dari MOGSAW, Rindu Muhammadku, hingga Maulidud Diba’

Lelaki ini tidak pernah henti-hentinya dikisahkan. Terkadang orang menangis haru mendengar kisahnya. Terkadang orang berubah menjadi romantis setelah menamatkan kisahnya. Tekadang orang juga menjadi bersemangat, meluap keberaniannya di dada, dan menjadi teguh di hadapan senapan yg terkokang ketika namanya dibisikkan dan kisahnya melintas di kepala.

Sosoknya mungkin tidak pernah di film kan oleh para yahudi Hollywood. Tapi kisahnya tak pernah berhenti ditulis manusia. Sebutlah Ibn Hisyam, Al Barzanji, Ali An Nadwi, Al Mubarakfury, Qolahji, hingga Tasaro GK, sampai Martin Lings. Namanya tak pernah berhenti digumamkan, dia menjadi inspirasi jutaan syair. Dari panggung bertabur para underground, dinyanyikan dengan gembira oleh bocah-bocah Raudhatul Athfal, hingga para santri yg dengan khusyuk terpejam membaca kisah hidupnya dalam Barzanji di permulaan malam di surau pinggir kampung ditemani lantunan rebana.

Dialah Muhammad, Sang Nabi, Sang Pecinta, Sang Jenderal Besar, Sang Pemimpin Teladan, Sang Revolusioner. Dialah Muhammad, sosok yang digambarkan sebagai petir yang membakar dari Delhi hingga Granada.

Muhammad, sosok yang welas asih. Kau suapi yahudi buta yg tiap hari menghina namamu. Kau berikan kemaafan pada musuh-musuhmu pada Fathul Mekkah. Kau terima dengan lapang dada pertobatan Abu Sofyan, sosok yang selama ini menjadi pemimpin gerakan perlawanan terhadap dirimu. Bahkan masih kau pikirkan anjing yg menyusui anaknya dalam kisah perjalanan menuju pembebasan Mekkah.

Muhammad, kau juga sosok yg tegas. Doamu tentang para musuh yg menyebabkan gigimu rontok pada perang Uhud membuat persendian seakan terlepas dari tubuh mereka. Juga perintahmu tentang sholat Ashar di tempat bani Qainuqa yg telah berkhianat. Juga ucapanmu pada utusan Mushailamah Al Kadzab sang nabi palsu. Dan ucapanmu tentang hancurnya Persia ketika rajanya merobek surat darimu.

Muhammad, kau sosok yang romantis.Lomba larimu dg sang istri, panggilan-panggilan sayangmu, dan rasa cintamu yg tidak pernah terbagi. Kau tangisi dan mengharu biru ketika istri tercintamu yg selama ini menjadi salah satu penopang hidupmu pergi mendahuluimu.

Muhammad, kau sosok Panglima. Cerdas, ketika gunakan strategi parit dalam perang Khandaq. Pemberani, ketika do’a kau langitkan dalam perang Badar. Kau kirimkan pasukan khusus untuk membunuh para pemimpin Khaibar yg menghalangi dakwahmu. Kau cetak para jenderal-jenderal gagah berani seperti Ali, Khalid, Ja’far, Abdullah bin Rawahah, hingga Usamah bin Zaid. Kau cetak juga para negotiator handal seperti Mush’ab bin Umair, Utsman bin Affan, dan Amru bin Ash. Sosokmu menjadi inspirasi ketika kau ucapkan janji Allah bahwa Syam, Persia, Yaman, dan benteng terkuat Konstantinopel akan dibebaskan oleh kaum muslimin.

Muhammad, kau sosok Revolusioner. Kau lahirkan peradaban baru yg berbeda dengan peradaban sebelum dan sesudahnya. Kau hadirkan sebuah peradaban ibadah. Kau mungkin bisa menyatukan suku-suku Arab dalam nasionalisme seperti halnya Genghis Khan atau Abdel Nasser, tapi tidak kau lakukan. Kau bisa ciptakan revolusi kelas atau people power tapi sekali lagi kau tidak melakukannya. Kau bisa ciptakan perubahan moral, tapi itu tidak cukup untuk membangun peradaban. Juga tidak kau bangun gerakan sosial atau pendidikan. Kau juga tidak melirik untuk tergoda dalam sistem yg sedang melingkupi Jazirah. Walau di sekelilingmu terdapat para pemberani, tidak terbersit dalam drimu untuk mendirikan gerakan perlawanan bersenjata.

Muhammad, kau lahirkan peradaban dari kalimah tauhid Laa Ilahaillallah Muhammadur Rasulullah. Kau bimbing para sahabat dalam halaqah di rumah Arqam. Kau lahirkan qutlah atau jama’ah revolusioner. Kau dakwahkan Islam sebagai ajaran yg ideologis yg tidak hanya menyangkut ibadah kepada Allah tapi juga tata aturan hidup di dunia. Kau lahirkan peradaban dalam negara ideologis di Madinah. Kau tanamkan dalam bumi sebuah sistem ideologis dalam bentuk Daulah Khilafah.

Muhammad, Sang Nabi untuk semua bangsa. Engkau Nabi penutup yg ajarannya melampaui masa dan tempat berpijak manusia. Engkau Sang Nabi yg kelahirannya tidak hanya diramalkan oleh para rohaniwan agama langit, tapi ratusan pemeluk agama lainnya meramalkan akan hadirnya Sang Messiah yg merubah wajah dunia.

Muhammad, namamu masih lekat pada hatiku. Namamu lekat ketika ratusan perahu dibakar di pantai Gibraltar. Namamu juga lekat pada barisan pembebas Al Aqsa. Namamu lekat ketika kapal melintasi perbukitan Konstantinopel. Namamu wahai Sang Nabi lekat ketika layar dikibarkan pada perahu yg berangkat ke Nusantara ratusan tahun lalu. Ya Rasulullah, namamu pasti tetap melekat di hati-hati kami kaum muslimin ketika Peradabanmu nanti tegak kemabali, Daulah Khilafah Rasyidah Ats Tsani.

(Ya Rasul, hanya coretan sederhana sebagai bukti kecintaanku padamu. aku yakin bahwa setebal apapun buku yg mencerikatan kebesaranmu, tidak ada yg mampu menandingi kebesaranmu Wahai Sang Lelaki Penggenggam Hujan).

One thought on “dari MOGSAW, Rindu Muhammadku, hingga Maulidud Diba’

  1. Membaca tulisan ini saya selalu ingin menangis. Ya Rasul betapa kami ini sangat jahil ketika mencoba mendeskripsikan dirimu, betapa kami ini sangat sombong mengaku menjadi bagian umatmu padahal tak secuilpun ilmu yang kami miliki untuk melihatmu lebih jelas dan tak ada satupun hal yang layak pada diri kami untuk mendapatkan gelar sebagai umatmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s