Kita Selamanya

…satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan…(Bondan and Fade2Black, kita selamanya)

Apa yg kita rasakan ketika berpisah dg orang-orang dekat kita, terutama sahabat. Banyak orang yg berkata bahwa masa SMA adalah masa yg indah dan melewatinya sungguh menjadi sebuah kenangan tersendiri. Ini yg saya rasakan akhir-akhir ini, kebetulan mulai tahun ini saya mengajar kelas 3 baik di SMK maupun di MA. Menjelang detik-detik UN dan perpisahan rasanya pas banget dengan lirik lagu Bondan di atas. Ya, ada tangis dan tawa, ada cinta, permusuhan, kelucuan, dan berbagai macam cerita ketika masa-masa SMA. Maka ingatan saya juga berkelebat pada masa-masa saya SMA dulu.

Banyak hal yg ingin saya kenang ketika SMA dulu. Masa SMA bagi saya adalah masa keemasan dibandingkan masa SMP yg penuh pertarungan dan masa kuliah yg bagi saya adalah masa pencerahan. Pada masa SMA-lah saya merasa mampu mengeluarkan seluruh potensi yg selama SMP tersembunyi. Pada masa SMA-lah saya bertemu dg banyak guru dan para sahabat yg menginspirasi sebagian besar hidup saya. Maka hormat saya sedalam-dalamnya buat para guru SMAN 1 Gedangan dan para sahabat saya, anak-anak angkatan 2003.

Pada saat SMA-lah saya pertama kali mendapat pelatihan keberanian mengatakan kebenaran (melalui demo 2 tahun berturut-turut) dan pelatihan kecerdasan menghadapi masalah. Pada saat SMA saya bertemu dg para guru-guru eksakta yg gak killer (sumprit, guru2 saya gak ada yg killer sama sekali). Pas SMA saya juga ketemu guru-guru yg banyak menginspirasi saya (termasuk guru sejarah yg hingga hari ini membuat saya tergila-gila pada tuh bidang). Pada saat SMA juga benih-benih kecintaan akan Islam dan sastra serta dunia penulisan mulai bersemi.

Di SMA-lah saya menemukan banyak cerita. Jadi supporter yg hobi godain cewek yg lagi pacaran. Menjadi saksi drag lari ala Fast Furioust yg diadakan tiap istirahat di koridor belakang sekolah. Mancing ikan betok di rawa-rawa sekolah hingga iseng dg teman-teman. Berbagai peristiwa melingkupi kehidupan saya pas SMA. Kenakalan, berduet nyontek dg teman saya Priyo sejak kelas satu hingga tiga (berguna banget buat ngawasi murid-murid saya sekarang ketika ujian (hapal di luar kepala segal trik nyontek)). Iseng, misalnya bersama Hasan godain cewek-cewek kelas satu ama dua, nyatet rekornya Rahmad, sampai menculik anak guru Matematika yg bandelnya minta ampun. Sok serius, godain guru Ekonomi ama PKN dg sok-sokan jadi pembicara pas diskusi depan kelas. Serius, diskusi-diskusi politik saya ama Fery dan Hasan juga debat pas pelajaran PKN di kelas satu. Horror, memetakan obyek-obyek berhantu di sekolah (teman2 satu angkatan dulu hapal banget tempat yg serem di sekolah dan pengetahuan ini diwariskan secara lisan ke adek2 kelas sampe kemudian ada kejadian kesurupan missal di sekolah pas saya kuliah, Tanya kenapa??). Cinta monyet, ah yg ini bikin malu mulai dari puisi-puisi tiap kamis pagi hingga “Katakan Cinta”. Kebanggaan, iuran sebutir pasir untuk menciptakan gunung, ya iuran kaleng tiap hari dan ketika saya lulus sebuah masjid berdiri megah dari hasil kumpulan receh yg kami tumpuk setiap hari selama tiga tahun. SMA adalah masa yg penuh cerita bagi saya, masa yg tidak bisa saya lupakan begitu saja.

Pada masa SMA saya memupuk persahabatan. Ada yg terpisah, berjumpa kemudian berpisah kembali, hingga menjadi saudara yg diikat oleh mabda. Sahabat-sahabat yg saya ingat antara lain: para gank jomblo (Fery, Agung, Hartatok, Rozak, Widi (hingga lulus hanya Widi yg dapat pacar) ditambah Sutikno), Hassan Fahri, Rahmat, Agus DR, Sutan (jenius KW 1), Mubin, Abit, Indra, mbah Mat dan Dhani, sedangkan yg cewek ada Yu’ Ti, Made, Inayah, Ira, Andria, Septi (wong ta iku), Lira, dan selebihnya (pas tulisan ini dibuat) saya lupa (maaf rek!!!). Inilah kenangan saya pas SMA, mungkin sahabat-sahabat saya yg lain memiliki kenangan yg berbeda. Apapun kenangan itu yg pasti tidak akan pernah mencederai persahabatan yg pernah terjalin. Karena persahabatan adalah ikatan dengan atau tanpa ideologi yg mengikatnya. Sebagaimana kata mas Divan, bahwa persahabatan adalah ikatan yg terbentuk dari landasan perbedaan dalam memandang sesuatu hal, namun sama dalam memandang hal lainnya. Karena alasan itulah tulisan ini saya buat, sebagai sebuah butir kenangan dalam perjalanan hidup yg pernah saya lakukan.

Jutaan manusia keluar dan masuk dalam hidup kita, tapi sahabat sejati pasti meninggalkan jejak dalam hidup ini

(sebuah kenangan, tidak terasa dua tahun lagi satu dasawarsa kita lulus SMA kawan)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s