WC dan Trickle Down Effect

Saya mengalaminya kembali. Sebuah kejadian berulang yg terjadi tiap kali paska saya mengkonsumsi makanan pedas. Saya lahir di Jawa Timur, di kawasan pesisir utara bernama Sidoarjo yg terkenal dg petis udangnya. Tapi walaupun petisnya mak nyus, makanan khas daerah saya berasa normal, tidak ekstrim seperti makanan khas Yogya yg manis atau Padang dan Manado yg super pedas. Maka lidah tidak bisa berbohong, apalagi perut. Setiap kali memakan makanan pedas, mulut saya akan bersubtitusi dg rasa terbakar selama sepuluh menit. Kemudian timbullah trickle down effect-bahwa rasa pedas akan menyebar hingga ke organ pencernaan yg paling bawah. Inilah yg paling menyusahkan, karena rasa pedasnya menjalar mulai perut hingga ke saluran pembuangan akhir hingga berjam-jam kemudian. Maka –maaf- bokong saya berasa terbakar.

Itulah latar belakang bencana yg menimpa saya. Rumusan masalahnya adalah saya tidak sengaja mengonsumsi nasi pecel yg dibelikan istri di pasar. Bukan maksud menyakiti suami kesayangannya, istri saya gak tau klo ternyata sambel tumpang yg nongkrong di nasi pecel tersebut ternyata pedeseram (pedas banget menurut bahasa istri yg asli Kediri). Maka kemudian saya jadi ikutan nongkrong di wc sambil cengar-cengir nahan rasa panas the hot asshole.

Namun pedasnya sambel tidak sepedas kapitalisme. Penyakit yg ditimbulkan sambel juga masih kalah ama kapitalisme. Kapanpun dan dimanapun pada awalnya efek kapitalisme mirip sambel;pedas dan membakar. Lihatlah pesta demokrasi yg merupakan bagian dari kapitalisme, suhunya panas, penuh caci-maki, debat kusir, hingga gegeran antar tetangga. Rasa pedas juga membuat orang susah mikir. Maka tengoklah sekali lagi pemilu yg membodohkan, lihatlah corong-corong media kapitalis yg membuat orang semakin bodoh, lihatlah juga kampanye intelektual agen kapitalisme yg tak henti-hentinya menyodori secara paksa kepala masyarakat dg sampah. Awal munculnya kapitalisme juga mirip sambel yaitu sangat menyakitkan. Tengoklah kehadiran tangan-tangan kapitalisme di dunia ketiga. Tengoklah Amerika Latin, Afrika, Jazirah Arab, hingga Asia Tenggara. Lihat dan kaji film Syriana, The Kingdom, Blood Diamond, Quantum of Solace, hingga Expendables. Sekali lagi lihat lebih dalam dan resapi bagaimana Barat (yg notabene berhaluan kapitalisme) menggambarkan betapa buruknya kehadiran kapitalisme.

Dan kapitalisme selalu membawa gejala trickle down effect. Bukan kemakmuran yg merambat ke bawah, tapi kesengsaraan yg merata hingga ke seluruh sendi kehidupan. Tengoklah Afghanistan, Iraq, dan Palestina yg jadi korban direct action kapitalisme. Tengoklah kramat tunggak hingga gang dolly yg secara kasat mata adalah korban kehidupan kapitalisme. Dan tengoklah berita-berita kriminal, berita selebritis, anggota dewan yg tidur ketika rapat, tengoklah berita dunia tentang kelaparan, pengangguran, bencana ekologi, perang, penyelundupan narkotik, hingga kasus pedofilia.

Ah saya terlalu lelah, lagipula bagian belakang saya masih terasa panas seperti knalpot sukhoi. Maka obatnya adalah minum teh campur susu hangat. Oleh karena itu jika kau telah lelah dg kapitalisme, maka buanglah dan obati dg sungguh-sungguh. Lawanlah kapitalisme mulai dari hal yg terkecil seperti tidak memilih ketika pemilihan umum tiba atau libur menyimpan uang di lembaga keuangan kapital atau membajak sebanyak-banyaknya produk kapitalisme. Ya buanglah kapitalisme dg ikhlas seperti ketika kita buang air besar di jamban. Dan obatilah kepalamu dg obat yg sesungguhnya. Penyakit mencret karena sambel bukan diobati dg mengonsumsi cabe tapi dg susu dan teh hangat. Dan kapitalisme bukan diobati dg komunisme, sosialisme, anarkisme, hingga punk yg ternyata sangat tidak nyambunmg dan justru semakin memperparah keadaan. Solusi obat masalah dunia hanyalah Islam, sebuah sistem asasi buatan Pencipta manusia yg jelas telah paham urusan kita. Sebuah sistem yg paling manusiawi, masuk akal, dan menentramkan hati. Maka tunggu apalagi, segera sruputlah Islam secara menyeluruh, nikmati rasa hangat di kepala dan dada kita, kemudian rasakan efeknya pada kehidupan baik diri, keluarga, masyarakat, hingga -Insya Allah apabila kita perjuangkan dg sungguh-sungguh- dalam kehidupan bernegara.

(dalam rinai hujan Purwoasri Kediri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s