Matikan Facebookmu dan Istiqomahlah

Seorang sahabat pernah bercerita. Suatu ketika temannya sedang berbahagia karena telah melakukan khitbah dg seorang akhwat. Sahabat saya tersebut ikut merasakan bahagia dan mendoakan temannya tersebut, apalagi sahabat saya tahu bahwa temannya adalah seorang ikhwan yg lurus. Waktu pun berlalu dan bulan berganti, sahabat saya tersebut bersua kembali dg temannya tersebut, setelah basa-basi tersampaikan, terakhir sahabat saya ingin bersalaman dan menyampaikan doa untuk pengantin baru. Aneh dan tak dinyana sama sekali temannya justru menolak. Usut punya usut ternyata temannya belum menikah atau lebih jelasnya gagal menikah. Setelah ditelisik lebih jauh oleh sahabat saya ceritanya mejadi dramatis. Alkisah setelah khitbah diucapkan dan proses berlanjut sang ikhwan tidak merasa ada hal yg aneh pada calon istrinya. Apalagi sang ikhwan berpatokan pada ayat bahwa laki-laki yg baik untuk wanita yg baik dan wanita yg baik untuk laki-laki yg baik dan sang ikhwan merasa bahwa selama ini hidupnya lurus-lurus saja, tidak pernah dan tidak mau terlibat skandal dg akhwat yg belum menjadi haknya, serta lebih fokus pada dakwah dan ibadah kepada Allah Swt. Tapi segala khusnundzon itu menguap bagai awan hujan di tengah musim kemarau. Suatu ketika sang ikhwan tidak sengaja ke warnet untuk mecari bahan tugas papernya. Di bilik samping biliknya terdengar cekikik wanita yg sedang asyik chatting lewat facebook. Hem asyik sekali ya, batin sang ikhwan, padahal dia kelihatannya seorang akhwat dan kelihatannya chattingnya dg seorang ikhwan, tambah sang ikhwan yg sedikit iseng mengintip monitor di bilik sebelah. Setelah semua bahan untuk papernya telah didapatkan maka selesailah urusan sang ikhwan. Hem belum selesai juga chattingnya, lama amat, padahal kelihatnnya lebih dulu dari saya, kembali sang ikhwan membatin tentang aktivitas akhwat di sebelahnya, kuat amat, apa aja yg dibicarakan, tentu sebagai laki-laki normal aku akan cemburu berat apabila melihat istriku melakukan hal tersebut dan pastinya akan melarang keras apabila adik perempuan atau anak gadisku melakukan hal tersebut dg lelaki yg belum menjadi haknya. Belum selesai kata yg tadi diucapkan dalam hati, sang ikhwan terperanjat bukan main. Bagai hujan salju yg tiba-tiba mengguyur Jakarta di tengah musim kemarau, bagai pohon pisang yg tiba-tiba tumbuh di tengah-tengah kutub selatan, ternyata akhwat yg dari tadi sibuk dg chattingannya adalah calon istrinya. Sambil menahan rasa malu dan marah yg ber-mix and max di dalam hati maka segeralah sang ikhwan berlalu. Malamnya tanpa menunggu matahari esok hari terbit dan dg bahasa dan tingkah laku sesopan mungkin sang ikhwan mendatangi calon istrinya untuk membatalkan khitbahnya. Sang ikhwan juga menasehati akhwat tersebut untuk segera menyampaikan kabar ini ke teman chattingnya dan berdoa semoga ikhwan teman chatting mantan calon istrinya untuk menggantikan posisinya. Sang akhwat menangis keras, malu pada dirinya, pada keluarga yg sudah menyiapkan segala tetek bengek pernikahan yg akan berlangsung seminggu lagi dan malu kepada Allah karena mengkhianati perjanjian. Tangisnya semakin keras karena ia tahu ikhwan teman chattingnya tidak akan mungkin menjadi mempelai prianya karena sejak awal dia sudah menyatakan tidak mau menikah karena belum siap. Sebuah tanya, bagaimana perasaan anda ketika mengalami hal di atas? Baik sebagai sang ikhwan, akhwat, atau jadi provokator yg tidak bertanggung jawab seperti di atas?

