Agama Bola

Keponakan saya yg usianya belasan tahun memberi kabar kepada saya. Setelah turun dari mushola dia memberi tahu ada bentrokan di perempatan dekat rumah. Kebetulan belasan Deltamania (julukan suporter tim Deltras Sidoarjo) yg baru saja pulang menonton pertandingan di GOR Sidoarjo dicegat oleh puluhan Bonek (suporter Persebaya), maka jadilah jalanan dekat rumah menjadi padang Kurusetra. Apalagi “perang” ini sebenarnya sama-sama melibatkan “saudara” sendiri yaitu sama-sama orang Sidoarjo.

Sekarang ini lagi musim Bonek-bonek-an, Deltras-deltras-an, Arema-arema-an. Karena Bonek adalah musuh Aremania dan Aremania sekutunya Deltamania, maka Deltamania harus dimusuhi Bonek. Orang Lamongan tidak bebas ke Surabaya, karena suporternya musuh suporter Surabaya. Sedangkan orang Pasuruan gak bebas ke Malang, karena suporter Pasuruan bersekutu dg Surabaya. Di tembok-tembok kosong, di badan kereta api, di bangku taman, sampai meja tulis sekolah hingga dipajang di kaos-kaos beredar dukungan kepada salah satu kubu suporter di atas, ditambah permusuhan kepada kubu suporter saingan, plus dapat bonus cacian ala Jawa Timuran yg khas tersebut. Bahkan sangking lucunya, pernah saudara saya yg kebetulan kuliah di Malang pernah dipendeli’i orang pas beli bakso gara-gara memakai kaos Arema. Padahal beli baksonya di dekat rumah, padahal orang-orang tersebut bukan orang kampung saya. Kok cek mbelanine, begitu mungkin komentar saya.

Saya terkadang merasa aneh terhadap hal ini. Jujur saya pertama kali nonton bola ketika usia TK, diajak abah menonton final piala perserikatan antara Persebaya melawan Persib Bandung di Gelora Bung Karno. Dulu Bonek itu dimusuhi dimana-mana, di Semarang, di Bandung, di Bali, lebih-lebih di Jakarta. Tapi dulu mereka kompak se-Jawa Timur. Saya ingat di Jakarta kita disambut para juragan warung dari Lamongan. Dulu para suporter semuanya ber-KTP, berangkat tret..tet..tet ke Jakarta nyewa bus beratus-ratus karena suporternya mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, sampai Madiun. Jadi tidak ada ceritanya pembajakan kereta api, bus, atau truk. Dulu menonton bola adalah rekreasi, hiburan, dan pelepas penat, bukan peperangan, bentrokan, permusuhan, dan aksi bakar-membakar.

Saya terkadang merasa aneh terhadap hal ini. Bukankah kita masih di Indonesia, tepatnya di Jawa Timur, wa bil khusus di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Malang sebuah tempat yg di bawah buminya banyak terkubur para waliyullah, alim ulama, dan para mujahidin. Ini bukan London, Manchester, atau Liverpool yg para warganya menganggap sepak bola adalah agama yg harus dibela mati-matian. Ini juga bukan Roma, Milan, Turin, Genoa, atau Napoli yg warganya bikin jengkel Paus di Vatikan. Karena hari minggu warganya bukan memadati gereja tapi lebih senang berbondong-bondong ke stadion atau nongkrong di warung kopi untuk menonton sepak bola. Padahal dulu kalau nonton sepak bola yg biasa main jam setengah empat sore, saya dan abah biasa berangkat setelah sholat dhuhur sampai Tambaksari langsung beli tiket dan tidak masuk dulu karena nunggu sholat asar, setelah pertandingan usai yg biasanya bertepatan dg waktu maghrib, kami biasanya menunggu sambil sholat di mushola kantor dinas PU. Tapi saya tidak tau kelakuan suporter sekarang yg terkadang jam 9 berangkat.

Saya tahu hukum sepak bola sebagai olahraga adalah mubah. Juga memakai kaos bola dan berlagak menjadi suporter bola. Karena sudah sifat dasar manusia yg diberikan oleh Gusti Allah, yaitu memiliki baqa’ atau naluri membela diri yg salah satu manifestasinya adalah membanggakan diri alias narsis di depan manusia lain. Tapi kalau naluri ini sudah berlebihan dan hasrat membanggakan diri sudah berlebihan dosisnya sehingga mencapai kadar chauvinisme. Apabila hasrat ini berubah jadi upaya untuk menguasai orang lain, menjadi adigang adigung adiguna, dan menjadikan hawa nafsu dan diri sendiri adalah Tuhan maka tunggu saja kehancuran bagi yg kalah dan kehinaan bagi yg menang.

Saya juga menyadari bahwa wajar kalau suporter bola mecintai tim kesayangan dan menyayangi pemain idolanya. Karena toh itu juga sifat dasar yg diberikan Gusti Allah yaitu tadayyun atau naluri mengagungkan sesuatu. Tapi menjadi tidak wajar jika pengagungan itu melebihi pengagungan terhadap Sang Penguasa Jagat. Maka juga tidak normal kalau meletakkan tim kesayangan dan pemain idolah di atas Allah dan RasulNya. Maka kalau sudah begitu lalu apa bedanya dg orang Mesir kuno terhadap Fir’aun-nya, orang Babylon dg Namrudz-nya, juga Abu Jahal dg logika berhalanya.

Pada akhirnya kalau tetap begini, maka walaupun sama-sama melempar dg batu tentu ada yg membedakan antara lemparan suporter bola dg lemparan intifadhah remaja Palestina. Juga ada rasa yg berbeda pada kibaran bendera dan teriakan dukungan para suporter bola dg para suporter Khilafah walaupun tempatnya sama-sama di stadion yg sama. Rasanya pun berbeda pada setiap coretan graffiti dan tulisan spanduk para suporter bola dengan graffiti dan spanduk para pejuang dakwah. Ya, yang berbeda adalah derajatnya dan nilai di hadapan Yang Maha Kuasa, karena yg satu membela bola sedang yg satu membela agamaNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s