Sebuah kelahiran adalah perjuangan seorang wanita, bertaruh nyawa sebagaimana para lelaki di tempat yg jauh beberapa jam kemudian.

Kini 26 tahun berselang kita para lelaki muslim negeri ini rindu pada keadaan seperti di atas. Sebuah keadaan yg hanya bisa kita dengar, lihat, dan baca, namun tidak pernah kita sentuh dan rasakan.

(tahun bertambah, usia berkurang, tapi kapan kau tunaikan jihadmu Din??)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s