Itulah fakta yg menggambarkan salah satu efek negatif facebook. Seorang sahabat lain yg jago bahasa Arab dan Ushul Fiqh mencoba menghukumi facebook dg mengkoparasikannya dg beberap kitab fiqh, terutama fiqh pergaulan. Hasilnya didapatkan bahwa facebook lebih banyak mengandung mudharat daripada manfaat. Bagi sahabat saya tersebut facebook tak ubahnya rokok. Ya facebook mengandung banyak racun dibandingkan obat.

Memang facebook beberapa kali berguna bagi saya. Terutama ketika saya beberapa kali bersua dg teman lama yg sudah lama menghilang dan sangat saya rindukan. Tapi hanya sampai urusan tersebut, tidak lebih. Makanya banyak teman saya yg kecewa ketika melihat facebook saya yg terlantar.

Selebihnya saya lebih menyaksikan facebook hanyalah ajang say hello, cuap-cuap, gosip, ajang pamer foto dan status, atau ngobrol ngalor ngidul. Maka ketika fakta seperti kisah di atas semakin sering saya temui, maka saya semakin percaya ama fatwa sahabat saya yg jago bahasa Arab tadi. Saya sering menemukan ternyata facebook juga jadi ajang jual diri (mirip FS dulu), selingkuh, pacaran, TTM, HTS, zina online, hingga jadi ajang fitnah serta berbagai macam kemudharatan yg lain.

Anehnya justru banyak yg menyarankan agar kita berdakwah melalui facebook. Bagi saya ya maaf saja. Dibandingkan friendster yg memiliki fasilitas blog yg bisa menampung segala keluh kesah, nasehat, bantahan, hingga pembelaan terhadap dien ini yg itu justru tidak dimiliki oleh facebook. Facebook hanya menyediakan sebuah konten singkat yg sangat terbatas hurufnya. Bagi saya itu hanya sebuah teriakan omong kosong yg tidak mampu menampung khotbah kebenaran, mau’idzah khasanah, jidal/debat dg orang liberal, orasi, bahkan tidak mampu menampung battle microphone seperti yg biasa dilakukan Thufail Al Ghifari. Lagipula saya juga belum melihat bahwa Ulil Abshar Abdalla, Abdul Moqshit Gazali, Lutfi Assaukani, dan para sekondannya di JIL “berdakwah” lewat facebook. Mereka paham strategi, makanya mending bikin tulisan atau artikel di blog atau website daripada cuap-cuap ala ibu-ibu PKK di facebook. Anak-anak punk yg tersusupi ide-ide marxis aja paham, lebih baik bikin zine atau magz atau stensilan untuk “mendakwahkan” ide tersebut, ketimbang habisin duit buat facebook yg sangat kental nuansa kapitalisme yg merupakan ide kontra kultura bagi mereka. Facebook lebih banyak digunakan oleh artis kaliber Jupe, DePe, n sebagainya atau oleh orang umum untuk sekedar menulis “aku lapar tadi gak sarapan”, “jadian nih ye”, “semalam belah duren, uenak”, “nguantuk pool”. Maka suatu hal yg lucu bila ada aktivis Islam yg mendewakan facebook, seakan-akan dakwah di dunia maya hanya bisa lewat facebook. Buka mata antum!! Atau jangan-jangan kita melakukan pembelaan terhadap facebook karena di tempat inilah kita bebas cuap-cuap dg akhwat/ikhwan, menyuburkan hubungan tanpa status, sok cari jodoh padahal cuma iseng doang, dan melakukan hal-hal mudharat lainnya. Kemana kitab yg selama ini kita kaji, kemana ilmu yg selama ini kita bawa, kemana dien yg selama ini kita bela, kemana????

