Di bawah langit, dipeluk oleh gunung

Saya menyaksikan pemandangan seru pas lagi ngobrol sama istri via telepon. Di depan jendela, saya menyaksikan perlahan-lahan matahari terbit di sela-sela gunung yg melingkupi saya. Kebetulan beberapa hari saya mengikuti workshop di sebuah hotel di Batu Malang mewakili kantor. Acara seperti ini baru pertama kali saya ikuti paska lulus dari kuliah. Berbeda dengan acara-acara LDK yg dulu sering saya ikuti yang acara-acaranya biasanya padat. Dalam kegiatan ini kami peserta acara lebih banyak nyantai. Meskipun embel-embel acaranya serem, workshop guru se Jawa Timur, tapi peserta lebih banyak istirahatnya. Maka tidak salah klo ada koment klo acara tersebut hanya sekedar untuk menghabiskan anggaran karena mendekati akhir tahun. Saya tidak ikut koment karena bagi saya ini kesempatan langka untuk rekreasi, merehatkan tubuh dari aktivitas kerja yang menumpuk tiap hari. Maka tidak salah klo banyak peserta yang akhirnya lebih menyalurkan hobinya. Mereka yang hobi fotografi habis-habisan mencari obyek seru di sekitar hotel. Mereka yang hobi belanja tidak menyia-nyiakan kesempatan belanja oleh-oleh. Saya sendiri yang hobi nulis ingin menggoreskan banyak goresan. Tapi masalahnya entah mengapa ide- ide tersebut tidak segera mengendap. Sambil menyaksikan berita Obama di tivi, ide belum mengendap. Membaca koran yang menampilkan komentar sinis tentang kunjungan Presiden Amerika tersebut ide juga belum mengendap. Berendam air hangat ide belum juga mengendap. Akhirnya setelah ngopi dan santai di atas balkon hotel sambil menyaksikan gunung-gemunung yang melingkupi Batu, ide-ide mulai mengental bercampur krim dan gula.
Matahari perlahan-lahan meninggi, awan-awan mulai meninggalkan sarangnya di sela-sela gunung. Saya terus menyaksikan gunung-gunung tersebut meskipun kopi telah tandas. Saya berangan-angan sejak kapan kota ini dibangun dan untuk apa. Sejak lama manusia memang selalu ingin mendekati alam. Manusia ingin merasakan kebersahajaan alam untuk mencapai kebahagiaan abadi. Mereka rela mendekati gunung, bersemedi di atas batu-batu besar, menyepi di dalam ceruk gua, atau berendam di bawah air terjun. Sejak era Gajah Mada moksa di Madakaripura hingga Musashi yang melatih hati dan pikirannya di gunung. Manusia modern tetap mencari kebahagiaan tersebut. Apalagi di era ketika manusia mulai perlahan menjauhi Tuhan dan kemanusiaannya. Banyak orang yang menggemari kisah tentang mitos shambala, shangri la, dan tempat-tempat eksotis di ketinggian gunung. Banyak yang mempraktekkan yoga dan mencari tempat-tempat yang hijau dan asri yang di sela-selanya mengalir air bening dan kabut tipis sering menyambangi tempat tersebut. Manusia modern meninggalkan Tuhan untuk menggantinya dengan dunia dan ketika dunia mulai menghimpitnya mereka mulai mencari-cari Tuhan. Seperti kisah dalam novel Eat, Pray, and Love tentang gambaran manusia modern yang gagal kemudian mulai mengunjungi Roma, India, hingga Bali untuk mencari kebahagiaan hidup, ketenangan, dan mencoba mendekati Tuhan.
Entahlah, kemudian saya terbayang Bilal yang ditindih batu besar di tengah terik mentari gurun dan ia tetap tersenyum. Saya terbayang keluarga Yassir yang begitu bahagia meskipun disiksa habis-habisan hingga terbunuh. Saya terbayang Ali bin Abi Tholib yang bahagia menggantikan Rasulullah yang terancam bunuh. Saya terbayang sahabat Abu Bakar yang bahagia menyertai hijrah Junjungannya menyusuri padang pasir yang hanya berbatas kakilangit. Saya terbayang sahabat Amir bin Jamuh yang meskipun pincang dengan sangat bahagia berangkat ke medan perang atau seorang sahabat yang baru saja merasakan malam pertama lebih meninggalkan masa bahagia tersebut untuk berperang. Apa yang menyebabkan kaum muslimin generasi awal begitu bahagia dalam kondisi yang mungkin bagi manusia modern sangat tidak normal tersebut. Saya baru tersadar bahwa saat itu kaum muslimin tidak mencari gambaran surga di dunia, mereka justru menjasadkan surga di dalam hatinya. Kaum muslimin telah menjasadkan kebahagiaan abadi dalam diri mereka dan dibingkai dalam ketaatan kepada Allahu Rabbi. Maka benarlah Rasulullah ia bersabda sungguh bahagianya kaum muslimin, ketika ia mendapatkan cobaan dan ia sabar maka itu pahala baginya dan ketika mendapat nikmat ia bersyukur maka itu pahala baginya. Maka benarlah apa yang disampaikan sahabat Ibnu Umar bahwa kebahagiaan baginya adalah sholat tahajud di malam-malam yang dingin dan berpuasa pada hari yang sangat terik. Simak juga syair Ibnu Taimiyah berikut :
Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan kebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.
Beliau pernah berkata dalam penjara, orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.
Maka mengakhiri acara minum kopi, saya termenung. Benarkah manusia akan bahagia ketika ia mulai menjauhi atau malah mengingkari Tuhannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s