PMC

Kita sudah sering membaca namanya dan sepak terjangnya di Iraq, Afghanistan, hingga Darfur dan perbatasan Pakistan. Biasanya dengan nama Blackwater. Tapi sayang kita hanya tahu sekedar nama dan profil, bukan sosok mereka yg sesungguhnya, dari mana, sejarah hidupnya, dan untuk apa mereka ada, serta dampaknya bagi masa depan dunia.

Kita juga sering menonton aksi mereka di layar kaca. Mereka muncul di film Rambo, beraksi di The A-Team, dan yg terbaru nongol di The Expendables yg menampilkan para aktor-aktor laga gaek. Tapi sayangnya banyak diantara kita yg tidak tahu siapa gerangan mereka, apa yg mereka kerjakan, dan untuk apa.

PMC atau Private Military Service alias perusahaan militer swasta. Bahasa kerennya untuk menyebut mereka adalah tentara bayaran. Mereka adalah sekelompok prajurit swasta yg dibayar dan dikontrak untuk berperang, untuk membunuh. Itulah gambaran mudah tentang PMC alias tentara bayaran. Akan tetapi tidak semudah itu membayangkan pekerjaan mereka.

PMC, perusahaan-perusahaan keamanan swasta ini adalah wajah jamak dari efek kapitalisme. Mereka awalnya memberikan jasa keamanan swasta (seperti security atau satpam), pelatihan militer, hingga kontraktor pembangunan di negeri-negeri konflik (seperti Iraq atau Afghanistan) yg tidak mungkin dimasuki oleh kontraktor pembangunan biasa. Akan tetapi dg semakin dalamnya kerjasama mereka dg negara-negara seperti AS dan Inggris membuat mereka semakin terlibat dg peperangan atau invasi yg dilakukan oleh kedua negara tersebut. Mulai dari jasa intelejen, serangan udara di Kolombia (untuk menghancurkan kekuatan FARC), melatih para pemberontak pro-barat di negeri-negeri Afrika, hingga terlibat kontak senjata langsung dg para mujahidin di Iraq dan Afghanistan. Mereka juga membantu melatih para tentara di negeri-negeri boneka AS dan Inggris seperti Iraq dan Afghanistan. Bahkan di Afghanistan mereka terlibat sebagai pasukan pengawalan presiden dan ikut memburu buron nomer satu AS, Usamah bin Laden.

Perusahaan seperti ini atau keberadaan tentara swasta atau bayaran sebenarnya sudah ada sejak lama. Kerajaan Kartago memiliki barisan tentara bayaran untuk menahan agresi Romawi. Begitu pula Romawi yg pada masa akhir kejayaannya lebih mengedepankan tentara bayaran dibandingkan pasukan reguler. Sedangkan pada hari ini keberadaan PMC mutlak diperlukan oleh negeri-negeri Barat.

Paska perang dingin berakhir dg kemenangan berada di pihak negeri-negeri barat, maka efeknya adalah tidak berimbangnya kekuatan dunia. Selain itu, tanpa adanya musuh bersama yg berbahanya, maka berkuranglah semangat nasionalisme di dada masyarakat barat. Efeknya, para tentara mereka menjadi lembek dan ogah-ogahan bertempur. Padahal tanpa adanya pesaing maka negeri-negeri AS dan Inggris sering melakukan invasi ke negeri-negeri dunia ketiga dg alasan demokratisasi. Maka ketika tentara mereka ogah-ogahan dan invasinya justru menuai kecaman di dalam negeri, maka PMC-lah pilihan utama untuk diterjunkan di negeri-negeri konflik. Mereka terbukti lebih berani dan nekat dibandingkan tentara regular. Selain itu, karena tidak masuk dalam klausul Konferensi Jenewa, maka memudahkan negara-negara pengontrak lepas tangan apabila terjadi suatu masalah dg PMC. Seperti halnya kasus pembantaian di Iraq yg melibatkan Blackwater, penjualan gadis di bawah umur di Bosnia oleh DynCorp, hingga kasus pelatihan pemberontak dan plot kudeta di Sierra Leone yg melibatkan Aegis, bagaimana negara pengontrak seperti AS dan Inggris justru menutup mata dan cuci tangan dari kasus tersebut, dan pada akhirnya kasus tersebut pun menguap.

Keberadaan PMC sendiri adalah efek dari kapitalisme, dimana segala sesuatunya diukur dg uang termasuk keamanan. PMC ada karena semakin mengguritanya kapitalisme di dunia. Efeknya adalah semakin banyak tentara yg lebih memilih pensiun dini karena tergiur gaji yg ditawarkan oleh PMC. Sedangkan dari sisi politis, semakin merajalelanya PMC atau tentara bayaran membuktikan semakin melemahnya peradaban barat. Terbukti dalam sejarah ketika tentara bayaran merajalela, maka itu pertanda akhir dari sebuah peradaban. Kartago runtuh ketika tentaranya kebanyakan tentara bayaran yg tidak setangguh tentara Hanibal yg pernah menyerang Roma. Romawi justru melempem ketika kebanyakan bergantung kepada tentara bayaran yg nyalinya mudah runtuh hanya ketika melihat tentara muslim berbaris rapi ketika sholat. Turki Utsmani juga akhirnya banyak kehilangan daerah kekuasaan dan jihad tidak lagi menggema ketika lebih bergantung pada Bashibazouk (tentara liar yg dibayar dg rampasan perang) sangat kontras dg keberanian para Jannisaries di era Muhammad Al Fatih dan Sulaiman Al Qanuni. Maka ketika hari ini Amerika dan Inggris lebih bergantung pada PMC, ini menandakan bahwa kemajuan militer mereka adalah ilusi. Justru semakin membesarnya PMC di negeri-negeri tersebut, menandakan bahwa sesungguhnya militer mereka rapuh dan mudah runtuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s