Maka saran saya adalah matikan facebookmu dan istiqomahlah. Beralilah ke wordpress, blogspot, multiply, dan puluhan situs penyedia blog gratis untuk menampung segala isi kepala kita yg hendak kita tunjukkan pada dunia bahwa kita bangga menjadi seorang muslim. Matikan facebookmu dan istiqomahlah, bila kita memiliki kelebihan rizki kita bisa membuat media sendiri yg sekreatif mungkin untuk melawan media major yg pro kapitalis. Matikan facebookmu dan istiqomahlah, klo memang kita tidak berbakat menulis ya sudah diam saja dan belajar dg tekun tentang ilmu-ilmu keislaman. Kita masih membutuhkan banyak ahli hadits, ahli Al Qur’an, ahli Ushul Fiqh dan Fiqh, ya kita masih butuh banyak para spesialis ilmu-ilmu keislaman. Matikan facebookmu dan istiqomahlah, bukan karena facebook buatan pemuda yahudi dan diperkirakan sebagai ajang mata-mata atau pengalih perhatian agar umat Islam sibuk sendiri sehingga melupakan kebangkitan Islam. Bukan, bukan itu alasannya, bagi saya facebook mirip tinju yg dilemparkan lawan ke kepala kita, maka pilihan satu-satunya adalah sekuat dan secepat apa kita mampu membalas tinju tersebut bukan malah menikmatinya. Bila seorang pemuda yahudi saja mampu membuat sebuah situs web yg menghebohkan dunia, maka kita umat Islam harusnya berfikir sejauh mana kita mampu membuat hal serupa dan lebih baik karena kitalah satu-satunya calon lawan mereka dan satu-satunya calon pewaris dunia. Renungkan kawan.

(sejak tulisan ini saya posting di blog, maka otomatis alamat facebook akan saya matikan)

Nb. Tulisan ini memang terilhami oleh fakta di depan saya tentang aktifitas para aktifis dakwah yg menjurus maksiat dan fitnah di facebook. Terus terang saya tidak membenci aktifitas dakwah lewat media apapun, saya hanya mencoba melakukan sedikit otokritik. Bagi yg merasa tersinggung atau tidak terima tulisan di atas boleh melayangkan bantahan baik mengenai hukum facebook menurut Islam, urgensi dakwah via facebook, atau bantahan tentang aktivitas negatif di facebook. Syaratnya harus via blog, web, atau email bukan lewat facebook dan sejenisnya.

4 thoughts on “Matikan Facebookmu dan Istiqomahlah

  1. sebelumnya barokallahu laka….
    wah sy gak tau antm sudh menyempurnakan stengah dari dienNYA
    Btw…asli ni tulisan nampar abis hampir 2 tahun aq gak buka blog…
    trus iseng2 kangen pengen nulis….ternyata buka blog antm msh ada di
    blog ku….
    asli….keren nich tulisan…
    jujur aq punya fb bukan bwt dakwah…
    tp mengeksplorkan…kerinduan sama temen2 lama…
    so far ni pemikiran dari tulisan ini keren…
    wah tamparan nich…
    baru memutuskan dakwah satu tahun ini rasanya banyak pahit manisnya
    pas buka tulisan ini bukan pahit manis lagi…
    tapi kuecutttt…
    soalnya tersendir…
    btw….sy sangat mengapresiasi tulisan ini
    krn sy yakin tulisann ini juga di tujukan ke saya
    wass

  2. Aslmualkm.wr.wb
    pertama2 salam kenal… tulisannya sangat mengena sekali pada saya,hiks…
    berapa puluh jam bermain facebook, sampe lupa makan, sampe lupa belajar..hiks… berapa banyak hal yang bermanfaat bisa dikerjakan dari pada main facebook….
    sekarang saya mulai berbenah… semoga allah memberikan rahmat hidayahnya ke pada saya dan memberikan kekuatan untuk berubah.,,
    terima kasih dengan tulisannya membuat saya tersadar dari buayan facebook… …
    Bissmilah….
    untuk berubah….

  3. assalam…..
    trxta apa yg selama ini aku pikirkan dan bayangkan ttng dampak lain FB akhirnya skrg si penulis telah utarakan secara komprehensif, krn proses adalah penantian terhadap kebenaran itu..

    SALAM EKSTRIMIS FUNDAMENTAL ISLAM

  4. Assalamu’alaykum wr. wb.

    suka tulisan ini..

    nampar banget, sebenarnya bukan fb saja, multiply, koprol, yahoo pulse juga kondisinya 11 12 dg fb. Yang paling aman adl via blogspot atau wordpress atau website sendiri. Puas ngeluarin uneg2 tanpa ada yang komen..

    FB saya sdh didelete, tapi masih aja ada yang bandel nge-add via email. Akhirnya saya coba gabung di ruangmuslim dan menggiring tmn2 kesana. Namun, hegemoni fb memang sangat kuat. So, sepi deh ruangmuslimnya & ndak keurus. Kesimpulan akhir : lebih nyaman blogging.. ^ ^

    Wah, jadi curcol.. Afwan ya Pak ^ ^ v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s